PERSPEKTIF EKUITAS DAN PEMERATAAN PENDIDIKAN

Standar


 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah negara berkembang yang masih mengalami berbagai proses pembangunan. Di sektor pendidikan, Indonesia masih kurang mengembangkan SDM yang dimiliki masyarakat. Buktinya, dalam sebuah survei mutu pendidikan, Indonesia menempati urutan ketiga dari bawah di antara 40 negara lain. Sistem pendidikan di Indonesia selalu disesuaikan dengan kondisi politik dan birokrasi yang ada. Padahal menurut kami, itu bukanlah masalah utama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Yang lebih penting adalah bagaimana pelaksanaan di lapangan, termasuk kurangnya pemerataan pendidikan, terutama di daerah tertinggal.

Fenomena yang ada di Indonesia cukup ironis. Banyaknya lulusan sekolah tingkat menengah dan perguruan tinggi setiap tahunnya, ternyata tidak sebanding dengan lowongan pekerjaan yang disediakan. Hal itu jelas menambah jumlah pengangguran di Indonesia.  Bahkan angka pengangguran mencapai 9,5 % per tahun. Untuk menuju pemerataan pendidikan yang efektif dan menyeluruh, kita perlu mengetahui beberapa permasalahan mendasar yang dihadapi sektor pendidikan kita. Permasalahan itu antara lain mengenai keterbatasan daya tampung, kerusakan sarana prasarana, kurangnya tenaga pengajar, proses pembelajaran yang konvensional, tidak meratanya penyelenggaraan pendidikan, distribusi anggaran yang tidak merata serta tidak terjangkaunya akses pendidikan bagi masyarakat terpencil dan keterbatasan anggaran.

Keterbatasan daya tampung sangat berpengaruh dalam proses pemerataan pendidikan. Banyak sekolah yang memiliki daya tampung tidak seimbang dengan jumlah murid yang diterima saat penerimaan murid baru. Akibatnya, proses belajar mengajar pun menjadi kurang maksimal. Di Indonesia, kuota siswa dalam satu kelas masih terlalu banyak. Negara-negara maju seperti Austaralia hanya mendidik sekitar 20 siswa dalam satu kelas. Jika kita bandingkan, berarti kuota siswa di Indonesia dalam sekelas adalah dua kali lipat dibanding Australia. Itulah salah satu faktor yang menyebabkan tidak maksimalnya proses belajar-mengajar.
Sebenarnya hal itu masih berkaitan dengan jumlah tenaga pengajar yang ada. Sekolah yang ada di beberapa daerah yang masih tertinggal mempunyai masalah dengan keterbatasan tenaga pengajar. Kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan di lapangan disebabkan sulitnya menyediakan guru-guru berkualitas untuk mengajar di daerah-daerah. Aksesbilitas atau daya tampung yang tersedia di Indonesia hanya mencapai separuh dari jumlah siswa yang ada. Dengan adanya ketimpangan tersebut maka secara otomatis akan menjadi problem akses pendidikan bagi masyarakat dan tingginya angka anak yang putus sekolah.

Tahun 2008, pemerintah telah menyisihkan sekitar 20% dana APBN untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pemerataan pendidikan hingga daerah-daerah tertinggal tentu membutuhkan anggaran dana yang tidak sedikit. Dana BOS yang disediakan oleh pemerintah merupakan bentuk perhatian pemerintah akan pentingnya pemerataan pendidikan bagi setiap orang. Meskipun belum dapat terealisasikan sepenuhnya, akan tetapi hal itu sudah cukup meminimalisasi biaya yang dikeluarkan masyarakat terutama yang berekonomi menengah ke bawah.

Dari beberapa permasalahan tersebut melalui tulisan ini kami mengambil rung lingkup “ keadilan pendidikan, pemerataan pendidikan, peran pemerintah terhadap pendidikan dan faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk mengakses pendidkan”. Merujuk pada buku “Ekonomi Sumber Daya Manusia” Karangan Prof. Dr. Sudarman Danem.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Ekuitas Dan Pemerataan Pendidikan

Ekuitas atau keadilan pendidikan termasuk dalam skema pemerataan kesempatan. Pemerataan kesempatan pendidikan (equality of educational opportunity) menggamit dimensi aksesibiltas pendidikan (educational accessibility) dan ekuitas atau keadilan pendidikan (educational equality) itu sendiri. Secara prinsip, keadilan pendidikan bermakna bahwa setiap warga Negara berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Namun demikian, karena faktor-faktor cultural, perbedaan individual, bias jender, kemampuan ekonomi keluarga, lingkungan geografis dan lainnya, meskipun terbuka hak dan peluang yang sama, selalu memunculkan akses populasi untuk menerima layanan pendidikan dan pembelajaran secara layak.

Menurut Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional  (SK Mendiknas) No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi, pendidikan  akademik bertujuan menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memeliki kamampuan akademik dalam menerapkan, mengembangkan, dan/atau kesenian, serta menyebarluaskan dan mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Adapun pendidikan professional bertujuan menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan professional dalam menerapkan, mengembangkan dan menyebarluaskan teknologi dan/atau kesenian, serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. Kemampuan institusi pendidikan untuk mengembangkan potensi akademik dan potensi vokasional peserta didik menjadi prasyarat bagi dihasilkannya SDM yang bermutu.

 

2.2. Kepedulian Pemerintah Pada Ekuitas Pendidikan      

Tujuan penetapan kebijakan ekuitas atau keadilan pendidikan dasar sebagai prioritas adalah semua anak usia sekolah dan anak didik yang sedang studi pada jenjang ini dapat belajar secara efektif dan memperoleh keterampilan-keterampilan dasar (equire basic skill) sebagai bekal hidup. Dengan demikian, setidaknya sampai sekarang, keadilan pendidikan mestinya lebih banyak difokuskan pada jenjang pendidikan dasar (primary and/basic education) ketimbang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, kecuali bagi masyarakat dan Negara-negara yang sudah mapan secara ekonomi.

Pemerintah harus memeliki dua kepedulian utama untuk mencapai tingkat ekuitas dalam pendidikan. Pertama, untuk menggaransi bahwa setiap orang dapat menyelesaikan pendidikan dasar. Perolehan yang didapat oleh anak didik yang menamatkan pendidikan dasar merupakan kompetensi dasar yang harus ada agar berfungsi secara efektif di masyarakat. Berbekal keterampilan dasar untuk hidup, lulusan pendidikan dasar diharapkan dapat melakukan aktivitas-aktivitas ekonomi.

Kedua, untuk menjamin siswa-siswa yang potensial tidak terhalang aksesnya pada pendidikan karena mereka miskin, wanita, dari etnis minoritas, bermukim di wilayah terpencil secara geografis (live in geografhically remote regions) atau memeliki kebutuhan-kebutuhan  khusus dilihat dari perspektif pendidikan.

            Bank Dunia berpendapat bahwa peningkatan status pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin, remaja putri, dan penduduk asli yang bermukim di daerah-daerah terpencil akan membantu mereka dalam memberikan andil dalam pertumbuhan ekonomi dan mereduksi kemeskinan.

Data hasil Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2011, mencatat Norwegia, Australia, dan Belanda menempati tempat teratas negara terbaik di dunia tahun ini didasarkan pada kriteria kesehatan, pendidikan, dan pendapatan, yang dikenal dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Yang juga masuk sepuluh besar terbaik daftar yang dikeluarkan badan PBB untuk masalah pembangunan (UNDP) ini adalah Amerika Serikat, Selandia Baru, Kanada, Irlandia, Jerman, dan Swedia.

Namun ketika daftar ini disusun ulang didasarkan pada kriteria pemerataan kesehatan, pendidikan, dan pendapatan di dalam negeri, beberapa negara maju terpental dari daftar sepuluh terbaik. AS misalnya turun dari posisi empat ke posisi 26 sementara Korea Selatan turun dari posisi 15 ke posisi 32. AS turun jauh karena faktor pemerataan pendapatan. UNDP mengatakan IPM mengalami kenaikan besar sejak 1970 yang berarti ada kemajuan besar di bidang kesehatan, pendidikan, dan pendapatan di seluruh dunia.

Catatan UNDP menunjukkan 72 negara mengalami perkembangan pesat dalam lima tahun terakhir. Mereka adalah Kuba (naik sepuluh peringkat ke posisi 51), Venezuela, dan Tanzania. Kedua negara ini masing-masing naik tujuh posisi ke peringkat 73 dan 152. UNDP juga mencatat dua negara mengalami penurunan, yaitu Kuwait (turun delapan posisi ke peringkat 63) dan Finlandia (turun tujuh posisi ke peringkat 22).

Seperti dikutip dari BBC, dari 187 negara yang disurvei, Indonesia berada di peringkat 124, jauh di bawah Brunei (posisi 33) dan Malaysia (61). Namun pencapaian Indonesia masih lebih baik dibandingkan Vietnam (peringkat 128), Laos (peringkat 138), dan Burma (peringkat 149). Survei UNDP ini menempatkan Republik Demokratik Kongo, Niger, dan Burundi di tempat terbawah (http://mediaanakindonesia.wordpress.com/2011/11/04).

Menurut Mendiknas (Muhammad Nuh), Indonesia yang terhampar dari Eropa barat-timur dengan sekitar 500 kota/kabupaten, menyimpan banyak problema pendidikan. Salah satu permasalahan tersebut sekaligus Pekerjaan Rumah (PR) bagi bangsa Indonesia adalah “Buta Hurufau buta aksara”.

Saat ini (2011) Kemendiknas mencatat, sebanyak 8,3 juta orang (1%) dari jumlah penduduk menyandang buta aksara. Dua kabupaten terpadat dengan buta aksara di atas 150.000 yakni, Kabupaten Jember (220.500 orang) dan Indramayu (150.500 orang). Sementara itu, pada 2011 ini, Global Monitoring Report (GMR) mencatat, masih ada 796 juta penghuni planet bumi yang buta aksara. Dua per tiga di antaranya (atau 570 juta) tinggal di 10 negara yakni, Indonesia, Kongo, Brazil, Mesir, Ethiopia, Nigeria, Bangladesh, Pakistan, China, dan India.

Pada laporan GMR 2011 yang mengutip data 2009, Indonesia dicatat menyumbang 1,6% dari jumlah tuna aksara terpadat di dunia. Jumlah yang kecil dibandingkan China (8,3%), dan sangat kecil disandingkan India (36%).

Kenyataan ini menunjukkan bahwa 1dri 6 penduduk dunia yang berusia 15 tahun ke atas masih buta aksara. Sedangkan di Indonesia, sekitar 1 dari 21 orang dewasa masih buta aksara. Fakta lain, angka buta aksara di negeri ini dominasi perempuan yakni, dua per tiga dari total penyandang buta aksara (http://www.surabayapost.co.id).

2.3. Strategi Mewujudkan Ekuitas Pendidikan

Pemerintah mengambil peran paling dominan dalam menciptakan ekuitas pendidikan. Sekalipun demikian, upaya membangun pendidikan yang memenuhi kriteria ekuitas itu akan lebih cepat membuahkan hasil jika ditunjang oleh kesadaran masyarakat.

Kebijakan pemerintah untuk mewujudkan ekuitas jenjang pendidikan dasar menggamit langsung dua dimensi.

Pertama, membuka peluang luas bagi anak usia jenjang pendidikan dasar untuk diterima di lembaga sekolah dengan perlakuan yang adil. Keadilan dimaksu dadalah menghilangkan sama sekali atau setidaknya seoptimal mungkin adanya bias jender, status social-ekonomi, dan keterisolasian secara geografis.

Kedua, penyediaan anggaran yang mencukupi bagi terwujudnya inisiatif keadilan disertai ukuran-ukuran khusus secara material pendidikan, sehingga peserta didik dapat mencapai perolehan pembelajaran pada tingkat kemampuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk secara aktif dapat berperan pada system social dan kelembagaan ekonomi.

Kebijakan pemerintah untuk mengalokasikan anggaran yang mencukupi dalam rangka menegakkan prinsip-prinsip keadilan di bidang pendidikan didasari pertimbangan bahwa sebagian masyarakat sama sekali tidak dapat membayar biaya atau karena keluarga sama sekali tidak dapat terhindar dari kehilangan pekerjaan. Sementara itu, ’’ukuran-ukuran khusus’’ bermakna bahwa konsentrasi pemerintah harus terfokus pada jenjang pendidikan dasar, khususnya sekolah dasar. Menurut Bank Dunia, pemerintahan suatu Negara harus mampu mengambil kebijakan khusus. Beberapa kebijakan dimaksud meliputi ;

ü  Berani merekrut guru wanita untuk menentukan model-model peran bagi remaja putri;

ü  Membuat pendidikan khusus yang terjangkau;

ü  Menggunakan dua bahasa atau lebih di daerah-daerah yang memiliki diversitas linguistik;

ü  Menyelenggarakan program perbaikan kesehatan;

ü  Mengadakan perbaikan nutrisi penduduk.

Dalam skema Bank Dunia, kebijakan ekuitas pendidikan melibatkan beberapa factor dominan, yaitu

ü  Ukuran-ukuran financial

ü  Ukuran-ukuran khusus

ü  Remaja putri sebagai target utama

ü  Diversitas bahasa

ü  Kelompok-kelompok lain yang tidak diuntungkan.

Bagi keluarga miskin, biaya langsung dan tidak langsung masih dirasakan terlalu mahal untuk menggaransi pendaftaran anak-anaknya ke sekolah, dan juga untuk keperluan operasional belajar. Biaya langsung tersebut sangat besar untuk ukuran keluarga miskin, sementara pemerintah secara umum tidak selalu dapat menyediakannya. Kalaupun dana pemerintah tersedia untuk itu, system distribusinya sangat sulit, khususnya di daerah-daerah penduduk yang bermukim secara nomaden atau sangat terisolasi. Biaya-biaya untuk keperluan operasional pendidikan mencakup :

ü  Biaya transportasi

ü  Pembelian buku

ü  Pembelian lembar kerja siswa

ü  Pembelian seragam sekolah

ü  Pembelian alat-alat tulis

ü  Pembelian untuk kegiatan belajar ekstrakelas dan lain-lain.

 

2.3.1        Ukuran-Ukuran Khusus

Ukuran-ukuran khusus (special measures) berkaitan dengan kebutuhan untuk merangsang remaja putri bersekolah. Beberapa negara membuat program khusus bagi remaja putrid, seperti yang dilakukan di Bangladesh dan Brazil. Di Bangladesh dilembagakan program penyadaran pendidikan bagi komunitas perempuan (commonityfemale education awareness program). Di Brazil dilembagakan Pacto Fela Infacia untuk anak-anak yang tidak diuntungkan (Nation at Risk)  termasuk remaja putri. Menurut Colletta dan Parkens (1995) usaha-usaha menciptakan ekuitas dilihat dari perspektif ukuran-ukuran khusus dapat dilakukan dengan membuat perubahan dalam hal :

ü  Lukasi sekolah

ü  Pengaturan jadwal belajar

ü  Penataan staf

ü  Pengemasan isi pembelajaran

ü  Pengaturan biaya langsung disesuaikan dengan kondisi sosial dan material.

 

2.3.2        Remaja Putri sebagai Target

Pada banyak negara dan komonitas, remaja putri hampir selalu dinomorduakan dalam skema pendidikan persekolahan. Salah satu cara yang ditempuh adalah merekrut sebanyak mungkin guru wanita, sehingga mereka menjadi model peran yang dapat merangsang remaja putri untuk bersekolah.

2.3.3        Populasi Khusus

Program-program khusus untuk meningkatkan nutrisi dan kesehatan bagi anak-anak sekolah dapat membuka akses dan keadilan untuk menempuh pendidikan. Termasuk dalam skema populasi khusus ini adalah anak-anak dari kelompok minoritas, anak-anak yang tidak diuntungkan, anak-anak yang berisiko, dan kelompok anak abnormal. Pembiayaan pendidikan bagi anak-anak yang tidak normal ini umumnya mahal sehingga digiring ke arah pendidikan dengan pendekatan berbasis komunitas.

 

2.3.4        Diversitas Bahasa

Pada bangsa-bangsa atau suku bangsa yang bersifat multibahasa, menggunakan dua bahasa pengantar sangat mendongkrak kemampuan anak didik di bidang membaca pemahaman. Awalnya, anak-anak belajar dengan menggunakan bahasa ibu untuk kemudian mentransfer keterampilan membaca ke bahasa kedua.

2.4. Kesamaan dan Ketidak adilan Distribusi

            Ekuitas pendidikan berkaitan dengan aspek distribusi, terutama distribusi anggaran pendidikan menurut justifikasi tertentu. Distribusi anggaran pendidikan biasanya dianalisi dengan terlebih dahulu memperlihatkan frekuensi kemunculan nilai yang berbeda dari variabel antar kelompok yang berbeda pula dalam suatu kelompok masyarakat.

2.5. Jenis-Jenis Keadilan Pendidikan

Ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa kelompok tertentu di negara-negara berkembang memperoleh akses pendidikan secara baik. Sebaliknya, di negara-negara berkembang lain, sebagian komunitas memiliki akses rendah terhadap pendidikan. Perbedaan itu dapat dikelompokkan atas beberapa dimensi, yaitu :

  • Jenis kelamin
  • Latar belakang sosial
  • Latar belakang ekonomi
  • Daerah pedesaan dan perkotaan
  • Perbedaan ras
  • Perbedaan bahasa
  • Perbedaan agama

Di beberapa negara, tingkat penerimaan siswa berbeda antara daerah dengan kota. Oleh karena itu, distribusi pendidikan bergantung pada cara pendududknya dikelompokkan dan partisipasi pendidikan diukur atau dinilai.

Ada tiga jenis keadilan pendidikan, yaitu ;

  1. Keadilan secara horizontal yaitu perlakuan (treatment) yang sama terhadap orang kelompok atau institusi yang sama.
  2. Keadialn secara vertikal, yaitu perlakuan yang berbeda untuk orang-orang, kelompok, atau lembaga yang berbeda.
  3. Keadilan pendidikan secara terintegrasi, beranjak dari asumsi bahwa ketidakadilan pada suatu generasi tidak selalu abadi.

2.6. Faktor Geografis Penerimaan Siswa

            Faktor geografis atau daya jangkau berpengaruh langsung terhadap pemerataan dan keadilan di bidang pendidikan. Realitas menunjukkan, makin terpencil suatu daerah, makin sulit masyarakat daerah tersebut untuk disentuh dengan layanan pendidikan yang baik, kesadaran masyarakat akan pendidikan rendah, di samping mereka hidup dalam daerah kemiskinan. Kondisi inilah yang antara lain memunculkan fenomena ketidakadilan atau ketimpangan fasilitas pendidikan di negara-negara berkembang.

Sumber daya pendidikan  tidak dibagi sama antara desa dan kota, antara laki-laki dan perempuan, dan antara kelompok sosial yang berbeda. Ketidakadilan tersebut dapat dikurangi atau direduksi dengan mengalokasikan sumber daya ekstra kepada daerah atau kelompok yang pailng dirugikan, misalnya dalam bentuk dana alokasi khusus. Kebijakan tersebut tidak cukup karena yang paling dominan adalah membangun kesadaran masyarakat akan kesejatian makna pendidikan.

Tingkat ketidakadialan distribusi kesempatan pendidikan sangat bervariasi di banyak negara, termasuk di Indonesia yang wilayahnya sangat luas dan kondisi geografisnya sangat beragam. Di beberapa negara, distribusi pendidikan sedikit lebih adil, namun di negara lainnya, penerimaan siswa atau alokasi tempat sekolah sangat bervariasi antara provinsi, distrik, kabupaten, kota, dan desa serta antara laki-laki dan perempuan dan lainnya. Hal ini memunculkan ketidakadilan dalam alokasi dana yang diterima oleh siswa untuk tiap-tiap sekolah. Keadaan ini menggiring kita untuk sampai pada kesimpulan bahwa negara dengan tingkat partisipasi  yang relatif tinggi cenderung mempunyai distribusi siswa yang relatif sama. Sebaliknya, negara-negara dengan penerimaan siswa yang rendah secara nasional mempunyai distribusi penerimaan yang tidak sama.

Menurut Mass dan Criel (1982), tingkat ketidakmerataan relatif dalam alokasi kesempatan pendidikan secara negatif berkorelasi dengan tingkat absolut dari pembagian layanan sosial. Pemikiran tersebut mempunyai implikasi penting bagi keputusan untuk melakukan investasi pada fasilitas pendidikan. Jika suatu negara berhasil meningkatkan tingkat rata-rata penerimaan siswa, ketidakadilan secara menyeluruh dapat dikurangi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan        

Ekuitas atau keadilan pendidikan termasuk dalam skema pemerataan kesempatan. Pemerataan kesempatan pendidikan (equality of educational opportunity) menggamit dimensi aksesibiltas pendidikan (educational accessibility) dan ekuitas atau keadilan pendidikan (educational equality) itu sendiri. Secara prinsip, keadilan pendidikan bermakna bahwa setiap warga Negara berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Faktor-faktor kultural, perbedaan individual, bias jender, kemampuan ekonomi keluarga, lingkungan geografis dan lainnya, meskipun terbuka hak dan peluang yang sama, selalu memunculkan akses populasi untuk menerima layanan pendidikan dan pembelajaran secara layak.

Tujuan penetapan kebijakan ekuitas atau keadilan pendidikan dasar sebagai prioritas adalah semua anak usia sekolah dan anak didik yang sedang studi pada jenjang ini dapat belajar secara efektif dan memperoleh keterampilan-keterampilan dasar (equire basic skill) sebagai bekal hidup.

Bank Dunia berpendapat bahwa peningkatan status pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin, remaja putri, dan penduduk asli yang bermukim di daerah-daerah terpencil akan membantu mereka dalam memberikan andil dalam pertumbuhan ekonomi dan mereduksi kemeskinan.

Faktor geografis atau daya jangkau berpengaruh langsung terhadap pemerataan dan keadilan di bidang pendidikan. Realitas menunjukkan, makin terpencil suatu daerah, makin sulit masyarakat daerah tersebut untuk disentuh dengan layanan pendidikan yang baik, kesadaran masyarakat akan pendidikan rendah, di samping mereka hidup dalam daerah kemiskinan. Kondisi inilah yang antara lain memunculkan fenomena ketidakadilan atau ketimpangan fasilitas pendidikan di negara-negara berkembang.

3.2. Saran

Perlunya tata kelola dan pencitraan pendidikan melalui penguatan kegiatan dalam manajemen pendidikan.

Jika alokasi dana untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN, 12% dialokasikan untuk program pemerataan pendidikan, 6% untuk program peningkatan mutu dan relevansi pendidikan dan 2% untuk program manajemen pendidikan.

 

 

             

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Beeby, C.E 1981. Pendidikan di Indonesia. Jakarta : LP3ES

DIPDIKBUD, 19994. Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan Menjelang Era Tinggal Landas. Jakarta: Dipdikbud

Sudarman, Danim, 2004. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Bandung : CV. Pustaka Setia

http://mediaanakindonesia.wordpress.com/2011/11/04/daftar-lengkap-indeks-pembangunan-manusia-di-dunia-2011/

http://www.paudni.kemdiknas.go.id/dikmas/index.php/component/content/article/93-artikel/1049-hari-aksara-internasional-raih-penghargaan-pengentasan-buta-huruf-.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Melek_aksara

PERKEMBANGAN KURIKULUM DAN LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN IPS (ILMU PENGETAHUAN SOSIAL) DI INDONESIA

Standar
  1. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang Masalah

Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan mata pelajaran yang bersumber dari kehidupan sosial masyarakat yang diseleksi menggunakan konsep-konsep ilmu sosial yang digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Keadaan sosial masyarakat selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dinamisasi kemajuan diberbagai bidang kehidupan harus dapat ditangkap dan diperhatikan oleh lembaga pendidikan yang kemudian menjadi bahan materi pembelajaran, sehingga bahan pelajaran secara formal dapat dituangkan dalam bentuk kurikulum.

Kurikulum IPS yang dikembangkan hendaknya memiliki landasan filosofis yang jelas, landasan filosofis yang digunakan haruslah  melihat kondisi nyata yang terjadi di masyarakat. Kondisi masyarakat yang terjadi saat ini adalah  masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan-perubahan yang disebabkan adanya interaksi sosial baik antar individu nmaupum kelompok. Dalam mencermati perubahan tersebut, maka kurikulum harus memiliki landasan filosofis humanistik, dimana Ilmu Pengetahuan Sosial  menjunjung tinggi sifat-sifat dasar kemanusiaan.

Perkembangan istilah atau nama Social Studies pertama kali dimasukan secara resmi  kedalam  kurikulum sekolah  Rugby di Inggris  pada tahun 1827, Dr. Thomas Arnold  direktur  sekolah  tersebut  adalah  orang  pertama yang  berjasa  memasukan Social Studies kedalam kurikulum sekolah. Latar belakang dimasukannya social

 

studies ke dalam kurikulum sekolah berangkat dari kondisi masyarakat Inggris yang pada waktu itu tengah mengalami kekacauan akibat Revolusi Industri yang melanda Negara itu.  (http://massofa.wordpress.com/2010/12/09/latar-belakang-lahirnya-ips-di-indonesia/(27 September 2011) diakses jam 20.28 wita.)

Berbeda dengan fenomena di Amerika Serikat  pasca perang saudara antara utara dan selatan atau dikenal perang budak (1861 – 1865) dimana dihapuskannya sistem perbudakan dan dan tidak ada lagi rasialisme atau perbedaan warna kulit, orang kulit putih dengan orang negro dan Indian bersatu sebagai penduduk baru di  Amerika Serikat, serta menjadikan  pluralistik – multi etnik, sehingga semakin sulit pada awalnya membangun kebangsaan di Amerika Serikat dalam kondisi multi etnik untuk menjadi suatu bangsa.

Para pakar kemasyarakatan dan pendidikan mencari pola baru untuk menjadikan sistem pendidikan yang menghormati keberadaan multi – etnis di Amerika Serikat, salah satu cara yang ditempuh adalah memasukan social studies  kedalam kurikulum sekolah di Negara bagian Wisconsin pada tahun 1892. Pada awal abad ke – 20 sebuah Komite Nasional dari The National Education Association memberikan rekomendasi tentang perlunya social studies dimasukan ke dalam kurikulum sekolah dasar dan sekolah menengah di Amerika Serikat, adapun komponen formula awal social studies ketika awal kelahirannya di Amerika Serikat terdiri dari mata pelajaran sejarah, geografi dan civics (kewarganegaraan).

Social studies dalam istilah Indonesia disebut Pendidikan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), dalam proses eksistensinya terdapat dalam “The National Herbart Society papers of 1896 – 1897” menegaskan, bahwa social studies sebagai delimiting the social sciences for pedagogical use (upaya membatasi ilmu-ilmu sosial untuk kepentingan pedagogik / mendidik). Dengan hadirnya social studies  masuk pada kurikulum di sekolah, ada juga di beberapa negara bagian di Amerika Serikat dan di Inggris untuk mengembangkan program pendidikan ilmu-ilmu sosial di tingkat sekolah. Pengertian ini juga dipakai sebagai dasar dalam dokumen “Statement of the Chairman of Commite on Social Studies” yang dikeluarkan oleh Comittee on Social Studies (CSS) tahun 1913.

Dalam dokumen tersebut dinyatakan bahwa social studies sebagai specific field to utilization  of social sciences data as a force in the improvement of human welfare (bidang khusus dalam pemanfaatan data ilmu-ilmu sosial sebagai tenaga dalam memperbaiki kesejahteraan umat manusia). Upaya untuk melestarikan program social studies dalam kurikulum sekolah, maka beberapa pakar yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan ilmu-ilmu sosial di tingkat sekolah mengembangkan social studies bisa diaplikasikan di tingkat sekolah dengan membentuk organisasi profesi social studies, akhirnya pada tahun 1921 berdirilah “National Council for the Social Studies “ atau disingkat ( NCSS ),  sebuah organisasi professional yang secara khusus membina dan mengembangkan social  studies  pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, serta kaitannya dengan  disiplin ilmu – ilmu  sosial  dan disiplin ilmu pendidikan sebagai program pendidikan syntectic. (http ://haslindafadillah,blogspot.com/2010/11/makalah-pendidikan-ips.html (27 Sept 2011) diakses jam 20.44.wita.)

  1. Rumusan Masalah dan Tujuan Penulisan

Dengan latar belakang perkembangan kehadiran Social Studies diatas dan memandang perlunya pendidikan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) bagi warga negara sebagai apresiasi dari Social studies terus bertambah ke berbagai negara, terutama di Amerika Serikat, Inggris, dan berbagai Negara Eropa, dan kemudian berkembang ke negara Australia dan Asia termasuk Indonesia,  maka muncul pertanyaan mendasar dalam tulisan ini diantaranya : (1) Bagaimana perkembangan Social Studies atau Pendidikan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dalam kurikulum pendidikan  di Indonesia? dan  (2) Landasan filosofis apa saja yang dipakai di Indonesia sebagai konsep dasar pendidikan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dapat dijadikan konsep  kurikulum di tingkat jenjang persekolahan di Indonesia ?. Kedua permasalahan tersebut menjadi dasar permasalahan dalam tulisan ini.

Tujuan penulisan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Landasan Pendidikan IPS MIPS 505 Progam Studi Magister Pendidikan IPS Program Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang dibina oleh Bapak Dr. Herry Porda Nugroho Putro, M.pd. Selain itu tujuan penulisan ini adalah untuk mengenal, memahami dan mendalami hakekat konsep, pengertian, dasar filosofis dan proses belajar – mengajar IPS, sehingga akan bermanfaat ketika diaplikasikan  bertugas di lembaga pendidikan masing-masing.

  1. Pembatasan Masalah Pembahasan

Tulisan ini lebih berorientasi pada pembahasan masalah perkembangan Social Studies di negara asalnya hingga diadopsi ke Indonesia dan memaparkan landasan Filosofis Pendidikan IPS, dimana kurikulum yang dikembangkan pemerintah Indonesia akan diaplikasikan pada semua jenjang dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan lanjutan di tingkat atas. Di luar peermasalahan tersebut diatas tidaklah menjadi bahasan utama, tetapi demi perbaikan penulisan tidak menutup kontribusi, saran – saran dan pendapat, serta kritik konstruktif, agar terdapat persepsi yang sama dalam memahami konsep perkembangan dan landasan filosofis Pendidikan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial)  khususnya di Indonesia.

  1. PERKEMBANGAN KURIKULUM  DAN PENDIDIKAN IPS DI INDONESIA
    1. Perkembangan Social Studies Hingga Pendidikan IPS di Indonesia

Setelah berdirinya National Council for the Social Studies (NCSS) pada tahun 1921 hanya bertugas sebagai organisasi yang idealnya memaksimalkan hasil-hasil pendidikan bagi tujuan kewarganegaraan yang sudah dicapai oleh CSS (Comitte on Social Studies ) tahun 1913 sebelumnya. Barulah pada tahun 1935 lahirlah kesepakatan yang dikeluarkan NCSS yang menegaskan “ Social Sciences as the core of the curriculum “ atau kurikulum IPS bersumber dari ilmu-ilmu sosial.

Perkembangan selanjutnya pengertian social studies yang berpengaruh pada abad ke-20 adalah mengenai definisi social studies yang dikemukakan oleh Edgar Wesley (1937) yang menyatakan “the social studies are the social sciences simplified for pedagogical purposes”. Definisi tersebut menjadi popular saat itu yang kemudian dijadikan definisi resmi mengenai social studies oleh “the united states of education’s standard terminology for curriculum and instruction” dengan demikian NCSS perlu membuat pekerjaan rumah tentang definisi resmi pula yang menghantarkan Social Studies sebagai kajian yang terintegrasi dan mencakup disiplin ilmu yang semakin luas, khususnya dalam bidang pendidikan dikemudian hari.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia setelah mencapai kemerdekaan pada tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, misalnya pada tahun 1947 kurikulum pada saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Kurikulum yang ada saat itu masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Keadaan kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, dapat dikatakan bahwa pendidikan di awal kemerdekaan haruslah membangun semangat kebangsaan dan semangat patriotisme.

Konsep pendidikan yang essensial saat itu untuk SR (Sekolah Rakyat) adalah membaca, menulis dan berhitung. Mata pelajaran ilmu bumi diajarkan pada kelas 3, sejarah mulai diajarkan pada kelas 4, ilmu alam baru diajarkan pada kelas 5 dan kelas 6. Mata pelajaran di SMP seperti bahasa, ilmu pasti,pengetahuan alam, pengetahuan sosial, dan ekonomi. Siswa yang naik kelas III dikelompokan, kelas III A (kelompok sosial dan ekonomi) dan kelas III B (Kelompok Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam).

Tahun 1952 kurikulum di Indonesia diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952, kurikulum ini penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya dan sudah mulai mengarah  pada suatu sistem pendidikan nasional. Kurikulum 1952 diarahkan pada setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

Tahun 1964 pemerintah Orde Lama kembali menyempurnakan kurikulum  pendidikan di Indonesia. Kurikulum tersebut dinamakan Rentjana Pendidikan 1964, pokok – pokok pikiran dalam kurikulum tersebut bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapatkan pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang Sekolah Dasar, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, artistik dan jasmani.

Kurikulum tahun 1968, merupakan kurikulum pembaharuan dari kurikulum tahun 1964, yakni perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya membentuk manusia Pancasila sejati, kuat dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.

Seiring dengan perkembangan masuknya istilah Social Studies ke dalam acuan kurikulum pendidikan di Indonesia di awal tahun 1970 –an telah ditawarkan konsep istilah tersebut. Pada pertemuan ilimiah dalam sebuah seminar Nasional Indonesia tentang Civic Education tahun 1972 di Tawangmangu Solo Jawa Tengah, dalam paparan seminar tersebut ditawarkanlah 3 (tiga) istilah untuk dimasukan dalam pendidikan kewarganegaraan di Indonesia. Pertama; Istilah Pengetahuan sosial; kedua, Studi Sosial (Social Studies) dan ketiga, Ilmu Pengetahuan Sosial.

A.1. Aplikasi Pendidikan IPS dalam Kurikulum 1975 di Indonesia

Kurikulum 1975 adalah kurikulum pertama di Indonesia yang dikembangkan berdasarkan proses dan prosedur yang didasarkan pada teori pengembangan kurikulum. Meskipun demikian kurikulum 1975 masih dikembangkan berdasarkan pemikiran orientasi filosofis pendidikan keilmuan yang dominan dan tidak berorientasi kepada pembangunan, walaupun demikian tidaklah berarti kurikulum 1975 telah melepaskan diri dari npengaruh politik . (S. Hamid Hasan : 2006)  dimana situasi pemerintahan  saat itu awal pemerintahan Orde Baru.

Pada tahun 1972 – 1973 sudah pernah dilakukan uji coba pertama konsep IPS masuk dipersekolahan Indonesia diterapkan pada kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. Kemudian secara resmi dalam kurikulum 1975 program pendidikan tentang masalah sosial dipandang tidak cukup diajarkan melalui pelajaran sejarah dan geografi saja, sehingga dilakukan reduksi mata pelajaran mulai tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas saat itu dimasukan mata pelajaran ilmu sosial serumpun atau sejenis digabung ke dalam mata pelajaran IPS. Oleh karena itu pemberlakuan istilah IPS (social studies) dalam kurikulum 1975 dapat dikatakan sebagai kelahiran IPS secara resmi di Indonesia.

Upaya memasukan materi ilmu-ilmu sosial dan humaniora ke dalam kurikulum sekolah di Indonesia disajikan mata pelajaran dan bidang studi atau jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) secara resmi pada kurikulum 1975. Kurikulum tahun 1975 merupakan perwujudan dari perubahan sosial pada pelaksanaan UUD 1945 secara mnurni dan konsekuen, bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.

Konsep Pendidikan IPS yang menginspirasi kurikulum 1975 yang menampilkan 4 (empat) profil, pertama; Pendidikan Moral Pancasila (PMP) menggantikan Kewarganegaraan sebagai bentuk pendidikan IPS khusus; Kedua, Pendidikan IPS terpadu untuk SD; Ketiga,  Pendidikan IPS terkonfederasi untuk SMP yang menempatkan IPS sebagai konsep Payung sejarah, geografi dan ekonomi koperasi; dan keempat ,  Pendidikan IPS terpisah-pisah yang mencakup mata pelajaran sejarah, ekonomi dan geografi untuk SMA, atau sejarah dan geografi untuk SPG, dan IPS (ekonomi dan sejarah) untuk SMEA / SMK.

A.2. Aplikasi Pendidikan IPS kurulum 1984 di Indonesia

Konsep pendidikan IPS dalam pelaksanaan kurikulum 1984 yang secara konseptual merupakan penyempurnaan  dari kurikulum 1975, khususnya dalam aktualisasi materi, masuknya konsep P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) sebagai materi pokok PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Pada kurikulum 1984, PPkn merupakan mata pelajaran sosial khusus yang wajib diikuti semua siswa di SD, SMP dan SMU. Sedangkan mata pelajaran IPS diwujudkan dalam (1) Pendidikan IPS terpadu di SD kelas I s.d. VI; (2) Pendidikan IPS terkonfederasi di SLTP yang mencakup geografi, sejarah, dan ekonomi koperasi; (3) Pendidikan IPS terpisah di SMU yang meliputi Sejarah Nasional dan Sejarah Umum di kelas I dan II; Ekonomi dan Geografi di kelas I dan II; Sejarah Budaya di kelas III program IPS.

A.3. Definisi Social Studies dari NCSS   tahun 1993

Sejalan dengan perkembangan kurikulum di Indonesia dan perkembangan zaman di negara maju khususnya di Amerika Serikat dan negara – Negara  Eropa, serta berkembangnya program pendidikan dan pengajaran Social Studies (pendidikan IPS) yang masuk dalam kurikulum pendidikan nasional di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia yang sedang menjalankan kurikulum 1984, maka pada tahun 1993 National Council for the Social Studies (NCSS) mengeluarkan definisi resmi yang membawa  social studies sebagai kajian yang terintegrasi dan  mencakup ilmu yang semakin luas.

NCSS (National Council for the Social Studies) pada tahun 1993 merumuskan definisi Social Studies sebagai berikut :

Social  studies is the integrated study of the social sciences and humanities to promote civis competence. Within the school program, social studies provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, archeology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help young people make informed and reasoned decisions for the public good as citizens of a culturally diverse, democratic society in an interdependent world.”

(http://www.socialstudies.org/standards/execsummary.(30 September 2011) diakses jam 10.27 wita.). atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia definisi tersebut diatas  adalah sebagai berikut :

Studi sosial adalah studi terintegrasi dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora untuk mempromosikan  kompetensi sipil. Dalam program sekolah, studi sosial menyediakan terkoordinasi, studi sistematis menggambarkan atas disiplin ilmu seperti antropologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat, ilmu politik, psikologi, agama dan sosiologi, serta konten yang sesuai dari humaniora, matematika , dan ilmu alam. Tujuan utama dari ilmu sosial adalah untuk membantu kaum muda membuat informasi dan keputusan beralasan untuk kepentingan publik sebagai warga masyarakat, budaya beragam demokrasi di dunia yang saling bergantung.”

NCSS menekankan pentingnya pendidikan bagi siswa yang berkomitmen untuk ide-ide dan nilai-nilai demokrasi, siswa akan terlibat dalam proses intelektual yang aktif pada kehidupan di masyarakat. Siswa sebagai warga masyarakat untuk menggunakan kemampuan pengetahuan mereka dalam memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan. NCSS memaparkan kurikulum standar untuk studi sosial menyediakan kerangka kerja yang dimusyawarahkan secara professional. NCSS pertamakali menerbitkan standar kurikulum nasional pada tahun 1994. Sejak saat itu standar kurikulum banyak digunakan diberbagai negara sebagai kerangka kerja bagi guru dan sekolah – sekolah untuk menyelaraskan kurikulum dan pembangunan dalam bidang pendidikan.

A.4. Perkembangan kurikulum sejak 1994, 2004 dan 2006 di Indonesia

Para pakar pendidikan dan ahli ilmu-ilmu sosial di Indonesia mulai serius terhadap pendidikan IPS sebagai program pendidikan di tingkat sekolah, sehingga upaya  memasukan ilmu-ilmu sosial ke dalam kurikulum sekolah agar lebih jelas lagi. Mengingat tidak semua disiplin ilmu-ilmu sosial bisa masuk ke dalam kurikulum sekolah dan bisa diajarkan di tingkat sekolah, maka penyajian ilmu sosial disatukan atau secara terintegrasi atau interdisipliner ke dalam kurikulum Pendidikan IPS (social studies).

Program pendidikan dasar dan menengah (SD – SMP) penyajiannya terpadu penuh, untuk pembelajaran IPS ditingkat SMA/ MA dan SMEA  penyajiannya secara terpisah antar cabang ilmu-ilmu sosial, tetapi selalu memperhatikan keterhubungannya antara ilmu sosial yang satu dengan yang lainnya, terutama jurusan IPS di SMA atau SMEA. Sementara pada tingkat perguruan tinggi pendidikan ilmu-ilmu sosial disajikan secara terpisah atau fakultas, seperti Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fisip. Namun untuk Pendidikan IPS di FKIP / IKIP/STIKIP yang mempersiapkan calon guru, maka akan diberikan secara interdisipliner dan juga disipliner. Interdisipliner dimaksudkan adalah karena ilmu yang diperoleh calon guru tersebut nantinya untuk program pembelajaran untuk usia anak sekolah, dan secara disipiliner adalah ditujukan kepada calon guru tersebut sebagai guru nantinya yang menguasai ilmu yang diajarkan.

Kurikulum 1994 dilaksanakan secara bertahap mulai tahun ajaran 1994 -1995 merupakan pembenahan atas pelaksanaaan kurikulum 1984 setelah memperhatikan tuntutan perkembangan dan keadaan masyarakat saat itu, khususnya yang menyangkut perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni. Demikian juga kebutuhan pembangunan dan gencarnya arus globalisasi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum 1984 itu sendiri. Upaya pembaharuan kurikulum pendidikan nampak saat diadakan serangkaian Rapat Kerja Nasional Depdikbud tahun 1986 sampai dengan 1989.

Pembenahan kurikulum ini didorong oleh amanat GBHN 1988 intinya antara lain :(a) perlunya diteruskan upaya peningkatan mutu pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan; (b) perlunya persiapan perluasan wajib belajar pendidikan dasar dari enam tahun menjadi sembilan tahun dan (c) perlunya segera dilahirkan undang-undang yang mengatur tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pada tahun 2004, pemerintah Indonesia melakukan perubahan kurikulum kembali yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Namun pengembangan kurikulum IPS diusulkan menjadi Pengetahuan Sosial untuk merespon secara positif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pembaharuan kurikulum Pendidikan IPS Tahun 2004 berbasis kompetensi atau dikenal Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menghendaki pelaksanaan program Pendidikan IPS yang powerful, hal tersebut dicirikan oleh pengembangan program Pendidikan IPS yang bermakna, integratif, berbasis nilai, menantang dan menerapkan prinsip belajar aktif. Pendidikan IPS bertujuan meningkatkan kecakapan hidup (life skills) siswa untuk menjadi kompetensi yang dapat digunakan dalam kehidupan sosial bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pendidikan IPS menurut konsep Kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi (KBK) hakekatnya Pendidikan IPS  sebagai pendidikan kewarganegaraan, pendidikan ilmu-ilmu sosial , pendidikan inquiri reflektif,  pembelajaran terpadu, dan pendidikan partisipasi sosial. Dalam pelaksanaannya, pembelajarannya, pengembangan sumber dan materinya, serta penilainnya haruslah berbasis pada pendekatan konstruktivisme yang memusatkan siswa sebagai subjek yang membangun dan mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya secara mandiri.

Pelaksanaan Kurikulum 2006 atau dikenal dengan sebutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  mengacu pada standar nasional pendidikan; standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Salah satu dari delapan standar nasional pendidikan tersebut adalah Standar Isi (SI) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum disamping Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Pelaksanaan Kurikulum 2006 atau yang dikenal dengan sebutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) terdapat beberapa hal yang patut dicermati yaitu :

  1.  Keragaman Pelaksanaan

Pelaksanaan KTSP di sekolah-sekolah terdapat keragaman, khususnya keragaman dalam pelaksanaan di setiap jenjang. Ada sekolah yang melaksanakan sekaligus semua jenjang yaitu di SD langsung dilaksanakan dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 ; di SMP dari kelas VII sampai dengan kelas IX; dan di SMA dari kelas X sampai dengan kelas XII. Selain itu ada pula sekolah-sekolah yang melaksanakan secara berjenjang perkelas, misalnya di SMP pada tahun 2006 dilaksanakan hanya di kelas VII dan di kelas VIII pada tahun 2007 sedangkan di kelas IX baru akan dilaksanakan pada tahun 2008.

Begitu pula halnya di SMA, pelaksanaan di kelas X pada tahun 2006, kelas XI tahun 2007, dan kelas XII baru tahun 2008. Keragaman pelaksanaan tersebut memiliki berbagai alasan. Sekolah yang melaksanakan KTSP secara keseluruhan pada semua jenjang beralasan agar kurikulum yang dilaksanakan di sekolah tersebut seragam dan merasa siap untuk melaksanakannya. Sedangkan sekolah yang melaksanakan secara berjenjang dengan alasan mengkuti peraturan sebagaimana diatur dalam Permendiknas no. 23 yang mengatakan pelaksanaan KTSP dilakukan secara berjenjang dan membolehkan bagi sekolah yang siap untuk melaksanakan di seluruh jenjang. Alasan lainnya adalah ketidaksiapan sekolah-sekolah tersebut untuk melaksanakan KTSP secara menyeluruh pada semua jenjang.

b. Tugas guru mengajar

Guru yang mengajar IPS baik di SD, SMP dan SMA mengikuti pada   pengorganisasian materi kurikulum IPS. Pengorganisasian kurikulum IPS di SD lebih bersifat terpadu atau integrasi, jadi pelaksanaan pengajaran IPS di SD dipegang oleh satu orang guru. Perubahan pengorganisasian materi IPS pada KTSP ini adalah di SMP. IPS di SMP diorganisasikan menjadi IPS Terpadu, sehingga berimplikasi pada tugas guru yang mengajar. Dalam hal ini bagaimana guru IPS di SMP mengajar terjadi keragaman. Ada sekolah yang mengajarkan IPS di SMP dipegang oleh satu orang.

Konsekuensinya, guru tersebut harus`mengajar sejarah, ekonomi, geografi dan sosiologi. Pelaksanaan seperti itu beralasan bahwa mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang satu, bukan mata pelajaran yang dipisah-pisahkan walaupun materinya bersumber dari sejarah, ekonomi, geografi dan sosiologi. Selain itu ada pula SMP yang mengajarkan IPS, dipegang oleh beberapa orang guru sesuai dengan disiplinnya, yaitu sejarah, ekonomi, geografi dan sosiologi. Jadi pelaksanaan pengajaran IPS dibagi ke dalam empat bidang studi.

Alasan pelaksanaan yang demikian pertama ; untuk pemerataan guru mata pelajaran (sejarah, ekonomi, geografi dan sosiologi), kedua; pentingnya profesionalisme penguasaan materi oleh guru. Mata pelajaran apabila diajarkan oleh guru yang bukan disiplinnya akan menjadi kurang berkualitas, misalnya sejarah diajarkan oleh guru yang berlatar belakang pendidikan geografi atau sebaliknya. Sedangkan pengajaran IPS di SMA dalam implementasi penugasan guru tidak terjadi perubahan sebagaimana halnya di SMP, karena pengorganisasian materi IPS di SMA Kajian Kebijakan Kurikulum MP IPS – 2007  sudah terpisah-pisah secara disiplin. Jadi ada guru yang secara khusus`mengajar sejarah, ekonomi, geografi dan sosiologi.

  1. LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN IPS DALAM KURIKULUM

PENDIDIKAN DI INDONESIA

Bangsa Indonesia  dilihat dari latar belakang etnik atau kesukuan merupakan sebaran suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia dengan disatukan sebagai bangsa yang mempunyai latar belakang keaneka ragaman bahasa daerah, budaya dan kearifan lokal yang dimiliki masing-masing etnik. Secara keseluruhan bangsa Indonesia saat ini dikenal sebagai bangsa yang majemuk atau heterogenitas multi etnik yang merupakan bagaian dari masyarakat yang pluralistik.

Dengan kemajemukan masyarakat tersebut pendidikan dan pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memiliki peran yang strategis baik ditinjau dari segi akademik maupun kepentingan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dilihat dari sisi akademik pendidikan dan pengajaran IPS dapat membekali anak didik atau siswa pada pemahaman konsep-konsep dasar ilmu –ilmu sosial sebagai basis dari pendidikan dan pengajaran IPS di jenjang lembaga pendidikan atau persekolahan.

Melalui pendidikan dan pengajaran IPS siswa diharapkan memiliki bakat dan minat terhadap ilmu-ilmu sosial dan dapat memecahkan persoalan-persoalan yang riil ketika mereka tamat pada jenjang persekolahan tertentu dan dapat hidup berinteraksi dalam lingkungan masyarakat sebagai insan pembangunan bangsa yang memiliki moral, pekerti yang baik dan mandiri. Keberehasilan pendidikan dan pengajaran IPS akan dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan dan pengajaran IPS di Indonesia sudah mendapatkan landasan hukum yang kuat sebagaimana tertuang pada Bab III Pasal 2  UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang menegaskan bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”.

Dengan dasar tersebut diatas pada kurikulum pendidikan dan pengajaran dibawah naungan Pendidikan Nasional terdapat kebijakan kurikulum mata pelajaran IPS , misalnya Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi satuan Pendidikan dasar dan Menengah, sedangkan untuk lembaga pendidikan tinggi melalui surat Dirjen Dikti Nomor 30/DIKTI/KEP/2003, telah ditetapkan rambu-rambu pelaksanaan kelompok mata kuliah berkehidupan bermasyarakat di Pergurtuan Tinggi.

Untuk Pendidikan dan Pengajaran IPS pada satuan Pendidikan Dasar (SD/MI dan SMP/Mts) diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, termasuk didalamnya kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, pengajaran pada satuan pendidikan IPS diberikan secara terpadu. Pada tingkat SMA/MA pelajaran IPS bermuatan akademis dan masuk pada kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

  1. Kajian Teoritis Landasan Filosofis Kurikulum Pendidikan IPS

Pengembangan suatu kurikulum haruslah memiliki landasan filosofis, dimaksudkan agar memiliki arah dan tujuan yang jelas dalam implimentasinya. Filsafat pendidikan mengandung suatu nilai-nilai atau cita-cita masyarakat, berdasarkan cita-cita tersebut terdapat sebuah landasan, yang tidak lain mau dibawa kemana arah pendidikan anak didik tersebut. Dengan kata lain filsafat pendidikan merupakan pandangan hidup masyarakat.

Filsafat pendidikan menjadi landasan untuk merancang tujuan pendidikan, prinsif – prinsif  pembelajaran, serta perangkat pengalaman belajar yang bersifat mendidik. Filsafat pendidikan dipengaruhi oleh dua hal pokok (1) Cita-cita masyarakat dan (2) kebutuhan peserta didik yang hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai filsafat Pendidikan harus dilaksanakan dalam prilaku kehidupan sehari-hari. Dari sekian banyak alternatif landasan utama dalam mengembangkan kurikulum pendidikan salah satunya adalah Landasan Filosofis.

Secara teoritis terdapat beberapa pandangan filosofis kurikulum, Landasan Filosofis sebagaimana dipaparkan dalam “Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum  Mata Pelajaran IPS” Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum 2007, Depdiknas RI dirincikan sebagai berikut :

(1)   Esensialisme

Esensialisme; adalah aliran yang menggariskan  bahwa kurikulum harus menekankan pada penguasaan ilmu. Aliran ini berpandangan bahwa, pendidikan pada dasarnya adalah pendidikan keilmuan. Kurikulum yang dikembangkan dalam aliran esensialisme adalah kurikulum disiplin ilmu. Tujuan dari aliran esensialisme adalah menciptakan intelektualisme. Proses belajar-mengajar yang dikembangkan adalah siswa harus memiliki kemampuan penguasaan disiplin ilmu. Penerapan pembelajaran ini lebih banyak berperan pada guru jika dibandingkan dari siswa.

           Sekolah yang baik dalam pandangan filsafat esensialisme adalah sekolah yang mampu mengembangkan intelektualisme siswa. Implementasi mata pelajaran IPS menurut aliran esensialisme akan lebih menekankan IPS pada aspek kognitif (pengetahuan) jika dibandingkan dengan aspek afektif (sikap). Siswa belajar IPS akan lebih berorientasi pada pemahaman konsep-konsep IPS daripada penerapan materi yang ada pada IPS bagi kehidupan sehari-hari.

(2)   Perenialsme

Perenialsme; adalah aliran yang memandang , bahwa sasaran yang harus dicapai oleh pendidikan adalah kepemilikan atas prinsip-prinsip tentang kenyataan, kebenaran dan nilai yang abadi, serta tidak terkait oleh ruang dan waktu. Dalam pandangan aliran Perenialisme kurikulum akan menjadi sangat ideologis karena dengan pandangan-pandangan ini menjadikan siswa atau peserta didik sebagai warga Negara yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diinginkan oleh Negara. Pandangan perenialisme lebih menekankan pada Transfer Budaya (transfer of culture), seperti dalam Implementasinya pada  kurikulum IPS yang bertujuan pada pengembangan dan pembangunan jati diri bangsa peserta didik dalam rangka menuju tercapainya  integrasi bangsa. Aliran ini juga dikenal menekankan pada kebenaran yang absolut, kebenaran universal yang tidak terikat pada ruang dan waktu, aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.

(3)   Progresivisme

Progresivisme; adalah aliran ini memandang bahwa sekolah memiliki tujuan yakni kecerdasan yang praktis dan membuat siswa lebih efektif dalam memecahkan berbagai masalah yang disajikan oleh guru atau pendidik. Masalah tersebut biasanya ditemukan berdasarkan pengalaman siswa. Pembelajaran yang harus dikembangkan oleh aliran Progresivisme adalah memperhatikan kebutuhan individual yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial-budaya dan mendorong untuk berpartisipasi aktif sebagai warga Negara dewasa, terlibat dalam pengambilan keputusan, dan memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah pada kehidupan sehari-hari. Implementasi IPS dalam pandangan aliran filsafat Progresivisme adalah bagaimana mata pelajaran IPS mampu membekali  kepada siswa agar dapat memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-harinya, misalnya kemiskinan, pengangguran, kebodohan, ketertinggalan, kenakalan remaja atau narkoba dan lainnya.

(4)   Rekonstruksionisme

           Rekonstruksionisme; adalah aliran ini berpendapat  bahwa sekolah harus diarahkan kepada pencapaian tatanan demokrasi yang mendunia. Aliran filsafat ini menghendaki agar setiap individu dan kelompok tanpa mengabaikan nilai-nilai masa lalu, mampu mengembangkan pengetahuan, teori, atau pandangan tertentu yang paling relevan dengan kepentingan mereka melalui pemberdayaan peserta didik dalam proses pembelajaran guna memproduksipengetahuan baru. Dalam pandangan aliran filsafat ini lebih menekankan agar siswa dalam pembelajaran mampu menemukan (inquiri), penemuan yang bersifat informasi baru bagi siswa berdasarkan bacaan yang ia lakukan. Pembelajaran lebih ditekankan pada proses bukan hasilnya. Aktivitas siswa menjadi perioritas utama dalam berlangsungnya pembelajaran.

Dalam implementasi pembelajaran IPS , misalnya siswa mempelajari fakta-fakta disekelilingnya, berdasarkan fakta tersebut siswa menemukan definisi mengenai sesuatu, tanpa harus didefinisikan terlebih dahulu oleh guru. Misalnya dalam pelajaran ekonomi diperkenalkan adanya fakta orang-orang yang mekakukan kegiatan jual – beli. Setelah melihat aktivitas orang-orang tersebut akhirnya siswa menemukan definisi mengenai penjualan, pembelian, penawaran, pasar, uang dan lainnya dalam aktivitas jual-beli. Dengan demikian guru tidak menjelaskan atau membuat definisi, tetapi dari fakta-fakta tersebut siswalah yang aktif melihat fakta dan dapat mendifinisikannya.

  1.  Landasan Filosofis Guru IPS dalam Perubahan Zaman

Perkembangan zaman menuntut perubahan sosial di semua lapisan masyarakat, kemajuan informasi dan teknologi global merambah negara maju dan negara sedang berkembang termasuk Indonesia saat ini. Untuk mengimbangi perkembangan dan kemajuan tersebut profil guru harus mampu melakukan seleksi aneka kecenderungan siswa dalam mengarahkan proses belajar- mengajar pendidikan IPS. Guru IPS harus pandai memanfaatkan sumber-sumber informasi dari media massa modern dan peralatan teknologi pengajaran, tetapi tetap dalam koridor kurikulum yang dipakai saat ini guru senantiasa mengikuti perkembangan dan perubahan – perubahan yang terjadi.

Secara sadar atau tidak guru IPS ikut aktif dalam tatanan kerja masa transisi yang sedang populer saat ini dalam kemajuan belajar melalui Informasi  Teknologi, paling tidak guru IPS harus dipertautkan kembali dalam keterlibatan filosofis atau filsafat yang berkembang khususnya dalam bidang pendidikan. Ada dua aliran filsafat ekstreminitas ; pertama sikap reaksioner ; adalah aliran yang paling hati-hati dan takut kepada pembaharuan; dan kedua sikap Radikal ;adalah sikap paling keranjingan  atau mendukung pembaharuan. Dengan dua sikap ekstreminitas diatas, maka guru IPS dalam pendekatan pribadi dapat menempati salah satu empat titik utama  yang terletak diantara dua ekstreminitas tersebut.

N. Daldjoeni dalam buku beliau “Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan Sosial” (1992 : 37 – 38) merincikan Empat Titik Utama secara filosofis bagi kinerja guru IPS dalam melakukan seleksi diantara dua ekstreminitas perkembangan dan perubahan zaman tersebut adalah sebagai berikut :

(1) Perenialisme; itu berdasarkan keyakinan adanya kebenaran yang sifatnya abadi dan mutlak. Sehubungan dengan itu sekolah bertugas membantu para siswa menemukan kebenaran-kebanaran itu. Faham ini berakar pada filsafat Thomas Aquino.

(2) Esensialisme; berisi faham bahwa ada hakekat-hakekat minimum tertentu yang harus dipertahankan sekolah. Hakekat tersebut dapat berubah-ubah dalam rentangan zaman, tetapi untuk masa tertentu hakekat itu merupakan endapan dari pengetahuan dan kebijaksanaan yang berasal dari masa lampau. Inilah yang perelu diterimakan kepada generasi sekarang di sekolah.

(3) Progresivisme; beretalian dengan faham William James dan John Dewey tentang faham ‘pragmatisme’, dimana penyelelidikan sesuatu harus dilakukan secara ilmiah. Dalam hal itu sekolah merupakan pendahulunya.

(4) Rekonstruksionisme; meskip ini  mirip  dengan Progresivisme, akan tetapi lebih maju lagi, karena secara konkrit ini lebih mendekati tujuan yang diidamkan  oleh progresivisme. Karena itu sekolah diharapkan menjadi pelopor usaha pembaharuan masyarakat. Filsafat ini dari Theodore Brameld.

  1. PENUTUP
    1. Kesimpulan

Perkembangan istilah atau nama Social Studies pertama kali dimasukan secara resmi  kedalam   kurikulum sekolah  Rugby di Inggris  pada tahun 1827,  Dr. Thomas Arnold direktur  sekolah  tersebut  adalah  orang  pertama yang  berjasa  memasukan Social Studies kedalam kurikulum sekolah.  Pada awal abad ke – 20 sebuah Komite Nasional dari The National Education Assciation memberikan rekomendasi tentang perlunya social studies dimasukan ke dalam kurikulum sekolah dasar dan sekolah menengah di Amerika Serikat.

Tahun 1921 berdirilah “National Council for the Social Studies “ atau disingkat ( NCSS ),  sebuah organisasi professional yang secara khusus membina dan mengembangkan social  studies  pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, serta kaitannya dengan  disiplin ilmu – ilmu  sosial  dan disiplin ilmu pendidikan sebagai program pendidikan syntectic. Pada pertemuan ilimiah dalam sebuah seminar Nasional Indonesia tentang Civic Education tahun 1972 di Tawangmangu Solo Jawa Tengah, dalam paparan seminar tersebut ditawarkanlah 3 (tiga) istilah untuk dimasukan dalam pendidikan kewarganegaraan di Indonesia. Pertama; Istilah Pengetahuan sosial; kedua, Studi Sosial (Social Studies) dan ketiga , Ilmu Pengetahuan Sosial.

Pada tahun 1972 – 1973 sudah pernah dilakukan uji coba pertama konsep IPS masuk dipersekolahan Indonesia diterapkan pada kurikulum proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. Kemudian secara resmi dalam kurikulum 1975 program pendidikan tentang masalah sosial dipandang tidak cukup diajarkan melalui pelajaran sejarah dan geografi saja, sehingga dilakukan reeduksi mata pelajaran mulai tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas saat itu dimasukan mata pelajaran ilmu social serumpun atau sejenis digabung ke dalam mata pelajaran IPS. Oleh karena itu perberlakuan istilah IPS (social studies) dalam kurikulum 1975 dapat dikatakan sebagai kelahiran IPS secara resmi di Indonesia.

Tahun 1993 National Council for the Social Studies (NCSS) mengeluarkan definisi resmi yang membawa  social studies sebagai kajian yang terintegrasi dan  mencakup ilmu yang semakin luas.  NCSS memaparkan kurikulum standar untuk studi sosial menyediakan kerangka kerja yang dimusyawarahkan secara professional. NCSS pertamakali menerbitkan standar kurikulum nasional pada tahun 1994. Sejak saat itu standar kurikulum banyak digunakan diberbagai negara sebagai kerangka kerja bagi guru dan sekolah – sekolah untuk menyelaraskan kurikulum dan pembangunan dalam bidang pendidikan.

Kurikulum 1994 dilaksanakan secara bertahap mulai tahun ajaran 1994 -1995 merupakan pembenahan atas pelaksanaaan kurikulum 1984 setelah memperhatikan tuntutan perkembangan dan keadaan masyarakat saat itu, khususnya yang menyangkut perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni. Pembenahan kurikulum ini didorong oleh amanat GBHN 1988 intinya antara lain :(a) perlunya diteruskan upaya peningkatan mutu pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan; (b) perlunya persiapan perluasan wajib belajar pendidikan dasar dari enam tahun menjadi sembilan tahun dan (c) perlunya segera dilahirkan undang-undang yang mengatur tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pada tahun 2004, pemerintah Indonesia melakukan perubahan kurikulum kembali yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Namun pengembangan kurikulum IPS diusulkan menjadi Pengetahuan Sosial untuk merespon secara positif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menghendaki pelaksanaan program Pendidikan IPS yang powerful, hal tersebut dicirikan oleh pengembangan program Pendidikan IPS yang bermakna, integratif, berbasis nilai, menantang dan menerapkan prinsip belajar aktif. Pendidikan IPS bertujuan meningkatkan kecakapan hidup (life skills) siswa untuk menjadi kompetensi yang dapat digunakan dalam kehidupan sosial bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pelaksanaan Kurikulum 2006 atau dikenal dengan sebutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  mengacu pada standar nasional pendidikan; standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Salah satu dari delapan standar nasional pendidikan tersebut adalah Standar Isi (SI) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum disamping Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Pengembangan suatu kurikulum haruslah memiliki landasan filosofis, dimaksudkan agar memiliki arah dan tujuan yang jelas dalam implimentasinya. Filsafat pendidikan mengandung suatu nilai-nilai atau cita-cita masyarakat, berdasarkan cita-cita tersebut terdapat sebuah landasan, yang tidak lain mau dibawa kemana arah pendidikan anak didik tersebut. Dengan kata lain filsafat pendidikan merupakan pandangan hidup masyarakat.

Secara teoritis terdapat beberapa pandangan filosofis kurikulum, Landasan Filosofis sebagaimana dipaparkan dalam “Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum  Mata Pelajaran IPS ” Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum Tahun 2007, Depdiknas RI dirincikan sebagai berikut  berikut : pertama; Esensialisme; adalah aliran yang menggariskan  bahwa kurikulum harus menekankan pada penguasaan ilmu Tujuan dari aliran esensialisme adalah menciptakan intelektualisme Sekolah yang baik dalam pandangan filsafat esensialisme adalah sekolah yang mampu mengembangkan intelektualisme siswa. kedua Perenialsme; adalah aliran yang memandang , bahwa sasaran yang harus dicapai oleh pendidikan adalah kepemilikan atas prinsip-prinsip tentang kenyataan, kebenaran dan nilai yang abadi, serta tidak terkait oleh ruang dan waktu. Dalam pandangan aliran Perenialisme kurikulum akan menjadi sangat ideologis karena dengan pandangan-pandangan ini menjadikan siswa atau peserta didik sebagai warga Negara yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diinginkan oleh Negara.

Ketiga;  Progresivisme; adalah aliran ini memandang bahwa sekolah memiliki tujuan yakni kecerdasan yang praktis dan membuat siswa lebih efektif dalam memecahkan berbagai masalah yang disajikan oleh guru atau pendidik. aliran Progresivisme adalah memperhatikan kebutuhan individual yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial-budaya dan mendorong untuk berpartisipasi aktif sebagai warga Negara dewasa, terlibat dalam pengambilan keputusan, dan memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah pada kehidupan sehari-hari. Implementasi IPS dalam pandangan aliran filsafat Progresivisme adalah bagaimana mata pelajaran IPS mampu membekali  kepada siswa agar dapat memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-harinya, misalnya kemiskinan, pengangguran, kebodohan, ketertinggalan, kenakalan remaja atau narkoba dan lainnya.

Keempat; Rekonstruksionisme; adalah aliran ini berpendapat  bahwa sekolah harus diarahkan kepada pencapaian tatanan demokrasi yang mendunia. Aliran filsafat ini menghendaki agar setiap individu dan kelompok tanpa mengabaikan nilai-nilai masa lalu, mampu mengembangkan pengetahuan, teori, atau pandangan tertentu yang paling relevan dengan kepentingan mereka melalui pemberdayaan peserta didik  dalam proses pembelajaran guna memproduksipengetahuan baru. Dalam pandangan aliran filsafat ini lebih menekankan agar siswa dalam pembelajaran mampu menemukan (inquiri), penemuan yang bersifat informasi baru bagi siswa berdasarkan bacaan yang ia lakukan. Pembelajaran lebih ditekankan pada proses bukan hasilnya. Aktivitas siswa menjadi perioritas utama dalam berlangsungnya pembelajaran.

  1. Saran – Saran

Guru IPS harus berperan aktif dalam tatanan kerja dimana saat ini sedang  dalam kemajuan belajar melalui Informasi  Teknologi, paling tidak guru IPS harus dipertautkan kembali dalam keterlibatan filosofis atau filsafat yang berkembang khususnya dalam bidang pendidikan. Ada dua aliran filsafat ekstreminitas ; pertama sikap reaksioner ; adalah aliran yang paling hati-hati dan takut kepada pembaharuan; dan kedua sikap Radikal ;adalah sikap paling keranjingan  atau mendukung pembaharuan. Dengan dua sikap ekstreminitas diatas, maka guru IPS dalam pendekatan pribadi dapat menempati salah satu  titik utama  yang terletak diantara dua ekstreminitas tersebut.

Agar jangan sampai dinilai oleh siswa sebagai guru yang kolot dan ketinggalan, sebaiknya guru atau pengajar harus banyak belajar seiring dengan kemajuan Informasi dan teknologi, karena perkembangan informasi Global membuka seluas-luasnya pelajaran di dunia maya, internet dan media massa, paling tidak guru mampu mengimbangi proses-belajar mengajar dengan memanfaatkan  peralatan teknologi sebagai alat pengajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Ansori, A., 2011. 52 Kajian Kebijakan Kurikulum Ips. [Online]. Tersedia  :http://www.slideshare.net/Dwijosusilo/52-kajian-kebijakan-kurikulum-ips [24 September 2011. Jam 18.04 WITA]

Ardhian, T., 2011. Landasan Kurikulum IPS. [Online]. Tersedia  : http://trioardhian.blogspot.com/2011/05/landasan-kurikulum-ips.html [30 sept 2011 diakses jam 16.50 wita]

Bambang A. Soekisno, R., 2007. Bagaimanakah Perjalanan Kurikulum Nasional (pada Pendidikan Dasar dan Menengah) ?. [Online]. Tersedia  : http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/16/bagaimanakah-perjalanan-kurikulum-nasional-pada-pendidikan-dasar-dan-menengah/ [30 Sept 2011 diakses jam 15.03 wita]

Daldjoeni, N., 1992. Dasar –dasar Ilmu Pengetahuan Sosial, Bandung : Penerbit Alumni

Depdiknas, 2007. Naskah Akdemik Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Departemen Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum 2007. Jakarta: Depdiknas.

Gunawan, 2009. Filosofi Dasar dalam Pengembangan Kurikulum Sekolah. [Online]. Tersedia  : http://bloggersumut.net/pendidikan/filosofi-dasar-dalam-pengembangan-kurikulum-sekolah [30 Sept 2011 diakses jam 15.10 wita]

Haslinda, 2010. Makalah Pendidikan IPS. [Online]. Tersedia  : (http ://haslindafadillah,blogspot.com/2010/11/makalah-pendidikan-ips.html [27 Sept 2011 diakses jam 20.44.wita]

Liewie, 2009. Filosofi Pendidikan. [Online]. Tersedia  : http: //id.shvoong.com/humanities/philosophy/1947159-filosofi-pendidikan/ [27 September 2011 diakses jam 16.40 Wita]

NCSS, 2000. National Standar for Social Studies Teachers :Executive Summary. [Online]. Tersedia  : http://www.socialstudies.org/standards/execsummary [30 Sept 2011 diakses jam 10.34 wita]

Rijono, 2008. Kurikulum 2004 (KBK) & Kurikulum 2006 (KTSP) Memang Berbeda Secara Signifikan. [Online]. Tersedia  : http://rijono.wordpress.com/2008/02/28/kurikulum-2004-kbk-kurikulum-2006-ktsp-memang-berbeda-secara-signifikan/ [30 Sept 2011 diakses jam 14.38 wita]

Sukadi, 2004. Pendidikan IPS yang Powerful dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Laporan Penelitian.Singaraja: IKIP negeri Singaraja.

Laporan Jurnal

Standar

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Identitas Buku

Buku yang dilaporkan berjudul “Teaching Transformed; Achieving Excellence, Fairness, Inclusion and Harmony”, karya Roland G.Tharp, Peggy Estrada, Stephanie Stoll Dalton dan Lois A.Yamauchi. Diterbitkan tahun 2000 oleh Westview Press Colorado, sebanyak 274 halaman.

  1. B.       Ruang Lingkup Buku

Ruang lingkup buku terdiri Pengantar dan Gambaran Umum, Perubahan Kelas, Aktivitas dalam Teori dan Kelas, Pola-Pola Aktivitas Instruksional dan Hubungan-Hubungan, Kultur dan Aktivitas Instruksional, Mendesain Organisasi Aktivitas Instruksional dan Fase 5 di Kelas: Bukti, Visi dan Masa Depan

  1. C.      Sistematika Uraian

Pengarang menyusun berbagai elemen, mengartikulasi visi, mengilustrasikannya dengan berbagai contoh, menyingkapkan dinamikanya, menjelaskan akibat-akibatnya, memberikan bukti yang mendukung, dan menggali potensinya Pengajaran Transformatif untuk pengajaran perubahan di sekolah untuk masa depan. Pembelajarannya adalah pada level “ruang kelas”; bukan terbatas pada kotak ruang kelas secara fisik, tetapi “ruang kelas” dalam pengertian kegiatan-kegiatan pengajaran yang diorganisir yang mungkin diperluas keluar bangunan sekolah dan bahkan ke dalam masyarakat. Adapun tujuan dari penyajian sistem dengan pola kegiatan-kegiatan yang dapat didesain untuk mencapai secara simultan seluruh tujuan-tujuan utama dari semua cabang gerakan reformasi sekolah; keunggulan akademik, keadilan, inklusif, dan harmoni.

Keadilan untuk melayani siswa minoritas dengan lebih baik, untuk menjamin “persamaan hak”, membuat mereka sama untuk semua. Keunggulan adalah prestasi setiap potensi siswa secara penuh, diberi, ditantang atau rata-rata. Inklusi menghimpun dan didistribusi secara sama kepada semua siswa dalam peluang-peluang sosial sekolah dan pembelajaran. Harmoni adalah nilai-nilai umum keseluruhan dengan memberikan bahasa untuk membangun komunitas kebangsaan, toleransi yang luas dan murah hati.

BAB. II

INTI SARI BAHASAN

  1. A.      Gambaran Umum

Studi terhadap desain dan organisasi terhadap aktivitas kelas masih belum diakui sebagai elemen dasar dari pendidikan, meskipun sama dengan studi mengajar dan belajar itu sendiri. Dalam teori pengembangan manusia yang disusun dalam buku ini, aktivitas didasarkan pada kerangka acuan dari ontologi manusia, dan pola-pola aktivitas (terdiri dari tindakan-tindakan, pribadi-pribadi, interaksi-interaksi, tata latar, peran-peran dan simbol-simbol) yang menentukan hasil dari sosialisasi dan pengembangan manusia. Masih berbagai konsep yang baru saja merasuk diskusi-diskusi kebijakan pendidikan, baik mereka mempunyai banyak pengaruh terhadap pendidikan guru maupun wacana publik secara umum.

  1. B.       Perubahan Kelas; Gambaran, Prinsip-Prinsip dan Kriteria
  2. Kriteria Kualitas untuk Aktivitas Pembelajaran dalam Kelas

Kriteria umum untuk memandu desain dan organisasi aktivitas kelas, yang ingin mengalami perubahan memenuhi beberapa standar dan kriteria yang secara simultan akan mencapai Kenggulan, Keadilan, Inklusi dan Harmoni.

  1. Prinsip Umum untuk Pedagogi yang Efektif

Lima prinsip umum adalah prinsip-prinsip sederhana yang disepakati oleh penelitian-peneliti pendidikan dan pengembang program, ditegakkan dari hasil membaca literatur penelitian, pengembangan, dan evaluasi program-program pendidikan untuk semua kultural dan kelompok sosial lebih dari satu setting periode dalam masa sepuluh tahun dan melampaui jarak yang luas, lima prinsip dilahirkan sebagai konsensus. Prinsip-prinsip adalah pernyataan-pernyataan yang disepakati mengenai mengajar efektif melintasi rentang kemungkinan yang luas dari keragaman, kelas, kurikulum, kultur, dan bahasa kelompok-kelompok. Prinsip-prinsip juga secara umum melintasi semua materi pelajaran, dan melayani kualitas standar-standar untuk semua mata pelajaran, “titik patokan” untuk mengukur ketulusan hari dari kesatuan kelas itu sendiri, dan kriteria untuk mengevaluasi berbagai desain kelas. Prinsip-prinsip sama sekali konsisten dengan mengajar dan belajar secara natural, sebagai yang dilaksanakan oleh Homo sapiens secara tradisional, memberikan aktivitas, percakapan, pengembangan bahasa, dan konteks bersama dengan lingkungannya. Prinsip-prinsip umum kemudian dikenalkan dalam bentuk Lima Standar untuk Pedagogi yang Efektif, yang didukung dengan indikator-indikator dan contoh-contoh.

Lima Standar menyediakan kriteria terbaik untuk pedagogi, dan cukup untuk mengundang keberhasilan perkembangan kognitif; prestasi sekolah dan kelas dengan karakteristik Keunggulan, Keadilan, Inklusi dan Harmoni. Lima Standar didasarkan pada teori-teori tertentu, yakni  perspektif teori sosiokultural (Tharp dan Gallimore,1988; Werstch, 1985), sains kognitif (Bruer,1993), teori organisasi (Cohen dan Lotan,1997), perspektif teori kritis (Horton dan Freire, 1990, dan McLaren,1999).

  1. Lima Standar untuk Pedagogi yang Efektif
    1. Standar I. Para Guru dan Siswa Menghasilkan Kebersamaan, dengan kriteria :  Memfasilitasi belajar melalui aktivitas yang menghasilkan kebersamaan  antara guru dan para siswa.

Teori sosiokultural menitikberatkan bahwa belajar mendapatkan tempat terbaik dalam aktivitas yang menghasilkan kebersamaan. Motivasi bersama yang diberikan oleh tujuan bersama cendrung membuat semua peserta menawarkan dan menerima bantuan, karena itu setiap orang berminat terhadap tujuan untuk dicapai. Disebabkan memberikan bantuan adalah dasar tindakan dari mengajar, aktivitas yang menghasilkan kebersamaan menghasilkan kondisi-kondisi yang memunculkan perkembangan. Penelitian membuktikan juga dengan jelas dukungan peran konstruktif aktivitas produktif tersebut, sementara bantuan adalah vital, dan setting alamiah baik dalam mengembangkan kompetensi mereka dalam kontek aktivitas kebersamaan. Aktivitas kebersamaan yang kecil, khususnya dengan guru, dari pengalaman-pengalaman biasa seperti itu tumbuh, dan membolehkan siswa mengembangkan pemahaman dengan guru dan orang-orang lain. Sedangkan partisipasi guru selama aktivitas itu, berperan sebagai pemandu, teman dialog, dan model pengalaman yang paling kuat bagi siswa dalam mempelajari kriteria dan metaskrip yang tepat untuk mereka dengan menggunakan kelompok-kelompok kerjasama mereka.

Aktivitas kerjasama antara guru dan para siswa menolong membuat konteks bersama dalam pengalaman di sekolah itu sendiri, penting kalau konteks kultural bersama tidak hadir, dan berakibat pada timbulnya seperangkat harmoni nilai-nilai. Guru memberikan kunci yang diperlukan untuk membuka pintu-pintu kesempatan, pintu-pintu pilihan-pilihan masa depan.

  1. Standar II. Mengembangkan Bahasa dan Literasi Lintas Kurikulum, dengan kriteria : Mengembangkan kompetensi bahasa dan literasi dalam pembelajaran lintas kurikulum

Penelitian pendidikan, kognitif dan literasi mengungkapkan secara mendalam pertalian antara bahasa, berpikir, nilai-nilai dan kultur. Pengembangan bahasa terbaik melalui penggunaan bermakna dan percakapan antara guru dan siswa, dari pada melalui latihan dan peraturan-peraturan yang tidak kontekstual. Setiap hari bahasa sosial, bahasa akademik yang benar secara formal, dan bahasa setiap mata pelajaran semua penting untuk keberhasilan dalam sekolah dan kehidupan. Jadi pengembangan bahasa pada semua tingkat – informal, problem solving, dan akademik- lingkaran kurikulum hari sekolah sepenuhnya. Memang membaca dan menulis diajarkan sebagai mata pelajaran khusus, tetapi mereka dapat juga diajar dalam mata pelajaran yang lain melalui aktivitas pengembangan ekspresi bahasa yang komprehensif.

Standar II adalah memberikan siswa kesempatan-kesempatan untuk berbicara dan menulis, menggunakan bahasa praktis dan menerima balikan dari percakapan. Aktivitas yang menghasilkan kebersamaan memberikan kesempatan-kesempatan ideal bagi pengembangan bahasa dalam aktivitas mata pelajaran. Pengembangan bahasa, baik lisan maupun tulisan dapat dikembangkan dengan strategi-strategi sederhana seperti mengulangi, contoh, menawarkan ucapan alternatif, dan menanyakan. Setiap hari bahasa dan bahasa akademik dibutuhkan berkelanjutan dan pengembangan terpadu. Sebab bahasa akademik membangun dan merubah setiap hari bahasa dan berpikir dan itu tergambar. Diskusi akademik meningkatkan siswa bergerak melampaui pembicaraan setiap hari dan menggunakan kamus mata pelajaran untuk mengungkapkan pemahaman mereka terhadap konsep-konsep. Aturan pertama pengembangan bahasa memberikan siswa dengan berbagai kesempatan untuk menggunakan beragam bahasa dengan bentuk-bentuk yang tepat.

  1. Standar III. Membuat Makna: Menghubungkan Sekolah dengan Kehidupan Siswa, dengan kriteria: Kontekstualisasi mengajar dan kurikulum dengan pengalaman-pengalaman dan keterampilan-keterampilan dari para siswa, rumah dan komunitas-komunitas

Mengajar yang efektif menghendaki bahwa mencari dan termasuk konteks dari pengalaman-pengalaman siswa dan pandangan dari komunitas lokal mereka dan konteks situasi belajar akademik yang baru. Para siswa bersedia berjuang dengan bahasa yang tidak familiar dan catatan abstrak dalam sains, matematika dan mata pelajaran lain ketika mereka dimotivasi dengan aktivitas yang menarik mereka dan nilai keluarga mereka. Siswa harus dibantu dengan memberikan pengalaman-pengalaman bagaimana peraturan-peraturan, abstrak-abstrak, dan deskripsi verbal yang digambarkan dari dunia setiap hari dan bagaimana mereka mengaplikasikannya. Interaksi dalam aktivitas-aktivitas unit kontekstualisasi menolong siswa memetakan pemahaman informal mereka bagaimana bekerja dunia mereka dalam rumusan-rumusan formal, persamaan-persamaan, sistem abstrak, dan teori-teori yang diberikan pembelajaran materi di kelas.

Tiga level kontekstualisasi yang dibahas dalam literatur kultur dan pendidikan. Pertama, atau secara pedagogis, level yang diperlukan untuk meminta skema keadaan siswa yang berhubungan dengan materi yang diajarkan, berkaitan dengan lingkungan, pengalaman, dan karakteristik cara-cara berbicara siswa sendiri. Kedua, atau kurikulum, level yang sama dibela untuk pembelajaran yang menggunakan materi-materi dan keterampilan-keterampilan kultural sebagai media dalam mana tujuan-tujuan dari literasi, numerasi dan sains dikontekstualisasi dalam sekolah itu sendiri. Ketiga, atau level kebijakan. Belajar di sekolah adalah proses sosial yang berpengaruh dan dipengaruhi sepenuhnya oleh masyarakat.

Standar III penting untuk mempromosikan partisipasi siswa dan perjanjian dan untuk menegakkan hubungan-hubungan yang vital antara yang diketahui dengan yang ingin menjadi diketahui. Kontekstualisasi adalah jalan ke arah mengembangkan kognitif dan akademik yang kompleks, dan jembatan antara apa yang telah diketahui dan apa yang baru, sebagai proses yang aktif dari memilah, menganalisis, dan menginterpretasi.

  1. Standar IV. Mengajar Berpikir Kompleks, dengan kriteria menantang para siswa ke arah kognitif yang kompleks.

Konsensus yang jelas di antara peneliti bahwa semua siswa, barangkali siswa yang beresiko, menghendaki pembelajaran yang menantang secara kognitif, menghendaki berpikir dan analisis, maksudnya melampaui level keterampilan dasar dalam menggali mencapai kemungkinan lebih dalam dari analisis dan problem solving. Bekerja dengan kurikulum yang menantang secara kognitif menghendaki penentuan level yang tepat untuk tugas-tugas, jadi para siswa melebarkan pertumbuhan dalam “zone perkembangan yang dekat”, dapat mencapai prestasi lebih tinggi dengan bantuan para guru dan kerjasama dengan teman sebaya. Desain aktivitas yang lebih menantang akan memberikan tanda kemajuan dalam kegembiraan dan kepuasaan sebagai kemenangan kelas. Tantangan dan stimulasi pertumbuhan kognitif berarti meningkatkan para siswa untuk memikirkan kembali dan bertanya diri mereka sendiri dan keyakinan-keyakinan dan rasional-rasional mereka.

  1. Standar V. Mengajar Melalui Percakapan, dengan kriteria: Mengajak para siswa melalui dialog, khususnya melalui Pembelajaran Percakapan/Pembicaraan.

Konsep Pembelajaran Percakapan, menghasilkan beberapa kondisi esensial untuk belajar yang maksimal, struktur pengelompokkan yang memperluas kreasi, hubungan-hubungan guru/siswa yang mendalam, dasar kognitif dan pengalaman yang berhubungan individu belajar di sekolah, pengetahuan tentang komunitas dan keluarga siswa, bentuk yang penting dalam membantu berupa dialog untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah, seperti membentuk, mengekspresikan, dan tukar-menukar ide-ide melalui pembicaraan dan tulisan. Melalui percakapan sesungguhnya dibangun tema-tema dan prinsip-prinsip, guru memandu partisipasi siswa melalui pertanyaan dan membagi bersama ide-ide dan pengetahuan. Demikian juga kultur dan pengetahuan siswa menjadi jelas terungkap, seperti asumsi-asumsi, persepsi-persepsi, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan pengalaman-pengalaman akan hadir, yang membolehkan guru untuk merespon, mengkontekstualisasi mengajar dengan dasar pengalaman siswa, mengaktualisasikan ke dalam pembelajaran individualisasi termasuk individualisasi kultur.

Standar-standar memberikan dasar (1) pendidikan yang efektif untuk semua yang ingin sukses; (2) pendidikan dalam bentuk lebih luas yang dapat membangun semua siswa dengan menambah kompetensi-kompetensi berbasis masyarakat mereka; dan (3) hubungan intersubjek di antara jumlah yang terbesar dari para siswa dan guru dapat dibangun, dan menciptakan iklim yang lebih mendukung dan pencapaian dapat diwujudkan untuk sebagian besar siswa.

  1. Kondisi-Kondisi yang Diperlukan untuk Organisasi yang Efektif dari Aktivitas Pembelajaran

Tiga kriteria kualitas kondisi yang diperlukan untuk organisasi aktivitas pembelajaran yang efektif adalah: simultan, berbeda-beda dan nilai yang konsisten.

  1. Simultan; Setting Aktifitas yang Berbeda-beda

Kondisi pertama yang diperlukan diletakkan atas kebutuhan secara logis dan dunia nyata. Aktivitas yang menghasilkan kebersamaan dengan guru dan teman sebaya, kesempatan-kesempatan untuk Pembelajaran Percakapan menghendaki kelas menggunakan keragaman, simultan dan setting aktivitas berbeda.

  1. Variasi Person dan Aktivitas

Variasi person dan aktivitas memberikan pendidikan, untuk memperluas pengalaman-pengalaman dan kecakapan-kecakapan dan hubungan-hubungan, dan membuka kesempatan-kesempatan persamaan-persamaan dan belajar yang baru; membangun berbagai kekuatan dari semuam menjamin Keadilan dan Inklusi dan mendorong Keunggulan; secara paradok membolehkan tumbuhnya Harmoni secara keseluruhan sebab inklusif, sistem yang lazim memberikan pengalaman membangun hubungan intersubjek dan membuka secara lebih besar bagi perkembangan untuk semua. Variasi meliputi guru, teman sebaya, gender, persamaan-persamaan, tingkat status, kultur, tingkat prestasi, bahasa, hubungan-hubungan kekuasaan, peran-peran, individual, kelompok dan kode-kode bahasa.

  1. Konsistensi Nilai

Nilai-nilai dalam kultur kelas akan diungkapkan secara konsisten dalam setiap setting aktivitas. Secara teoritis kita mengetahui bahwa komponen-komponen subjektivitas, seperti sistem makna, pemahaman, dan nilai-nilai dihasilkan melalui penggunaan bahasa (dan sistem semiotic) yang digunakan dalam belajar selama aktivitas bersama. Proses itu menghasilkan nilai, benda-benda, kata-kata dan tindakan-tindakan diletakkan pada makna, dirembukkan dan dikembangkan oleh partisipan. Guru menggunakan nilai-nilai kondusif untuk tujuan-tujuan pembelajaran.

  1. Nilai-Nilai yang Biasa  dan Ragam Kultural

Dalam resep nilai umum, ruang sangat besar untuk keragaman nilai-nilai, digambarkan dari komunitas lokal dan keluarga-keluarga, pilihan-pilihan guru secara individual, tugas-tugas yang diminta, aktivitas-aktivitas materi pelajaran, dan tahap-tahap perkembangan. Merembukkan nilai-nilai dan peraturan-peraturan dari setiap kelas juga mengarah pada Inklusi yaitui perhatian-perhatian khusus secara kultural, bahkan itu mengebawahkannya kepada persatuan yang lebih besar, nilai-nilai mendorong inklusi untuk semua siswa.

  1. C.   Aktivitas dalam Teori dan Kelas
  2. Konstruksi Sosial dari Pikiran

Menurut pandangan konstruktivist dari perkembangan mental, si pembelajar membuat pengetahuan dan pemahaman selama dan dari aktivitas. Namun dalam perspektif “sosiokultural”, penerimaan pandangan dari dunia dan upaya lebih baik untuk memahami pendidikan adalah dalam istilah proses-proses sosial, budaya dan sejarah. sosiokultural, menambahkan bahwa si pembelajar berinteraksi dengan materi-materi dan aktivitas pertama terjadi dalam hubungan-hubungan kontek sosial.

  1. a.      Setting Aktivitas: Unit Dasar dari Analisis

Dalam teori sosiokultural unit dasar dari analisis adalah setting aktivitas. Setting aktivitas merupakan struktur yang diorganisir melalui mana nilai-nilai dikomunikasikan selama aktivitas melalui ramuan halus dari pembelajaran, dorongan, nada suara, dan cerita yang dikisahkan, tidak hanya keterampilan yang dikembangkan, tapi juga sikap, nilai, prioritas dan tanggungjawab. Empat variabel yang memiliki konsekuensi yang besar dari materi setiap setting aktivitas dan untuk konsekuensi pekembangan mereka adalah pola-pola individu dan kelompok; peran-peran; hubungan-hubungan kekuasaan; sandi dan gaya bahasa.

  1. b.         Nilai-Nilai dan Aktivitas dalam Kelas

Pola-pola aktivitas di kelas mengembangkan nilai-nilai, tidak hanya untuk aktivitas itu sendiri, tetapi juga untuk para siswa dibawa ke dalam setting-setting dan aktivitas-aktivitas mereka.

  1. Aktivitas Bersama, Membantu Pelaksanaan dan Mengajar

Setting aktivitas di kelas dibutuhkan untuk memberikan bantuan, dan didesain untuk belajar. Setting aktivitas dikelas harus mencakup kesempatan-kesempatan bagi guru untuk bekerja secara individual atau kelompok cukup kecil, mengajar adalah dapat ditempatkan untuk membantu pelaksanaan, membantu memberikan apa-apa yang membolehkan pembelajar dalam mencapai tingkat yang lebih tinggi dari yang mungkin dicapai kalau ia sendirian saja.

  1. Organisasi dari Hubungan-Hubungan Sosial

Prinsip dari organisasi hubungan-hubungan sosial terdiri dari tiga prinsip, pertama, terbatas, untuk proporsi yang kecil yang secara teoritis tersedia untuk interaksi. Kedua, sangat stabil, pilihan besar dari orang dalam semua kerumitan pola-pola hubungan-hubungan sosial adalah secara aktual teratur, dapat diterka dan sangat konservatif. Ketiga, terutama diorganisir dari semula oleh kelas sosial, dengan komponen-komponen pendapatan, pendidikan, ras, kultur dan bahasa.

  1. Hubungan-Hubungan Sosial; Dinamika dari Pembentukan dan Perubahan

Proses terbentuk dan berubahnya hubungan-hubungan sosial adalah kuat, teratur, dapat diramal, akibatnya jelas, karena empat prinsip hubungan-hubungan yang tidak dapat secara random didistribusi. “Kelompok yang terpilih” konsep yang digunakan untuk menganalisis gambaran berbagai bentuk hubungan, yang membatasi kelompok, dari mana hubungan-hubungan secara aktual dibentuk.

  1. Keakraban

Keakraban adalah fakta sederhana yang mengakhiri kebersamaan, berlimpahan tenaga yang kuat sekali dalam membentuk kelompok yang terpilih. Dalam kenyataan formasi pertama dari hubungan-hubungan ditentukan dengan tingkat yang besar sekali oleh fakta yang amat sederhana dari keakraban. Hasil dari kelompok yang terpilih secara kuat ditegakkan oleh keakraban, pilihan penting telah dibuat.

1)   Aktivitas Menghasilkan Kerjasama

Pengaruh luar biasa dari keakraban adalah meningkatkan aktivitas bersama. Aktivitas menghasilkan kerjasama adalah amat dapat dipercaya dan mempunyai tenaga yang kuat mempengaruhi pengembangan persamaan-persamaan. Ketika orang bekerja bersama ke arah tujuan bersama atau menghasilkan sesuatu bersama, dua kondisi luar biasa muncul yang konsekuensi yang amat dalam dalam membangun hubungan-hubungan, pertama, motif-motif bersama yang dibentuk, paling sedikit dalam batas-batas aktivitas bersama dan settingnya. Kedua, menghasilkan hubungan-hubungan subyek-subyek (intersubyektivitas) dari pada hubungan subjek-obyek, mengacu pada subyektivitas bersama, menafsirkan, menilai, menggunakan kategori-kategori untuk memahami, merespon, dan mengharap respon balik yang sama, dari dunia.  Intersubyektivitas terbentuk selama aktivitas yang menghasilkan kerjasama, yang bersama memaknai kata-kata, konsep-konsep, motivasi-motivasi, keyakinan-keyakinan, harapan-harapan yang diperoleh.

2)   Persamaan

Kondisi intersubyektivitas membentuk persamaan,menumbuhkan perasaan pertalian keluarga, dan kecendrungan ke arah hubungan, dan pemeliharaan hubungan telah difasilitasi, dan akan menemukan kebersamaan. Persamaan bukan hanya akhir dari siklus besar pengembangan hubungan, tapi juga mengawali dan menghidupkan terus menerus. Persamaan mengarahkan kepada keakraban, memperbaharui atau melanjutkan. Persamaan menghasilkan babak baru untuk keakraban, dengan aktivitas, intersubyektivitas, memperkuat persamaan dan masih sangat konsentrasi pada keakraban. Persamaan harus dipahami sebagai konsekuensi dari garis tenaga berputar (Siklus Besar dari Pemilihan Sosial), keakraban, aktivitas, intersubyektivitas, persamaan, keakraban, aktivitas, intersubyektivitas.

  1. Merubah Pola-Pola Hubungan untuk Meningkatkan Mengajar dan Belajar
    1. a.         Persamaan sebagai Dasar untuk Mengorganisasi Pembelajaran

Untuk menggunakan dinamika persamaan untuk tujuan-tujuan pendidikan, pendidik butuh memahami dua fungsi yang kuat dari persamaan,  fungsi melindungi dan fungsi konservatif. Persamaan dalam mengelompokkan membolehkan untuk penyesuaian, melindungi, dan mendukung persahabatan dalam lingkungan belajar, kondisi yang para guru mesti jamin.

  1. b.    Merubah secara langsung Intersubyektivitas

Serangan terhadap intersubyektivitas adalah miskin taktik, namun intersubyektivitas dapat ditingkatkan dan diarahkan, maka suksesnya bergantung pada kemampuan guru menafsirkan dan nilai-nilai dalam aktivitas bersama sebagai tafsiran-tafsiran dari pengalaman-pengalaman bersama, dikembangkan dari nilai-nilai yang dimiliki bersama dalam setiap kelas. Nilai-nilai telah “ditangani” oleh kelas yang baik. Dalam perspektif teori sosiokultural, intersubyektivitas dikembangkan melalui aktivitas belajar bermakna.

  1. c.    Merubah Keakraban, Membangun Aktivitas Bersama

Intersubyektivitas merupakan konsekuensi aktivitas menghasilkan kerjasama, dan persamaan dialirkan dari intersubyektivitas, dan persamaan mengarahkan ke keakraban. Keakraban adalah kondisi utama, dan kondisi yang diperlukan untuk menghasilkan hubungan-hubungan yang baru, tetapi tidak itu cukup. Intervensi-intervensi terhadap keakraban diperlukan, tetapi tidak cukup dan tidak berhasil sampai atau kecuali aktivitas-aktivitas menghasilkan kerjasama diorganisir untuk menghasilkan intersubyektivitas yang melihat dunia dengan cara-cara yang sama lintas ras.

  1. D.      Pola-Pola Aktivitas dan Hubungan-Hubungan Pembelajaran         

Sekolah-sekolah dan kelas dimana pola-pola aktivitas pembelajaran memberikan kesempatan untuk keakraban, aktivitas yang menghasilkan kerjasama, dan dialog antara guru dan siswa, antara siswa dan guru diberitakan lebih baik kualitas hubungan-hubungan, dan kualitas hubungan-hubungan itu berkaitan prestasi dari keunggulan  akademik dan sosial. Ketika guru dan siswa berpartisipasi dalam setting-setting aktivitas yang memberikan kesempatan-kesempatan untuk bekerja dan berbicara secara kolaboratif dalam tugas-tugas pembelajaran yang amat bermakna dengan jumlah relatif kecil dari para siswa, guru dan siswa dapat mengetahui satu dengan yang lain dan guru dapat menilai dan membantu siswa mereka lebih responsif dan efektif. Pola dan aktifivitas seperti itu juga memberikan para siswa dengan kesempatan lebih untuk menunjukkan kompetensi mereka kepada guru dan mendapatkan satu yang baru.

Aktivitas kerjasama dan dialog yang bermakna memberikan tidak hanya media guru membantu para siswa (dan siswa membantu yang lain), membuat keputusan-keputusan, dan menciptakan produk-produk, tetapi juga media menghasilkan nilai-nilai. Oleh karena itu aktivitas kerjasama dan komunikasi bersama menjadi media untuk mengembangkan intersubyek tentang usaha keras tertentu dan lebih luas mengenai keberanian berusaha bersama yang lebih luas dari belajar di sekolah. Seperti meningkatkan intersubyek, juga kekuatan untuk mengembangkan persamaan.

  1. E.        Kultur dan Aktivitas Pembelajaran

Kultur sebagai kekuatan penting yang lain untuk dipetimbangkan dalam menciptakan pola-pola efektif untuk aktivitas pembelajaran. Terdapat empat dimensi yang berhubungan dengan bermacam-macam kultur, yaitu a) individualisme dan kolektivisme; b) peran harapan-harapan;  c) kekuasaan; dan d) gaya-gaya dan sandi-sandi bahasa. Setiap dimensi-dimensi mempengaruhi dafta harapan-harapan, nilai-nilai dan perilaku pada para siswa dan guru yang diberikan di kelas. Ketika para siswa memberikan harapan-harapan dan nilai-nilai yang sama seperti juga para guru dan teman sebaya, akan menjadi lebih Harmoni dalam berbagai interaksi. Perselisihan  dan saling interpretasi “kultural”  dapat berhasil bila partisipan datang dari komunitas yang lebih bervariasi. Beberapa mungkin muncul seharusnya secara sederhana dari berbagai variasi dalam komunitas yang sama. Sebagai peraturan umum, keragaman kelas yang lebih besar, keperluan yang lebih besar untuk membangun komunitas dari kelas dalam cara seperti itu nilai-nilai dan harapan-harapan bersama, melalui penggunaan bahasa kelas bersama, membangun intersubyek kelas.

Keadilan, Inklusi, Harmoni dan Keunggulan dapat dibuat dalam pola aktivitas pembelajaran di kelas, dan dibentuk untuk berbagai tujuan dapat dipandu melalui kesadaran terhadap empat dimensi kultural. Di semua kelas, para guru berkeinginan untuk menggunakan pengetahuan mereka terhadap kecendrungan-kecendrungan kultural para siswa untuk menciptakan setting-setting aktivitas yang akrab dan menyenangkan bagi para siswa seperti untuk mempromosikan keikutsertaan dan keterlibatan secara maksimal yang harmonis dengan latar belakang kultural para siswa. Namun demikian, Keunggulan pendidikan juga didorong oleh penciptaan kesempatan-kesempatan untuk para siswa berinteraksi dengan yang tidak sama dengan mereka dan melalui pengembangan kecakapan-kecakapan yang tidak terkenal. Guru terlibat memberikan bantuan dan panduan dalam belajar beberapa peran dan daftar baru. Dalam seluruh kelas para guru juga akan menciptakan setting-setting aktivitas yang menantang dan memperluas daftar-daftar dan kecakapan-kecakapan para siswa sekarang. Bantuan yang efektif diberikan menciptakan setting-setting aktivitas yang baru dan bervariasi, sementara pada waktu yang sama menggabungkan pengetahuan dari kecendrungan-kecendrungan para siswa dan persamaan-persamaan yang ada.

  1. F.       Mendesain Organisasi Aktivitas Pembelajaran

Memberikan panduan sistematik untuk berbagai guru untuk mengembangkan kelas yang didesain guna memberikan bantuan yang lebih efektif. Panduan yang diberikan terdiri dari beberapa tahapan: a) Tahapan 1. Satu sampai Empat Minggu; Membangun Komunitas Belajar Akademik menggunakan pembelajaran dan menata aktivitas; b) Tahapan 2. Dua sampai Tiga Minggu; Membentuk kelompok untuk kegiatan mandiri dan simultan; c) Tahapan 3. Satu sampai Dua Minggu; Setting aktivitas belajar; d) Tahapan 4. Dua sampai Tiga Minggu; Mengajar melalui setting-setting kegiatan; dan e) Tahapan 5. Rutinitas Akhir Tahun; Mengajar melalui pembelajaran percakapan dengan setting-setting aktivitas beragam dan simultan.

Fase 5 kelas memberikan kapasitas itu, sebab berhubungan dengan memperluas permukaan yang tersedia dalam kelas yang mendorong kemandirian siswa untuk belajar aktif. Elemen-elemen yang terdapat dalam fase 5 di kelas adalah a) setting-setting bervariasi dan simultas; b) diorganisir memberikan kontak yang bermakna dengan hal-hal lain yang disukai dan beragam; c) tugas-tugas pembelajaran yang terpadu dengan tujuan-tujuan; dan d) mengundang Lima Standar untuk Pedagogi yang Efektif.

Dalam kasus fase 5 di kelas, terjadi upaya meningkatkan komunikasi di permukaan yang akan dicatat dalam pekerjaan yang baik untuk para siswa, dan menjadi suasana hati mereka yang baik. Dengan kehati-hatian, langkah demi langkah membangun kepercayaan diri para siswa melalui berkali-kali kegiatan, merupakan sukses awal dari tugas-tugas akademik dan pemeliharaan melalui guru yang kompeten yang tidak siap dapat dilihat. Kepemilikan nilai-nilai  yang dikomunikasikan bersama tidak akan dibuktikan secara singkat, rupanya secara kebetulan Uraian Singkat atau Tanya Jawab berfungsi baik dala, fase 5 di kelas. Membangun secara bertahap nilai komunitas untuk bekerja keras demi belajarsecara akademis bahkan mungkin tidak mengatakan, tetapi itu akan meresap dan mengakar tak terlihat dalam aktivitas-aktivitas.

  1. G.       Kelas pada Fase 5: Bukti, Visi dan Masa Depan

Penelitian dan praksis yang diperoleh dari Lima Standar untuk Pedagogi yang Efektif telah menunjukkan bahwa beberapa standar membolehkan dengan aktivitas pembelajaran yang didesain lebih kompleks, dan telah disajikan dan diujicobakan sebagai bagian dari proses perkembangan bagi perubahan kelas dari tradisi biasa ke dalam organisasi yang berbeda yang berisi setting-setting aktivitas variasi, simultan, berkaitan dan tepat. Pembelajaran Percakapan, lebih dari kerja bersama antara guru dan para siswa, ia diakui sebagai perhiasan di tengah-tengah aktivitas pembelajaran. Pembelajaran Percakapan menghendaki tidak hanya mengembangkan intgersubyek, tetapi juga mengembangkan prestasi kognitif dan akademik. Pemenuhan terhadap kekuatan bagi perkembangan siswa terjadi kita intersubyek dibangun dari upaya-upaya berkelanjutan dan tak henti-henti untuk menjamin kerja bersama dengan percakapan dan membangun bersama bahasa, nilai-nilai dan pemahaman.

Dalam kegiatan fase 5 di kelas terbukti mampu mencapai Keunggulan, Keadilan, Inklusi dan Harmoni, bahkan didukung juga oleh bukti-bukti pelaksanaannya di berbagai sekolah bukti keberadaannya, sedang bukti efektivitasnya datang dari berbagai kelas dan berbagai jenis, berupa program sistematik ( program kecil keahlian tangan; program jangka panjang dengan data evaluasi sistematik; program jangka panjang dengan evaluasi dan eksprimen data dengan variasi yang dalam), dan program lainnya, seperti Pembelajaran yang Dipandu secara Kognitif, Pembelajaran Kompleks, Pembelajaran Aunthentik, Mengajar Timbal Balik, Pembelajaran Harmoni, Kerjasama Memadukan Membaca dan Komprehensif, dan Program Pendidikan Dasar Kamehameha.

Kekuatan dari Lima Standar untuk Pedagogik yang Efektif dan Fase 5 di kelas adalah mampu memenuhi kebutuhan para siswa yang beresiko gagal dalam pendidikan dengan strategi pembelajaran dan organisasi kelas yang tidak berbeda dari yang lebih efektif untuk sisiwa yang lain. Sekolah harus memberikan aktivitas pembelajaran yang sepadan, jika kesempatan yang sama bisa dicapai. Aktivitas-aktivitas pembelajaran yang sepadan diberikan oleh Lima Standar.

Untuk pengembangan Lima Standar dan Fase 5 kelas, maka sebagai visi baru yang merubah guru dan kelas hendaknya dikomunikasikan dan diabsahkan oleh para orang tua yang para siswanya berhasil secara rasional mencapai standar sekolah tertentu. Peneliti dan pengembang komunitas dari pendidikan bertanggungjawab untuk mengkomunikasikan visi dan penjelasan serta pembenaran di stakeholder yang mungkin. Transformasi kelas dari tradisi biasa ke Fase 5 kelas adalah radikal, komprehensif, membebaskan, penuh semangat, memuaskan dan sulit. Sehingga diperlukan bantuan, dukungan, model dan pelatihan. Program-program pendidikan guru dalam menyiapkan generasi guru berikutnya dikehendaki tranformasi radikal yang sama. Hal ini sebenarnya sejalan dengan tumbuhnya kesadaran baru terhadap pentingnya kualitas guru, berarti harus terjadi reformasi guru di kelas. Reformasi sekolah tidak akan berhasil tanpa adanya reformasi sekolah.

BAB III

PEMBAHASAN

Upaya reformasi kegiatan belajar mengajar di kelas di Indonesia adalah melalui perubahan paradigma, filsafat dan model pembelajaran. Paradigma pembelajaran berorientasi pada learning (to do, know, to be, to live together), learning team, learning classroom, leraning school, learning community, all knowing is doing, all doing is knowing.  Teori pembelajaran yang dikembangkan adalah constructivisme, Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan. Karakteristik pembelajaraan yang digunakan adalah pembelajaran kontekstual, dengan model-model pembelajaran direct instruction, cooperative learning, problem base instruction dan gabungan. Model-model pembelajaran ini sekarang menjadi trend dilaksanakan dalam mata-mata pelajaran di sekolah. Karakteristik pembelajaran berbasis Constextual Teaching Learning (CTL) adalah kerjasama, saling menunjang, menyenangkan, tidak membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber dan siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis, guru kreatif, dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, laporan kepada orang tua berupa laporan raport dan portofolio.

Dalam beberapa aspek terdapat kesamaan antara pembelajaran CTL dengan pendekatan “cooperative learning” dengan Pengajaran Transforamtif  berbasis “productive join activity”. Namun  dibandingkan dengan “cooperative learning”, di mana para siswa bekerja bersama pada proyek bersama yang menghendaki mereka membantu dan belajar dari yang lain, dan peran aktivitas yang menghasilkan kebersamaan sedikit membayangi, nampak peran guru mengambang di antara berbagai kelompok siswa, memberikan komentar dan menanyakan atas dasar kesempatan-kesempatan. Sementara pembelajaran berbasis “productive joint activity ”, mempunyai perbedaan tekanan, yakni para siswa dan para guru bersama porsi secara signifikan dalam aktivitas-aktivitas kelas. Hanya jika guru juga cukup memberikan pengalaman bersama secara terus menerus, wacana secara mendalam dengan penuh kompetensi sebagai orang dewasa yang memaksimalisasi perkembangan dan membuat hubungan intersubjek sebagai pribadi. Khusus yang penting bila guru dan para siswa tidak sama kulturnya.

Selain itu meskipun antara pembelajaran CTL dan pembelajaran berbasis “productive joint activity” dari Lima Standar Pedagogik yang Efektif sama-sama berbasis pandangan “constructivist”. Namun pembelajaran pembelajaran CTL basis “constructivist” adalah berdasarkan perspektif “perkembangan sains kognitif”. Menurut pandangan konstruktivist dari perkembangan mental, si pembelajar membuat pengetahuan dan pemahaman selama dan dari aktivitas.

Sedangkan pembelajaran “ productive joint activity” dari Lima Standar Pedagogik yang Efektif juga berbasis “constructivist” ditambah dengan teori-teori  “perspektif sosiokultural, organisasi dan teori kritis”  bahwa si pembelajar menerima pandangan dari dunia dan upaya lebih baik untuk memahami pendidikan adalah dalam istilah proses-proses sosial, budaya dan sejarah. sosiokultural, menambahkan bahwa si pembelajar berinteraksi dengan kritis dengan materi-materi dan aktivitas pertama terjadi dalam hubungan-hubungan kontek sosial, dan aktivitas sosial menghasilkan pengetahuan.

Ciri khas dari dari Pengajaran Transformatif  yang menerapkan Lima Standar Pedagogik yang Efektif dengan pembelajaran “productive joint activity” adalah lekatnya dengan suasana sosio-kultur dalam setting pembelajarannya. Inilah ciri khas dari Pedagogik Transformatif. Karena para pemikir dari Pedagogik Libertarian Kritis atau Pedagogik Transformatif melihat peranan kebudayaan di dalam perkembangan manusia secara kritis, termasuk dalam pendidikan. Pedagogik ini mengingatkan kembali bahwa proses pendidikan pertama-tama adalah untuk kepentingan peserta didik, bukan untuk kepentingan kekuasaan politik, alat politik (praktis), kebutuhan kaum kapitalis, sekedar transmisi kebudayaan, transformasi ilmu, dan ideologi konstruk orang dewasa, yang dipaksakan kepada peserta didik.

Khusus untuk krisis pendidikan bagi bangsa Indonesia: pendidikan telah melahirkan kekerasan seperti tawuran pelajar yang semakin meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas, kekerasan dan intoleransi antarumat beragama terus terjadi yang berujung dengan konflik, dan lain sebagainya. Pendidikan tidak bisa melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif. Pendidikan telah melahirkan anak didik yang pasif dan bagaikan robot karena tidak memiliki ruh untuk perubahan. Pendidikan juga telah melahirkan anak didik tanpa etika agama dan sosial: banyak anak didik yang terjebak dalam kehidupan narkoba dan seks bebas. Pendidikan telah melahirkan anak didik yang soliter (terasing) dari masyarakatnya. Bagi Prof. Dr. H.A.R Tilaar (2002), krisis pendidikan yang dialami bangsa Indonesia adalah kenyataan yang memprihatinkan dan harus diubah.

Adapun ciri-ciri pedagogik transformatif menurut HAR Tilaar (2002): Pertama, aspek pendekatannya (a) individuasi partisipatif dalam masyarakat yang berubah (b) penyadaran dan pengembangan potensi individu dalam kebersamaan bermasyarakat (c) humanisme sosio-kultural (d) penggerak kebudayaaan (e) Jalan ketiga (the Third Way).  Kedua, pedagogik sebagai disiplin ilmu adalah hermeneutik humanistik pedagogik. Ketiga, guru sebagai mitra pembelajar. Keempat, peserta didik sebagai subyek yang partisipatif antsipatif dalam perubahan sosial. Kelima, proses belajarnya dialogis partisipatif. Keenam, kelembagaan pendidikannya adalah dekonstruktor dan rekonstruktor sosial.

Berbeda dengan pedagogik tradisional yang berpijak mengenai bahasan-bahasan manusia dan anak manusia. Maka pedagogik transformasi bertitik tolak pada manusia Indonesia pada masa transisi. Pedagogik tradisional memandang manusia sebagai terisolasi, maka anak didik pun diperlakukan terpisah dengan masyarakat dalam proses belajar di sekolah. Sekolah diumpamakan sebagai tembok yang besar pemisah antara peserta didik dan masyarakat. Peserta didik dengan demikian tidak mengenal masyarakat dan lingkungannya. Berbeda pedagogik transformatif yang mengakui bahwa manusia itu tidak terisolasi atau adanya lingkungan proksimatif (adalah manusia sosial dan kebudayaan sekitarnya).

Makanya kegiatan-kegiatan pedagogis adalah harus berpijak dari lingkungan yang proksimatif, bukan peserta didik yang hampa dari pelibatan dengan atau bersama masyarakat di lingkungan sekitarnya. Pada intinya pedagogik transformatif memperhatikan dua hal, yakni individuasi dan partisipasi. Proses individuasi adalah pengembangan potensi yang terdapat dalam setiap individu agar potensinya bisa dimanfaatkan bagi keluhuran martabatnya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Partisipasi berarti manusia yang sudah mewujudkan kemampuannya untuk meraih martabat yang luhur dan baik harus ikut berpartisipasi sebagai penggerak kebudayaan atau perubahan bagi masyarakatnya.

Pedagogik libertarian kritis atau Pedagogik Transformatif menitikberatkan pada hak asasi peserta didik sebagai seorang individu untuk menjadi manusia yang merdeka yang menentukan jalannya sendiri dalam ruang lingkup sesama manusia, dalam alam sekitarnya yang berbudaya. Lingkungan mempunyai nilai-nilai positif dalam memberikan stimulan terhadap perkembangan individu. Lingkungan proksimal merupakan tanggungjawab moral komunitas manusia, sehingga dengan demikian akan terjadi perkembangan budaya manusia. Kelemahan dari Pedagogik Transformatif ini adalah dianggap masih beranjak pada teori (Tilaar: 2007:127). Tetapi Pengajaran Transformatif dengan Lima Standar Pedagogik yang Efektif telah mengatasi kelemahan tersebut, karena memadukan antara teori, hasil penelitian dan kegiatan praksis melalui riset dan pengembangan.

Dari dimensi pedagogik, Pengajaran Transformatif memberikan peluang bagi terbentuknya identitas seseorang, melalui kegiatan intersubjektifnya, karena menurut Habermas (Tilaar:2007:128-129) prinsip immanent di dalam sejarah yang menuntun tingkah laku. Selanjutnya menurut Tilaar (2007:128) di dalam kemungkinan untuk terbentuknya identitas seseorang tidak terletak kepada individu, tetapi kepada tatanan intersubjektif, di dalam struktur supra-individu. Terbentuknya identitas seseorang bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi merupakan suatu bentuk “communication action”.

Pada intinya pedagogik transformatif memperhatikan dua hal, yakni individuasi dan partisipasi. Proses individuasi adalah pengembangan potensi yang terdapat dalam setiap individu agar potensinya bisa dimanfaatkan bagi keluhuran martabatnya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Partisipasi berarti manusia yang sudah mewujudkan kemampuannya untuk meraih martabat yang luhur dan baik harus ikut berpartisipasi sebagai penggerak kebudayaan atau perubahan bagi masyarakatnya

Identitas adalah  sesuatu yang diperoleh dan dikembangkan melalui individuasi, partisipasi dan  komunikasi dan dialog antar-subjek di dalam masyarakat yang berbudaya yang kaya dengan nilai-nilai. Inilah yang dikembangkan oleh Pengajaran Transformatif yang ingin mencapai Keunggulan, Keadilan, Inklusi dan Harmoni.

BAB IV

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

  1. A.  Kesimpulan
    1. Pengajaran transformatif dilandasi oleh paradigma Pedagogik Transformatif diperkuat oleh teori dan hasil penelitian dari perspektif teori konstructivistic, teori sains kognitif, teori organisasi, teori kritis dan teori sosial-kultural, dan telah diuji coba melalui riset dan pengembangan, mampu menunjukkan efektivitas yang signifikan.
    2. Pengajaran tranformatif menawarkan Lima Standar Pedagogi yang Efektif dan Kondisi yang diperlukan, serta Pengorganisasian yang Efektif untuk Kegiatan Belajar dalam Setting Kelas.
    3. Pengajaran Transformatif melalui riset dan pengembangan terbukti mampu mencapai hasil baik dalam aspek akademik, keterampilan maupun nilai-nilai,seperti Keunggulan yang berpusat pada pencapaian prestasi setiap potensi peserta didik (intelektual, sosial dan emosional); Keadilan, berpusat pada persamaan hak untuk semua (jenis kelamin, agama, bahasa, status sosial, kemampuan); Inklusi menitikberatkan pada persamaan, kerjasama, keakraban, kebersamaan, produktivitas; Harmoni berpusat pada bahasa dan literasi, toleransi dan murah hati, dan membangun komunitas kebangsaan
    4. B.  Implikasi
      1. Pengajaran transformatif mampu mengisi ruang kosong dari pengajaran kontekstual, memberikan alternatif bagi pembelajaran konvensional, dan memberikan wacana baru “pencerahan” sebagai solusi bagi pendidikan nilai era  transisi ini, khususnya untuk pembentukan karakter, moral dan nilai-nilai bagi generasi muda.
      2. Kegiatan-kegiatan pedagogis baik pedagogik tradisional maupun pedagogik konvensional dalam menghadapi beberapa fenomena kualitas nilai-nilai pendidikan  adalah harus berpijak dari lingkungan yang proksimatif, bukan peserta didik yang hampa dari pelibatan dengan atau bersama masyarakat di lingkungan sekitarnya. Pada intinya pedagogik transformatif memperhatikan dua hal, yakni individuasi dan partisipasi. Proses individuasi adalah pengembangan potensi yang terdapat dalam setiap individu agar potensinya bisa dimanfaatkan bagi keluhuran martabatnya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Partisipasi berarti manusia yang sudah mewujudkan kemampuannya untuk meraih martabat yang luhur dan baik harus ikut berpartisipasi sebagai penggerak kebudayaan atau perubahan bagi masyarakatnya
      3. C.  Rekomendasi
        1. Institusi LPTK perlu mensosialisasikan Paradigma Pedagogik Transformatif, salah satunya Pengajaran Transformatif di kalangan pendidikan, sebagai wacan baru, pengisi ruang kosong dan solusi alternatif dari berbagai krisis pendidikan yang terjadi masa kini, khususnya pendidikan nilai-nilai.
        2. Mengembangkan Pengajaran Transformatif dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran, khususnya matakuliah dan mata pelajaran berbasis nilai, seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Ilmu Sosial. Ilmu Budaya dan Ilmu Alamia.
        3. Program Studi Pendidikan Umum (Nilai-Nilai) layak menjadi pioner bagi pengembangan Pengajaran Tranformatif dengan fokus pada pengembangan nilai Keadilan, Inklusi dan Harmoni.

DAFTAR RUJUKAN

 

H.A.R. Tilaar   (2001). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Penerbit Indonesia Tera

H.A.R. Tilaar (2002). Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif  untuk Indonesia. Jakarta : PT.Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)

H.A.R. Tilaar (2007).  Mengindonesia; Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia, Tinjauan dari Perspektif Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT.Rineka Cipta

“Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Identitas Buku

Buku yang dilaporkan berjudul “Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”, karya Ahmad Syafii Maarif. Diterbitkan tahun 2009 oleh PT Mizan Pustaka, sebanyak 388 halaman.

  1. Ruang Lingkup Buku

Ruang lingkup buku terdiri dari Pengantar, Islam dan Nusantara, Islam dan Demokrasi, Islam Indonesia, Masa Depan Agama, Islam dalam Bingkai KeIndonesiaan dan Kemanusiaan

  1. Sistematika Uraian

Pengarang mendiskusikan masalah pergumulan antar-agama dan antar-kultur yang berlangsung berabad-abad. Sebelum kedatangan islam, bumi Nusantara ini sudah didiami oleh penganut berbagai agama dan kepercayaan animisme, dinamisme, jauh sebelum agama Hindu dan Budha datang ke Nusantara.

Sebuah “keajaiban” sejarah kemudian, islam sebagai pendatang baru telah “menaklukkan” Nusantara sehingga dalam perjalanan waktu, mungkin cukup lama, telah menjadi agama yang dipeluk oleh sebagian besar penduduk sampai sekarang. Tetapi golongan minoritas: kristen, katholik, hindu, buddha, dan konfusianisme yang telah hidup dengan damai berdampingan dengan saudara-saudara mereka yang beragama islam.

Pengarang lebih memusatkan perhatian pada pandangan islam tentang demokrasi, toleransi, dan keragaman agama dan budaya, 1.001 ekspresi dalam menafsirkan agama, dan pesan anti kekerasan. Keragaman agama dan budaya sudah menjadi watak penduduk nusantara jauh sebelum lahirnya Indonesia sebagai bangsa yang belum berumur satu abad.

Dalam buku ini dibahas secara kritikal masalah-masalah yang berkaitan dengan perbedaan visi antar-generasi muslim, raison d’etre bagi munculnya kelompok-kelompok radikal dan dimensi global dari islam indonesia. Memusatkan perhatian untuk menelaah masalah kesenjangan bahwa kenyataanya jumlah yang mayoritas tidak sebanding dengan kualitas yang ditunjukkan. Masalah pendidikan akan menjadi tinjuan khusus karena berbincang tentang kualitas umat islam akan tidak punya makna apa-apa, jika masalah pendidikan tidak terpecahkan. Pendidikan yang lebih berorientasi kepada bentuk formal, tetapi mengabaikan substansi untuk menciptakan manusia baik yang cerdas, merdeka dan tulus hanya akan melahirkan para penganggur, sekalipun menyandang sederetan titel.

Selanjutnnya perhatian juga dipusatkan kepada islam sebagai agama terbuka, masalah ketulusan, masalah simbol dan peta global. Akan lebih dipertajam keterkaitan islam dengan keindonesiaan dan kemanusiaan pada tataran universal. Pemikiran Iqbal tentang Ijtihad dan dialog Tuhan dengan manusia disertakannya.

Dan akhirnya diungkap pula perspektif ke depan bagi Indonesia berdasarkan argumen-argumen yang telah dibangun dalam karya ini. Dibagian ujung bab ini pula gagasan-gagasan tentang islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan lebih dipertajam dan dikemas lebih ringkas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

INTISARI BAHASAN

 

  1. A.    Gambaran Umum

Islam lahir dan berkembang sepenuhnya dalam darah dan daging sejarah, tidak dalam kevakuman budaya. Sebagai agama – Sejarah, Islam telah, sedang dan akan terus bergumul dengan lingkungan yang senantiasa berubah. Tujuan Islam adalah mengarahkan perubahan itu agar tidak tergelincir dari jalan lurus kenabian, dari jalan keadilan. Namun, seringkali Islam diasingkan dari persentuhan dengan fakta budaya dan sosial. Akibatnya, Islam menjadi ahistoris dan gampang menghadapi perubahan dan gagal mengamban misinya menuntun peradaban.

Buku ini memuat gagasan reflektif dari seorang cendikiawan muslim dan guru bangsa. Refleksi ini lahir dari keprihatinan bahwa umat Islam, sebagai penduduk mayoritas nusantara, semestinya tidak lagi mempersoalkan hubungan Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Ketiga konsep itu haruslah sejalan  agar islam yang berkembang di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif.

Apabila keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan telah senapas dalam jiwa, pikiran dan tindakan umat Muslim Indonesia, Islam Indonesia akan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa. Sebuah Islam yang dinamis dan bersahabat,  yang memberikan keadilan, keamanan dan perlindungan kepada semua penduduk Nusantara. Sebuah Islam yang sepenuhnya berpihak kepada rakyat miskin dan menolak kemiskinan sehingga berhasil dihalau dari negeri ini. Pada buku ini terlihat pemikiran yang utuh, mendalam, kreatif dan berpijak pada pemahaman sejarah yang kukuh tentang isu-isu penting yang menentukan identitas muslim Indonesia.

  1. B.     Islam dan Nusantara
    1. Panggung Interaksi Lintas Agama dan Lintas Kultur

Islam merupakan salah satu komponen penting dari nasionalisme bangsa ini, di samping bahasa dan pengalaman sejarah. Agama-agama lain juga hidup subur karena besarnya toleransi masyarakat dalam menghargai perbedaan. Agama Hindu dan Budha pernah sangat berpengaruh di nusantara selama berabad-abad terutama di kalangan elite. Kultur Hindu hanya menyentuh lapisan atas masyarakat Indonesia. Dengan kedatangan Islam, peta sosio religius nusantara mengalami perubahan drastis, elite dan rakyat menjadi muslim.

  1. Islam Pasca Indianisasi dan Gelombang Kristenisasi di Nusantara

Islam menggantikan posisi Hindu Budha. Islam memberikan rakyat kecil sebuah kesadaran tantang nilai pribadinya sebagai anggota komunitas Islam. Menurut ideologi Hindu, ia hanya seorang mahluk tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan anggota-anggota kasta yang lebih tinggi. Di bawah Islam ia dapat merasa dirinya sejajar dengan mereka atau bahkan dalam kualitasnya sebagai seorang muslim. Dalam pengertian ini Islam dapat dipandang sebagai agen pemicu gejolak bagi proses revolusioner yang terjadi pada abad ke – 20.

  1. ”Jasa “, Penjajahan, Islam, dan Pergerakan Nasional

Pergerakan Nasional di negara Indonesia sebenarnya adalah buah langsung dari sistem pendidikan Belanda. Sistem pesantren berjasa sebagai kekuatan laten untuk melawan penjajahan, peperangan malawan Belanda hampir sepenuhnya dipimpin oleh ulama, kiyai, dan tokoh-tokoh muslim lainnya.

  1. Lahirnya Indonesia sebagai  Bangsa dan Negara Merdeka.

Kesadaran nasional muncul di kalangan para pemuda nusantara yang berpendidikan Barat. Kurikulum di sekolah-sekolah mereka belajar memang telah membuka wawasan kemanusiaan yang lebih luas, di dalamnya gagasan tentang demokrasi dan nasionalisme semakin diminati. Proses kesadaran berbangsa ini berjalan dengan sangat cepat dan puncaknya adalah apa yang dikenal dengan sumpah pemuda 28 Oktober 1928.

  1. PD II, UUD, dan Proklamasi Kemerdekaan

PD II telah mengubah peta dunia secara dramatis. PD II z akan menghabiskan dominasin Eropa atas tanah jajahannya, termasuk jajahan Belanda atas Indonesia. Gelombang sejarah negeri-negeri terjajah pada waktu itu memang sedang bergerak untuk memerdekakan diri. Kemudian Belanda mau mengakui kemerdekaan Indonesia melalui hasil KMB.

  1. Pertarungan Ideologi: Pemilu 1955 dan Islam VS. Pancasila, 1956-1959

Pada September 1955 diselenggarakan pemilu pertama di Indonesia. Hal ini merupakan tonggak penting demokrasi di Indonesia. Tetapi setelah tiga tahun bersidang tersekat oleh masalah dasar negara: yaitu Pancasila atau Islam. Akhirnya pancasila dimenangkan melalui dekrit untuk dikukuhkan sebagai dasar negara sejak 5 Juli. Kelemahan selama ini terlihat dari sikap-sikap para elite yang mudah terpecah dan tidak bertanggungjawab dalam menjaga pilar-pilar demokrasi.

  1. C.    Islam dan Demokrasi
    1. Mengapa Islam selaras dengan gagasan Demokrasi?

Mayoritas umat Islam Indonesia adalah pendukung sistem demokrasi. Memandang demokrasi sebagai realisasi prinsip syura seperti yang diajarkan Al-Qur’an. Selain pertimbangan agama, umat Islam Indonesia mendukung demokrasi juga berdasakan realitas perimbangan jumlah mereka yang mayoritas sebagai pemeluk Islam. Oleh karena itu muncul lah partai-partai yang bercorak Islam sebelum dan pasca-proklamasi.

  1. Pasang surut Demokrasi di Indonesia

Pasang surut pelaksanaan demokrasi di Indonesia berkaitan erat dengan laku para elitnya, apakah mereka berlapang hati atau atau malah berhati sempit dan tidak bertanggung jawab. Sikap miopik dan parokial ini terutama bersumber pada kondisi lemahnya kultur kenegaraan yang diidap sebagian besar politisi Indonesia. Visi mereka jauh melampaui kepentingan terbatas yang bersifat pribadi, golongan, atau partai Indonesia yang masih memiliki sumber alam yang dapat diolah untuk kepentingan rakyat, tentu sudah terbang melambung tinggi dan dihormati negara-negara lain. Generasi para pendiri bangsa banyak yang dikenal secara luas oleh dunia. Tapi kendalanya tetap saja berkutat pada suasana kepentingan politik sempit yang menutup ruang untuk mengembangkan budaya toleransi di kalangan elite.

  1. Islam dan Masalah Keragaman Agama dan Budaya

Masalah keragaman agama dan budaya tidak bisa lepas dari prinsip kebebasan yang merupakan salah satu pilar utama demokrasi. Tetapi di mata A-Qur’an kebebasan bukan lah tanpa batas, yaitu dibatasi oleh ruang lingkup kemanusiaan itu sendiri. Manusia hanya bebas dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang betul-betul bersifat ikhtiariah, yakni yang di dalamnya ia mempunyai pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan. Oleh karena itu ia pun bertanggung jawab dalam hal -hal yang benar-benar ia tidak terpaksa dalam melakukan atau tidak melakukannya

  1. Tempat Toleransi dalam Islam

Jalan yang terbaik dan sah bagi seorang muslim dalam kehidupan bermasyarakat adalah mengembangkan kultur toleransi. Karena Al-Qur’an menguatkan adanya eksistensi keberbagai suku, bangsa, agama, bahasa, dan sejarah. Semua ini hanya mungkin hidup dalam harmonis, aman dan damai jika di sana kultur lapang dada dijadikan perekat utama.

  1. Sebuah Islam, seribu satu Ekspresi

Perbedaan dan keragaman dalam menafsirkan ajaran agama adalah fakta yang harus diakui. Masalahnya menjadi lebih penting jika diingatkan pula bahwa bukan saja kekuatan masing-masing dimensi keagamaan yaitu dimensi keyakinan, pengetahuan, ritual, pengabdian dan pengalaman relegius pada setiap kesatuan etnis kultural berbeda-beda, bahkam besarnya ruang lingkup dan dalamnya pengaruh agama dalam kehidupan sosial juga tidak sama.

  1. Dimensi Global Islam Indonesia dan Upaya Mencari Titik Temu Antara Sesama Anak Manusia

Peradaban Islam yang dibangun di Indonesia tidak boleh hanyut dan larut dalam unsur-unsur lokal yang negatif dan terbelakang dan juga tidak terseret oleh arus global yang dapat mengundang malapetaka bagi Islam Indonesia, seperti perilaku kekerasan atas nama agama dan gaya hidup materialistik. Islam sebagai acuan moral individu dan publik harus diberi posisi utama dalam pergaulan antara manusia baik lokal, nasional dan global. Khusus untuk menghadapi tantangan global yang semakin dahsyat, Islam Indonesia perlu melahirkan pasukan intelektual kelas satu. Pasukan ini di samping memahami warisan pemikiran klasik Islam dengan baik juga mengetahui perkembangan peradaban kontemporer umat manusia.

  1. D.     Islam Indonesia: Masalah Kualitas
    1. Mayoritas Minus Kualitas: Masalah Pendidikan

Kualitas pendidikan Indonesia yang mayoritas muslim masih jauh dari yang semestinya. Strategi pendidikan kita yang tidak pernah mantap proklamasi menjadi sebab utama mengapa kualitas manusia Indonesia masih saja berada di bawah standar, baik diukur pada tingkat regional apalagi pada tingkat global. Kalangan umat Islam sejak era penjajahan, telah pula mendirikan pusat-pusat pendidikan umum dan yang khas Islam, dalam bentuk pesantren dan madrasah yang kemudian setelah merdeka berada di bawah payung Departemen Agama (Depag).

  1. Konsep “The Unity of Knowledge”

Terdengar gagasan agar pendidikan Indonesia ditempatkan di bawah satu atap depdiknas. Tetapi fakta sejak proklamasi kemerdekaan menunjukkan depdiknas belum pernah berada di bawah pimpinan menteri non Muslim, sementara untuk Depag hampir mustahil hai itu terjadi.

  1. Muhammadiyah tentang Pendidikan

Sosok seorang muslim adalah bagian dari umat manusia dengan kriteria khas, seorang yang berserah diri kepada Allah dengan penuh kesadaran. Pendidikan adalah sarana yang efektif untuk membentuk corak manusia yang kita inginkan. Yakni manusia yang berarti berdasarkan pandangan hidup tertentu, dalam hal ini pandangan hidup Islami. Atau lebih khusus lagi pandangan hidup Qur’ani.

  1. Manusia yang Berarti dalam Persfektif Al-Qur’an Ke Arah Perumusan Filsafat Pendidikan Islam/Muhammadiyah

Muhammadiyah punya hak dan kewajiban untuk merumuskan filsafat pendidikan Islam berdasarkan pemahaman yang cerdas dan kreatif terhadap Al-Qur’an. Filsafat pendidikan yang dimaksud harus mampu menyatukan antara tuntutan otak dan tuntutan hati. Dalam isyarat Al-Qur’an sistem pendidikan yang mampu menyatukan kekuatan fikr dan dzikr.

  1. Padepokan Musa Asy’aried

Padepokan ini berangkat dari sebuah keprihatinan kultural tentang dunia pendidikan Indonesia yang tidak menyentuh realitas. Isi dan metode pendidikan Islam yang diwariskan sejak sekian abad yang lalu dapat diandalkan untuk melepaskan umat Islam dari keterbelakangan

  1. Pendidikan di Lingkungan NU

Orientasi pendidikan di kalangan NU harus ditata kembali, dengan mengambangkan cara baru yang tepat, guna mengukur kemampuan anak didik dalam melakukan kerjanyata kemanusiaan dan kemasyarakatan, serta diarahkan pada pengenalan hajat hidup tanpa menggoyahkan sikap yang dilandasi aqidah Islam.

  1. Islam dan Masa Depan Indonesia

Sistem demokrasi yang bisa mengandalkan suara mayoritas dalam mengambil suatu keputusan harus dijalankan dengan sangat hati-hati. Aspek keadilan dan tenggang rasa jangan sampai tersingkirkan. Keamanan masa depan Indonesia tidak akan lepas dari kesediaan golongan mayoritas dan minoritas. Golongan mayoritas berpegang pada doktrin “jika pun banyak, tidak akan melanda, jika pun besar, justru akan memayungi”. Golongan minoritas juga harus pandai-pandai membawakan diri dalam lingkungan demokrasi.

 

 

 

  1. E.     Masa Depan Agama
    1. Islam Agama Terbuka, di mana Posisi Manusia

Masyarakat muslim bertahan dalam sosok tiga kekuatan:

  1. Mullaisme (keulamaan). Ulama
  2. Mistisme.
  3. Raja-raja.
  4. Islam dan Ketulusan Beragama

Ketulusan adalah sifat dasar yang menyatu dengan karakter manusia. Orang yang mengaku bijak tapi curang dalam berbuat adalah adalah pengakuan palsu. Begitu juga seseorang yang memperdagangkan agama atas nama Tuhan adalah orang yang sedang main api tentang kebenaran dan sekaligus mengingkari konsep ketulusan.

  1. Peta Global: Antara Harapan dan Kecemasan

Peta peradaban global juga jauh dari selesai jika ditinjau dari sistem kenabian yang sudah semakin terlantar di tengah arus sekularisme/ateisme atau arus fundamentalisme agama. Kenyataan yang terbentang di depan kita pada permulaan abad ke – 21 ini bukan pemahaman moral dan kultural yang berlaku, melainkan justru oleh si kuat atas si lemah dengan korban ribuan manusia tak berdosa. Sasaran utamanya kali ini adalah beberapa bangsa-bangsa muslim..

  1. F.     Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan

. Peta masa depan Indonesia yang hendak kita bangun dan ciptakan haruslah demikian rupa, sehingga siapa pun yang hidup di nusantara ini benar-benar merasakan kenyamanan dan keamanan, karena prinsip keadilan berlaku untuk semua, tidak ada diskriminasi dengan pertimbangan dan alasan apapun. Karena mayoritas penduduk beragama Islam, tanggung jawab mereka lah untuk menciptakan sebuah Indonesia yang adil dan berwajah ramah menjadi sangat besar mereka sesuai jumlah mereka yang besar. Tetapi tanggung jawab itu akan sulit dilaksanakan jika kualitas umat Islam masih di bawah standar.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

            Sebagai penduduk mayoritas di Nusantara, semestinya umat Islam tidak lagi subuk mempersoalkan hubungan Islam, keindonesiaan dan kemanusiaan. Ketiga konsep itu haruslah ditempatkan dalam satu napas sehingga Islam yang mau dikembangkan di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar Bangsa dan Negara. Sebutlah sebuah Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub kultur dan agama kita yang beragam. Sebuah Islam yang memberikan keadilan, kenyamanan, keamanan dan perlindungan kepada semua orang yang berdiam di nusantara ini tanpa diskriminasi apapun agama yang diikutinya atau tidak diikutinya. Sebuah Islam yang sepenuhnya berpihak kepada rakyat miskin, sampai batas-batas yang jauh di negeri kepulauan ini.

Ketidak berdayaan sebuah komunitas untuk menghadapi tantangan dunia modern dengan segala masalah yang menyertainya, tidak boleh mengecilkan hati dan nyali anggota komunitas itu, lalu menempuh jalan pintas ekstrem yang sangat berbahaya. Bom bunuh diri di Indonesia sambil membunuh orang lain adalah bentuk ekstrem dari perasaan putus harap dan tak berdaya itu, apapun penyebab yang melatar belakanginya.

Islam lahir dan berkembang sepenuhnya dalam darah daging sejarah, tidak dalam kevakuman budaya dan tidak pula dalam ruang sunyi yang jauh dari keramaian suasana kota. Pada periode madinah pun islam tumbuh dan berkembang dalam lindungan kota dagang. Jadi baik di makkah ataupun madinaah, islam selalu bersentuhan dengan sebuah dunia yang dinamis, penuh persaingan dan kreatif.  Pada dasawarsa ketiga abad ke – 20  muncul sebuah bangsa dari kumpulan etnisitas dan sub-kultur yang beragam dan plural, tetapi sebagian besar rakyatnya adalah pemeluk Islam. Tidak diragukan lagi bahwa Islam kemudian merupakan salah satu komponen penting dari nasionalisme bangsa ini, di samping bahasa dan pengalaman sejarah. Agama-agama lain juga hidup subur karena besarnya toleransi masyarakat dalam menghargai perbedaan. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, para khalifah dan penguasa sangat bertanggung jawab untuk proses Islamisasi dan Arabisasi besar-besaran

Kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha secara berangsur-angsur diganti oleh sistem kekuasaan yang bercorak Islam. Orang Islam merasa bahwa harga dirinya tidak disekat oleh dinding-dinding kasta yang melecehkan martabat manusia selama ratusan tahun.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo melihat beberapa faktor yang mempermudah proses Islamisasdi Jawa khususnya ,antara lain:

  1. Suasana kota yang serba terbuka mendorong kecenderungan struktural untuk mobilitas yang lebih besar, termasuk berpndah agama.
  2. Masyarakat lama yang mengalami disintergrasi dan disorientasi memerlukan identitas dan nilai-nilai baru.
  3. Akibat kemerosotan pusat kekuasaan Hindu – Jawa, terjadilah perubahan struktural masyarakat yang membawa perubahan struktur kekuasaan.

Adalah sebuah fakta yang tidak dpat dibantah, jika Islam agak bertapak secara kultural, sekalipun jauh dari sempurna pengikut agama ini akan sulit untuk menukar imannya. Gambaran masa lampau pada saat nusantara masih di bawah sistem kolonial yang memang sangat buram bagi pribumi. Gereja pada waktu itu hampir sepenuhnya berpihak kepada sistem penjajahan. Sikap semacam ini tentu tidak terlalu mengherankan karena pimpinan gereja pada era itu terpegang di tangan asing. Tetapi pada zaman revolusi mempertahankan kemerdekaan, tokoh-tokoh Islam dan kristen sama bahu membahu untuk menghalau Belanda yang dibantu Inggris ketika ingin meneruskan kembali penjajahannya. Sebuah situasi yang sangat kontras dengan sikap gereja sebelum abad ke – 20.

Pergerakan Nasional di negara Indonesia sebenarnya adalah buah langsung dari sistem pendidikan Belanda. Kemudian muncul lah tokoh-tokoh pergerakan secara berangsur bergerak menuju kemerdekaan Tanah air. Dengan demikian secara tidak langsung penjajah juga telah “berjasa” bagi nusantara. Gagasan tentang pergerakan nasnional muncul pertama kali dari kaum terdidik di sekolah-sekolah Belanda. Kaum terpelajar ini sebagian besar beragana Islam. Sistem pesantren berjasa sebagai kekuatan laten untuk melawan penjajahan, peperangan malawan Belanda hampir sepenuhnya dipimpin oleh ulama, kiyai, dan tokoh-tokoh muslim lainnya.

Munculnya Indonesia sebagai bangsa dan kemudian sebagai negara merdeka adalah hasil karya dan perjuangan tokoh-tokoh pergerakan nasional, baik yang menggunakan pendekatan politik, maupun pendekatan sosio kultural keagamaan. Gabungan pendekatan politik dan sosio kultural atau keagamaan melalui caranya masing-masing semakin membangun kesadaran rakyat nusantara tentang penting dan perlunya kemerdekaan tanah air, sesuatu yang sangat dicemaskan oleh pihak penjajah.

PD II akan menghabiskan dominasi Eropa atas tanah jajahannya, termasuk jajahan Belanda atas Indonesia. Gelombang sejarah negeri-negeri terjajah pada waktu itu memang sedang bergerak untuk memerdekakan diri. Sebaliknya Belanda masih saja tidak rela atas kemerdekaan Indonesia. Dibantu oleh Inggris, Belanda masuk kembali untuk meneruskan penjajahannya. Indonesia harus berperang selama empat tahun untuk mempertahankan proklamasi kemerdekaan. Kemudian Belanda mau mengakui kemerdekaan Indonesia melalui hasil KMB.

Pada September 1955 diselenggarakan pemilu pertama di Indonesia. Ada dua agenda yang ingin dicapai dari pemilu ini. Agenda pertama berjalan lancar, sedangkan agenda kedua semula juga lancar dan mulus. Tetapi setelah tiga tahun bersidang tersekat oleh masalah dasar negara: yaitu Pancasila atau Islam. Akhirnya pancasila dimenangkan melalui dekrit untuk dikukuhkan sebagai dasar negara sejak 5 Juli. Setelah dekrit 5 Juli 1959 sampai 1998, demokrasi di Indonesia tinggal nama, yang berlaku adalah sistem politik otoritarian dalam lingkungan budaya semi feodal. Dalam demokrasi dalam kaitannya dengan Islam, dibunuhnya masyumi oleh rezim otoritarian merusak perjalanan dan perkembangan demokrasi Islam. Partai ini dipimpin oleh para negarawan hasil didikan Barat, tetapi punya komitmen keislaman dan kebangsaan yang kental. Dari sisi moral politik, mereka adalah garda depan demokrasi di Indonesia.

Mayoritas umat Islam Indonesia adalah pendukung sistem demokrasi. Memandang demokrasi sebagai realisasi prinsip syura seperti yang diajarkan Al-Qur’an. Selain pertimbangan agama, umat Islam Indonesia mendukung demokrasi juga berdasakan realitas perimbangan jumlah mereka yang mayoritas sebagai pemeluk Islam. Oleh karena itu muncul lah partai-partai yang bercorak Islam sebelum dan pasca-proklamasi.

Pasang surut pelaksanaan demokrasi di Indonesia berkaitan erat dengan laku para elitnya, apakah mereka berlapang hati atau atau malah berhati sempit dan tidak bertanggung jawab. Sikap miopik dan parokial ini terutama bersumber pada kondisi lemahnya kultur kenegaraan yang diidap sebagian besar politisi Indonesia. Visi mereka jauh melampaui kepentingan terbatas yang bersifat pribadi, golongan, atau partai Indonesia yang masih memiliki sumber alam yang dapat diolah untuk kepentingan rakyat, tentu sudah terbang melambung tinggi dan dihormati negara-negara lain. Generasi para pendiri bangsa banyak yang dikenal secara luas oleh dunia. Tapi kendalanya tetap saja berkutat pada suasana kepentingan politik sempit yang menutup ruang untuk mengembangkan budaya toleransi di kalangan elite.

Indonesia kedepan harus menyatakan secara sadar bahwa sistem demokrasi adalah pilihan satu-satuya, orang tidak boleh berpaling pada sistem yang lain. Nabi yang mendapat wahyu tidak menunjukkan dirinya lebih tinggi dari para sahabatnya jika sedang bermusyawarah. Penampilan Nabi yang mulia di tengah-tengah sahabatnya pastilah akan terus mengilhami kultur egalitarianisme pada umat Islam.

Masalah keragaman agama dan budaya tidak bisa lepas dari prinsip kebebasan yang merupakan salah satu pilar utama demokrasi. Tetapi di mata A-Qur’an kebebasan bukan lah tanpa batas, yaitu dibatasi oleh ruang lingkup kemanusiaan itu sendiri. Manusia hanya bebas dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang betul-betul bersifat ikhtiariah, yakni yang di dalamnya ia mempunyai pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan. Oleh karena itu ia pun bertanggung jawab dalam hal -hal yang benar-benar ia tidak terpaksa dalam melakukan atau tidak melakukannya

Jalan yang terbaik dan sah bagi seorang muslim dalam kehidupan bermasyarakat adalah mengembangkan kultur toleransi. Karena Al-Qur’an menguatkan adanya eksistensi keberbagai suku, bangsa, agama, bahasa, dan sejarah. Semua ini hanya mungkin hidup dalam harmonis, aman dan damai jika di sana kultur lapang dada dijadikan perekat utama. Paradigma yang terdapat di dalam Al-Qur’an, baim ayat-ayat toleransi maupun reinterpretasi ayat-ayat yang seringkali digunakan untuk tindakan toleransi.

Perbedaan dan keragaman dalam menafsirkan ajaran agama adalah fakta yang harus diakui. Masalahnya menjadi lebih penting jika diingatkan pula bahwa bukan saja kekuatan masing-masing dimensi keagamaan yaitu dimensi keyakinan, pengetahuan, ritual, pengabdian dan pengalaman relegius pada setiap kesatuan etnis kultural berbeda-beda, bahkam besarnya ruang lingkup dan dalamnya pengaruh agama dalam kehidupan sosial juga tidak sama.

Peradaban Islam yang dibangun di Indonesia tidak boleh hanyut dan larut dalam unsur-unsur lokal yang negatif dan terbelakang dan juga tidak terseret oleh arus global yang dapat mengundang malapetaka bagi Islam Indonesia, seperti perilaku kekerasan atas nama agama dan gaya hidup materialistik. Islam sebagai acuan moral individu dan publik harus diberi posisi utama dalam pergaulan antara manusia baik lokal, nasional dan global. Khusus untuk menghadapi tantangan global yang semakin dahsyat, Islam Indonesia perlu melahirkan pasukan intelektual kelas satu. Pasukan ini di samping memahami warisan pemikiran klasik Islam dengan baik juga mengetahui perkembangan peradaban kontemporer umat manusia.

Strategi pendidikan kita yang tidak pernah mantap proklamasi menjadi sebab utama mengapa kualitas manusia Indonesia masih saja berada di bawah standar, baik diukur pada tingkat regional apalagi pada tingkat global. Kalangan umat Islam sejak era penjajahan, telah pula mendirikan pusat-pusat pendidikan umum dan yang khas Islam, dalam bentuk pesantren dan madrasah yang kemudian setelah merdeka berada di bawah payung Departemen Agama (Depag). Di samping juga ada beberapa departemen yang menyelenggarakan pendidikan.

Terdengar gagasan agar pendidikan Indonesia ditempatkan di bawah satu atap depdiknas. Tetapi fakta sejak proklamasi kemerdekaan menunjukkan depdiknas belum pernah berada di bawah pimpinan materi non Muslim, sementara untuk Depag hampir mustahil hai itu terjadi. Dalam konsep kesatuan ilmu pengetahuan, dualisme sistem pendidikan yang terdapat hampir diseluruh Dunia Islam secara berangsur dapat dipecah jika kita berangkat dari pemikiran yang bercorak filosogis.

Pendidikan baru muncul sejak masa pendudukan Jepang sampai sekarang dalam kemasan rumusan yang semakin komprehensif. Tetapi rumusan yang bersifat folisofis tentang pendidikan Muhammadiyah/Islam belum ada. Dalam kaidah perguruan dasar dan menengah Muhammadiyah mengenai tujuan pendidikan dijelaskan terwujudnya manusia muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, cakap dan percaya kepada diri sendiri, cinta tanah air dan berguna bagi masyarakat dan negara, beramal menuju terwujudnya masyarakau utama adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

Asal ususl penciptaan manusia dalam Al-Qur’an berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk, kemudian dalam rahim terjadilah proses kreatif lebih lanjut sehingga mulailah terbentuk fisik manusia. Tetapi yang istimewa dalam proses penciptaan itu adalah katika ditiupkannya ruh. Dalam diri seorang ada potensi jahat dan baik. Maka di antara fungsi pendidikan adalah agar potensi baik dalam diri pesertadidik di dorong tumbuh dan berkembang. Dalam isyarat Al-Qur’an sistem pendidikan harus mampu menyatukan kekuatan fikr dan dzikr yang akhirnya akan melahirkan kelompok ulu al-albab, adanya pengembangan intelektual dan spiritual.

Padepokan ini berangkat dari sebuah keprihatinan kultural tentang dunia pendidikan Indonesia yang tidak menyentuh realitas. Isi dan metode pendidikan Islam yang diwariskan sejak sekian abad yang lalu dapat diandalkan untuk melepaskan umat Islam dari keterbelakangan.Orientasi pendidikan di kalangan NU harus ditata kembali, dengan mengambangkan cara baru yang tepat, guna mengukur kemampuan anak didik dalam melakukan kerjanyata kemanusiaan dan kemasyarakatan, serta diarahkan pada pengenalan hajat hidup tanpa menggoyahkan sikap yang dilandasi aqidah Islam.

Kesenjangan antara bentuk dan isi sudah lama terlihat di semua bangsa muslim di dunia. Karena umat Islam lebih terpaku oleh bentuk dengan mengabaikan isi. Corak dan bentuk yang serba Islam akan menjadi bumerang ketika bentuk-bentuk formal gagal menampulkan nilai-nilai keislaman dengan kualitas tinggi. Kesenjangan semacam ini berlaku karena orang pada umumnya mengabaikan kualitas, inilah yang dimaksud dengan pergumulan antara bentuk dan isi.

Islam mampu bertahan selama berabad-abad di nusantara ini, dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Agar jumlah umat Islam ini tidak menurun, masalah peningkatan kualitas harus lebih diutamakan. Indonesia dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika adalah sebuah bangsa multi etnis, multi iman dan multi ekspresi kultural dan politik. Hal ini jika dikelola dengan baik, cerdas, dan jujur pasti akan merupakan sebuah kekayaan kultural. Hal inilah yang menunjang masa depan Indonesia yang harus kita bela dan perjuangkan.

Masyarakat muslim bertahan dalam sosok tiga kekuatan:

  1. Mullaisme (keulamaan). Ulama selalu merupakan sumber kekuatan besar dalam Islam.
  2. Mistisme. Massa Muslim telah dibelokkan oleh semacam mistisme yang membutakan mata terhadap kenyataan.
  3. Raja-raja. Tatapan mata raja-raja muslim masa lampau berbeda dengan masa kini, semata-mata pada kepentingan dinasti mereka.

Ketulusan adalah sifat dasar yang menyatu dengan karakter manusia. Orang yang mengaku bijak tapi curang dalam berbuat adalah adalah pengakuan palsu. Begitu juga seseorang yang memperdagangkan agama atas nama Tuhan adalah orang yang sedang main api tentang kebenaran dan sekaligus mengingkari konsep ketulusan.

Peta peradaban global juga jauh dari selesai jika ditinjau dari sistem kenabian yang sudah semakin terlantar di tengah arus sekularisme/ateisme atau arus fundamentalisme agama. Kenyataan yang terbentang di depan kita pada permulaan abad ke – 21 ini bukan pemahaman moral dan kultural yang berlaku, melainkan justru oleh si kuat atas si lemah dengan korban ribuan manusia tak berdosa. Sasaran utamanya kali ini adalah beberapa bangsa-bangsa muslim. Ilmu pengetahuan tidak digunakan untuk “memuliakan manusia”, tetapi malah untuk menghancurkannya.

Apabila berbicara tentang Islam, keindonesiaan dan kemanusiaan berarti kita telah memasuki suatu ranah yang dalam dan luas. Peta masa depan Indonesia yang hendak kita bangun dan ciptakan haruslah demikian rupa, sehingga siapa pun yang hidup di nusantara ini benar-benar merasakan kenyamanan dan keamanan, karena prinsip keadilan berlaku untuk semua, tidak ada diskriminasi dengan pertimbangan dan alasan apapun. Karena mayoritas penduduk beragama Islam, tanggung jawab mereka lah untuk menciptakan sebuah Indonesia yang adil dan berwajah ramah menjadi sangat besar mereka sesuai jumlah mereka yang besar. Tetapi tanggung jawab itu akan sulit dilaksanakan jika kualitas umat Islam masih di bawah standar.

Perbedaan pandangan dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan haruslah dijadikan daya dorong untuk mencari titik temu yang lebih baik dalam masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Disinilah terletak kunci utamanya untuk mengukuhkan semangat integrasi nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

            Al-Qur’an dengan baik sekali menggambarkan tentang mutlaknya kualitas untuk memenangkan masa depan. “Berapa banyak terjadi kelompok kecil bisa mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah”. Coba perhatikan makna ayat ini yang semula ditujukan kepada pasukan Thalut yang minoritas berhadapan dengan tentara Jalut dalam jumlah besar. Sekalipun pasukan Thalut yang tahan uji berjumlah kecil, sementara yang lainnya sudah mau menyerah kepada tentara Jalut, kemenangan akhir berada dipihak minoritas yang patuh kepada perintah raja Thalut saat menyeberangi sebuah sungai. Perintah itu berupa agar pasukannya tidak minum dengan puas, kecuali sedikit saja. Kemenangan golongan minoritas juga kemudian terlihat saat perang badar di awal tahun Hijriah, pasukan minoritas muslim telah mengalahkan tentara Quraisy dalam jumlah yang sangat besar. Kelompok minoritas bisa saja menang jika syarat untuk itu mereka miliki. Jelas disini masalah kualitas lahir bathin tentu sangat menentukan kejayaan dan kemenangan sebuah komunitas, tidak terkecuali komunitas Muslim di Indonesia. Tetapi adalah sebuah ironi, mayoritas muslim di negeri ini sebagian besar berada dalam kemiskinan dan kebodohan, tingkat pendidikan sebagian besar mereka belumtentu berhasil menamatkan sekolah dasar.

Oleh karena itu kesadaran yang mendalam untuk memperbaiki kondisi umat ini perlu selalu dimiliki oleh para pemimpin mereka, jika kita memang ingin melihat masa depan Indonesia berpihak kepada Islam. Tetapi jika Islam itu menang dalam perlombaan peradaban haruslah ditafsirkan sebagai Islam yang memayungi semua orang. Kelompok minoritas harus merasa aman dan damai hidup di Indonesia karena mereka diperlakukan secara adil dan sebagai saudara sebangsa. Hak-hak mereka harus dijamin secara penuh, tidak ada diskriminasi. Dengan kata lain, Islam yang harus dikembangkan adalah sebagai kekuatan spiritual pelindung, bukan pengancam. Jihad dan ijtihad harus digiring. Cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan harus dihentikan.

 

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Di Indonesia

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. 1.      Latar Belakang

Undang-undang (UU) perlindungan Saksi dan Korban didasari pada amanat ketetapan (TAP) MPR No. VIII Tahun 2001 tentang Rekomendasi arah kebijakan pemberantasan dan pencegahan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, yang menyatakan perlu adanya sebuah undang-undang yang mengatur tentang perlindungan saksi. Berdasarkan amanat TAP MPR, maka Badan Legislatif DPR RI kemudian mengajukan sebuah RUU Perlindungan Saksi dan Korban pada tanggal 27 Juni 2002 dan ditanda tangani oleh 40 anggota DPR dari berbagai fraksi sebagai RUU usul inisiatif DPR.

Tanggal 30 Agustus 2005 Presiden SBY mengeluarkan sebuah Surat Presiden (Supres) mengenai kesiapan pemerintah untuk pembahasan RUU perlindungan saksi dan korban (selanjutnya disebut RUU PSK) serta sekaligus menunjuk menteri Hukum dan HAM sebagai wakil pemerintah dalam pembahasan tersebut. Turunnya Surpres sudah menunjukkan iktikad baik dari pemerintah agar RUU PSK dapat segera dibahas di DPR. Pada tanggal 18 juli 2006 akhirnya RUU ini disahkan menjadi UU No 13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban (UU PSK).

UU PSK ternyata memiliki berbagai kelemahan baik dalam lingkup konsep perlindungan, tata cara perlindungan, hak asasi maupun korban sampai dengan masalah kelembagaan (Supryadi, 2006). Banyaknya kelemahan yang ada dalam UU PSK tersebut, sedikit banyak akan mempengaruhi implementasinya.

Makalah ini mencoba memberikan rekomendasi umum terhadap berbagai kelemahan terkait dengan kelembagaan dalam UU No 13 Tahun 2006 tentang perlindungan Saksi dan korban. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan masukan dalam implementasi UU PSK. Diharapkan memberi rekomendasi umum maka para pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan UU PSK dapat mengambil sikap dan tentunya dapat meminimalisasi berbagai kelemahan yang ada.

 

 

 

  1. 2.      Ruang lingkup

Beberapa hal penting dan prioritas terkait dengan kelembagaan dari lembaga perlindungan saksi (LPSK) yakni:

  • Tugas, kewenangan dan tanggang jawab LPSK
  • Kedudukan LPSK
  • Keanggotaan LPSK
  • Struktur dan Pelaksanaan Tugas LPSK
  • Pembiayaan dan anggaran LPSK
  • Kerjasama Antar Lembaga

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab II

Kedudukan LPSK

 

  1. 1.      LPSK sebagai Lembaga yang Mandiri

UU PSK menyatakan bahwa LPSK adalah lembaga yang mandiri (pasal 11 ayat 1 tahun 2006). Mandiri dalam UU, lebih tepatnya adalah sebuah lembaga yang independen (biasa disebut sebagai komisi independen), yakni organ negara (state organs) yang di idealkan independen dan karenanya berada di luar cabang kekuasaan baik eksekutif, legislatif, maupun judikatif namun memiliki fungsi campuran antar ketiga cabang kekuasaan tersebut (Deni Indrayana, 2003).

Karena UU PSK merupakan lembaga yang mandiri maka UU PSK tidak meletakkan struktur LPSK berada di bawah instansi manapun baik instansi pemerintah (eksekutif) maupun lembaga negara lainnya. Pilihan UU terhadap model lembaga terkait beberapa argumen. Pertama, keinginan membuat lembaga yang secara khusus mengurusi masalah perlindungan saksi dan korban yang tidak berada di bawah instansi yang sudah ada, yakni kepolisian atau kejaksaan, komnas HAM atau Departemen Hukum dan HAM (Supriyadi widodo, 2006). Kedua, karena institusi yang lainnya sudah memiliki beban tanggungjawab yang besar, oleh karena itu jangan sampai program perlindungan membebani lagi lembaga tersebut.

Jika dilihat dari karakteristik tugas dan pekerjaan maka LPSK sebenarnya merupakan model lembaga yang menjadi pendukung (Supporting) dari institusi lainnya (ICW, 2006). Implikasinya, atas karakteristik pekerjaan tersebut menyebabkan LPSK tidak akan lepas dari keberadaan beberapa lembaga penegak hukum yang ada. Dari segi politik hal ini membutuhkan seni dan cara penempatan yang baikagar bisa menempatkan diri pada posisi tersebut. Oleh karenanya maka LPSK dengan jelas harus membangun posisi kelembagaan yang berada diantara dau kepentingan yakni kepentingan pertama yang dimandatkan oleh UU PSK sebagai lembaga yang bersifat mandiri, namun dari kepentingan kedua yakni untuk menjalankan program juga harus didukung oleh instansi terkait yang dalam prakteknya akan menimbulkan irisan kewenangan dengan instansi tersebut.

 

  1. 2.      Kedudukan LPSK

UU No.13 tahun 2006 memprioritaskan kedudukan LPSK ini berada di ibukota negera Republik Indonesia (Pasal 11 ayat 2 tahun 2006). Disamping kedudukan di ibukota negara, UU juga memberikan keluasaan bagi LPSK untuk membentuk perwakilannya di daerah lain jika sesuai dengan kebutuhan LPSK (Pasal 11 ayat 3 tahun 2006). Pilihan memberikan akses mendirikan lembaga perwakilan adalah  karena kemudahan akses komunikasi dan informasi yang terbatas anat wilayah maupun antar ibukota wilayah lainnya dan juga karena kasus-kasus intimidasi terhadap saksi yang terjadi selama ini justru paling banyak di luar wilayah ibukota RI (Supriadi widodo, 2004).

Walaupun idealnya LPSK ada ditiap wilayah provinsi, namun kebutuhan untuk mendirikan perwakilan juga memberiakan implikasi atas sumber daya yang besar, baik dari segi pembiayaan, maupun penyimpanan infrastruktur dan sumber daya manusianya. Selain itu perlu dibuat sebuah standar kerja, indikator kebutuhan dan standar prioritas bagi pendirian perwakilan LPSK. Jangan sampai pendirian tersebut karena alasan-alasan diluar kebutuhan dari LPSK sendiri.

Disamping itu dibutuhkan perencanaan jangka panjang yang strategis dalam hal kontinuitas lembaga. Masalah kordinasi anatar perwakilan juga perlu diperhatikan, juga dukungan terkait di wilayah perwakilan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab III

Tugas, Kewenangan dan Tanggung Jawab LPSK

 

  1. 1.      Tugas dan Kewenangan LPSK

UU No.13 tahun 2006 dalam ketentuan umum menyatakan bahwa lembaga perlindungan saksi dan korban (LPSK), adalah lembaga yang bertugas dan berwenang untuk memberikan perlindungan dan hak-hak lain kepada saksi dan atau korban sebagaimana diatur di undang-undang. Namun UU PSK tidak merinci tugas dan wewenang dari LPSK lebih lanjut (pasal 12 tahun 2006).

Tugas dan wewenang LPSK yang tersebar dalam UU No.13 tahun 2006, yaitu:

  1. Menerima permohonan saksi dan atau korban untuk perlindungan (pasal 29)
  2. Membutuhkan keputusan pemberian perlindungan saksi dan atau korban (pasal 29)
  3. Memberikan perlindungan kepada saksi dan atau korban (pasal 1)
  4. Menghentikan program perlindungan kepada saksi dan atau korban (pasal 32)
  5. Mengajukan ke pengadilan berupa hak atas kompensasi dalam kasus pelanggaran HAM yang berat, dan hak atas restitusi atau ganti rugi yang menjadi tanggung jawab pelaku tindak pidana (pasal7)
  6. Menerima permintaan tertulis dari korban ataupun orang yang mewakili korban untk bantuan  (pasal 33 dan 34)
  7. Menentukan kelayakan, jangka waktu dan besarnya biaya yang diperlukan diberikannya bantuan kepada saksi dan atau korban (pasal 34)
  8. Bekerjasama dengan instansi terkait yang berwenag dalam melaksanakan pemberian perlindungan dan bantuan (pasal 39).

 

 

  1. 2.      LPSK membutuhkan kewenangan yang lebih besar

Ada beberapa hal penting yang sebaiknya menjadi kewenagna LPSK adalah yang seharusnya masuk di dalam UU No 13 tahun 2006 yakni:

  1. Diberikan wewenang untuk menentukan layanan-layanan apa yang akan diberikan bagi saksi, untuk memberikan bukti dalam persidangan apapun.
  2. Melaksanakan tugas-tugas administratif menyangkut perlindungan saksi dan orang-orang terkait termasuk menyangkut perlindungan sementara dan layanan-layanan lainnya.
  3. Membuat perjanjian-perjanjian tentang bantuan yang akan dilakukan orang-orang, institusi atau organisasi.
  4. Diberikan wewenang untuk menggunakan fasilitas atau kelengkapan di bawah pengusaan departemen dan mendapatkan dokumen yang dibutuhkan dalam rangka perlindungan seseorang yang dilindungi.
  5. Menetapkan langkah-langkah dan cara-cara bagaimana ketentuan UU PSK mesti dijalankan oleh kantor-kantor cabang dan menunjuk tempat yang difungsikan
  6. Kewenangan lainya terkait dengan lembaga penegak hukum lainnya adalah hak memberikan rekomendasi tentang kondisi saksi maupun korban
  7. Memiliki hak untuk tidak mmberikan informasi tentang data tertentu dari saksi (rahasia) yang masuk dalam program perlindungan saksi.

 

  1. 3.      Tanggung jawab LPSK

UU No 13 tahun 2006 menyatakan LPSK bertanggung jawab kepada presiden. Implikasi atas hal ini maka presiden sebagai pejabat negara tertinggi yang bertanggung jawab atas kerja dari LPSK dan karenanya presiden harus memfasilitasi lembaga tersebut.

Disamping itu UU LPSK menugaskan LPSK membuat laporan secara berkala tentang pelaksanaan tugas LPSK kepada DPR paling sedidkit sekalim1 tahun (pasal 13 UU tahun 2006). Disamping itu fungsi kontrol dan pengawasan kinerja, DPR juga seharusnya menjadi partner  pendukung program LPSK

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab IV

Struktur organisasi

  1. 1.      Struktur organisasi

UU PSK menyatakan LPSK terdiri atas pimpinan dan anggota (sedang pimpinan LPSK terdiri atas ketua dan wakil ketua yang merangkap anggota yang dipilih dari dan oleh lembaga LPSK. Masa jabatan ketua dan wakil ketua LPSK selam 5 tahun dan sesudahnya dpat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya satu kali jabatan berikutnya.

Dalam pelaksanaan tugasnya, LPS dibantu sebuah sekretaris yang bertugas memberikan layanan administrasi bagi kegiatan LPSK. Sekretaris dipimpin oleh seorang yang berasal dari PNS yang diangkat dan diberhentikan oleh menteri sekretaris negara.

  1. 2.      Keputusan LPSK

UU PSK menyatakan bahwa keputusan LPSK diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat dan jika dalam hal keputusan tidak dapat tercapai maka keputusan akan diambil dengan suara terbanyak. Keputusan yang terkait dengan wewenag LPSK terutama dalam keputusan pemberian perlindungan dan bantuan bagi saksi dan korban.

Keputusan dan kebijakan LPSK, yang didasari musyawarah mufakat tidak sesuai dengan format pekerjaan LPSK. Pilihan terhadap model pengambilan keputusan seperti ini tidaklah tepat, karena model ini mengisyaratkan setiap anggota perlindungan saksi punya hak dan mandat yang sama seperti layaknya komisi-komisi yang sudah ada, dalam prkateknya kurang memberikan kontribusi yang positif kerena seluruh keputusan dari komisi harus melalui rapat pleno, setiap anggota memiliki suara baik mendukung atau mem-vote sebuah kebijakan yang diambil oleh lembaga, hal ini sebaiknya dihindari karena model ini tidak sesuai dengan kerja-kerja praktek perlindungan saksi yang dalam praktek di berbagai negara diberikan dalam satu komando kerja yang didasarkan protap atau kerja dalam sistem yang baku..

 

 

 

Bab V

Kerjasama Antar Lembaga

 

  1. 1.      Kerjasama dengan lembaga atau instansi lainnya

Dalam melaksanakan pemberian perlindungan dan bantuan, LPSK dapat bekerjasama dengan instansi terkait yang berwenang. Dalam melaksanakan perlindungan dan bantuan sesuai dengan wewenagnya, wajib melaksanakan keputusan LPSK sesuai dengan ketentuan yang di atur dalam undang-undang (pasal 36 tahun 2006). Dalam menjalankan tugasnya, LPSK akan dibantu oleh berbagai instansi terkait terutama instansi pemerintah.

Hal ini memang sudah harusnya diberikan. Karena menjadi platform utama bahwa masalah yang terkait dengan perlindungan saksi hanya bisa ditangani secara efektif melalui pendekatan multi lembaga (Nicholas R. Fyfe, 2006). Dengan memakai platforrm, maka lembaga perlindungan saksi dalam melakukan perlindungan terhadap saksi tentunya menyadari bahwa kerja-kerja lembaga akan melibatkan banyak dukungan dari instansi lain. Apalagi jika dilihat dilihat dari segi geografis, dimana luasnya wilayah negara tidak memungkinkan efektif LPSK bekerja jika tidak ada kerjasama dengan instansi lain.

Sebagai contoh, berkaitan intimidasi dan ancaman yang serius melibatkan relokasi saksi baik relokasi sementara dan permanen, kerjasama antar lembaga dengan program perlindungan saksi penting dalam mengamankan perpindahan saksi dari rumah merekaa dengan komunitas baru. Misalnya akomodasi harus segera ditemukan, catatan atau rekaman medis maupun sekolah harus dipindahkan, demikian juga catatan keuangan yang terkait dengan bank, dan keberlanjutan dalam pekerjaan. Namun jika seseorang merupakan saksi yang beresiko terkena intimidasi yang serius yang mungkin juga mengancam jiwanya maupunkeluargadan memiliki kemungkinan akan ada usaha dari pihak lain untuk melacak keberadaannya, maka penting bila hubungan dengan lembaga-lembaga terkait dilakukan secara cepat dan aman.

Tekait dengan kerjasama antar lembaga atau instansi, maka perlu diperhatikan beberapa hal. Pertama, para ahli atau pejabat-pejabat dari lembaga terkait dengan lembaga perlindungan sakasi harus memberikan tanggapan efektif dan konsisten. Kedua, walaupun kerjasama telah dilakukan namun dengan membatasi hubungan dengan beberapa orang di tiap lembaga, maka resiko yang membahayakan saksi dapat diperkecil. Ketiga, hubungan antar lembaga yang kaut yang dibangun antara para staf maupun pejabat lembaga perlindungan saksi dengan pejabat lembaga lain sangatlah penting saat menangani masalah-masalah yang timbul saat membantu para saksi dan korban. Karena LPSK bertanggungjawab pula kepada Presiden. Posisi presiden sebagai posisi yang membawahi masing-masing departemen atau lembaga terkait lainnya. Peran masing-masing lembaga atau instansi adalah sebagai berikut :

  1. Kepolisian, berperan:
  • Memberi dukungan keamanan dan penjagaag dalam program perlindungan
  • Peneriam benefit (penyelidik yang saksinya dilindungi)
  1. Kejaksaan, berperan:
  • Memberi dukungan administrasi (pihak perpanjangan tangan bagi saksi yang melaporkan intimidasi)
  • Penerima benefit (sebagai penuntut umum yang saksinya dilindungi)
  • Memberi dukungan informasi hasil pengadilan, putusan atau pembebasan pelaku.
  1. Pengadilan, berperan:
  • Memberi dukungan untuk perlindungan dalam sidang pengadilan
  • Memberi dukungan untuk informasi hasil pengadilan.
  1. Departemen Dalam Negeri, berperan:
  • Memberi dukungan untuk perubahan status administrasi kependudukan,dll
  1. Departemen Kesehatan, berperan :
  • Memberi dukungan pengobatan medis dan psikososial
  • Memberi dukungan untuk perubahan catatan medik, face off,dll
  1. Departemen Hukum dan HAM, berperan:
  • Memberi dukungan perlindungan bagi saksi dalam status narapidana: pemindahan tahanan, penjagaan khusus dalam LP dll
  1. Departemen Pendidikan, berperan:
  • Memberi dukungan perubahan akte, ijazah, dan administrasi pendidikan
  • Memberi dukungan untuk menyediakan sekolah bagi saksi atau keluarga saksi yang mendapat relokasi
  1. Departemen yang menangani masalah perumahan, berperan:
  • Memberi dukungan tempat tinggal semnetara atau permanen bagi saksi
  • Memberikan dukungan untuk mempermudah akses akan relokasi dan administrasinya.
  1. Komisi Khusus: KPK, Komnas HAM, PPATK, BNN,dll, berperan:
  • Memberi dukungan administrasi (pihak perpanjangan tangan bagi saksi yang melaporkan intimidasi)
  • Penerima benefit (yang saksinya dilindungi)
  • Memberi dukungan perlindungan yang mungkin ada berdasarkan kewenangannya
  1. Kepala Pemerintah Daerah, berperan:
  • Memberi dukungan untuk akses relokasi di wilayahnya
  • Memberi dukungan untuk kemudahan administrasi
  1. Departemen Tenaga Kerja, berperan:
  • Memberi dukungan pemindahan tenaga kerja
  • Memberi dukungan pemberian pekerjaan bagi saksi.

 

  1. 2.      Kerjasama dengan lembaga swasta dan organisasi masyarakat lainnya

Disamping itu LPSK sangat perlu bekerjasama dengan masyarakat baik pihak swasta maupun organisasi masyarakat, dalam rangka memberikan dukungan. Perlu dikemukakan bahwa saat ini sudah banyak masyarakat secara swadaya membentuk task force perlindungan saksi bagi kasus-kasus tertentu, seperti: pemberian rumah aman atau rumah singgah (safe house) sementara bagi kasus-kasus kekerasan seksual dan KDRT baik bagi korban perempuan maupun anak.

Untuk mensinergikan perlindungan maka UU PSK harus pula membuka kerjasama dengan masyarakat, disamping itu hal ini berguna pula bagi LPSK baik secara logistik maupun dukungan sumberdaya perlindungan. Dalam prakteknya LPSK juga akan melakukan kordinasi dengan lembaga  seperti:

  1. Organisasi Masyarakat, NGO dll,
  • Memberi dukungan keamanan dan penjagaan dalam program perlindungan
  • Memberi dukungan akomodasi dan “safe house
  1. Asosiasi perumahan lokal
  • Memberi dukungan tempat tinggal sementara atau permanen bagi saksi
  • Memberi dukungan untuk mempermudah akses akan relokasi dan administrasinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab VI

Penutup

 

Kesimpulan

Dari pemetaan terhadap lembaga perlindungan saksi dan korban yang mencakup sistem dan organnya seperti yang tercantum dalam UU LPSK, dapat disimpulkan terdapat beberapa kelemahan secara umum disebabkan karena beberapa hal, yakni:

  1. Undang-undang tesebut tidak secara spesifik dan sungguh-sungguh mengatur mengenai masalah kelembagaan di LPSK
  2. Walau pengaturan secara umum dilakukan namun penjelasan maksud dari pasal tersebut tidak tereksplorasi dengan memadai di dalam bagian penjelasannya
  3. Minimnya pengetahuan para perumus undang-undang terhadap profil kelembagaan dalam konteks perlindungan saksi dan korban (terutama mengenai praktek negara lain), mengakibatkan aturan-aturan mengenai kelembagaan menjadi relatif sama dengan format lembaga-lembaga laianya di indonesia
  4. Adanya inkonsistensi dalam mengatur masalah kelembagaan yang dilatarbelakangi dengan kemampuan negara.

Kelemahan-kelemahan dalam kajian ini menyangkut:

  • Masalah kewenangan, minimnya mandat dan wewenang anggota LPSK dan tidak adanya aturan yang mengatur masalah delegasi kewenangan antar pemimpin dan anggota lembaga.
  • Kedudukan LPSK, kedudukan lembaga yang mandiri tidak disertai dengan wewenang yang memadai. Dismaping itu kemungkinan terjadi sengketa kewenangan dan masalah eksistensi antar  instansi pemerintah atau lembaga negara akan mempersulit kedudukan lembaga ini. Kemudian kedudukan yang mandiri ini akan menimbulkan kesulitan pula dalam melakukan kordinasi kerja.
  • Struktur dan pelaksanaan tugas, struktur organisasi yang ada dalam undang-undang sangat umum dan hampir sama dengan struktur lembaga lainnya. Peran sekretaris yang tidak begitu jelas diatur dalam undang-undang akan menyulitkan posisinya dalam struktur organisasis lembaga. Pengambilan keputusan LPSK yang dilakukan dengan cara musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam hal ini pengambilan keputusan memberikan perlindungan dan bantuan bukanlah pilihan yang baik.
  • Kerjasama antar lembaga, walaupun undang-undang menyatakan bahwa lembaga terkait lainnya wajib melakukan tugas yang dibebankan oleh LPSK, namun dikhawatirkan hal ini tidak dapat terlaksana tanpa dukungan dan komitmen dari presiden dan DPR.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Denny Indrayana, Komisi Negara Independen, Evaluasi kekinian dan Tantangan MasaDepan, makalah diskusi terbatas “mencermati problematika lembaga negara, rekomendasi bagi pembentukan LPSK”, yang dilaksanakan oleh ICW dan Koalisi Perlindungan Saksi, jakarta, 7 maret 2007.

Dina Zenita, mengenal perlindungan saksi di jerman, ICW, 2006

Nicholas R. Fyfe, Perlindungan Saksi Terintimidasi, ELSAM, 2006

Supriyadi Widodo Eddyono, UU Perlindungan Saksi di Amerika Serikat, ELSAM, 2004

Supriyadi Widodo Eddyono, Perlindungan Saksi dalam UU Perlindungan Saksi di Kanada, 2006

Undang-Undang No 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban

 

Modul Sosiologi (Kls: X,XI,XII)

Standar

MODUL  SOSIOLOGI

KELAS

X,XI, XII

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat.

Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya.[rujukan?] Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.

Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial.

Sejarah istilah sosiologi

  • 1842: Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, bernama August Comte tahun 1842 dan kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi.[rujukan?] Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat lahir di Eropa karena ilmuwan Eropa pada abad ke-19 mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial.[rujukan?] Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia.[rujukan?] Comte membedakan antara sosiologi statis, dimana perhatian dipusatkan pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat dan sosiologi dinamis dimana perhatian dipusatkan tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan. Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi.[rujukan?] Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya berasal dari Eropa).[rujukan?] Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.[rujukan?]
  • Émile Durkheim — ilmuwan sosial Perancis — berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis.[rujukan?] Emile memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.
  • 1876: Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology dan memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.
  • Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.
  • Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia.
  • Di Amerika Lester F. Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology.

Pokok bahasan sosiologi

Pokok bahasan sosiolgi ada empat: 1. Fakta sosial sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunya kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut.[rujukan?]

Contoh, di sekolah seorang murid diwajidkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid).

2. Tindakan sosial sebagai tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain.[rujukan?]

Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.

3. Khayalan sosiologis sebagai cara untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia.[rujukan?] Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah persmasalahan (troubles) dan isu (issues). Permasalahan pribadi individu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Isu merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu.

Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah masalah. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan isu, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.

4. Realitas sosial adalah penungkapan tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.

Ciri-Ciri dan Hakikat Sosiologi

Sosiologi merupakan salah satu bidang ilmu sosial yang mempelajari masyarakat. Sosiologi sebagai ilmu telah memenuhi semua unsur ilmu pengetahuan. Menurut Harry M. Johnson, yang dikutip oleh Soerjono Soekanto, sosiologi sebagai ilmu mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut.[1]

  • Empiris, yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulasi (menduga-duga).
  • Teoritis, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil observasi yang konkret di lapangan, dan abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan menjalankan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori.
  • Komulatif, yaitu disusun atas dasar teori-teori yang sudah ada, kemudian diperbaiki, diperluas sehingga memperkuat teori-teori yang lama.
  • Nonetis, yaitu pembahasan suatu masalah tidak mempersoalkan baik atau buruk masalah tersebut, tetapi lebih bertujuan untuk menjelaskan masalah tersebut secara mendalam.

Hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahuan sebagai berikut.[2]

  • Sosiologi adalah ilmu sosial karena yang dipelajari adalah gejala-gejala kemasyarakatan.
  • Sosiologi termasuk disiplin ilmu normatif, bukan merupakan disiplin ilmu kategori yang membatasi diri pada kejadian saat ini dan bukan apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.
  • Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan murni (pure science) dan ilmu pengetahuan terapan.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan abstrak dan bukan ilmu pengetahuan konkret. Artinya yang menjadi perhatian adalah bentuk dan pola peristiwa dalam masyarakat secara menyeluruh, bukan hanya peristiwa itu sendiri.
  • Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian dan pola-pola umum, serta mencari prinsip-prinsip dan hukum-hukum umum dari interaksi manusia, sifat, hakikat, bentuk, isi, dan struktur masyarakat manusia.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Hal ini menyangkut metode yang digunakan.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan umum, artinya sosiologi mempunyai gejala-gejala umum yang ada pada interaksi antara manusia.

Kegunaan Sosiologi

Kegunaan Sosiologi dalam masyarakat,antara lain:

Sosiologi berguna untuk memberikan data-data sosial yang diperlukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan maupun penilaian pembangunan

Tanpa penelitian dan penyelidikan sosiologis tidak akan diperoleh perencanaan sosial yang efektif atau pemecahan masalah-masalah sosial dengan baik

Objek Sosiologi

Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan mempunyai beberapa objek.[3]

Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial, gejala-gejala dan proses hubungan antara manusia yang memengaruhi kesatuan manusia itu sendiri.

Objek formal sosiologi lebih ditekankan pada manusia sebagai makhluk sosial atau masyarakat. Dengan demikian objek formal sosiologi adalah hubungan manusia antara manusia serta proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.

Objek budaya salah satu faktor yang dapat memengaruhi hubungan satu dengan yang lain.

Pengaruh dari objek dari agama ini dapat menjadi pemicu dalam hubungan sosial masyarakat.dan banyak juga hal-hal ataupaun dampak yang memengaruhi hubungan manusia.

Ruang Lingkup Kajian Sosiologi

Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi mengkaji lebih mendalam pada bidangnya dengan cara bervariasi.[4] Misalnya seorang sosiolog mengkaji dan mengamati kenakalan remaja di Indonesia saat ini, mereka akan mengkaji mengapa remaja tersebut nakal, mulai kapan remaja tersebut berperilaku nakal, sampai memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut. Hampir semua gejala sosial yang terjadi di desa maupun di kota baik individu ataupun kelompok, merupakan ruang kajian yang cocok bagi sosiologi, asalkan menggunakan prosedur ilmiah. Ruang lingkup kajian sosiologi lebih luas dari ilmu sosial lainnya.[5] Hal ini dikarenakan ruang lingkup sosiologi mencakup semua interaksi sosial yang berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok di lingkugan masyarakat. Ruang lingkup kajian sosiologi tersebut jika dirincikan menjadi beberapa hal, misalnya antara lain:[6]

  • Ekonomi beserta kegiatan usahanya secara prinsipil yang berhubungan dengan produksi, distribusi,dan penggunaan sumber-sumber kekayaan alam;
  • Masalah manajemen yaitu pihak-pihak yang membuat kajian, berkaitan dengan apa yang dialami warganya;
  • Persoalan sejarah yaitu berhubungan dengan catatan kronologis, misalnya usaha kegiatan manusia beserta prestasinya yang tercatat, dan sebagainya.

Sosiologi menggabungkan data dari berbagai ilmu pengetahuan sebagai dasar penelitiannya. Dengan demikian sosiologi dapat dihubungkan dengan kejadian sejarah, sepanjang kejadian itu memberikan keterangan beserta uraian proses berlangsungnya hidup kelompok-kelompok, atau beberapa peristiwa dalam perjalanan sejarah dari kelompok manusia. Sebagai contoh, riwayat suatu negara dapat dipelajari dengan mengungkapkan latar belakang terbentuknya suatu negara, faktor-faktor, prinsip-prinsip suatu negara sampai perjalanan negara di masa yang akan datang. Sosiologi mempertumbuhkan semua lingkungan dan kebiasaan manusia, sepanjang kenyataan yang ada dalam kehidupan manusia dan dapat memengaruhi pengalaman yang dirasakan manusia, serta proses dalam kelompoknya. Selama kelompok itu ada, maka selama itu pula akan terlihat bentuk-bentuk, cara-cara, standar, mekanisme, masalah, dan perkembangan sifat kelompok tersebut. Semua faktor tersebut dapat memengaruhi hubungan antara manusia dan berpengaruh terhadap analisis sosiologi.

Perkembangan sosiologi dari abad ke abad

Perkembangan pada abad pencerahan

Banyak ilmuwan-ilmuwan besar pada zaman dahulu, seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa manusia terbentuk begitu saja. Tanpa ada yang bisa mencegah, masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran.

Pendapat itu kemudian ditegaskan lagi oleh para pemikir di abad pertengahan, seperti Agustinus, Ibnu Sina, dan Thomas Aquinas. Mereka berpendapat bahwa sebagai makhluk hidup yang fana, manusia tidak bisa mengetahui, apalagi menentukan apa yang akan terjadi dengan masyarakatnya. Pertanyaan dan pertanggungjawaban ilmiah tentang perubahan masyarakat belum terpikirkan pada masa ini.

Berkembangnya ilmu pengetahuan di abad pencerahan (sekitar abad ke-17 M), turut berpengaruh terhadap pandangan mengenai perubahan masyarakat, ciri-ciri ilmiah mulai tampak di abad ini. Para ahli di zaman itu berpendapat bahwa pandangan mengenai perubahan masyarakat harus berpedoman pada akal budi manusia.

Pengaruh perubahan yang terjadi di abad pencerahan

Perubahan-perubahan besar di abad pencerahan, terus berkembang secara revolusioner sapanjang abad ke-18 M. Dengan cepat struktur masyarakat lama berganti dengan struktur yang lebih baru. Hal ini terlihat dengan jelas terutama dalam revolusi Amerika, revolusi industri, dan revolusi Perancis. Gejolak-gejolak yang diakibatkan oleh ketiga revolusi ini terasa pengaruhnya di seluruh dunia. Para ilmuwan tergugah, mereka mulai menyadari pentingnya menganalisis perubahan dalam masyarakat.

Gejolak abad revolusi

Perubahan yang terjadi akibat revolusi benar-benar mencengangkan. Struktur masyarakat yang sudah berlaku ratusan tahun rusak. Bangasawan dan kaum Rohaniwan yang semula bergemilang harta dan kekuasaan, disetarakan haknya dengan rakyat jelata. Raja yang semula berkuasa penuh, kini harus memimpin berdasarkan undang-undang yang di tetapkan. Banyak kerajaan-kerajaan besar di Eropa yang jatuh dan terpecah.

 

 

Revolusi Perancis berhasil mengubah struktur masyarakat feodal ke masyarakat yang bebas

Gejolak abad revolusi itu mulai menggugah para ilmuwan pada pemikiran bahwa perubahan masyarakat harus dapat dianalisis. Mereka telah menyakikan betapa perubahan masyarakat yang besar telah membawa banyak korban berupa perang, kemiskinan, pemberontakan dan kerusuhan. Bencana itu dapat dicegah sekiranya perubahan masyarakat sudah diantisipasi secara dini.

Perubahan drastis yang terjadi semasa abad revolusi menguatkan pandangan betapa perlunya penjelasan rasional terhadap perubahan besar dalam masyarakat. Artinya :

  • Perubahan masyarakat bukan merupakan nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan dapat diketahui penyebab dan akibatnya.
  • Harus dicari metode ilmiah yang jelas agar dapat menjadi alat bantu untuk menjelaskan perubahan dalam masyarakat dengan bukti-bukti yang kuat serta masuk akal.
  • Dengan metode ilmiah yang tepat (penelitian berulang kali, penjelasan yang teliti, dan perumusan teori berdasarkan pembuktian), perubahan masyarakat sudah dapat diantisipasi sebelumnya sehingga krisis sosial yang parah dapat dicegah.

Kelahiran sosiologi modern

Sosiologi modern tumbuh pesat di benua Amerika, tepatnya di Amerika Serikat dan Kanada. Mengapa bukan di Eropa? (yang notabene merupakan tempat dimana sosiologi muncul pertama kalinya).

Pada permulaan abad ke-20, gelombang besar imigran berdatangan ke Amerika Utara. Gejala itu berakibat pesatnya pertumbuhan penduduk, munculnya kota-kota industri baru, bertambahnya kriminalitas dan lain lain. Konsekuensi gejolak sosial itu, perubahan besar masyarakat pun tak terelakkan.

Perubahan masyarakat itu menggugah para ilmuwan sosial untuk berpikir keras, untuk sampai pada kesadaran bahwa pendekatan sosiologi lama ala Eropa tidak relevan lagi. Mereka berupaya menemukan pendekatan baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Maka lahirlah sosiologi modern.

Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro (lebih sering disebut pendekatan empiris). Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul. Berdasarkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh. Sejak saat itulah disadari betapa pentingnya penelitian (research) dalam sosiologi.

 

Norma sosial

Norma sosial adalah kebiasaan umum yang menjadi patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat dan batasan wilayah tertentu. Norma akan berkembang seiring dengan kesepakatan-kesepakatan sosial masyarakatnya, sering juga disebut dengan peraturan sosial. Norma menyangkut perilaku-perilaku yang pantas dilakukan dalam menjalani interaksi sosialnya. Keberadaan norma dalam masyarakat bersifat memaksa individu atau suatu kelompok agar bertindak sesuai dengan aturan sosial yang telah terbentuk. Pada dasarnya, norma disusun agar hubungan di antara manusia dalam masyarakat dapat berlangsung tertib sebagaimana yang diharapkan.

Norma tidak boleh dilanggar. Siapa pun yang melanggar norma atau tidak bertingkah laku sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam norma itu, akan memperoleh hukuman. Misalnya, bagi siswa yang terlambat dihukum tidak boleh masuk kelas, bagi siswa yang mencontek pada saat ulangan tidak boleh meneruskan ulangan.

Norma merupakan hasil buatan manusia sebagai makhluk sosial. Pada awalnya, aturan ini dibentuk secara tidak sengaja. Lama-kelamaan norma-norma itu disusun atau dibentuk secara sadar. Norma dalam masyarakat berisis tata tertib, aturan, dan petunjuk standar perilaku yang pantas atau wajar.

Tingkatan norma sosial

Cara (usage)

Cara adalah suatu bentuk perbuatan tertentu yang dilakukan individu dalam suatu masyarakat tetapi tidak secara terus-menerus.

Contoh: cara makan yang wajar dan baik apabila tidak mengeluarkan suara seperti hewan.

Kebiasaan (Folkways)

Kebiasaan merupakan suatu bentuk perbuatan berulang-ulang dengan bentuk yang sama yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan-tujuan jelas dan dianggap baik dan benar.

Contoh: Memberi hadiah kepada orang-orang yang berprestasi dalam suatu kegiatan atau kedudukan, memakai baju yang bagus pada waktu pesta. kesopanan dalam berperilaku / berpenampilan sopan

Tata kelakuan (Mores)

Tata kelakuan adalah sekumpulan perbuatan yang mencerminkan sifat-sifat hidup dari sekelompok manusia yang dilakukan secara sadar guna melaksanakan pengawasan oleh sekelompok masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Dalam tata kelakuan terdapat unsur memaksa atau melarang suatu perbuatan.

Contoh: Melarang pembunuhan, pemerkosaan, atau menikahi saudara kandung.

Adat istiadat (Custom)

Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya.

Macam norma sosial

Norma sosial di masyarakat dibedakan menurut aspek-aspek tertentu tetapi saling berhubungan antara satu aspek dengan aspek yang lainnya. Pembagian itu adalah sebagai berikut.

[sunting] Norma agama

 

 

Norma agama berasal dari Tuhan, pelanggarannya disebut dosa

Norma agama adalah peraturan sosial yang sifatnya mutlak sebagaimana penafsirannya dan tidak dapat ditawar-tawar atau diubah ukurannya karena berasal dari Tuhan. Contoh: Melakukan sembahyang kepada Tuhan, tidak berbohong, tidak boleh mencuri, dan lain sebagainya.

Norma kesusilaan

Norma kesusilaan adalah peraturan sosial yang berasal dari hati nurani yang menghasilkan akhlak, sehingga seseorang dapat membedakan apa yang dianggap baik dan apa pula yang dianggap buruk. Pelanggaran terhadap norma ini berakibat sanksi pengucilan secara fisik (dipenjara, diusir) ataupun batin (dijauhi).

Contoh: Orang yang berhubungan intim di tempat umum akan dicap tidak susila,melecehkan wanita atau laki-laki di depan orang.

Norma kesopanan

Norma kesopanan adalah peraturan sosial yang mengarah pada hal-hal yang berkenaan dengan bagaimana seseorang harus bertingkah laku yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Contoh: Tidak meludah di sembarang tempat, memberi atau menerima sesuatu dengan tangan kanan, tidak kencing di sembarang tempat.

Norma kebiasaan

Norma kebiasaan adalah sekumpulan peraturan sosial yang berisi petunjuk atau peraturan yang dibuat secara sadar atau tidak tentang perilaku yang diulang-ulang sehingga perilaku tersebut menjadi kebiasaan individu. Pelanggaran terhadap norma ini berakibat celaan, kritik, sampai pengucilan secara batin.

Contoh: Membawa oleh-oleh apabila pulang dari suatu tempat, bersalaman ketika bertemu.

Kode etik

Kode etik adalah tatanan etika yang disepakati oleh suatu kelompok masyarakat tertentu.

Contoh: kode etik jurnalistik, kode etik perwira, kode etik kedokteran.

Kode etik umumnya termasuk dalam norma sosial, namun bila ada kode etik yang memiliki sanksi yang agak berat, maka masuk dalam kategori norma hukum.


Norma agama dan norma kesusilaan berlaku secara luas di setiap kelompok masyarakat bagaimanapun tingkat peradabannya. Sedangkan norma kesopanan dan norma kebiasaan biasanya hanya dipelihara atau dijaga oleh sekelompok kecil individu saja, sedangkan kelompok masyarakat lainnya akan mempunyai norma kesopanan dan kebiasaan yang tersendiri pula.

Nilai sosial

Nilai sosial adalah sebuah konsep abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk, indah atau tidak indah, dan benar atau salah.

Pengertian

Nilai sosial adalah nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat.

Untuk menentukan sesuatu itu dikatakan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas harus melalui proses menimbang. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut masyarakat. Tak heran apabila antara masyarakat yang satu dan masyarakat yang lain terdapat perbedaan tata nilai. Kimball Young

Ciri-Ciri

Ciri nilai sosial di antaranya sebagai berikut.

  • Merupakan konstruksi masyarakat sebagai hasil interaksi antarwarga masyarakat.
  • Disebarkan di antara warga masyarakat (bukan bawaan lahir).
  • Terbentuk melalui sosialisasi (proses belajar)
  • Merupakan bagian dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.
  • Bervariasi antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain.
  • Dapat memengaruhi pengembangan diri sosial
  • Memiliki pengaruh yang berbeda antarwarga masyarakat.
  • Cenderung berkaitan satu sama lain.

Klasifikasi

Berdasarkan ciri-cirinya, nilai sosial dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu nilai dominan dan nilai mendarah daging (internalized value).

Nilai dominan

Nilai dominan adalah nilai yang dianggap lebih penting daripada nilai lainnya. Ukuran dominan tidaknya suatu nilai didasarkan pada hal-hal berikut.

  • Banyak orang yang menganut nilai tersebut. Contoh, sebagian besar anggota masyarakat menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik di segala bidang, seperti politik, ekonomi, hukum, dan sosial.
  • Berapa lama nilai tersebut telah dianut oleh anggota masyarakat.
  • Tinggi rendahnya usaha orang untuk dapat melaksanakan nilai tersebut. Contoh, orang Indonesia pada umumnya berusaha pulang kampung (mudik) di hari-hari besar keagamaan, seperti Lebaran atau Natal.
  • Prestise atau kebanggaan bagi orang yang melaksanakan nilai tersebut. Contoh, memiliki mobil dengan merek terkenal dapat memberikan kebanggaan atau prestise tersendiri.

Nilai mendarah daging (internalized value)

Nilai mendarah daging adalah nilai yang telah menjadi kepribadian dan kebiasaan sehingga ketika seseorang melakukannya kadang tidak melalui proses berpikir atau pertimbangan lagi (bawah sadar). Biasanya nilai ini telah tersosialisasi sejak seseorang masih kecil. Umumnya bila nilai ini tidak dilakukan, ia akan merasa malu, bahkan merasa sangat bersalah. Contoh, seorang kepala keluarga yang belum mampu memberi nafkah kepada keluarganya akan merasa sebagai kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab. Demikian pula, guu yang melihat siswanya gagal dalam ujian akan merasa gagal dalam mendidik anak tersebut.

Bagi manusia, nilai berfungsi sebagai landasan, alasan, atau motivasi dalam segala tingkah laku dan perbuatannya. Nilai mencerminkan kualitas pilihan tindakan dan pandangan hidup seseorang dalam masyarakat. Menurut Notonegoro,nilai sosial terbagi 3, yaitu: 1. Nilai Material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi fisik/jasmani seseorang 2. Nilai Vital, yaitu segala sesuatu yang mendukung aktivitas seseorang 3. Nilai Kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jiwa/psikis seseorang

Pengertian Nilai Menurut para Ahli

Kimball Young

Mengemukakan nilai adalah asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang dianggap penting dalam masyarakat.

A.W.Green

Nilai adalah kesadaran yang secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap objek.

Woods

Mengemukakan bahwa nilai merupakan petunjuk umum yang telah berlangsung lama serta mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari

M.Z.Lawang

Menyatakan nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan,yang pantas,berharga,dan dapat memengaruhi perilaku sosial dari orang yang bernilai tersebut.

Hendropuspito

Menyatakan nilai adalah segala sesuatu yang dihargai masyarakat karena mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan kehidupan manusia.

Karel J. Veeger

Menyatakan sosiologi memandang nilai-nilai sebagai pengertian-pengertian (sesuatu di dalam kepala orang) tentang baik tidaknya perbuatan-perbuatan. Dengan kata lain, nilai adalah hasil penilaian atau pertimbangan moral.

Perilaku menyimpang

Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial.

Definisi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.[1]

Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain. Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant). Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas. Konformitas adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok.

Penyebab Terjadi

Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformation sebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut :

  1. Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir).
  2. Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi.

Untuk lebih jelasnya, berikut diuraikan beberapa penyebab terjadinya penyimpangan seorang individu (faktor objektif), yaitu

  1. Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan. Seseorang yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak sempurna, misalnya karena seseorang tumbuh dalam keluarga yang retak (broken home). Apabila kedua orang tuanya tidak bisa mendidik anaknya dengan sempurna maka anak itu tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota keluarga.
  2. Proses belajar yang menyimpang. Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentang perilaku menyimpang. Hal itu merupakan bentuk perilaku menyimpang yang disebabkan karena proses belajar yang menyimpang. karier penjahat kelas kakap yang diawali dari kejahatan kecil-kecilan yang terus meningkat dan makin berani/nekad merupakan bentuk proses belajar menyimpang.
  3. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang.
  4. Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu mempunyai pola-pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang.
  5. Akibat proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan yang menyimpang. Seringnya media massa menampilkan berita atau tayangan tentang tindak kejahatan (perilaku menyimpang)Hal inilah yang dikatakan sebagai proses belajar dari sub-kebudayaan yang menyimpang,

Bentuk

Bentuk-bentuk perilaku menyimpang dapat dibedakan menjadi dua, sebagai berikut.

  • Bentuk penyimpangan berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
  1. Penyimpangan bersifat positif. Penyimpangan bersifat positif adalah penyimpangan yang mempunyai dampak positif ter-hadap sistem sosial karena mengandung unsur-unsur inovatif, kreatif, dan memperkaya wawasan seseorang. Penyimpangan seperti ini biasanya diterima masyarakat karena sesuai perkembangan zaman. Misalnya emansipasi wanita dalam kehidupan masyarakat yang memunculkan wanita karier.
  2. Penyimpangan bersifat negatif. Penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan yang bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan selalu mengakibatkan hal yang buruk.

Bentuk penyimpangan yang bersifat negatif antara lain sebagai berikut:

    1. Penyimpangan primer (primary deviation). Penyimpangan primer adalah penyimpangan yang dilakukan seseorang yang hanya bersifat temporer dan tidak berulang-ulang.
    2. Penyimpangan sekunder (secondary deviation). Penyimpangan sekunder adalah perilaku menyimpang yang nyata dan seringkali terjadi, sehingga berakibat cukup parah serta menganggu orang lain. Misalnya orang yang terbiasa minum-minuman keras dan selalu pulang dalam keadaan mabuk,
  • Bentuk penyimpangan berdasarkan pelakunya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut :
  1. Penyimpangan individual (individual deviation)

Penyimpangan individual adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang menyimpang dari norma-norma suatu kebudayaan yang telah mapan. Misalnya, seseorang bertindak sendiri tanpa rencana melaksanakan suatu kejahatan, Penyimpangan individu berdasarkan kadar penyimpangannya dibagi menjadi lima, yaitu sebagai berikut.

  1. Pembandel
  2. Pembangkang
  3. Pelanggar
  4. Perusuh atau penjahat
  5. Munafik
  1. 2.        Penyimpangankelompok (group deviantion)

Penyimpangan kelompok adalah tindakan yang dilakukan oleh kelompok yang menyimpang dari norma-norma suatu kebudayaan yang telah mapan. Misalnya, pembunuhan rencana yang dilakukan oleh kelompok, Penyimpangan kelompok berdasarkan kadar penyimpangannya dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

  1. Kejahatan terorganisasi
  2. Kejahatan masa

Sosialisasi

jangan di baca gak lengkap Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.

Jenis sosialisasi

 

 

Keluarga sebagai perantara sosialisasi primer

Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Menurut Goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.

  • Sosialisasi primer

Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.

Dalam tahap ini, peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.

  • Sosialisasi sekunder

Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami ‘pencabutan’ identitas diri yang lama.

Tipe sosialisasi

Setiap kelompok masyarakat mempunyai standar dan nilai yang berbeda. contoh, standar ‘apakah seseorang itu baik atau tidak’ di sekolah dengan di kelompok sepermainan tentu berbeda. Di sekolah, misalnya, seseorang disebut baik apabila nilai ulangannya di atas tujuh atau tidak pernah terlambat masuk sekolah. Sementara di kelompok sepermainan, seseorang disebut baik apabila solider dengan teman atau saling membantu. Perbedaan standar dan nilai pun tidak terlepas dari tipe sosialisasi yang ada. Ada dua tipe sosialisasi. Kedua tipe sosialisasi tersebut adalah sebagai berikut.

  • Formal

Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.

  • Informal

Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.


Baik sosialisasi formal maupun sosialisasi informal tetap mengarah kepada pertumbuhan pribadi anak agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungannya. Dalam lingkungan formal seperti di sekolah, seorang siswa bergaul dengan teman sekolahnya dan berinteraksi dengan guru dan karyawan sekolahnya. Dalam interaksi tersebut, ia mengalami proses sosialisasi. dengan adanya proses soialisasi tersebut, siswa akan disadarkan tentang peranan apa yang harus ia lakukan. Siswa juga diharapkan mempunyai kesadaran dalam dirinya untuk menilai dirinya sendiri. Misalnya, apakah saya ini termasuk anak yang baik dan disukai teman atau tidak? Apakah perliaku saya sudah pantas atau tidak?

Meskipun proses sosialisasi dipisahkan secara formal dan informal, namun hasilnya sangat suluit untuk dipisah-pisahkan karena individu biasanya mendapat sosialisasi formal dan informal sekaligus.

Pola sosialisasi

Sosiologi dapat dibagi menjadi dua pola: sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatoris. Sosialisasi represif (repressive socialization) menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Ciri lain dari sosialisasi represif adalah penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan. Penekanan pada kepatuhan anak dan orang tua. Penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, nonverbal dan berisi perintah, penekanan sosialisasi terletak pada orang tua dan keinginan orang tua, dan peran keluarga sebagai significant other. Sosialisasi partisipatoris (participatory socialization) merupakan pola di mana anak diberi imbalan ketika berprilaku baik. Selain itu, hukuman dan imbalan bersifat simbolik. Dalam proses sosialisasi ini anak diberi kebebasan. Penekanan diletakkan pada interaksi dan komunikasi bersifat lisan yang menjadi pusat sosialisasi adalah anak dan keperluan anak. Keluarga menjadi generalized other.

Proses sosialisasi

[sunting] Menurut George Herbert Mead

George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan menlalui tahap-tahap sebagai berikut.

  • Tahap persiapan (Preparatory Stage)

Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.

Contoh: Kata “makan” yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan “mam”. Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.

  • Tahap meniru (Play Stage)

Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang anma diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other)

  • Tahap siap bertindak (Game Stage)

Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.

  • Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other)

Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama–bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya– secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.

[sunting] Menurut Charles H. Cooley

Cooley lebih menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Menurut dia, Konsep Diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut.

1. Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.

Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.

2. Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita.

Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia.

3. Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut.

Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.


Ketiga tahapan di atas berkaitan erat dengan teori labeling, dimana seseorang akan berusaha memainkan peran sosial sesuai dengan apa penilaian orang terhadapnya. Jika seorang anak dicap “nakal”, maka ada kemungkinan ia akan memainkan peran sebagai “anak nakal” sesuai dengan penilaian orang terhadapnya, walaupun penilaian itu belum tentu kebenarannya.

Agen sosialisasi

Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Ada empat agen sosialisasi yang utama, yaitu keluarga, kelompok bermain, media massa, dan lembaga pendidikan sekolah.

Pesan-pesan yang disampaikan agen sosialisasi berlainan dan tidak selamanya sejalan satu sama lain. Apa yang diajarkan keluarga mungkin saja berbeda dan bisa jadi bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agen sosialisasi lain. Misalnya, di sekolah anak-anak diajarkan untuk tidak merokok, meminum minman keras dan menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba), tetapi mereka dengan leluasa mempelajarinya dari teman-teman sebaya atau media massa.

Proses sosialisasi akan berjalan lancar apabila pesan-pesan yang disampaikan oleh agen-agen sosialisasi itu tidak bertentangan atau selayaknya saling mendukung satu sama lain. Akan tetapi, di masyarakat, sosialisasi dijalani oleh individu dalam situasi konflik pribadi karena dikacaukan oleh agen sosialisasi yang berlainan.

  • Keluarga (kinship)

Bagi keluarga inti (nuclear family) agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara angkat yang belum menikah dan tinggal secara bersama-sama dalam suatu rumah. Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan diperluas (extended family), agen sosialisasinya menjadi lebih luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri atas beberapa keluarga yang meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi di samping anggota keluarga inti. Pada masyarakat perkotaan yang telah padat penduduknya, sosialisasi dilakukan oleh orang-orabng yang berada diluar anggota kerabat biologis seorang anak. Kadangkala terdapat agen sosialisasi yang merupakan anggota kerabat sosiologisnya, misalnya pramusiwi, menurut Gertrudge Jaeger peranan para agen sosialisasi dalam sistem keluarga pada tahap awal sangat besar karena anak sepenuhnya berada dalam ligkugan keluarganya terutama orang tuanya sendiri.

  • Teman pergaulan

Teman pergaulan (sering juga disebut teman bermain) pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu.

Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat (berbeda usia, pengalaman, dan peranan), sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan juga mempelajari nilai-nilai keadilan.

  • Lembaga pendidikan formal (sekolah)

Menurut Dreeben, dalam lembaga pendidikan formal seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity). Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab.

  • Media massa

Yang termasuk kelompok media massa di sini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), media elektronik (radio, televisi, video, film). Besarnya pengaruh media sangat tergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan.

Contoh:

  • Penayangan acara SmackDown! di televisi diyakini telah menyebabkan penyimpangan perilaku anak-anak dalam beberapa kasus.
  • Iklan produk-produk tertentu telah meningkatkan pola konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat pada umumnya.
  • Gelombang besar pornografi, baik dari internet maupun media cetak atau tv, didahului dengan gelombang game eletronik dan segmen-segmen tertentu dari media TV (horor, kekerasan, ketaklogisan, dan seterusnya) diyakini telah mengakibatkan kecanduan massal, penurunan kecerdasan, menghilangnya perhatian/kepekaan sosial, dan dampak buruk lainnya.
  • Agen-agen lain

Selain keluarga, sekolah, kelompok bermain dan media massa, sosialisasi juga dilakukan oleh institusi agama, tetangga, organisasi rekreasional, masyarakat, dan lingkungan pekerjaan. Semuanya membantu seseorang membentuk pandangannya sendiri tentang dunianya dan membuat presepsi mengenai tindakan-tindakan yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Dalam beberapa kasus, pengaruh-pengaruh agen-agen ini sangat besar.

Gerak sosial (Mobilitas sosial) adalah perubahan, pergeseran, peningkatan, ataupun penurunan status dan peran anggotanya. Misalnya, seorang pensiunan pegawai rendahan salah satu departemen beralih pekerjaan menjadi seorang pengusaha dan berhasil dengan gemilang. Contoh lain, seorang anak pengusaha ingin mengikuti jejak ayahnya yang berhasil. Ia melakukan investasi di suatu bidang yang berbeda dengan ayahnya. Namun, ia gagal dan akhirnya jatuh miskin. Proses perpindahan posisi atau status sosial yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam struktur sosial masyarakat inilah yang disebut gerak sosial atau mobilitas sosial (social mobility)

Menurut Paul B. Horton, mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya. Sementara menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack, mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.

Dalam dunia modern, banyak orang berupaya melakukan mobilitas sosial. Mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang menjadi lebih bahagia dan memungkinkan mereka melakukan jenis pekerjaan yang peling cocok bagi diri mereka. Bila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial berbeda. Mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Bila tingkat mobilitas sosial rendah, tentu saja kebanyakan orang akan terkukung dalam status nenek moyang mereka. Mereka hidup dalam kelas sosial tertutup.

Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Contohnya, masyarakat feodal atau pada masyarakat yang menganut sistem kasta. Pada masyarakat yang menganut sistem kasta, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah untuk selamanya ia tetap berada pada kasta yang rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian. Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi.

[sunting] Cara untuk melakukan mobilitas sosial

Secara umum, cara orang untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas adalah sebagai berikut :

  • Perubahan standar hidup

Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis, melainkan akan mereflesikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan memengaruhi peningkatan status.

Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi Menejer, sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak mengubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan.

  • Perkawinan

Untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui perkawinan.

Contoh: Seseorang wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang di masyarakatnya. Perkawinan ini dapat menaikan status si wanita tersebut.

  • Perubahan tempat tinggal

Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas.

  • Perubahan tingkah laku

Untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, orang berusaha menaikkan status sosialnya dan mempraktekkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang diaspirasikan sebagai kelasnya. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga pakaian, ucapan, minat, dan sebagainya. Dia merasa dituntut untuk mengkaitkan diri dengan kelas yang diinginkannya.

Contoh: agar penampilannya meyakinkan dan dianggap sebagai orang dari golongan lapisan kelas atas, ia selalu mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Jika bertemu dengan kelompoknya, dia berbicara dengan menyelipkan istilah-istilah asing.

Dalam suatu masyarakat, sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Gerak ke atas dapat dilaksanakan dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi.

Contoh: Di kalangan masyarakat feodal Jawa, seseorang yang memiliki status sebagai orang kebanyakan mendapat sebutan “kang” di depan nama aslinya. Setelah diangkat sebagai pengawas pamong praja sebutan dan namanya berubah sesau dengan kedudukannya yang baru seperti “Raden”

[sunting] Faktor penghambat mobilitas sosial

Ada beberapa faktor penting yang justru menghambat mobilitas sosial. Faktor-faktor penghambat itu antara lain sebagai berikut :

 

 

Nelson Mandela, pejuang persamaan hak kulit hitam di Afrika selatan

  • Perbedaan kelas rasial, seperti yang terjadi di Afrika Selatan di masa lalu, dimana ras berkulit putih berkuasa dan tidak memberi kesempatan kepada mereka yang berkulit hitam untuk dapat duduk bersama-sama di pemerintahan sebagai penguasa. Sistem ini disebut Apharteid dan dianggap berakhir ketika Nelson Mandela, seorang kulit hitam, terpilih menjadi presiden Afrika Selatan
  • Agama, seperti yang terjadi di India yang menggunakan sistem kasta.
  • Diskriminasi Kelas dalam sistem kelas terbuka dapat menghalangi mobilitas ke atas. Hal ini terbukti dengan adanya pembatasan suatu organisasi tertentu dengan berbagai syarat dan ketentuan, sehingga hanya sedikit orang yang mampu mendapatkannya.

Contoh: jumlah anggota DPR yag dibatasi hanya 500 orang, sehingga hanya 500 orang yang mendapat kesempatan untuk menaikan status sosialnya menjadi anggota DPR.

  • Kemiskinan dapat membatasi kesempatan bagi seseorang untuk berkembang dan mencapai suatu sosial tertentu.

Contoh: “A” memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya karena kedua orangtuanya tidak bisa membiayai, sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan status sosialnya.

  • Perbedaan jenis kelamin dalam masyarakat juga berpengaruh terhadap prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesenmpatan untuk meningkatkan status sosialya.

[sunting] Beberapa bentuk mobilitas sosial

[sunting] Mobilitas sosial horizontal

Mobilitas horizontal merupakan peralihan individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang dalam mobilitas sosialnya.

Contoh: Pak Amir seorang warga negara Amerika Serikat, mengganti kewarganegaraannya dengan kewarganegaraan Indonesia, dalam hal ini mobilitas sosial Pak Amir disebut dengan Mobilitas sosial horizontal karena gerak sosial yang dilakukan Pak Amir tidak mengubah status sosialnya.

[sunting] Mobilitas sosial vertikal

Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan individu atau objek-objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, mobilitas sosial vertikal dapat dibagi menjadi dua, mobilitas vertikal ke atas (social climbing) dan mobilitas sosial vertikal ke bawah (social sinking).

[sunting] Mobilitas vertikal ke atas (Social climbing)

Mobilitas vertikal ke atas atau social climbing mempunyai dua bentuk yang utama

  • Masuk ke dalam kedudukan yang lebih tinggi. Masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi, di mana kedudukan tersebut telah ada sebelumnya.

Contoh: A adalah seorang guru sejarah di salah satu SMA. Karena memenuhi persyaratan, ia diangkat menjadi kepala sekolah.

  • Membentuk kelompok baru. Pembentukan suatu kelompok baru memungkinkan individu untuk meningkatkan status sosialnya, misalnya dengan mengangkat diri menjadi ketua organisasi.

Contoh: Pembentukan organisasi baru memungkinkan seseorang untuk menjadi ketua dari organisasi baru tersebut, sehingga status sosialnya naik.

[sunting] Mobilitas vertikal ke bawah (Social sinking)

Mobilitas vertikal ke bawah mempunyai dua bentuk utama.

  • Turunnya kedudukan. Kedudukan individu turun ke kedudukan yang derajatnya lebih rendah.

Contoh: seorang prajurit dipecat karena melakukan tidakan pelanggaran berat ketika melaksanakan tugasnya.

  • Turunnya derajat kelompok. Derajat sekelompok individu menjadi turun yang berupa disintegrasi kelompok sebagai kesatuan.

Contoh: Juventus terdegradasi ke seri B. akibatnya, status sosial tim pun turun.

[sunting] Mobilitas antargenerasi

Mobilitas antargenerasi secara umum berarti mobilitas dua generasi atau lebih, misalnya generasi ayah-ibu, generasi anak, generasi cucu, dan seterusnya. Mobilitas ini ditandai dengan perkembangan taraf hidup, baik naik atau turun dalam suatu generasi. Penekanannya bukan pada perkembangan keturunan itu sendiri, melainkan pada perpindahan status sosial suatu generasi ke generasi lainnya.

Contoh: Pak Parjo adalah seorang tukang becak. Ia hanya menamatkan pendidikannya hingga sekolah dasar, tetapi ia berhasil mendidik anaknya menjadi seorang pengacara. Contoh ini menunjukkan telah terjadi mobilitas vertikal antargenerasi.

[sunting] Mobilitas intragenerasi

Mobilitas sosial intragenerasi adalah mobilitas yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam satu generasi.

Contoh: Pak Darjo awalnya adalah seorang buruh. Namun, karena ketekunannya dalam bekerja dan mungkin juga keberuntungan, ia kemudian memiliki unit usaha sendiri yang akhirnya semakin besar. Contoh lain, Pak Bagyo memiliki dua orang anak, yang pertama bernama Endra bekerja sebagai tukang becak, dan Anak ke-2, bernama Ricky, yang pada awalnya juga sebagai tukang becak. Namun, Ricky lebih beruntung daripada kakaknya, karena ia dapat mengubah statusnya dari tukang becak menjadi seorang pengusaha. Sementara Endra tetap menjadi tukang becak. Perbedaan status sosial antara Endra dengan adiknya ini juga dapat disebut sebagai mobilitas intragenerasi.

[sunting] Gerak sosial geografis

Gerak sosial ini adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu daerah ke daerah lain seperti transmigrasi, urbanisasi, dan migrasi.

[sunting] Faktor-faktor yang memengaruhi mobilitas sosial

Mobilitas sosial dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut.

  • Perubahan kondisi sosial

Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. Misalnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. Perubahan ideologi dapat menimbilkan stratifikasi baru.

Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat membuktikan cirti fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota, transmigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk.

  • Komunikasi yang bebas

Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antarstrata yang beraneka ragam memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan mengahalangi mobilitas sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komunikasi yang bebas sertea efektif akan memudarkan semua batas garis dari strata sosial uang ada dan merangsang mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang.

  • Pembagian kerja

Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan, maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan nmenuntut keterampilan khusus. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati status tersebut.

  • Tingkat Fertilitas (Kelahiran) yang Berbeda

Kelompok masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan rendah cenderung memiliki tingkat fertilitas yang tinggi. Pada pihak lain, masyarakat kelas sosial yang lebih tinggi cenderung membatasi tingkat reproduksi dan angka kelahiran. Pada saat itu, orang-orang dari tingkat ekonomi dan pendidikan yang lebih rendah mempunyai kesempatan untuk banyak bereproduksi dan memperbaiki kualitas keturunan. Dalam situasi itu, mobilitas sosial dapat terjadi.

  • Kemudahan dalam akses pendidikan

Jika pendidikan berkualitas mudah didapat, tentu mempermudah orang untuk melakukan pergerakan/mobilitas dengan berbekal ilmu yang diperoleh saat menjadi peserta didik. Sebaliknya, kesulitan dalam mengakses pendidikan yang bermutu, menjadikan orang yang tak menjalani pendidikan yang bagus, kesulitan untuk mengubah status, akibat dari kurangnya pengetahuan.

[sunting] Saluran-saluran mobilitas sosial

  • Angkatan bersenjata

 

 

Angkatan bersenjata merupakan salah satu saluran mobilitas sosial

Angkatan bersenjata merupakan organisasi yang dapat digunakan untuk saluran mobilitas vertikal ke atas melalui tahapan yang disebut kenaikan pangkat. Misalnya, seorang prajurit yang berjasa pada negara karena menyelamatkan negara dari pemberontakan, ia akan mendapatkan penghargaan dari masyarakat. Dia mungkin dapat diberikan pangkat/kedudukan yang lebih tinggi, walaupun berasal dari golongan masyarakat rendah.

  • Lembaga-lembaga keagamaan

Lembaga-lembaga keagamaan dapat mengangkat status sosial seseorang, misalnya yang berjasa dalam perkembangan Agama seperti ustad, pendeta, biksu dan lain lain.

  • Lembaga pendidikan

Lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya merupakan saluran yang konkret dari mobilitas vertikal ke atas, bahkan dianggap sebagai social elevator (perangkat) yang bergerak dari kedudukan yang rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Pendidikan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mendapatkan kedudukan yang lebih .

tinggi.

Contoh: Seorang anak dari keluarga miskin mengenyam sekolah sampai jenjang yang tinggi. Setelah lulus ia memiliki pengetahuan dagang dan menggunakan pengetahuannya itu untuk berusaha, sehingga ia berhasil menjadi pedagang yang kaya, yang secara otomatis telah meningkatkan status sosialnya.

  • Organisasi politik

Seperti angkatan bersenjata, organisasi politik memungkinkan anggotanya yang loyal dan berdedikasi tinggi untuk menempati jabatan yang lebih tinggi, sehingga status sosialnya meningkat.

  • Organisasi ekonomi

Organisasi ekonomi (seperti perusahaan, koperasi, BUMN dan lain-lain) dapat meningkatkan tingkat pendapatan seseorang. Semakin besar prestasinya, maka semakin besar jabatannya. Karena jabatannya tinggi akibatnya pendapatannya bertambah. Karena pendapatannya bertambah akibatnya kekayaannya bertambah. Dan karena kekayaannya bertambah akibatnya status sosialnya di masyarakat meningkat.

  • Organisasi keahlian

Seperti di wikipedia ini, orang yang rajin menulis dan menyumbangkan pengetahuan/keahliannya kepada kelompok pasti statusnya akan dianggap lebih tinggi daripada pengguna biasa.

  • Perkawinan

Sebuah perkawinan dapat menaikkan status seseorang. Seorang yang menikah dengan orang yang memiliki status terpandang akan dihormati karena pengaruh pasangannya.

[sunting] Dampak mobilitas sosial

Gejala naik turunnya status sosial tentu memberikan konsekuensi-konsekuensi tertentu terhadap struktur sosial masyarakat. Konsekuensi-konsekuensi itu kemudian mendatangkan berbagai reaksi. Reaksi ini dapat berbentuk konflik. Ada berbagai macam konflik yang bisa muncul dalam masyarakat sebagai akibat terjadinya mobilitas.

[sunting] Dampak negatif

  • Konflik antarkelas

Dalam masyarakat, terdapat lapisan-lapisan sosial karena ukuran-ukuran seperti kekayaan, kekuasaan, dan pendidikan. Kelompok dalam lapisan-lapisan tadi disebut kelas sosial. Apabila terjadi perbedaan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat dalam mobilitas sosial maka akan muncul konflik antarkelas.

Contoh: demonstrasi buruh yang menuntuk kenaikan upah, menggambarkan konflik antara kelas buruh dengan pengusaha.

  • Konflik antarkelompok sosial

Di dalam masyatakat terdapat pula kelompok sosial yang beraneka ragam. Di antaranya kelompok sosial berdasarkan ideologi, profesi, agama, suku, dan ras. Bila salah satu kelompok berusaha untuk menguasai kelompok lain atau terjadi pemaksaan, maka timbul konflik.

Contoh: tawuran pelajar, perang antarkampung.

  • Konflik antargenerasi

Konflik antar generasi terjadi antara generasi tua yang mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan perubahan.

Contoh: Pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua.

  • Penyesuaian kembali

Setiap konflik pada dasarnya ingin menguasai atau mengalahkan lawan. Bagi pihak-pihak yang berkonflik bila menyadari bahwa konflik itu lebih banyak merugikan kelompoknya, maka akan timbul penyesuaian kembali yang didasari oleh adanya rasa toleransi atau rasa penyesuaian kembali yang didasari oleh adanya rasa toleransi atau rasa saling menghargai. Penyesuaian semacam ini disebut Akomodasi.

[sunting] Dampak positif

  • Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata. Kesempatan ini mendorong orang untuk mau bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas.

Contoh: Seorang anak miskin berusaha belajar dengan giat agar mendapatkan kekayaan dimasa depan.

  • Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik.

Contoh: Indonesia yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Perubahan ini akan lebih cepat terjadi jika didukung oleh sumber daya yang memiliki kualitas. Kondisi ini perlu didukung dengan peningkatan dalam bidang pendidikan.

 

 

Dalam Sosiologi, interseksi adalah persilangan atau pertemuan keanggotaan suatu kelompok sosial dari berbagai seksi[1] baik berupa suku, agama, jenis kelamin, kelas sosial, dan lain-lain dalam suatu masyarakat majemuk.

Suatu interseksi terbentuk melalui interaksi sosial atau pergaulan yang intensif dari anggota-anggotanya melalui sarana pergaulan dalam kebudayaan manusia, antara lain bahasa, kesenian, sarana transportasi, pasar, sekolah. Dalam memanfaatkan sarana-sarana interseksi sosial itu, anggota masyarakat dari latar belakang ras, agama, suku, jenis kelamin, tingkat ekonomi, pendidikan, atau keturunan berbeda-beda dapat bersama-sama menjadi anggota suatu kelompok sosial tertentu atau menjadi penganut agama tertentu.

[sunting] Dampak interseksi

Interseksi dapat mempererat solidaritas di antara anggotanya sehingga dapat mengurangi munculnya konflik. Seperti pada kelompok pecandu Wikipedia ini sudah menyingkirkan perbedaan suku, ras, agama, bahkan usia yang diikat dalam satu kesamaan kepentingan.]]

Sebagai suatu proses sosial, interseksi mempunyai akibat terhadap kemajemukan masyarakat, diantaranya sebagai berikut.

[sunting] Meningkatkan solidaritas

Akibat dari pembentukan kelompok sosial dari seksi yang berbeda-beda adalah semakin kuatnya hubungan atau ikatan antaranggota sambil untuk sementara mengabaikan perbedaan-perbedaan horizontal maupun vertikal di antara mereka. Dengan demikian, diferensiasi di dalam masyarakat menjadi hal yang diangap wajar karena mereka dapat saling bergaul intensif dan saling memaklumi hal-hal tertentu. Selain itu, interseksi dapat menghasilkan kelompok sosial baru dengan kriteria yang baru pula, misalnya para pengguna Wikipedia akan mengabaikan perbedaan yang menyangkut suku, ras, dan agama yang mereka anut ketika berkumpul dengan kelompoknya.

[sunting] Menimbulkan potensi konflik

Jika perbedaan-perbedaan yang mereka miliki lebih menonjol dan semakin tajam.Misalnya jika perbedaan latar belakang suku, agama, dan status orang tua lebih menonjol dalam suatu organisasi pelajar, maka konflik yang berakhir pada perpecahan pasti akan terjadi dalam organisasi tersebut. Konflik dapat pula terjadi dalam masyarakat luas yang menempati suatu komplek perumahan, sebab mereka berasal dari berbagai latar belakang sosial budaya yang berbeda-beda

[sunting] Saluran interseksi di Indonesia

Persilangan keanggotaan suatu kelompok sosial dari berbagai seksi tidak terjadi begitu saja namun dibantu dengan adanya interaksi di antara berbagai seksi. Interaksi antara satu seksi dengan seksi lainnya dapat dilakukan melalui hubungan ekonomi, sosial, dan politik.

[sunting] Hubungan ekonomi

  • Melalui perdagangan

Kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami pulau-pulau di Nusantara telah menjalin hubungan dagang dengan berbagai bangsa di dunia sejak zaman dahulu kala. Dengan hubungan dagang yang telah berlangsung selama ratusan tahun itu, interseksi di Indonesia juga telah berlangsung selama ratusan tahun pula. Interseksi tersebut berjalan sedemikian rupa dan meliputi unsur-unsur bidang agama, kebudayaan, dan kesenian.

  • Melalui perindustrian

Interseksi melalui perindustrian menjadi semakin intensif di era yang mengutamakan produk-produk industri berteknologi tinggi. Interseksi akan terjadi melalui kerja sama perindustrian yang dibangun baik di tingkat regional maupun internasional.

[sunting] Hubungan sosial

  • Melalui perkawinan

Di antara para pendatang yang melakukan kegiatan perdagangan, perindustrian, penjelajahan, dan penyebaran agama, banyak yang melakukan pernikahan dan membentuk kehidupan keluarga dengan penduduk asli Indonesia. Perkawinan ini menyebabkan terjadinya persilangan antara bangsa dan ras yang berbeda tersebut. Dilihat dari prosesnya, perkawinan antarras atau etnik (suku bangsa) ini merupakan suatu bentuk asimilasi secara fisik, sebab proses penyatuan tersebut meliputi fisik orang-orang yang terlibat di dalamnya. Perkawinan antaretnik sangat efektif dalam mewujudkan integrasi (penyatuan) karena perbedaan-perbedaan yang berpotensi menjadi pemicu konflik dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali.

  • Melalui pendidikan

Hubungan dalam bidang perdagangan, industri, dan perkawinan antaretnik akan memberikan peluang untuk terjadinya interseksi dalam bidang pendidikan sebab keturunan-keturunan mereka akan bersekolah di wilayah-wilayah yang mayoritas siswanya berbeda ras dan kebudayaan. Dalam bentuk yang lebih tinggi juga telah dilakukan pertukaran pelajar, lomba-lomba bidang sains dan teknologi tingkat pelajar, dan lain-lain.

  • Politik

Hubungan diplomatik atau hubungan antarnegara juga akan menyebabkan terjadinya proses interseksi di antara para pejabat dan utusan negara masing-masing. Hal ini mudah dipahami karena mereka akan menetap, bekerja, dan berhubungan sosial dengan orang-orang yang berasal dari ras dak kebudayaan yang berbeda-beda. Hubungan antarnegara ini, selain bermaksud untuk meningkatkan hubungan dalam bidang ekonomi, juga untuk mempererat persaudaraan antarnegara. Interseksi yang akan terjadi meliputi semua bidang, antara lain politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, dan agama.

[sunting] Catatan

  1. ^ Menurut Soerjono Soekanto, dalam kamus Sosiologi, section atau seksi adalah suatu golongan etnik dalam suatu masyarakat yang majemuk, misalnya etnik Sunda, Jawa, Bugis, Batak, Minang, dan lain-lain.

Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat).

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Pengertian

Stratifikasi sosial menurut Pitirim A. Sorokin adalah perbedaan penduduk / masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hirarkis).

Pitirim A. Sorokin dalam karangannya yang berjudul “Social Stratification” mengatakan bahwa sistem lapisan dalam masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur.

Stratifikasi sosial menurut Drs. Robert M.Z. Lawang adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.

statifikasi sosial menurut max weber adalah stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.

[sunting] Dasar-dasar pembentukan pelapisan sosial

Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut.

[sunting] Ukuran kekayaan

Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.

[sunting] Ukuran kekuasaan dan wewenang

Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.

[sunting] Ukuran kehormatan

Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.

[sunting] Ukuran ilmu pengetahuan

Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.

 

 

DIFFERENSISASI SOSISAL adalah bentuk lapisan tetapi tidak ada tingkatan tinggi atau rendahnya kelas sosial dalam masyarakat. diferensiasi sosial merupakan bentuk dari struktutur sosial yang bersifat horizontal.

differensiasi sosial memiliki 3 ciri : a. ciri fisik b.ciri sosial c.ciri budaya

berbagai bentuk differensiasi sosial dalam masyarakat berdasarkan perbedaan ras,agama,jenis kelamin,profesi,klan,dan suku bangsa.

Diferensiasi sosial merupakan perbedaan seseorang dilihat dari suku bangsa, ras, agama, klan, dsb.

Pada intinya hal-hal yang terdapat dalam diferensiasi itu tidak terdapat tingkatan-tingkatan, namun yang membedakan satu individu dengan individu yang lainnya adalah sesuatu yang biasanya telah ia bawa sejak lahir. contohnya saja, suku sunda dan suku batak memiliki kelebihan masing-masing. jadi seseorang tidak bisa menganggap suku bangsanya lebih baik, karena itu akan menimbulkan etnosentrisme dalam masyarakat. diferensiasi merupakan perbedaan yang dapat kita lihat dan kita rasakan dalam masyarakat, bukan untuk menjadikan kita berbeda tingkat sosialnya seperti yang terjadi di Afrika Selatan.

  Artikel bertopik masyarakat ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

proses diferensiasi sosial menghasilkan adanya kelompok-kelompok di masyarakat. deferensiasi (ketidaksamaan) sosial berupa perbedaan prestise atau pengaruh seseorang terhadap orang lain.oleh karena itu deferensiasi sosial bersifat individual . defenrensiasi sosial dapat terjadi pada masyarakat yang homogen,yaitu satu kelompok sosial yang sama, misalnya kelompok orang minang. setiap individu dalam kelompok Minang memiliki perbedaan dalam hal-hal tertentu.

Integrasi berasal dari bahasa inggris “integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi.

Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu :

  • Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu
  • Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu

Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.

Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.

Menurut pandangan para penganut fungsionalisme struktur sistem sosial senantiasa terintegrasi di atas dua landasan berikut :

  • Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar)
  • Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.

Penganut konflik berpendapat bahwa masyarakat terintegtrasi atas paksaan dan karena adanya saling ketergantungan di antara berbagai kelompok.

Integrasi sosial akan terbentuk apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan tentang batas-batas teritorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial

[sunting] Bentuk Integrasi Sosial

  • Asimilasi, yaitu pembauran kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli.
  • Akulturasi, yaitu penerimaan sebagian unsur-unsur asing tanpa menghilangkan kebudayaan asli.

[sunting] Faktor-Faktor Pendorong

A. Faktor Internal :

  • kesadaran diri sebagai makhluk sosial
  • tuntutan kebutuhan
  • jiwa dan semangat gotong royong

B. Faktor External :

  • tuntutan perkembangan zaman
  • persamaan kebudayaan
  • terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
  • persaman visi, misi, dan tujuan
  • sikap toleransi
  • adanya kosensus nilai
  • adanya tantangan dari luar

[sunting] Syarat Berhasilnya Integrasi Sosial

1. Untuk meningkatkan Integrasi Sosial, Maka pada diri masing-masing harus mengendalikan perbedaan/konflik yang ada pada suatu kekuatan bangsa dan bukan sebaliknya.

2. Tiap warga masyarakat merasa saling dapat mengisi kebutuhan antara satu dengan yang lainnya.

Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.

Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat; faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

Ada pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan IPTEK yang lambat; sifat masyarakat yang sangat tradisional; ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat; prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan ideologis; dan pengaruh adat atau kebiasaan.

 

RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Sosiologi

Standar

RENCANA   PELAKSANAAN PEMBELAJARA

 

Nama sekolah             : SMAN 2 Banjarbaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  X I / 1

Standar Kompetensi    : 1.       Memahami struktur sosial serta berbagai faktor penyebab                              konflik dan mobilitas sosial.

Kompetensi Dasar      : 1. 1.   Mendeskripsikan bentuk-bentuk struktur sosial dalam                                 fenomena kehidupan masyarakat.

Indikator Pencapaian Kompetensi:

  • Mendeskrispsikan pengertian struktur sosial
  • Mendeskripsikan diferensiasi sosial.
  • Mengidentifikasi diferensiasi sosial berdasarkan ras, etnis, agama, dan jender.

Alokasi Waktu        :  3 x 45 menit (1 X Pertemuan)

 

A.       Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

  • mendeskrispsikan pengertian struktur sosial
  • mengidentifikasi diferensiasi sosial di masyarakat
  • Mengidentifikasi diferensiasi sosial berdasarkan ras, etnis, agama, dan jender.

“  Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.

“  Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

B.        Materi Pembelajaran

  • Struktur sosial
  • Diferensiasi sosial

 

C.        Metode Pembelajaran

  • Informasi
  • kerja mandiri
  • eksplorasi
  • Diskusi
  • ceramah

 

 

     Strategi Pembelajaran

 

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Mendeskripsikan bentuk-bentuk struktur sosial dalam fenomena kehidupan masyarakat.
  • Secara individu mengamati diferensiasi sosial dalam kehidupan masyarakat.
  • Secara individu mengamati stratifikasi sosial dalam kehidupan masyarakat.
    • Secara kelompok mendiskusikan diferensiasi sosial berdasarkan ras, etnis, agama, dan jender.
    • Siswa dapat Mendeskrispsikan pengertian struktur sosial
    • Siswa dapat Mendeskripsikan diferensiasi sosial.
    • Siswa dapat Mengidentifikasi diferensiasi sosial berdasarkan ras, etnis, agama, dan jender.

D.       Langkah-Langkah Pembelajaran

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan sosiologi yang telah dipelajari di kelas X

  1. b.      Memotivasi

Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran tentang struktur dan diferensiasi sosial dalam masyarakat.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat gambaran tentang struktur sosial dan diferensiasi sosial dalam bentuk skema.

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian , ciri struktur sosial, fungsi, dasn bentuk struktur sosial. Siswa membuat catatan singkat berdasarkan penjelasan guru.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 6. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendengar penjelasan guru tentang diferensiasi sosial, dan bentuk-bentuk diferensiasi sosial.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji  Penguasaan Materi” dalam buku halaman 13. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membentuk kelompok kemudian membaca artikel dalam buku  halaman 14, kemudian mendiskusikan bersama teman-temannya. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas dan guru menjadi pemandu diskusi kelas. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan atas hasil diskusi kelompok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan hasil diskusinya untuk dinilai. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

 

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa mengerjakan evaluasi dalam buku halaman 15-18. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mengamati masyarakat di sekitarnya, lalu mengelompokkan masyarakat berdasarkan diferensiasi sosial. Kemudian siswa membuat laporan  atau tulisan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

   

 

E.        Sumber pembelajaran:

  • Buku Sosiologi SMA kelas 2 ESIS  halaman 2- 18.
  • LKS  Sosiologi SMA  kelas XI semester 1 Intan Pariwara
  • Kehidupan dalam masyarakat
  • Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

 

F.         Media

  • Papan tulis
  • Alat-alat tulis
  • Lembar soal
  • Power Point
  • LCD

 

G.       Penilaian

  • Hasil pekerjaan siswa “Uji Penguasaan Materi dalam buku 6 dan 13.
  • Hasil laporan siswa tentang keadaan masyarakat.
  • Diskusi kelompok dalam buku halaman 14

 

 

 

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

               

 

Keterangan: nilai maksimal 20

 

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

 

 

 

             

 

Aspek yang dinilai:

  • Kemampuan menyampaikan pendapat.
  • Kemampuan memberikan argumentasi.
  • Kemampuan memberikan kritik.
  • Kemampuan mengajukan pertanyaan.
  • Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.
  • Kelancaran berbicara.

 

Penskoran:                                                     Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                          24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                          18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                          12—17 = Cukup

D. Baik                          Skor 4                         6—11 = Kurang

E. Sangat Baik             Skor 5

 

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

 

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1              
2              
dst              

 

Keterangan:                                                                Rentang skor :

  • Aktivitas dalam kelompok                               12—15                       = Sangat baik
  • Tanggung jawab individu                                9—11              = Baik
  • Pemikiran                                                        6—8                = Cukup
  • Keberanian berpendapat                                3—5                = Kurang
  • Keberanian tampil

 

  1. Test pilihan ganda dan uraian dalam buku halaman 15-18
  2. Test pilihan ganda dan uraian dalam LKS halaman; 4-5 dan 17-18

 

 

     
Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Nama sekolah             : SMAN 2 Banjarbaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  X I / 1

Standar Kompetensi    : 1.       Memahami struktur sosial serta berbagai faktor penyebab                              konflik dan mobilitas sosial.

Kompetensi Dasar      : 1. 1.   Mendeskripsikan bentuk-bentuk struktur sosial dalam                                 fenomena kehidupan masyarakat.

Indikator Pencapaian Kompetensi      :

  • Mendeskrispsikan stratifikasi sosial
  • Mengidentifikasi macam-macam kriteria stratifikasi sosial di masyarakat.
  • Mendeskripsikan berbagai pengaruh stratifikasi sosial yang terdapat di masyarakat.
  • Membedakan konsolidasi dan interseksi yang terjadi di dalam masyarakat.

Alokasi Waktu        :  9 x 45 menit (3 X Pertemuan)

 

A.     Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

  • menjelaskan latar belakang timbulnya stratifikasi sosial
  • menjelaskan dasar dan unsur-unsur stratifikasi sosial
  • menjelaskan sifat dan fungsi stratifikasi sosial
  • mengidentifikasi berbagai bentuk stratifikasi sosial
  • membedakan berbagai pengaruh stratifikasi sosial berdasarkan, pengamatan atau kasus yang terdapat di masyarakat.

“     Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.

“  Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

 

B.      Materi Pembelajaran

  • Hakikat Stratifikasi Sosial
  • Wujud Stratifikasi Sosial
  • Sistem Stratifikasi yang Pernah Ada di Indonesia
  • Konsekuensi Stratifikasi Sosial

 

C.      Metode Pembelajaran

  • Informasi
  • kerja mandiri
  • eksplorasi
  • Diskusi
  • Ceramah

 

   Strategi Pembelajaran

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Mendeskripsikan bentuk-bentuk struktur sosial dalam fenomena kehidupan masyarakat.
  • Secara kelompok mendiskusikan macam-macam kriteria stratifikasi sosial di masyarakat.
  • Secara klasikal mendiskusikan berbagai pengaruh diferensiasi dan stratifikasi sosial yang terdapat di masyarakat.
  • Secara individu menggali informasi melalui pengamatan tentang konsolidasi dan interseksi yang ada di dalam masyarakat.
    • Secara individu mengklasifikasikan konsolodasi dan interseksi yang terjadi di dalam masyarakat.
    • Siswa dapat Mendeskrispsikan stratifikasi sosial
    • Siswa dapat   Mengidentifikasi macam-macam kriteria stratifikasi sosial di masyarakat.
    • Siswa dapat   Mendeskripsikan berbagai pengaruh stratifikasi sosial yang terdapat di masyarakat.
    • Siswa dapat   Membedakan konsolidasi dan interseksi yang terjadi di dalam masyarakat.

D.     Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan I

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan struktur dan diferensiasi sosial.

  1. b.      Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud pembelajaran tentang stratifikasi sosial.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan gambaran tentang stratifikasi sosial yang ditampilkan oleh siswa di power point LCD

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa memperhatikan beberapa gambar dalam buku. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan guru tentang hakikat stratifikasi sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang hakikat stratifikasi sosial, dan wujud stratifikasi sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 28 dan 32. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian mendiskusikan pengaruh positif dan negatif akibat adanya stratifikasi sosial di Indonesia. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas. Guru bertugas sebagai pemandu diskusi secara klasikal. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru menyimpulkan hasil diskusi secara bersama-sama. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman atas seluruh materi yang telah dipelajari bersama. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk membuat kliping tentang stratifikasi sosial dan membuat laporan tentang perbedaan prilaku di antara kelas-kelas sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

Pertemuan II

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.    Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan hakikat dan wujud stratifikasi sosial..

  1. b.   Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud pembelajaran tentang sistem stratifikasi yang pernah ada di Indonesia dan konsekuensi stratifikasi sosial.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan gambaran dari guru tentang sistem stratifikasi yang pernah ada di Indonesia dan konsekuensi stratifikasi sosial.

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang sistem stratifikasi yang pernah ada di Indonesia dan konsekuensi stratifikasi dalam masyarakat. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi”  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membuat bagan stratifikasi sosial dalam masyarakat tempat tinggalnya. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian mendiskusikan kasus yang ada dalam buku halaman 42-43. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusi di depan kelas. Guru menjadi pemandu diskusi secara klasikal. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan tentang hasil diskusi kelompok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

 

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman atas seluruh materi yang telah dipelajari bersama.

“  Siswa membuat tulisan tentang stratifikasi sosial dalam masyarakat.

“  Siswa mempersiapkan diri untuk ulangan blok.

   

 

Pertemuan III

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.     Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru mengumpulkan tugas para siswa.

  1. b.    Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud  diadakan ulangan blok.

  1. c.     Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat penjelasan dari guru tentang ulangan blok.

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendapatkan soal-soal ulangan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan soal-soal ulangan yang sudah dibagikan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya untuk diperiksa dan dinilai. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dikerjakan oleh siswa. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mempelajari bahan yang telah dijadikan ulangan blok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

   

 

  1.     E.     Sumber pembelajaran:
  • Buku Sosiologi SMA kelas 2 ESIS  halaman  20-48
  • LKS  Sosiologi SMA  kelas XI semester 1 Intan Pariwara
  • Kehidupan dalam masyarakat
  • Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

 

  1.     F.     Media
  • Papan tulis
  • Alat-alat tulis
  • Lembar soal
  • Power Point
  • LCD
  1.    G.     Penilaian
  • Hasil pekerjaan siswa “Uji Penguasaan Materi dalam buku 28 dan 32
  • Hasil laporan atau tulisan siswa
  • Diskusi kelompok dalam buku halaman 42-43.

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

               

 

Keterangan: nilai maksimal 20

 

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

 

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

 

 

 

             

 

Aspek yang dinilai:

  • Kemampuan menyampaikan pendapat.
  • Kemampuan memberikan argumentasi.
  • Kemampuan memberikan kritik.
  • Kemampuan mengajukan pertanyaan.
  • Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.
  • Kelancaran berbicara.

 

 

 

Penskoran:                                                                 Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                                      24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                                      18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                                      12—17 = Cukup

D. Baik                          Skor 4                                     6—11 = Kurang

E. Sangat Baik             Skor 5

 

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1              
2              
dst              

 

Keterangan:                                                                Rentang skor :

  • Aktivitas dalam kelompok                               12—15                       = Sangat baik
  • Tanggung jawab individu                                9—11              = Baik
  • Pemikiran                                                        6—8                = Cukup
  • Keberanian berpendapat                                3—5                = Kurang
  • Keberanian tampil

 

  1. Test pilihan ganda dan uraian dalam buku halaman 44 – 48.
  2. Test pilihan ganda dan uraian dalam LKS halaman 10-11 dan 23-26

 

 

     
Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Nama sekolah             : SMAN 2 Banjarabaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  X I / 1

Standar Kompetensi    : 1.       Memahami struktur sosial serta berbagai faktor penyebab                              konflik dan  mobilitas sosial.

Kompetensi Dasar      : 1. 2.   Menganalisis faktor penyebab konflik sosial dalam                               masyarakat.

Indikator Pencapaian Kompetensi      :

  • Mendeskripsikan berbagai pengaruh diferensiasi dan  stratifikasi sosial yang terdapat di masyarakat.
  • Mengidentifikasi berbagai konflik dalam masyarakat.
  • Membedakan konflik dengan kekerasan dalam masyarakat
  • Mendeskripsikan sebab-sebab terjadinya konflik di masyarakat.
  • Mendeskripsikan proses terwujudnya integrasi dalam masyarakat.
  • Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi integrasi sosial
  • Menjelaskan faktor pendorong dan penghambat terwujudnya integrasi sosial.

Alokasi Waktu        :  9 x 45 menit (3 X Pertemuan)

 

A.     Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

  • Mendeskripsikan berbagai pengaruh diferensiasi sosial dan stratitikasi sosial
  • mengidentifikasi berbagai konflik dalam masyarakat.
  • mendeskripsikan sebab-sebab terjadinya konflik
  • mendeskripsikan faktor pendorong integrasi sosial.

“  Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.

“  Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

 

B.      Materi Pembelajaran

  • Pengaruh Diferensiasi Sosial dan Stratifikasi Sosial
  • Konflik Sosial
  • Integrasi Sosial

 

C.      Metode Pembelajaran

  • Informasi
  • kerja mandiri
  • eksplorasi
  • Diskusi
  • ceramah
  • penugasan

 

Strategi Pembelajaran

 

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Menganalisis faktor penyebab konflik sosial dalam masyarakat.
  • Secara berkelompok mengkaji contoh kasus konflik yang terjadi di masyarakat.
  • Berdiskusi secara kelompok untuk mengklasifikasikan berbagai konflik dalam masyarakat.
  • Secara klasikal mendiskusikan konflik dan kekerasan.
  • Secara individu menyimpulkan hasil diskusi tentang konflik dan kekerasan.
  • Secara klasikal mengkaji sebab-sebab terjadinya konflik di masyarakat.
    • Secara kelompok mensimulasikan sebab-sebab terjadinya konflik dalam masyarakat..
    • Siswa dapat Mendeskripsikan berbagai pengaruh diferensiasi sosial dan stratitikasi sosial
    • Siswa dapat Mengidentifikasi berbagai konflik dalam masyarakat.
    • Siswa dapat Membedakan konflik dengan kekerasan
    • Siswa dapat Mengidentifikasi sebab-sebab terjadinya konflik dalam masyarakat.
    • Siswa dapat Mendeskripsikan proses terwujudnya integrasi dalam masyarakat.
    • Siswa dapat Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi integrasi sosial
    • Siswa dapat Menjelaskan faktor pendorong dan penghambat terwujudnya integrasi sosial

 

D.     Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan I

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Ket.

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan tentang stratifikasi sosial dalam masyarakat.

  1. b.      Memotivasi

Siswa mendengarkan kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran tentang konflik sosial.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan gambaran tentang skema konflik sosial dan integrasi sosial.

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa memperhatikan beberapa gambar dalam buku tentang konflik yang terjadi dalam masyarakat. Atau siswa menonton film tentang konflik yang terjadi dalam masyarakat. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa membentuk kelompok lalu mendiskusikan masalah yang terjadi dalam film atau gambar tersebut dengan pertanyaan panduan dalam buku halaman 54 dan 67. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas, dan guru bertugas sebagai pemandu diskusi kelas. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengaruh diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial dan konflik sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 54 dan 67.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan atas diskusi siswa. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman atas seluruh materi yang telah dipelajari bersama yaitu tentang pengaruh diferensiasi sosial, stratifikasi sosial dan konflik sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk membuat kliping tentang konflik yang terjadi di tanah air dan memberi komentar  tentang artikel tersebut. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

 

 

 

 

Pertemuan II

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Ket.

1.
Pendahuluan
  1. a.   Apresepsi

Guru mengumpulkan tugas kliping tentang konflik sosial yang telah dibuat oleh siswa. Kemudian guru, mengumpan balik dengan pertanyaan untuk membahas masalah konflik sosial.

  1. b.   Memotivasi

Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran integrasi sosial dalam masyarakat.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang potensi integrasi dalam masyarakat dengan tipologi yang telah disebut di atas.

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang integrasi sosial.

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian mendiskusikan masalah konflik yang ada dalam klipingnya.  Siswa dapat memperhatikan suruhannya dalam buku halaman 72-73. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas. Guru memandu diskusi secara klasikal. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mensimulasikan pertikaian atau konflik yang terjadi dalam masyarakat. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan tentang hasil diskusi kelas. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 72.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman atas seluruh materi yang telah dipelajari bersama.. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mempelajari masalah-masalah tentang Lumpur Lapindo kemudian membandingkan dengan artikel yang ada dalam buku halaman 73. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

Pertemuan III

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Ket.

1.
Pendahuluan
  1. a.   Apresepsi

Guru bertanya tentang masalah integrasi sosial dalam masyarakat. Masalah-masalah apa saja yang bisa menyebabkan konflik sosial.

  1. b.   Memotivasi

Siswa diajak untuk membahas bersama kasus-kasus yang terjadi di negara Indonesia yang dapat menyebabkan konflik sosial.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat penjelasan dari guru tujuan membahas kasus-kasus yang dapat menyebabkan konflik sosial.

3x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang integrasi sosial. (mengulang penjelasan pada pelajaran yang lalu). (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa dibagi dalam kelompok kemudian mendiskusikan kasus Tragedi Lumpur Lapindo. Dalam diskusi, siswa juga mengacu pada kasus-kasus lain yang terjadi akibat lumpur Lapindo.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas. Guru menjadi pemandu diskusi klasikal. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan tentang hasil diskusi kelompok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama secara keseluruhan tentang materi yang sudah dipelajari.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mengerjakan soal-soal evaluasi dalam buku halaman 75-78. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

   

 

  1.     E.     Sumber pembelajaran:
  • Buku Sosiologi SMA kelas 2 ESIS  halaman  50-78
  • Kasus-kasus atau konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat.
  • Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

 

  1.     F.     Media
  • Papan tulis
  • Alat-alat tulis
  • Lembar soal
  • Transparan Konsep
  • Power Point
  • OHP

 

  1.    G.     Penilaian
  • Hasil pekerjaan siswa “Uji Penguasaan Materi dalam buku 54  dan 67
  • Tugas kliping siswa.
  • Diskusi kelompok dalam buku halaman 54, 67,72, dan 73-74.

 

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

           

 

 

 

 

   

 

Keterangan: nilai maksimal 20

 

 

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

 

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

 

 

 

             

 

Aspek yang dinilai:

  • Kemampuan menyampaikan pendapat.
  • Kemampuan memberikan argumentasi.
  • Kemampuan memberikan kritik.
  • Kemampuan mengajukan pertanyaan.
  • Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.
  • Kelancaran berbicara.

 

Penskoran:                                                     Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                          24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                          18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                          12—17 = Cukup

D. Baik                          Skor 4                         6—11 = Kurang

E. Sangat Baik             Skor 5

 

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

 

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1              
2              
dst              

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan:                                                                Rentang skor :

  • Aktivitas dalam kelompok                               12—15                       = Sangat baik
  • Tanggung jawab individu                                9—11              = Baik
  • Pemikiran                                                        6—8                = Cukup
  • Keberanian berpendapat                                3—5                = Kurang
  • Keberanian tampil

 

 

 

 

Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Nama sekolah             : SMAN 2 Banjarabaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  X I / 1

Standar Kompetensi    : 1.       Memahami struktur sosial serta berbagai faktor penyebab                              konflik dan mobilitas sosial.

Kompetensi Dasar      : 1. 3.   Menganalisis hubungan antara struktur sosial dengan                                 mobilitas sosial.

Indikator Pencapaian Kompetensi      :

  • Mendeskripsikan bentuk-bentuk mobilitas sosial di masyarakat
  • Membedakan mobilitas sosial dengan gerakan sosial
  • Mendeskripsikan proses terjadinya mobilitas sosial.
  • Mengidentifikasi cara-cara yang dilakukan anggota masyarakat untuk mobilitas.
  • Mendeskripsikan pengaruh mobilitas sosial terhadap kehidupan masyarakat.
  • Membedakan jenis-jenis mobilitas sosial.
  • Mendeskripsikan proses terjadinya mobilitas sosial.
  • Mengidentifikasi dampak mobilitas sosial.
  • Mendeskripsikan hubungan antara struktur sosial dengan mobilitas sosial.

Alokasi Waktu :  9 x 45 menit (3 X Pertemuan)

 

A.     Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

  • memahami konsep mobilitas sosial (social mobility)
  • mengetahui beberapa bentuk mobilitas sosial
  • mengerti faktor penghambat mobilitas sosial
  • mengetahui cara-cara yang dapat dilakukan untuk mobilitas ke atas.
  • mengatahui saluran-saluran mobilitas.
  • memahami konflik dan penyesuaian sebagai konsekuensi mobilitas sosial.

“  Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.

“  Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

 

B.      Materi Pembelajaran

  • Pengertian mobilitas Sosial
  • Bentuk Mobilitas Sosial
  • Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas Sosial
  • Cara Melakukan Mobilitas Soosial dan Salurannya
  • Hubungan Mobilitas Sosial dengan Struktur Sosial

 

C.      Metode Pembelajaran

  • Informasi
  • kerja mandiri
  • eksplorasi
  • Diskusi
  • ceramah
  • penugasan

 

Strategi Pembelajaran

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Menganalisis hubungan antara struktur sosial dengan mobilitas sosial.
  • Secara klasikal mengamati visual tentang hubungan struktur sosial dengan mobilitas sosial.
  • Mendiskusikan secara kelompok tentang pengamatan visual.
  • Menyimpulkan hasil diskusi visual tentang hubungan antara struktur sosial dengan mobilitas sosial.
  • Secara individu mengkaji dampak mobilitas sosial pada kehidupan masyarakat kota melalui visual yang ditayangkan.
    • Secara individu mengungkapkan dalam bentuk tulisan tentang dampak mobilitas sosial.
    • Siswa dapat Mendeskripsikan bentuk-bentuk mobilitas sosial di masyarakat
    • Siswa dapat Membedakan mobilitas sosial dengan gerakan sosial
    • Siswa dapat Mengidentifikasi cara-cara yang dilakukan anggota masyarakat untuk mobilitas.
    • Siswa dapat Mendeskripsikan pengaruh mobilitas sosial terhadap kehidupan masyarakat.
    • Siswa dapat Membedakan jenis-jenis mobilitas sosial.
    • Siswa dapat Mendeskripsikan proses terjadinya mobilitas sosial.
    • Siswa dapat Mengidentifikasi dampak mobilitas sosial.
    • Siswa dapat Mendeskripsikan hubungan antara struktur sosial dengan mobilitas sosial.

D.     Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan I

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.   Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan tentang konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat Indonesia.

  1. b.   Memotivasi

Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran mobilitas sosial dalam masyarakat.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan gambaran skema mobilitas sosial.

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian mobilitas sosial, bentuk mobilitas sosial, dan faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 82, 85, dan 88. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok, kemudian mereka mendiskusikan faktor-faktor yang menyebabkan para pendatang di Jakarta gagal memperbaiki status ekonominya. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas. Guru menjadi pemandu diskusi secara klasikal. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan hasil diskusi kelas. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman atas seluruh materi yang telah dipelajari bersama yaitu tentang pengertian mobilitas sosial, bentuk-bentuk mobilitas, dan faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mewawancarai masyarakat di sekitar rumah atau lingkungannya  tentang mobilitas sosial. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan mereka melakukan mobilitas sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membuat dalam bentuk laporan singkat. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

Pertemuan II

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu Keterangan
1.
Pendahuluan
  1. a.    Apresepsi

Guru mengumpulkan tugas hasil wawancara. Kemudian guru, mengumpan balik dengan pertanyaan tentang mobilitas sosial.

  1. b.   Memotivasi

Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran integrasi sosial dalam masyarakat.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang potensi integrasi dalam masyarakat dengan tipologi yang telah disebut di atas.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang cara melakukan mobilitas sosial dan salurannya serta hubungan mobilitas sosial dengan struktur sosial.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 91 dan 93. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan tugas mengidentifikasi bentuk-bentuk mobilitas vertikal dan horisontal. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan mendiskusikan artikel tentang 253 Pemenang Undian Beasiswa Tabungan Mandiri dari Columbia Group dalam buku halaman 93- 94. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas. Guru bertindak sebagai pemandu diskusi kelas.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan atas hasil diskusi.

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman atas seluruh materi yang telah dipelajari bersama.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan evaluasi dalam buku halaman 95-99. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

Pertemuan III

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.   Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru mengumpulkan tugas para siswa.

  1. b.   Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud  diadakan ulangan blok.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat penjelasan cara-cara pengerjaan ulangan blok.

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendapatkan soal-soal ulangan.

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan soal-soal ulangan yang sudah dibagikan.

“  Siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya untuk diperiksa dan dinilai.

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dikerjakan oleh siswa.

“  Siswa diberi tugas untuk mempelajari bahan yang telah dijadikan ulangan blok.

   

 

E.      Sumber pembelajaran:

  • Buku Sosiologi SMA kelas 2 ESIS  halaman  80-99
  • LKS  Sosiologi SMA  kelas XI semester 1 Intan Pariwara
  • Masalah perpindahan penduduk di negara Indonesia.
  • Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

 

F.       Media

  • Papan tulis
  • Alat-alat tulis
  • Lembar soal
  • Power Point
  • LCD

 

G.     Penilaian

  • Hasil pekerjaan siswa “Uji Penguasaan Materi dalam buku  halaman 82, 85, dan 88.
  • Tugas laporan wawancara siswa.
  • Diskusi kelompok dalam buku halaman 93- 94.

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

             

 

Keterangan: nilai maksimal 20

 

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

 

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

             

 

Aspek yang dinilai:

  • Kemampuan menyampaikan pendapat.
  • Kemampuan memberikan argumentasi.
  • Kemampuan memberikan kritik.
  • Kemampuan mengajukan pertanyaan.
  • Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.
  • Kelancaran berbicara.

 

Penskoran:                                                     Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                          24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                          18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                          12—17 = Cukup

D. Baik                           Skor 4                                    6—11   = Kurang

E. Sangat Baik             Skor 5

 

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1              
2              
dst              

 

Keterangan:                                                                Rentang skor :

  • Aktivitas dalam kelompok                               12—15                       = Sangat baik
  • Tanggung jawab individu                                9—11              = Baik
  • Pemikiran                                                        6—8                = Cukup
  • Keberanian berpendapat                                3—5                = Kurang
  • Keberanian tampil

 

     
Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

 

Nama sekolah             :  SMAN  2 Banjarbaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  X I / 2

Standar Kompetensi    : 2.  Menganalisis kelompok sosial dalam masyarakat multikultural.

Kompetensi Dasar      : 2. 1.   Mendeskripsikan berbagai kelompok sosial dalam                                       masyarakat multikultural.

Indikator Pencapaian Kompetensi      :

  • Mendeskripsikan pengertian kebudayaan
  • Mengidentifikasikan unsur-unsur kebudayaan.
  • Mendeskripsikan hubungan antara unsur-unsur kebudayaan.
  • Mendeskripsikan dinamika unsur-unsur kebudayaan.

Alokasi Waktu        :  9 x 45 menit (3 X Pertemuan)

 

A.   Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

  • menjelaskan pengertian kebudayaan.
  • mengidentifikasi unsur-unsur kebudayaan.
  • mendeskripsikan hubungan antara unsur-unsur kebudayaan.
  • mendeskripsikan dinamika unsur-unsur kebudayaan.

“   Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.

“  Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

B.   Materi Pembelajaran

  • Kebudayaan

1. 1. Hakikat Kebudayaan

1. 2. Hubungan Antara Unsur-Unsur Kebudayaan Dalam Masyarakat.

1. 3. Dinamika Unsur-Unsur Kebudayaan

 

C.   Metode Pembelajaran

  • Informasi
  • kerja mandiri
  • eksplorasi
  • Diskusi
  • ceramah
  • penugasan

 

Strategi Pembelajaran

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Mendeskripsikan berbagai kelompok sosial alam masyarakat multikultural
  • Secara individu menggali informasi tentang kebudayaan yang ada dalam masyarakat tempat tinggalnya.
  • Secara kelompok merumuskan pengertian dan ciri- ciri kebudayaan.
  • Secara berkelompok mendiskusikan kebudayaan di daerahnya.
  • Siswa dapat  Mendeskripsikan pengertian kebudayaan
  • Siswa dapat  Mengidentifikasikan unsur-unsur kebudayaan.
  • Siswa dapat  Mendeskripsikan hubungan antara unsur-unsur kebudayaan.
  • Siswa dapat  Mendeskripsikan dinamika unsur-unsur kebudayaan.

 

D.   Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan I

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu Keterangan
1.
Pendahuluan
  1. a.    Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas dan menanyakan kepada para siswa beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan mobilitas atau sosiologi.

  1. b.   Memotivasi

Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan mempelajari kebudayaan dalam masyarakat.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan skema kebudayaan yang akan dipelajari oleh para siswa.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan guru seputar kebudayaan. Misalnya, kebiasaan, adat-istiada dalam suatu masyarakat, dan agama. .(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang hakikat kebudayaan. .(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa membuat laporan hasil pengamatannya tentang kebudayaan dalam masyarakatnya. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan tugas atau latihan ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 115.

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman tentang hakikat kebudayaan.

“  Siswa diberi tugas untuk mewawancarai pemuka masyarakat di lingkungannya tentang kebudayaan yang berlaku dalam masyarakatnya.

   

 

 

 

 

Pertemuan II

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.    Apresepsi

Guru mengumpulkan tugas hasil wawancara tentang kebudayaan. Kemudian guru, mengumpan balik dengan pertanyaan tentang hakikat kebudayaan.

  1. b.   Memotivasi

Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan mempelajarai hubungan kebudayaan dengan masyarakat dan dinamika unsur-unsur kebudayaan.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat dan dinamikanya dalam masyarakat.

 3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa memperhatikan unsur-unsur kebudayaan yang ditunjuk oleh guru berupa unsur material kebudayaan. Misalnya, gambar candi, alat pertanian, dan orang sedang berdoa. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat dan dinamika unsur-unsur kebudayaan tersebut.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 125 dan 128. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Kemudian, mereka mendiskusikan artkel dalam buku halaman 128-129. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas. Guru memandu diskusi secara klasikal. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan tentang hasil diskusi kelompok.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman atas seluruh materi yang telah dipelajari bersama.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mengamati lingkungan masyarakatnya dan membuat laporan tentang unsur-unsur kebudayaan. Siswa juga diberi tugas untuk mengerjakan soal-soal evaluasi seperti yang ada dalam buku halaman 130-134.   (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

 

 

 

 

Pertemuan III

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.

Pendahuluan
  1. a.    Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru mengumpulkan hasil laporan siswa tentang unsur-unsur kebudayaan dan dinamikanya.

  1. b.   Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud  diadakan ulangan blok.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat penjelasan cara-cara pengerjaan ulangan blok.

3 x 45

menit

 

2.

Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendapatkan soal-soal ulangan.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan soal-soal ulangan yang sudah dibagikan.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya untuk diperiksa dan dinilai.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

   
  3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dikerjakan oleh siswa.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mempelajari bahan yang telah dijadikan ulangan blok.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

E.    Sumber pembelajaran:

  • Buku Sosiologi SMA kelas 2 ESIS  halaman  108-134.
  • LKS  Sosiologi SMA  kelas XI semester 2 Intan Pariwara
  • Unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat.
  • Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

 

F.    Media

  • Papan tulis
  • Alat-alat tulis
  • Lembar soal
  • Transparan Konsep
  • Power Point
  • LCD

 

G.   Penilaian

  • Hasil pekerjaan siswa berupa laporan atau hasil wawacanra dan pengamatannya.
  • Tugas laporan wawancara siswa.
  • Test pilihan ganda dan uraian dalam buku halaman  130-134
  • Diskusi kelompok dalam buku halaman 128-129.
  • Tugas LKS

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

     

 

 

 

 

         

 

Keterangan: nilai maksimal 20

 

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

 

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

 

 

 

             

 

Aspek yang dinilai:

  • Kemampuan menyampaikan pendapat.
  • Kemampuan memberikan argumentasi.
  • Kemampuan memberikan kritik.
  • Kemampuan mengajukan pertanyaan.
  • Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.
  • Kelancaran berbicara.

Penskoran:                                                     Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                          24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                          18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                          12—17 = Cukup

D. Baik                          Skor 4                         6—11   = Kurang

E. Sangat Baik             Skor 5

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

 

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1              
2              
dst              

 

Keterangan:                                                                Rentang skor :

  • Aktivitas dalam kelompok                               12—15                       = Sangat baik
  • Tanggung jawab individu                                9—11              = Baik
  • Pemikiran                                                        6—8                = Cukup
  • Keberanian berpendapat                                3—5                = Kurang
  • Keberanian tampil

 

 

     
Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Nama sekolah             :  SMAN 2 Banjarbaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  X I / 2

Standar Kompetensi    : 2.  Menganalisis kelompok sosial dalam masyarakat multikultural.

Kompetensi Dasar      : 2. 2.   Menganalisis  perkembangan kelompok sosial dalam                                  masyarakat multikultural.

Indikator Pencapaian Kompetensi      :

  • Mengidentifikasi kelompok sosial yang terdapat dalam masyarakat.
  • Mengklasifikasikan kelompok-kelompok sosial yang terdapat dalam masyarakat.
  • Mendeskripsikan  dimensi hubungan antarkelompok sosial.
  • Mendeskripsikan dinamika kelompok sosial di Indonesia.

Alokasi Waktu        :  9 x 45 menit (3 X Pertemuan)

 

A.   Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

  • mendeskripsikan pengertian kelompok sosial.
  • mengidentifikasi tipe-tipe kelompok sosial
  • mendeskripsikan dimensi hubungan antarkelompok sosial
  • mendeskripsikan dinamika kelompok sosial di Indonesia

“  Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.

“  Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

 

B.   Materi Pembelajaran

  • Kelompok sosial

 

C.   Metode Pembelajaran

  • Informasi
  • kerja mandiri
  • eksplorasi
  • Diskusi
  • ceramah
  • penugasan

 

Strategi Pembelajaran

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Menganalisis perkembangan kelompok sosial dalam masyarakat multikultural
  • Secara kelompok membuat tulisan melalui studi pustaka tentang keanekaragaman suku bangsa Indonesia bagian barat, tengah dan timur.
  • Secara klasikal mendiskusikan hasil tulisan tentang keanekaragaman suku bangsa di Indonesia bagian barat, tengah dan timur.
  • Secara klasikal menguraikan konsekuensi perubahan sosial ekonomi, politik, budaya terhadap perkembangan kelompok sosial.
  • Siswa dapat  Mendeskripsikan keanekaragaman suku bangsa di Indonesia bagian barat, tengah, dan timur.
  • Menjelaskan konsekuensi perubahan sosial ekonomi, politik, budaya terhadap perkembangan kelompok sosial.
  • Membedakan konflik dengan kekerasan
  • Mengidentifikasi sebab-sebab terjadinya konflik dalam masyarakat.

 

D.   Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan I

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.    Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas dan menanyakan kepada para siswa beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan kebudayaan.

  1. b.   Memotivasi

Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan mempelajari kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan skema kelompok sosial dalam masyarakat.

 3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang hakikat kelompok sosial dan tipe-tipe kelompok sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 139 dan 146.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian mereka mendiskusikan perbedaan antar kelompok sosial, organisasi sosial, dan lembaga sosial! (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas. Guru bertindak sebagai pemandu diskusi klasikal.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru menyimpulkan hasil diskusi kelas.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman materi tentang kelompok sosial.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa melakukan post test berupa pertanyaan essey.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mengamati masyarakat di daerahnya sendiri kemudia membuat laporannya. Laporannya bisa dibuat dengan pola yang ada dalam buku halaman 146. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

Pertemuan II

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.    Apresepsi

Guru mengumpulkan tugas laporan pengamatan masyarakat yang ada di daerah siswa.

  1. b.   Memotivasi

Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan tujuan menjalin hubungan dalam kelompok sosial.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan gambaran guru tentang hubungan antarkelompok dalam masyarakat.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa menjawab beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan kelompok-kelompok sosial yang ada dalam masyarakat. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang hubungan antarkelompok dalam masyarakat. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 151. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan kasus yang ada dalam buku halaman 151. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan atau rangkuman tentang materi yang dipelajari bersama. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa mengerjakan latihan atau evaluasi dalam buku halaman 153-156.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mencari bahan tentang kelompok mayoritas dan minoritas. Dan bagaimana pola hubungan kelompok sosial tersebut.   (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.

   

 

Pertemuan III

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.    Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru mengumpulkan hasil laporan siswa tentang unsur-unsur kebudayaan dan dinamikanya.

  1. b.   Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud  diadakan ulangan blok.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat penjelasan cara-cara pengerjaan ulangan blok.

 3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendapatkan soal-soal ulangan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan soal-soal ulangan yang sudah dibagikan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya untuk diperiksa dan dinilai. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dikerjakan oleh siswa. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mempelajari bahan yang telah dijadikan ulangan blok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

E.    Sumber pembelajaran:

  • Buku Sosiologi SMA kelas 2 ESIS  halaman  136-156.
  • LKS  Sosiologi SMA  kelas XI semester 2 Intan Pariwara
  • Kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat
  • Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

 

F.    Media

  • Papan tulis
  • Alat-alat tulis
  • Lembar soal
  • Power Point
  • LCD

 

G.   Penilaian

  • Hasil pekerjaan siswa berupa laporan atau hasil wawacanra dan pengamatannya.
  • Tugas laporan wawancara siswa.
  • Test pilihan ganda dan uraian dalam buku halaman  153-156.
  • Diskusi kelompok dalam buku halaman 140 dan 152-153.
  • Tugas LKS

 

 

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

 

               

 

Keterangan: nilai maksimal 20

 

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

 

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

 

 

 

             

 

Aspek yang dinilai:

  • Kemampuan menyampaikan pendapat.
  • Kemampuan memberikan argumentasi.
  • Kemampuan memberikan kritik.
  • Kemampuan mengajukan pertanyaan.
  • Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.
  • Kelancaran berbicara.

 

Penskoran:                                                     Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                          24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                          18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                          12—17 = Cukup

D. Baik                          Skor 4                         6—11    = Kurang

E. Sangat Baik             Skor 5

 

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

 

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1              
2              
dst              

 

Keterangan:                                                                Rentang skor :

  • Aktivitas dalam kelompok                                 12—15                       = Sangat baik
  • Tanggung jawab individu                                  9—11              = Baik
  • Pemikiran                                                          6—8                = Cukup
  • Keberanian berpendapat                                  3—5                = Kurang
  • Keberanian tampil

 

 

 

Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Nama sekolah             : SMAN   2  Banjarabaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  X I / 2

 

Standar Kompetensi    : 2.  Menganalisis kelompok sosial dalam masyarakat multikultural.

Kompetensi Dasar      : 2. 3.   Menganalisis  keanekaragaman kelompok sosial dalam                              masyarakat multikultural.

Indikator Pencapaian Kompetensi:

  • Mendeskripsikan pengertian masyarakat multikultural dan multikulturalisme.
  • Menjelaskan faktor penyebab terjadinya kemajemukan dalam masyarakat multikultural.
  • Menejalaskan pengeruh perubahan sosial terhadap perkembagnan masyarakat multikultural.
  • Membedakan kelompok-kelompok sosial di masyarakat.
  • Melakukan pengamatan tentang kelompok sosial di masyarakat.

Alokasi Waktu        :  9 x 45 menit (3 X Pertemuan)

 

A.   Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

  • menjelaskan pengertian masyarakat multikultural
  • menganalisis dinamika kelompok dalam masyarakat multikultural
  • mendeskripsikan realitas masyarakat Indonesia sebagai masyarakat multikultural.

“ Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.

“ Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

B.   Materi Pembelajaran

  • Masyarakat Multikultural

 

C.   Metode Pembelajaran

  • Informasi
  • kerja mandiri
  • eksplorasi
  • Diskusi

 

  • ceramah
  • penugasan

 

Strategi Pembelajaran

 

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Menganalisis keanekaragaman kelompok sosial dalam masyarakat multikultural.
  • Menggali berbagai informasi tentang pengertian masyarakat multikultural dan pengertian multikulturalisme
  • Menggali dari berbagai sumber belajar tentang faktor penyebab terjadinya kemajemukan dalam masyarakat multikultural.
  • Menjelaskan sikap yang harus dikembangkan dalam masyarakat multikultural.
  • Secara individu mengungkapkan satu contoh kasus keanekaragaman kelompok sosial.
  • Secara kelompok mengemukakan gagasan dalam penanganan kasus yang diakibatkan dari keanekaragaman kelompok sosial.
  • Siswa dapat  Mendeskripsikan pengertian masyarakat multikultural dan multikulturalisme.
  • Siswa dapat   Menjelaskan faktor penyebab terjadinya kemajemukan dalam masyarakat multikultural.
  • Siswa dapat  Menejalaskan pengeruh perubahan sosial terhadap perkembagnan masyarakat multikultural.
  • Siswa dapat  Membedakan kelompok-kelompok sosial di masyarakat.
  • Siswa dapat  Melakukan pengamatan tentang kelompok sosial di masyarakat.

D.Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan I

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.

Pendahuluan
  1. a.    Apresepsi

Guru mengumpulkan tugas yang telah dikerjakan siswa.

  1. b.   Memotivasi

Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan mempelajari masyarakat multikultural.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan skema msyarakat multikultural.

333 x 45

menit

 

2.

Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa menjawab pertanyaan tentang kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang masyarakat multikultural dan multikulturalisme dan faktor-faktor yang mempengaruhi perlunya masyarakat multikultural. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 160 dan 162.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengarang tentang masyarakat multikultural. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa merancang sebuah slogan atau kata mutiara yang menggambarkan penilaiannya terhadap multikulturalisme. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan tugasnya untuk diperiksa oleh guru.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang masyarakat multikultural.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   

3.

Kegiatan Akhir

“  Siswa menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan guru secara lisan tentang masyarakat multikultural. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk menyempurnakan karangannya agar bisa dikirim ke media massa. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

 

 

 

Pertemuan II

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.     Apresepsi

Guru mengumpulkan tugas  berupa karangan untuk diseleksi guru.

  1. b.    Memotivasi

Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan  mempelajari realitas sosial masyarakat Indonesia.

  1. c.     Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan beberapa gambaran yang telah dibuat oleh guru tentang realitas sosial dan mewujudkan masyarakat multikultural.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa menjawab beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan pengelompokkan masyarakat Indonesia. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang realitas sosial masyarakat Indonesia dan mewujudkan masyarakat multikultural. Serta Manfaat masyarakat multikultural.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku  halaman 169 dan 170. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membuat ulasan berdasarkan pengamatannya tentang hal-hal positif yang ada dalam masyarakat. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendiskusikan artikel yang ada dalam buku halaman 172-173.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas. Guru bertindak sebagai pemandu diskusi kelas.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang materi yang sudah dipelajari.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa mengerjakan latihan atau evaluasi dalam buku halaman 174-177. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mengerjakan tugas tentang mafnaat yang dirasakan dalam kegiatan di sekolah. Dan merancang untuk kegiatan diskusi atau seminar.    (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan III

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu Keterangan
1.
Pendahuluan
  1. a.     Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru mengumpulkan hasil laporan siswa tentang unsur-unsur kebudayaan dan dinamikanya.

  1. b.    Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud  diadakan ulangan blok.

 

  1. c.     Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat penjelasan cara-cara pengerjaan ulangan blok.

 

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendapatkan soal-soal ulangan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan soal-soal ulangan yang sudah dibagikan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya untuk diperiksa dan dinilai. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dikerjakan oleh siswa. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mempelajari bahan yang telah dijadikan ulangan blok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

D.   Sumber pembelajaran:

  • Buku Sosiologi SMA kelas 2 ESIS  halaman  158-177
  • LKS  Sosiologi SMA  kelas XI semester 1 Intan Pariwara
  • Kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat
  • Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.
  • Papan tulis
  • Alat-alat tulis
  • Lembar soal
  • Transparan Konsep
  • Power Point
  • LCD
  • Hasil pekerjaan siswa berupa laporan atau hasil wawacanra dan pengamatannya.
  • Tugas laporan wawancara siswa.
  • Test pilihan ganda dan uraian dalam buku halaman  174-177.
  • Diskusi kelompok dalam buku halaman   172-173.
  • Tugas LKS

E.    Media

F.    Penilaian

 

 

 

 

 

 

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

 

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

               

 

Keterangan: nilai maksimal 20

 

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

 

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

 

             

 

Aspek yang dinilai:

  • Kemampuan menyampaikan pendapat.
  • Kemampuan memberikan argumentasi.
  • Kemampuan memberikan kritik.
  • Kemampuan mengajukan pertanyaan.
  • Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.
  • Kelancaran berbicara.

 

Penskoran:                                                     Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                          24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                          18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                          12—17 = Cukup

D. Baik                           Skor 4                                    6—11   = Kurang

E. Sangat Baik Skor 5

 

 

 

 

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

 

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1              
2              
dst              

 

Keterangan:                                                                Rentang skor :

  • Aktivitas dalam kelompok                                 12—15                       = Sangat baik
  • Tanggung jawab individu                                  9—11              = Baik
  • Pemikiran                                                          6—8                = Cukup
  • Keberanian berpendapat                                  3—5                = Kurang
  • Keberanian tampil

 

     
Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

 

Nama sekolah             : SMAN 2 Banjarbaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  XII / 1

Standar Kompetensi    : 1.     Memahami dampak perubahan sosial

Kompetensi Dasar      : 1. 1. Menjelaskan proses perubahan sosial di masyarakat.

Indikator Pencapaian Kompetensi:

  • Memberi contoh berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat.
  • Mendeskripsikan bentuk-bentuk perubahan sosial.
  • Memberikan contoh faktor pendorong perubahan sosial.
  • Mengidentifikasikan faktor-faktor penghambat perubahan sosial.

Alokasi Waktu        :  12 x 45 menit (4 X Pertemuan)

 

A.   Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

  • mendeskripsikan pengertian perubahan sosial
  • mengidentifikasi bentuk-bentuk perubahan sosial
  • mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat perubahan sosial.
  • menjelaskan akibat dari perubahan sosial

“ Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.

“ Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

 

B.   Materi Pembelajaran

  • Perubahan Sosial

 

C.   Metode Pembelajaran

  • Informasi
  • kerja mandiri
  • eksplorasi
  • diskusi
  • ceramah

 

 

 

Strategi Pembelajaran

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Menjelaskan proses perubahan sosial di masyarakat.
  • Secara individu mencari contoh kasus di masyarakat tentang perubahan sosial.
  • Secara klasikal menggolongkan bentuk-bentuk perubahan sosial sesuai kasus yang diperoleh dari masyarakat.
  • Menggali secara individu mencari contoh kasus tentang faktor pendorong perubahan sosial.
  • Secara klasikal menguraikan tentang faktor pendorong perubahan sosial.
  • Siswa dapat  Memberi contoh berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat.
  • Siswa dapat  Mendeskripsikan bentuk-bentuk perubahan sosial.
  • Siswa dapat  Memberikan contoh faktor pendorong Perubahan Sosial.
  • Siswa dapat  Mengidentifikasikan faktor-faktor penghambat perubahan sosial.

 

D.   Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan 1

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa perubahan yang terjadi dalam diri siswa.

  1. b.      Memotivasi

Siswa mendengarkan tujuan mempelajari hakikat dan bentuk-bentuk perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

 

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan gambar yang menunjukkan perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Setelah itu, siswa memperhatikan skema perubahan sosial yang digambar oleh guru.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian perubahan sosial, pandangan para tokoh tentang perubahan sosial, teori utama pola perubahan sosial, dan teori-teori modern mengenai perubahan sosial.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa bisa menggali informasi dari berbagai informasi tentang perubahan sosial misalnya, di perpustakaan atau pengalaman di sekitarnya. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian mendiskusikan kasus  yang ada dalam buku halaman 10.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas dan guru memandu diskusi secara klasikal. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan tentang diskusi yang telah dilakukan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 10. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang materi yang dipelajari tentang pengertian perubahan sosial.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mengamati masyarakat di sekitar lingkungannya dan membuat karangan tentang perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mempersiapkan kamera untuk foto perubahan sosial untuk pertemuan berikutnya. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

Pertemuan 2

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu Keterangan
1.
Pendahuluan
  1. a.     Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru mengumpulkan tugas siswa berupa karangan tentang perubahan sosial dalam masyarakat.

  1. b.    Memotivasi

Siswa mendengarkan tujuan mempelajari bentuk-bentuk perubahan sosial.

  1. c.     Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan gambar bentuk-bentuk perubahan sosial dalam masyarakat..

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang bentuk-bentuk perubahan sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 14. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian para siswa ditugaskan untuk memotret perubahan-perubahan sosial yang terjadi di sekitar lingkungan sekolahnya. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membuat laporan singkat tentang obyek foto yang diambil kepada guru. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang bentuk-bentuk perubahan sosial.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan guru secara tertulis. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mencetak foto lalu siapkan untuk pameran.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

Pertemuan 3

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu Keterangan
1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan seputar bentuk-bentuk perubahan sosial.

  1. b.      Memotivasi

Siswa mendengarkan tujuan mempelajari faktor-faktor pendorong dan penghambat serta dampak perubahan sosial dalam masyarakat.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan gambar mode pakaian atau foto yang diambil oleh para siswa. .

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang faktor pendorong dan penghambat perubahan sosial dan dampak perubahan sosial tersebut. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa bisa menonton film tentang perubahan sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 19 dan 24. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian mendiskusikan artikel yang ada dalam buku halaman 24-25. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas dan guru bertugas sebagai pemandu diskusi kelas. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan tentang faktor pendorong dan penghambat perubahan sosial dan dampak sosialnya. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama materi yang dipelajari tentang faktor pendorong dan penghambat perubahan sosial dan dampak perubahan sosial tersebut.

“  Siswa diberi tugas untuk membuat kliping dengan analisa tentang faktor pendorong terjadinya perubahan itu. Selain itu, siswa juga ditugaskan untuk mengerjakan soal-soal evaluasi akhir bab 1 dari halaman 26-30.

   

 

Pertemuan 4

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru mengumpulkan tugas para siswa.

  1. b.      Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud  diadakan ulangan blok.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat penjelasan dari guru tentang ulangan blok.

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendapatkan soal-soal ulangan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan soal-soal ulangan yang sudah dibagikan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya untuk diperiksa dan dinilai. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membahas  pertanyaan-pertanyaan yang telah dikerjakan oleh siswa dalam ulangan blok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mempelajari bahan yang telah dijadikan ulangan blok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

E.    Sumber pembelajaran:

  • Buku Sosiologi SMA kelas 3 ESIS  halaman 2-30.
  • LKS  Sosiologi SMA  kelas XII semester 1 Intan Pariwara
  • Pengalaman siswa tentang perubahan sosial
  • Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

 

F.    Media

  • Papan tulis
  • Alat-alat tulis
  • Lembar soal
  • Transparan Konsep
  • Power Point
  • LCD
  • Hasil pekerjaan siswa dari ulangan blok dari halaman 26-30.
  • Karangan siswa tentang perubahan sosial dalam masyarakat.
  • Diskusi kelompok dalam buku halaman 24-25.
  • Tugas LKS

G.   Penilaian

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

               

Keterangan: nilai maksimal 20

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

 

 

 

             

 

Aspek yang dinilai:

  • Kemampuan menyampaikan pendapat.
  • Kemampuan memberikan argumentasi.
  • Kemampuan memberikan kritik.
  • Kemampuan mengajukan pertanyaan.
  • Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.
  • Kelancaran berbicara.

 

Penskoran:                                                     Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                          24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                          18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                          12—17 = Cukup

D. Baik                          Skor 4                         6—11 = Kurang

E. Sangat Baik             Skor 5

 

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

 

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1  

 

           
2  

 

           
dst  

 

           

 

Keterangan:                                                                Rentang skor :

  1. Aktivitas dalam kelompok                  12—15                       = Sangat baik
  2. Tanggung jawab individu                    9—11              = Baik
  3. Pemikiran                                            6—8                = Cukup
  4. Keberanian berpendapat                    3—5                = Kurang
  5. Keberanian tampil

 

  1. Test pilihan ganda dan uraian dalam buku halaman 15-18
  2. Tugas LKS

 

     
Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Nama sekolah             :  SMAN  2  Banjarbaru

Mata Pelajaran           :  Sosiologi

Kelas/semester           :  XII / 1

Standar Kompetensi    : 1.     Memahami dampak perubahan sosial

Kompetensi Dasar      :  1. 1. Menganalisis dampak perubahan sosial terhadap

kehidupan masyarakat. .

Indikator Pencapaian Kompetensi      :

Ä  Memberikan contoh kasus dampak perubahan sosial.

Ä  Mengidentifikasi tantangan globalisasi terhadap eksistensi jati diri bangsa

Ä  Mengemukakan gagasan atau pemikiran untuk mengatasi memudarnya jati

diri bangsa

Alokasi Waktu        :  9 x 45 menit (3 X Pertemuan)

 

A.     Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

½  menjelaskan pengertian modernisasi dan globalisasi

½  memberi contoh dampak modernisasi dan globalisasi

½  mengidentifikasi tantangan global terhadap eksistensi jati diri bangsa

½  mengemukakan gagasan atau pemikiran untuk mengatasi memudarnya jati diri.

“  Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.

“ Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.    

 

B.      Materi Pembelajaran

½  Dampak Perubahan Sosial

½  Modernisasi dan globalisasi

 

C.      Metode Pembelajaran

½  informasi

½  kerja mandiri

½  tanya-jawab

½  eksplorasi

½  diskusi

½  ceramah

 

Strategi Pembelajaran

 

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Menganalisis dampak perubahan sosial terhadap kehidupan masyarakat.
  • Secara individu melakukan pengamatan terhadap perkembangan IPTEK, Pendidikan, sistem pemerintahan, dll, sebagai dampak perubahan sosial.
  • Secara individu menggali informasi dari berbagai sumber belajar tentang dampak perubahan sosial-budaya.
  • Secara klasikal menguraikan hasil pengamatan dari kasus dampak perubahan sosial.
  • Secara kelompok mendiskusikan contoh-contoh globalisasi.
  • Siswa dapat  Memberikan contoh kasus dampak perubahan sosial.
  • Siswa dapat  Mengidentifikasi tantangan globalisasi terhadap eksistensi jati diri bangsa
  • Siswa dapat  Mengemukakan gagasan atau pemikiran untuk mengatasi memudarnya jati diri bangsa

 

D.     Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan 1

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan seputar modernisasi dan globalisasi.

  1. b.      Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud dari pembelajaran tentang modernisasi dan globalisasi.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan gambar yang menunjukkan modernisasi dan globalisasi serta skema perubahan sosial.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa menjawab beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan modernisasi dan globalisasi. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang modernisasi:pengertian, ciri manusia modern, syarat-syarat modernisasi, sikap mental manusia modern, gejala-gejala modernisasi, dan pengertian dan proses terjadinya globalisasi. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 36 dan 40. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa menguraikan dampak modernisasi tentang perubahan sosial budaya seperti kasus dalam buku halaman 36 dan 40. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa memberi tanggapan atas kasus tersebut. Guru memandu jalannya diskusi kelas. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan tentang dampak modernisasi terhadap perubahan sosial dan budaya. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang materi yang dipelajari tentang pengertian  modernisasi dan globalisasi. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengadakan post test tentang pengertian modernisasi dan globalisasi. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membaca beberapa artikel tentang modernisasi dan globalisasi lalu memberi tanggapan sederhana. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

 

 

 

 

 

Pertemuan 2

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.

Pendahuluan
  1. a.    Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan seputar modernisasi dan globalisasi.

  1. b.   Memotivasi

Siswa menyebtukan gejala-gejala modernisasi dan globalisasi.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan contoh-contoh gejala-gejala modernisasi dan globalisasi.

3 x 45

menit

 

2.

Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa memperhatikan gambar-gambar yang menunjukkan gejala modernisasi dan globalisasi. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang gejala-gejala modernisasi dan globalisasi serta dampak dan tantangan di masa yang akan datang. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 43, 48, dan 50. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendeskripsikan gejala modernisasi dan globalisasi yang terjadi dalam bidang-bidang tertentu dan pengaruhnya bagi masyarakat Indonesia. Siswa dapat membuatnya dalam bentuk tabel.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan tugasnya untuk diperiksa guru. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian mendiskusikan artikel yang ada dalam buku halaman 51.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas dan guru menjadi pemandu diskusi kelas. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan atas hasil diskusi siswa tersebut.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   

3.

Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang gejala modernisasi dan globalisasi, pengaruh dan tantangan di masa yang akan datang. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk membuat karangan berupa artikel atau essey tentang upaya menanggapi tantangan globalisasi di masa depan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa ditugaskan untuk mengerjakan soal-soal evaluasi dalam buku halaman 53-56.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

 

Pertemuan 3

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru mengumpulkan tugas para siswa.

  1. b.     Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud  diadakan ulangan blok.

  1. c.      Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat penjelasan dari guru tentang ulangan blok.

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendapatkan soal-soal ulangan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan soal-soal ulangan yang sudah dibagikan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya untuk diperiksa dan dinilai. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membahas  pertanyaan-pertanyaan yang telah dikerjakan oleh siswa dalam ulangan blok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mempelajari bahan yang telah dijadikan ulangan blok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

  1.     E.     Sumber pembelajaran:

½  Buku Sosiologi SMA kelas 3 ESIS  halaman 32- 56

½  LKS  Sosiologi SMA  kelas XII semester 1 Intan Pariwara

½  Pengalaman siswa tentang perubahan sosial

½  Alat-alat teknologi komunikasi dan transportasi.

½  Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

  1.     F.     Media

½  Papan tulis

½  Alat-alat tulis

½  Lembar soal

½  Transparan Konsep

½  Power Point

½  LCD

 

  1.    G.     Penilaian

½  Hasil pekerjaan siswa dari ulangan blok dari halaman 26-30.

½  Karangan siswa tentang tantangan globalisasi di masa yang akan datang.

½  Diskusi kelompok dalam buku halaman 51.

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

               

Keterangan: nilai maksimal 20

 

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

 

 

             

 

Aspek yang dinilai:

½  Kemampuan menyampaikan pendapat.

½  Kemampuan memberikan argumentasi.

½  Kemampuan memberikan kritik.

½  Kemampuan mengajukan pertanyaan.

½  Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.

½  Kelancaran berbicara

 

Penskoran:                                                     Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                          24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                          18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                          12—17 = Cukup

D. Baik                          Skor 4                         6—11 = Kurang

E. Sangat Baik             Skor 5

 

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1              
2              
dst              

 

Keterangan:                                                                Rentang skor :

  1. Aktivitas dalam kelompok                                 12—15                       = Sangat baik
  2. Tanggung jawab individu                                  9—11              = Baik
  3. Pemikiran                                                          6—8                = Cukup
  4. Keberanian berpendapat                                  3—5                = Kurang
  5. Keberanian tampil

 

1.Test pilihan ganda dan uraian dalam buku halaman 15-18

2. Tugas LKS

 

 

 

     
Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Nama sekolah             :  SMAN  2   Banjarbaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  XII / 1

Standar Kompetensi    : 2.     Memahami lembaga sosial

Kompetensi Dasar      : 2. 1. menjelaskan hakikat lembaga sosial

2. 2. Mengklasifikasikan tipe-tipe lembaga sosial.

2. 3. Mendeskripsikan peran dan fungsi lembaga sosial.

Indikator Pencapaian Kompetensi      :

Ä  Mendeskripsikan konsep lembaga socialMenjelaskan proses pembentukan lembaga sosial

Ä  Menganalisis pengaruh perubahan terhadap pembentukan lembaga sosial

Ä  Mengidentifikasi karakteristik lembaga sosial di masyarakat

Ä  Mendeskripsikan tipe dan hubungan antar lembaga sosial di masyarakat

Ä  Menganalisis efisiensi dan efektifitas dari adanya hubungan antar lembaga sosial di masyarakat.

Ä  Mendeskripsikan berbagai peran dan fungsi lembaga

Ä  sosial berdasarkan studi literatur dan studi lapangan

Ä  Menguraikan adanya penyesuaian kembali terhadap peran dan fungsi lembaga sosial di masyarakat

Ä  Mendeskripsikan berbagai kegiatan lembaga sosial dalam mewujudkan peran dan fungsinya di masyarakat

Ä  Menganalisis eksistensi lembaga sosial dalam menghadapi berbagai perubahan lokal, nasional dan global

Alokasi Waktu        :  9 x 45 menit (3 X Pertemuan)

 

A.     Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

½  memberi pengertian mengenai lembaga sosial

½  memahami proses pertumbuhan pranata sosial

½  mengerti fungsi, karakteristik, dan tipe lembaga sosial

½  mengetahui macam-macam lembaga sosial.

“ Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.

“ Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

B.      Materi Pembelajaran

½  Lembaga Sosial

 

C.      Metode Pembelajaran

½  informasi

½  kerja mandiri

½  tanya-jawab

½  eksplorasi

½  diskusi

½  ceramah

Strategi Pembelajaran

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • menjelaskan hakikat lembaga sosial
  • Mengklasifikasikan tipe-tipe lembaga sosial.
  • Mendeskripsikan peran dan fungsi lembaga sosial.
  • Secara individu menggali informasi melalui data kepustakaan atau media elektronik tentang lembaga sosial.
  •  Secara berkelompok mendiskusikan hasil temuan tentang pembentukan lembaga sosial.
  • Secara berkelompok merumuskan tentang proses-proses pembentukan lembaga sosial
  • Secara individu menggali informasi melalui literatur tentang karakteristik lembaga sosial
  • Secara berkelompok mengunjungi lembaga sosial, seperti lembaga: DPR, PENGADILAN, KADIN, Institut ekologi Dayak,untuk mengidentifikasi karakteristik dari setiap lembaga sosial yang ada di masyarakat
  • Secara kelompok merumuskan hubungan antara lembaga sosial yang terdapat di masyarakat
  • Secara klasikal mendiskusikan tipe dan hubungan lembaga sosial yang terdapat di maasyarakat
  • Secara kelompok menggali informasi melalui studi lapangan tentang berbagai peran dan fungsi lembaga sosial di masyarakat
  • Secara kelompok mengungkapkan peran dan fungsi lembaga politik dan ekonomi, budaya dari hasil studi lapangan
Secara kelompok mendiskusikan eksistensi lembaga sosial dalam menyikapi berbagai tuntutan perubahan baik lokal, nasional dan global.
  • Siswa dapat  Mendeskripsikan konsep lembaga social
  • Siswa dapat  Menjelaskan proses pembentukan lembaga sosial
  • Siswa dapat  Menganalisis pengaruh perubahan terhadap pembentukan lembaga sosial
  • Siswa dapat  Mengidentifikasi karakteristik lembaga sosial di masyarakat
  • Siswa dapat  Mendeskripsikan tipe dan hubungan antar lembaga sosial di masyarakat
  • Siswa dapat  Menganalisis efisiensi dan efektifitas dari adanya hubungan antar lembaga sosial di masyarakat.
  • Siswa dapat  Mendeskripsikan berbagai peran dan fungsi lembaga
  • Siswa dapat  sosial berdasarkan studi literatur dan studi lapangan
  • Siswa dapat  Menguraikan adanya penyesuaian kembali terhadap peran dan fungsi lembaga sosial di masyarakat
  • Siswa dapat  Mendeskripsikan berbagai kegiatan lembaga sosial dalam mewujudkan peran dan fungsinya di masyarakat
  • Siswa dapat  Menganalisis eksistensi lembaga sosial dalam menghadapi berbagai perubahan lokal, nasional dan global

 

D.     Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan 1

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan modernisasi dan globalisasi.

  1. b.      Memotivasi

Siswa menyebutkan beberapa lembaga sosial dalam masyarakat.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan skema lembaga sosial yang dibuatkan oleh guru atau lihat dalam buku halaman 58.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa menjawab beberapa pertanyaan yang berhubungan norma-norma dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang hakikat lembaga sosial dan tipe-tipe lembaga sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 64 dan 65.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian mendiskusikan kasus perjudian yang ada dalam masyarakat.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Sisiwa membacakan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas. Kelompok yang lain bisa menyangga dan menanggapi hasil diskusi kelompok tersebut. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan dari hasil diskusi kelompok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama materi yang sudah dipelajari bersama tentang hakikat lembaga sosial dan tipe-tipe lembaga sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengadakan post test tentang hakikat lembaga sosial dan tipe-tipe lembaga sosial. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.)

   

 

 

Pertemuan 2 Dan  (3,4 sama)

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.     Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan seputar lembaga sosial dan tipe-tipe lembaga sosial.

  1. b.    Memotivasi

Siswa menyebtukan jenis-jenis lembaga sosial yang ada dalam masyarakat.

  1. c.     Rambu-rambu belajar

Guru memberi tahu beberapa lembaga sosial dalam masyarakat.

9x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang jenis-jenis lembaga sosial.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 82.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian mendiskusikan lembaga-lembaga sosial yang ada dalam masyarakat. Misalnya, menulis proses upacara perkawinan dan fungsi tahapan-tahapan dalam upacara perkawinan tersebut, bentuk kekerabatan, pembayaran mas  kawin, pola meneta sesudah perkawinan, serta susunan keluarga.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas. Guru bertindak sebagai pemandu diskusi kelas.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan atas diskusi siswa.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang jenis-jenis lembaga sosial dalam masyarakat. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk membuat laporan secara individu tentang proses perkawinan di daerahnya atau di lingkungan keluarganya. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa ditugaskan untuk mengerjakan soal-soal evaluasi dalam buku halaman 83-86.   (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

 

 

 

Pertemuan 3

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.     Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru mengumpulkan tugas para siswa.

  1. b.    Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud  diadakan ulangan blok.

  1. c.     Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat penjelasan dari guru tentang ulangan blok.

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendapatkan soal-soal ulangan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan soal-soal ulangan yang sudah dibagikan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya untuk diperiksa dan dinilai. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membahas  pertanyaan-pertanyaan yang telah dikerjakan oleh siswa dalam ulangan blok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mempelajari bahan yang telah dijadikan ulangan blok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Disiplin , Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan,  Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

  1.     E.          Sumber pembelajaran:

½  Buku Sosiologi SMA kelas 3 ESIS  halaman 57 – 86.

½  LKS  Sosiologi SMA  kelas XII semester 1 Intan Pariwara

½  Pengalaman siswa tentang perubahan sosial

½  Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

  1.     F.          Media

½  Papan tulis

½  Alat-alat tulis

½  Lembar soal

½  Transparan Konsep

½  Power Point

½  LCD

  1.    G.          Penilaian

½  Hasil pekerjaan siswa dari ulangan blok dari halaman 83-86.

½  Laporan siswa tentang lembaga perkawinan.

½  Diskusi kelompok dalam buku halaman 82.

 

 

 

 

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

 

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

 

 

               

 

Keterangan: nilai maksimal 20

 

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

 

 

 

             

 

Aspek yang dinilai:

½  Kemampuan menyampaikan pendapat.

½  Kemampuan memberikan argumentasi.

½  Kemampuan memberikan kritik.

½  Kemampuan mengajukan pertanyaan.

½  Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.

½  Kelancaran berbicara.

 

Penskoran:                                                     Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                          24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                          18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                          12—17 = Cukup

D. Baik                          Skor 4                         6—11 = Kurang

E. Sangat Baik             Skor 5

 

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1              
2              
dst              

 

Keterangan:                                                                Rentang skor :

  1. Aktivitas dalam kelompok                  12—15                       = Sangat baik
  2. Tanggung jawab individu                    9—11              = Baik
  3. Pemikiran                                            6—8                = Cukup
  4. Keberanian berpendapat                    3—5                = Kurang
  5. Keberanian tampil

 

 

 

     
Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

 

Nama sekolah             : SMAN 2 Banjarbaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  XII / 2

Standar Kompetensi    : 2.     Mempraktekkan metode penelitian sosial

Kompetensi Dasar      :  2. 1.Merancang metode penelitian secara sederhana

Indikator Pencapaian Kompetensi      :

Ä  Mendeskripsikan proses berpikir dan penelitian

Ä  Menentukan topik atau judul penelitian.

Ä  Merumuskan rancangan penelitian secara sederhana. Misalnya, menentukan topik merumuskan masalah, dan memilih metode penelitian.

Alokasi Waktu        :  9 x 45 menit (3 X Pertemuan)

 

A.     Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

½  mendeskripsikan proses berpikir dan penelitian.

½  menentukan topik atau judul penelitian

½  merumuskan masalah penelitian

½  merumuskan rancangan penelitian sosial budaya

½  memilih metode penelitian

“ Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.

“ Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

B.      Materi Pembelajaran

½  Penelitian Sosial

 

C.      Metode Pembelajaran

½  informasi

½  kerja mandiri

½  tanya-jawab

½  eksplorasi

½  diskusi

½  ceramah

 

 

Strategi Pembelajaran

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Merancang metode penelitian sosial secara sederhana.
  • Secara kelompok mengidentifikasi kasus sosial budaya sebagai bahan penelitian.
  • Membuat latar belakang masalah
  • Mengidentifikasi maslaah
  • Membuat pembatasan masalah
  • Siswa dapat  Mendeskripsikan proses berpikir dan penelitian
  • Siswa dapat  Menentukan topik atau judul penelitian.
  • Siswa dapat  Merumuskan rancangan penelitian secara sederhana. Misalnya, menentukan topik merumuskan masalah, dan memilih metode penelitian

 

D.     Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan 1

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan tentang lembaga sosial.

  1. b.      Memotivasi

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran penelitian sosial.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan skema penelitian sosial.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang proses berpikir, dan rancangan penelitian. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 106, dan 111. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa memberi tanggapan tertulis tentang hubungan karya seorang pengarang dengan keadaan sosial masyarakat. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok atau dengan kelompok yang lama. Siswa mendiskusikan penelitian seseorang tentang kecenderungan anak-anak menggunakan waktu luangnya untuk bermain playstation. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan atas hasil diskusi siswa. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama materi yang sudah dipelajari bersama tentang proses berpikir dan rancangan penelitian. Siswa mencatat beberapa hal yang penting. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengadakan post test tentang proses berpikir dan rancangan penelitian. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

Pertemuan 2

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu Keterangan

1.

Pendahuluan
  1. a.    Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan seputar proses berpikir dan rancangan penelitian.

  1. b.    Memotivasi

Siswa menyebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilik topik atau judul, merumuskan masalah, memilih sampel, dan syarat-syarat data yang baik..

  1. c.     Rambu-rambu belajar

Guru memberi tahu cara menentukan topik yang baik, merumuskan masalah, memilih sampel, dan memilih data.

3 x 45

menit

 

2.

Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang menentukan topik, merumuskan pertanyaan masalah, memilih sampel penelitian dan data. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian menentukan topik atau judul penelitian, lalu merumuskan masalah, menentukan sampel penelitian, dan memperkirakan data yang akan diperoleh. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas. Guru bertindak sebagai pemandu diskusi kelas. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 121. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

3.

Kegiatan Akhir

“  Siswa diberi tugas untuk membuat penelitian sendiri, merumuskan masalah, dan merancang penelitian. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa ditugaskan untuk mengerjakan soal-soal evaluasi dalam buku halaman 122-126.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

Pertemuan 3

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.  Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru mengumpulkan tugas para siswa.

  1. b.  Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud  diadakan ulangan blok.

  1. c.   Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat penjelasan dari guru tentang ulangan blok.

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendapatkan soal-soal ulangan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan soal-soal ulangan yang sudah dibagikan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya untuk diperiksa dan dinilai. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,)

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membahas  pertanyaan-pertanyaan yang telah dikerjakan oleh siswa dalam ulangan blok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mempelajari bahan yang telah dijadikan ulangan blok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

E. Sumber pembelajaran:

½  Buku Sosiologi SMA kelas 3 ESIS  halaman 88-126.

½  Pengalaman siswa tentang penelitian sosial

½  Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

F. Media

½  Papan tulis

½  Alat-alat tulis

½  Lembar soal

½  Power Point

½  LCD

G.Penilaian

½  Hasil pekerjaan siswa dari ulangan blok dari halaman 122-126

½  Laporan siswa tentang hasil penelitian sederhana

 

 

Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

   

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Nama sekolah             : SMAN 2 Banjarbaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  XII / 2

Standar Kompetensi    : 2.     Mempraktekkan metode penelitian

Kompetensi Dasar      :  2. 2.Melakukan penelitian sosial secara sederhana.

Indikator Pencapaian Kompetensi      :

  • Menjelaskan arti pengumpulan data
  • Menjelaskan cara-cara pengumpulan data
  • Melaksanakan penelitian secara sederhana
  • Mendeskrispsikan jenis hubungan data

Alokasi Waktu        :  6 x 45 menit (2 X Pertemuan)

 

A.   Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

½  menjelaskan arti pengumpulan data penelitian

½  menggunakan angket atau kuesioner

½  melakukan observasi

½  melakukan wawancara

“ Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.

“ Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   :  

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

B.   Materi Pembelajaran

½  Pegumpulan data

 

C.   Metode Pembelajaran

½  informasi

½  kerja mandiri

½  tanya-jawab

½  eksplorasi

½  diskusi

½  ceramah

 

 

Strategi Pembelajaran

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Melakukan penelitian sosial.
  • Secara kelompok merumuskan rancangan penelitian, metode, mengumpulkan dan pengolahan data hasil penelitian sosial.
  • Memberi tangggapan atas suatu kasus.
  • Membuat laporan kepustakaan, angket, observasi, dan wawancara.
  • Secara individu melakukan pengolahan data.
  • Secara kelompok merumuskan tahap-tahap pengolahan data.
  • Siswa dapat  Menjelaskan arti pengumpulan data
  • Siswa dapat  Menjelaskan cara-cara pengumpulan data.
  • Siswa dapat  Melaksanakan penelitian secara sederhana.
  • Siswa dapat  Menjelaskan tahap-tahap pengolahan data, pengorganisasian data.
  • Siswa dapat  Mendeskrispsikan jenis hubungan data.

 

D.   Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan 1

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan tentang penelitian sosial dan mengumpulkan tugas.

  1. b.      Memotivasi

Guru menjelaskan metode pengumpulan data.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan skema pengumpulan data.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian pengumpulan data, studi kepustakaan, angket, observasi, dan wawancara. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru bertanya jawab tentang penelitian. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa membuat ikhtisar tentang metode kepustakaan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membuat angket untuk mengumpulkan data. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan tugasnya kepada guru untuk dinilai. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan singkat tentang ikhtisar dan angket yang dibuat siswa. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang materi yang sudah dipelajari yaitu metode pengumpulan data dengan studi kepustakaan dan angket. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengadakan post test tentang metode pengumpulan data dengan studi kepustakaan dan angket dari buku halaman 133. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

Pertemuan 2

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.   Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan seputar pengumpulan data.

  1. b.   Memotivasi

Siswa menyebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi dan wawancara.

  1. c.    Rambu-rambu belajar

Guru memberi tahu cara observasi dan wawancara.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang observasi dan wawancara. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa membuat daftar observasi sesuai dengan topik yang telah dipilih. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dasri buku halaman 138. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian mendiskusikan kasus yang ada dalam buku halaman 139. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas dan guru bertindak sebagai pemandu diskusi klasikal. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan atas hasil diskusi siswa. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.)

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang metode observasi dan wawancara. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan soal evaluasi untuk persiapan ulangan blok dalam buku halaman 141-144.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

E.    Sumber pembelajaran:

½  Buku Sosiologi SMA kelas 3 ESIS  halaman 128-144

½  LKS  Sosiologi SMA  kelas XII semester 2 Intan Pariwara

½  Pengalaman siswa tentang melakukan studi pustaka, membuat angket, observasi dan wawancara.

½  Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

 

F.    Media

½  Papan tulis

½  Alat-alat tulis

½  Lembar soal

½  Transparan Konsep

½  Power Point

½  LCD

 

G.   Penilaian

½  Hasil pekerjaan siswa dari ulangan blok dari halaman 122-126

½  Laporan siswa tentang hasil observasi dan wawancara.

½  Diskusi kelompok dalam buku halaman 139.

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

 

 

 

 

 

               

 

 

 

Keterangan: nilai maksimal 20

 

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

 

 

 

             

 

Aspek yang dinilai:

½  Kemampuan menyampaikan pendapat.

½  Kemampuan memberikan argumentasi.

½  Kemampuan memberikan kritik.

½  Kemampuan mengajukan pertanyaan.

½  Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.

½  Kelancaran berbicara.

 

Penskoran:                                                     Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                          24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                          18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                          12—17 = Cukup

D. Baik                           Skor 4                                    6—11 = Kurang

E. Sangat Baik             Skor 5

 

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1              
2              
dst              

 

Keterangan:                                                                Rentang skor :

  1. Aktivitas dalam kelompok                  12—15                       = Sangat baik
  2. Tanggung jawab individu                    9—11              = Baik
  3. Pemikiran                                            6—8                = Cukup
  4. Keberanian berpendapat                    3—5                = Kurang
  5. Keberanian tampil

 

 

     
Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Nama sekolah             :  SMAN 2 Banjarbaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  XII / 2

Standar Kompetensi    : 2.     Mempraktekkan metode penelitian

Kompetensi Dasar      :  2. 2.Melakukan penelitian sosial secara sederhana.

Indikator Pencapaian Kompetensi      :

  • Menjelaskan arti pengumpulan data
  • Menjelaskan cara-cara pengumpulan data
  • Melaksanakan penelitian secara sederhana
  • Menjelaskan tahap-tahap pengolahan data, pengorganisasian data.
  • Mendeskrispsikan jenis hubungan data.

 

Alokasi Waktu        :  9 x 45 menit (3 X Pertemuan)

 

A.   Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

½  menjelaskan arti pengumpulan data penelitian

½  menggunakan angket atau kuesioner

½  melakukan observasi

½  melakukan wawancara

½  mendeskripsikan tahap-tahap pengolahan data

½  menjelaskan pengorganisasian data

½  menjelaskan pengolahan data

½  mendeskripsikan jenis hubungan data

“ Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.

“ Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

B.   Materi Pembelajaran

½  Pegumpulan data

½  Pengolahan data

C.   Metode Pembelajaran

½  informasi

½  kerja mandiri

½  tanya-jawab

½  eksplorasi

½  diskusi

½  ceramah

 

Strategi Pembelajaran

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Melakukan penelitian sosial.
  • Secara kelompok merumuskan rancangan penelitian, metode, mengumpulkan dan pengolahan data hasil penelitian sosial.
  • Memberi tangggapan atas suatu kasus.
  • Membuat laporan kepustakaan, angket, observasi, dan wawancara.
  • Secara individu melakukan pengolahan data.
  • Secara kelompok merumuskan tahap-tahap pengolahan data.
  • Siswa dapat  Menjelaskan arti pengumpulan data
  • Siswa dapat  Menjelaskan cara-cara pengumpulan data.
  • Siswa dapat  Melaksanakan penelitian secara sederhana.
  • Siswa dapat  Menjelaskan tahap-tahap pengolahan data, pengorganisasian data.
  • Siswa dapat  Mendeskrispsikan jenis hubungan data.

 

D.   Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan 1

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan tentang penelitian sosial dan mengumpulkan tugas.

  1. b.      Memotivasi

Guru menjelaskan metode pengumpulan data.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan skema pengumpulan data.

 

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian pengumpulan data, studi kepustakaan, angket, observasi, dan wawancara. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru bertanya jawab tentang penelitian. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membuat ikhtisar tentang metode kepustakaan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membuat angket untuk mengumpulkan data. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengumpulkan tugasnya kepada guru untuk dinilai. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan singkat tentang ikhtisar dan angket yang dibuat siswa. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang materi yang sudah dipelajari yaitu metode pengumpulan data dengan studi kepustakaan dan angket. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengadakan post test tentang metode pengumpulan data dengan studi kepustakaan dan angket dari buku halaman 133. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

 

Pertemuan 2

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu Keterangan
1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan seputar pengumpulan data.

  1. b.     Memotivasi

Siswa menyebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi dan wawancara.

  1. c.      Rambu-rambu belajar

Guru memberi tahu cara observasi dan wawancara.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang observasi dan wawancara. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa membuat daftar observasi sesuai dengan topik yang telah dipilih. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dasri buku halaman 138. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kemudian mendiskusikan kasus yang ada dalam buku halaman 139. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa membacakan hasil diskusinya di depan kelas dan guru bertindak sebagai pemandu diskusi klasikal. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat kesimpulan atas hasil diskusi siswa. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang metode observasi dan wawancara. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan soal evaluasi untuk persiapan ulangan blok dalam buku halaman 141-144.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

Pertemuan 3

 

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan seputar pengumpulan data.

  1. b.      Memotivasi

Siswa menyebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan pengolahan data seperti editing, coding.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Guru memberi tahu cara mengolah data yang baik.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang tahap-tahap mengolah data, mengorganisasi data, mengolah data, dan jenis hubungan data.

“  Siswa mempersiapkan analisis data seperti editing dan pengkodean. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa melakukan pengorganisasian data yang telah diediting dan diberi kode.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa siswa mengolah data dengan menggunakan cara pengolahan data statistik ataupun nonstatistik.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 151 dan 166.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang materi yang baru saja dijelaskan oleh guru. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Guru memberi post test tentang materi pengolahan data. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengerjakan soal evaluasi dari buku halaman 167- 170.  (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   

 

E.    Sumber pembelajaran:

½  Buku Sosiologi SMA kelas 3 ESIS  halaman 128-170.

½  LKS  Sosiologi SMA  kelas XII semester 2 Intan Pariwara

½  Pengalaman siswa tentang melakukan studi pustaka, membuat angket, observasi dan wawancara.

½  Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

 

F.    Media

½  Papan tulis

½  Alat-alat tulis

½  Lembar soal

½  Transparan Konsep

½  Power Point

½  LCD

G.   Penilaian

½  Hasil pekerjaan siswa dari ulangan blok dari halaman 122-126

½  Laporan siswa tentang hasil observasi dan wawancara.

½  Hasil pengolahan data dari siswa.

½  Diskusi kelompok dalam buku halaman 139.

½  Tugas LKS

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

               

 

Keterangan: nilai maksimal 20

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

 

             

 

Aspek yang dinilai:

½  Kemampuan menyampaikan pendapat.

½  Kemampuan memberikan argumentasi.

½  Kemampuan memberikan kritik.

½  Kemampuan mengajukan pertanyaan.

½  Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.

½  Kelancaran berbicara.

Penskoran:                                                     Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                          24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                          18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                          12—17 = Cukup

D. Baik                           Skor 4                                    6—11 = Kurang

E. Sangat Baik             Skor 5

 

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

 

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1              
2              
dst              

Keterangan:                                                                Rentang skor :

½  Aktivitas dalam kelompok                              12—15                       = Sangat baik

½  Tanggung jawab individu                               9—11              = Baik

½  Pemikiran                                                       6—8                = Cukup

½  Keberanian berpendapat                               3—5                = Kurang

½  Keberanian tampil

     
Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Nama sekolah             :  SMAN 2 Banjarbaru

Mata Pelajaran           : Sosiologi

Kelas/semester           :  XII / 2

Standar Kompetensi    : 2.     Mempraktekkan metode penelitian

Kompetensi Dasar      :  2. 3. Mengkomunikasikan hasil penelitian sosial secara

sederhana.

Indikator Pencapaian Kompetensi      :

  • Membuat laporan peneliltian sosial secara sederhana.
  • Mempresentasikan hasil penelitian sosial secara sederhana.

 

Alokasi Waktu        :  6 x 45 menit (2 X Pertemuan)

 

A.   Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:

½  Menyusun garis besar laporan

½  Menyusun hasil penelitian

½  Membuat laporan penelitian

½  Mempresentasikan hasil penelitian

“ Karakter siswa yang diharapkan  : 

  • Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.

“ Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif   : 

  • Kepemimpinan, Percaya diri, Berorientasi Tugas dan Hasil, Jujur, Ulet.

 

B.   Materi Pembelajaran

½  Penulisan Laporan Penelitian

 

C.   Metode Pembelajaran

½  informasi

½  kerja mandiri

½  tanya-jawab

½  eksplorasi

½  diskusi

½  ceramah

 

 

Strategi Pembelajaran

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Mengkomunikasikan hasil penelitian secara sederhana
  • Secara kelompok membuat laporan penelitian.
  • Secara kelompok mempresentasikan laporan hasil penelitian.
  • Siswa dapat  Membuat laporan peneliltian sosial secara sederhana.
  • Siswa dapat  Mempresentasikan hasil penelitian sosial secara sederhana.

D.   Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan 1

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.      Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran. Kemudian, guru menanyakan beberapa pertanyaan tentang pengolahan data.

  1. b.      Memotivasi

Guru menjelaskan metode penulisan laporan hasil penelitian.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa memperhatikan skema penulisan laporan penelitian.

3 x 45

menit

 
2.
Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang menyusun garis besar laporan penelitian, menyusun hasil penelitian, merumuskan kesimpulan dan melakukan diskusi sebelum menampilkan laporan.

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa membuat susunan secara garis besar laporan penelitian berdasarkan data yang sudah diolah.

“  Siswa secara berkelompok menyusun hasil penelitian dalam bentuk laporan.

“  Siswa secara berkelompok membuat kesimpulan dari hasil penelitian.

“  Siswa mengerjakan tugas ”Uji Penguasaan Materi” dalam buku halaman 177 – 181.

“  Siswa secara berkelompok membacakan laporan hasil penelitian di depan kelas. Beberapa siswa dipilih sebagai presenter, moderator, penanggap, dan notulen.

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3.
Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membuat rangkuman bersama tentang penulisan laporan penelitian.

“  Siswa mengerjakan soal-soal evaluasi dari buku halaman 182-184.

   

 

Pertemuan 2

No.

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu

Keterangan

1.
Pendahuluan
  1. a.       Apresepsi

Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran.

  1. b.      Memotivasi

Siswa mendengarkan maksud  diadakan ulangan blok.

  1. c.       Rambu-rambu belajar

Siswa mendapat penjelasan dari guru tentang ulangan blok.

3 x 45

menit

 
2. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

“  Siswa mendapatkan soal-soal ulangan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

“  Siswa mengerjakan soal-soal ulangan yang sudah dibagikan. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya untuk diperiksa dan dinilai. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

“  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Toleransi, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat kebangsaan, Bersahabat,);

“  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Cinta Tanah Air, Cinta Damai, Peduli social, Tanggung Jawab.);

 

   
3. Kegiatan Akhir

“  Siswa dan guru membahas  pertanyaan-pertanyaan yang telah dikerjakan oleh siswa dalam ulangan blok.(nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

“  Siswa diberi tugas untuk mempelajari bahan yang telah dijadikan ulangan blok. (nilai yang ditanamkan: Toleransi,  Rasa Ingin tahu, Bersahabat , Cinta Tanah Air , Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli social, Tanggung Jawab.);

   

 

 

E.    Sumber pembelajaran:

½  Buku Sosiologi SMA kelas 3 ESIS  halaman 172 –184.

½  Pengalaman siswa membuat laporan hasil penelitian

½  Media massa seperti majalah, koran, dan buku-buku tambahan.

F.    Media

½  Papan tulis

½  Alat-alat tulis

½  Lembar soal

½  Power Point

½  LCD

G.   Penilaian

½  Hasil pekerjaan siswa dari ulangan blok

½  Laporan hasil penelitian

½  Diskusi kelompok berdasarkan laporan hasil penelitian.

 

Berikut ini format penilaian diskusi kelompok.

No.

Nama

ASPEK PENILAIAN

Total nilai

Presentasi

Sikap

Keaktifan

Wawasan

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

 

 

 

   

 

 

 

 

           

 

Keterangan: nilai maksimal 20

 

LEMBAR OBSERVASI DISKUSI KELOMPOK

No

Nama Siswa

Aspek yang Dinilai

Skor/ Jumlah

1 2 3 4 5 6
   

 

 

 

             

 

Aspek yang dinilai:

½  Kemampuan menyampaikan pendapat.

½  Kemampuan memberikan argumentasi.

½  Kemampuan memberikan kritik.

½  Kemampuan mengajukan pertanyaan.

½  Kemampuan menggunakan bahasa yang baik.

½  Kelancaran berbicara.

 

Penskoran:                                                     Jumlah skor:

A. Tidak Baik               Skor 1                          24—30 = Sangat Baik

B. Kurang Baik            Skor 2                          18—23 = Baik

C. Cukup Baik              Skor 3                          12—17 = Cukup

D. Baik                           Skor 4                                    6—11 = Kurang

E. Sangat Baik             Skor 5

 

FORMAT PENILAIAN PROSES DISKUSI

No

Nama Siswa

Kriteria Penilaian

Jumlah Skor

1

2

3

4

5

1              
2              
dst              

 

Keterangan:                                                                Rentang skor :

  1. Aktivitas dalam kelompok                  12—15                       = Sangat baik
  2. Tanggung jawab individu                    9—11              = Baik
  3. Pemikiran                                            6—8                = Cukup
  4. Keberanian berpendapat                    3—5                = Kurang
  5. Keberanian tampil

 

Mengetahui,

Kepala SMAN 2 Banjarbaru

 

 

 

( Drs. H. Khairil Anwar,M.Pd)

 NIP. 19591205 198603 1 014

  Banjarbaru, 18 Juli  2011

Guru mapel Sosiologi

 

 

 

(Diana Andayani,S.Pd )

NIP.19771020 200701 2 020