Paradigma Penelitian Sosial

Standar

PARADIGMA PENELITIAN SOSIAL

K. B. Primasanti

Pada pohon pengetahuan ilmiah digambarkan bahwa posisi tertinggi dari susunan proses ilmu pengetahuan ditempati oleh ‘paradigma’. Sama ketika kita berjalan di bawah hujan, kita menggunakan payung untuk melindungi tubuh dan aktivitas kita demikian pula dalam penelitian, paradigma dianggap sebagai payung dari suatu kerja penelitian. Melalui sebuah paradigma, peneliti akan dapat memutuskan apakah penelitian yang akan dilakukan kuantitatif atau kualitatif. Namun, sebelum menentukan paradigma, peneliti hendaknya melihat ontology, yakni hakikat fenomena, dari objek yang diteliti. Apakah fenomena tersebut dipandang sebagai realitas tunggal atau realitas ganda. Realitas tunggal memisahkan satu fenomena dari realitas lain sehingga masing-masing dapat diteliti. Sedangkan realitas ganda maka realitas itu tidak bisa dibagi-bagi menjadi bagian yang terpisah satu dengan lainnya. Yang pertama dapat dilakukan menggunakan logika positivistik; sedangkan yang ke dua dapat dilakukan dengan logika fenomenologis (Kasiram, 2008: 125). Dari sisi pendekatan epistemologi, ragam pengetahuan yang kemudian menjadi paradigma dapat dibedakan melalui: ide-ide yang abstrak, benda fisik, jasad hidup, gejala ruhani, persistiwa sosial dan proses tanda. Kasmiran (2008: 126) merangkumnya dalam tabel berikut: Materi ilmu/ Pdkt Epistemologis Ide Abstrak Benda Fisik Jasad Hidup Gejala Rohani Peristiwa sosial Proses tanda Rasionalisme x x x Empirisme x x Rasionalisme Kristis x x x x x Positivisme x x x x x Konstruktivisme x x x x Fenomenologis x x x Pragmatisme x x x x x Historisme x x Objektivisme problem solving x x x x Hermeneutik x x Rahayu memilih mendefinisikan paradigma sebagai “ . . . a set of basic beliefs (or metaphysics) that deals with ultimate or first principles . . . a world view that defines, for its holder, the nature of the ‘world’ . . .” (Guba, dalam Denzin dan Lincoln, 1994; hal. 107). Guba dan Lincoln (1994) mengajukan tipologi yang mencakup 4 (empat) paradigma: Positivism, Postpositivism, Critical Theories et al., dan Constructivism, masing-masing dengan implikasi metodologi tersendiri. Tetapi sejumlah ilmuwan sosial lain melihat positivism dan postpositivism bisa disatukan sebagai classical paradigm karena dalam prakteknya implikasi metodologi keduanya tidak jauh berbeda. Karena itu pula, untuk kepentingan mempermudah bahasan tentang implikasi metodologi dari suatu paradigma, maka teori-teori dan penelitian ilmiah komunikasi cukup dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) paradigma, yakni: 1. classical paradigm (yang mencakup positivism dan postpositivism), 2. critical paradigm, dan 3. constructivism paradigm. Untuk melihat perbedaan paradigmatik dalam penelitian, berikut ini disajikan tabel berdasarkan empat dimensi dalam metafisik: Item Positivism Postpositivism Critical Constructivism Ontology Naïve realism-real Reality but apprehendable Critical realism “real” reality but only imperfectly and probabilistically apprehendable Historical realism virtual reality shaped by social, political, cultural, economic, ethnic, and gender values, crystallized over time Relativism local and specific constructed realities Epistemology Dualist/ objectivist finding true Modified dualist/objectivist, critical tradition/ communit, findings probably true Transactional/ subjectivist, value mediated findings Transactional/ subjectivist, created findings Methodology Experimental/ manipulative, verification of hypotheses, chiefly quantitative methods Modified experimental/ manipulative, critical multiplism, falsification of hypotheses, may include qualitative methods Dialogic/ dialectical Hermeneutical/ dialectical Klasik Konstruktivisme Kritis Menempatkan ilmu sosial seperti halnya ilmu-ilmu alam dan fisika, dan sebagai metode yang terorganisir untuk mengkombinasikan deductive logic dengan pengamatan empiris, guna secara probabilistik menemukan — atau mem-peroleh konfirmasi tentang – hukum sebab-akibat yang bisa dipergunakan mem-prediksi pola-pola umum gejala sosial tertentu. Memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap pelaku sosial dalam setting keseharian yang alamiah, agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang ber-sangkutan menciptakan dan memelihara/mengelola dunia sosial mereka. Mendefinisikan ilmu sosial sebagai suatu proses yang secara kritis berusaha meng-ungkap “the real structures” dibalik ilusi, false needs, yang dinampakkan dunia materi, dengan tujuan membantu membentuk suatu kesadaran sosial agar memperbaiki dan merobah kondisi kehidupan manusia Perbedaan antar paradigma juga bisa dibahas dari 4 (empat) dimensi, yakni: 1. Epistemologis, yang antara lain menyangkut asumsi mengenai hubungan antara peneliti dan yang diteliti dalam proses untuk memperoleh pengetahuan mengenai objek yang diteliti. Kesemuanya menyangkut teori pengetahuan (theory of knowledge) yang melekat dalam perspektif teori dan metodologi. 2. Ontologis, yang berkaitan dengan asumsi mengenai objek atau realitas sosial yang diteliti. 3. Metodologis, yang berisi asumsi-asumsi mengenai bagaimana cara memperoleh pengetahuan mengenai suatu objek pengetahuan. 4. Aksiologis, yang berkaitan dengan posisi value judgments, etika, dan pilihan moral peneliti dalam suatu penelitian. Paradigma positivism menganggap realitas itu sebagai sesuatu yang empiris atau benar-benar nyata dan dapat diobservasi. Dalam meneliti, peneliti dan obyek yang diteliti bersifat independen dan saling tidak berinteraksi. Cara menelitinya bisa dengan percobaan atau manipulasi sehingga dapat dikontrol obyektivitasnya. Paradigma Post Positivisme melihat realitas sebagai sesuatu yang tidak dapat diindera secara sempurna, hanya kemungkinan karena kelemahan manusia dan faktor lingkungan yang selalu berubah. Paradigma ini mensyaratkan keterlibatan subjektif dari peneliti untuk memudahkan memahami realitas subjektif sedekat mungkin. Paradigma konstruktivis menganggap kenyataan itu hanya bisa dipahami daam bentuk jamak, berupa konstruksi mental yang tidak dapat diindera. Berbasis sosial dan pengalaman yang bersifat lokal dan spesifik. Peneliti dan subjek peneliti terkait erat secara timbal balik sehingga penemuan dicipta seperti yang dikehendaki peneliti. Cara penelitian ini menggunakan teknik hermeneutic dan dibandingkan serta dilawankan dengan melalui tukar menukar bahasa daerah, sehingga terjaring konstruksi consensus yang lebih jelas. Sementara, paradigma kritis menganggap realitas sebagai kenyataan sejarah, terjadi pada masa lampau dan dibentuk oleh sekumpulan faktor: sosial, politik, ekonomi, budaya yang mengkristal dalam sejumlah struktur sebagai kenyataan alamiah dan tidak berubah. Peneliti dan yang diteliti dianggap berkaitan eraat timbale balik dan penilaian peneliti tidak dapat dielakkan mempengaruhi penemuan. Cara menelitinya dengan cara dialog antara peneliti dengan menggunakan bahasa yang saling dimengerti. Ke empat paradigma ini dapat digolongkan menjadi dua paradigma besar, yakni: paradigma ilmiah dan paradigma alamiah. Paradigma ilmiah bersumber pada positivistik; sedangkan paradigma alamiah bersumber pada fenomenologis. Sumber: Kasiram. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif. Malang: UIN-Malang Press. Rahayu. Diktat Mata Kuliah Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM.

PERSOALAN SOSIAL

K. B. Primasanti

Masalah sosial di sekitar kehidupan manusia sangat banyak dan beragam. Bahkan, setiap detik, berita melalui media menyiarkan persoalan sosial yang berbeda. Namun, memilih masalah sosial yang hendak diteliti adalah persoalan lain.Adabeberapa syarat untuk seorang peneliti mengangkat sebuah masalah sosial dalam kelayakan penelitian, yakni: berkaitan dengan teori atau praktik, peneliti memiliki pengetahuan yang memadai mengenai persoalan tersebut, dan ketrampilan perumusan masalah dalam penelitian. Untuk memenuhi kriteria ini, peneliti hendaknya terlebih dahulu memahami beberapa hal mengenai masalah penelitian, misalnya: definisi masalah penelitian, topik penelitian, sumber topik dan masalah penelitian, motivasi memilih masalah penelitian, pertimbangan memilih masalah penelitian, perumusan masalah, tipe masalah (deskriptif, korelasional, kausal, komparatif, multivariat. Dalam bab ini kita akan membahas beberapa hal tersebut.

Definisi Masalah Penelitian

Sekelompok masyarakat dari Desa Sukatani mengharapkan kesuksesan berkali-kali lipat ketika melakukan program transmigrasi. Namun, setelahlimatahun, mereka belum juga merasakan dampak dari transmigrasi seperti yang dijanjikan oleh pemerintah. Beberapa warga mendatangi kantor transmigrasi untuk berdemo. Dari cerita ini, ada ketidaksesuaian antara apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Silalahi (2009) menyebut masalah sebagai kondisi tidak sesuainya sesuatu yang ideal dengan aktualitasnya. Inilah yang disebut masalah. Namun, tidak semua masalah dapat dapat diteliti menggunakan metode penelitian sosial. Untuk menentukan sebuah masalah dapat diteliti dengan metode penelitian sosial maka perlu dipahami terlebih dahulu mengenai topic penelitian.

 

Topik Penelitian

Adabeberapa istilah yang digunakan untuk menggantikan istilah topik penelitian, misalnya: Focus study, research topic, research ideas, research issue, research problem. Topik penelitian adalah konsep utama yang dibahas dalam penelitian. Misalnya: anak jalanan, perceraian, pendidikan, dll. Topik penelitian konsep dari masalah penelitian yang dipikirkan peneliti. Topik menelitian hendaknya memiliki definisi baik secara formal maupun material. Merumuskan topik penelitian berfungsi untuk mengisi kekosongan penelitian. Misalnya, akhir-akhir ini marak disiarkan berita mengenai kelompok ‘bonek’ atau ‘bondo nekat’ namun belum ada satu kajian pun yang membahasnya. Maka, perumusan topik mengenai ‘bonek’ ini berguna untuk mengisi kekosongan penelitian. Selanjutnya, topik penelitian juga dimaksudkan untuk replikasi, atau mengulang meneliti topik yang pernah diteliti sebelumnya, memperluas, dan mengembangkan ide-ide baru. Sebuah topik penelitian yang baik memenuhi kriteria sebagai berikut: Researchable (dapat diteliti, waktu tertentu, sumber, data?), topic menarik perhatian pribadi peneliti, berguna secara teoritis, mungkin untuk diterbitkan, memiliki tujuan praktis. Silalahi, Ulber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Refika Aditama

Pengantar Metode Penelitian Sosial

K. B. Primasanti

Metode penelitian sosial merupakan subjek yang sangat luas. Pembahasan mengenai subjek ini akan diawali dengan memberikan gambaran mengenai metode penelitian sosial. Kemudian, sedikit mengulang mengenai logika berpikir ilmiah menjadi baik sebagai dasar pemahaman metode-metode dalam riset sosial. Logika berpikir ilmiah diaplikasikan dalam diskusi mengenai problem sosial. Diskusi yang terakhir dalam bab ini dimaksudkan sebagai stimulan untuk memasuki pembahasan mengenai permasalahan sosial pada pertemuan berikutnya.

Dalam arti yang sederhana, penelitian adalah cara untuk melakukan penemuan jawaban atas sebuah pertanyaan (Neumann, 2000: 2). Penelitian sosial adalah salah satu tipe penelitian yang dikerjakan oleh para sosiolog, ilmuwan sosial, dll untuk mencari jawaban mengenaia dunia sosial (social world) (Neumann,, 2000: 2). Neumann mengatakan, ”Social research is a collection of methods people use systematically to produce knowledge. …It is a more structured, organized, and systematic process than the alternative” (2000: 2). Penelitian sosial pada dasarnya adalah aktivitas mencari, mengolah, dan menemukan pengetahuan dari pengamatan di lapangan yang dilakukan menurut aturan-aturan tertentu dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hal ini tentu berbeda dengan wawancara seorang wartawan dengan selebriti atau tokoh politik. Penelitian sosial mensyaratkan keteraturan, kecermatan (accurate), handal (reliable), dan sahih (valid). Syarat ini diwujudkan dengan harus adanya sebuah ‘metode’ tertentu dalam melakukan penelitian sosial. Seperti yang dikatakan Arnold M Rose (1965 dalam Suyanto (ed.), 2005: iii), “…karena fakta-fakta sosial tidak tergeletak dan sudah siap dipakai begitu saja, tinggal menunggu untuk diambil. Tetapi fakta-fakta sosial itu harus dibuka dari ‘kulit pembungkus’ kenyataan yang sepintas tampak, harus diamati dalam suatu kerangka acuan yang spesifik, harus diukur dengean tepat, dan harus diamati pula pada suatu fakta yang dapat dikaitkan dengan fakta-fakta lain yang releevan”.

Metode penelitian sosial selalu mengalami perubahan. Pada awalnya, metode penelitian dilakukan dengan pendekatan positivistik (empiris). Pendekatan ini mengasumsikan bahwa suatu gejala hanya boleh dinilai “betul” (true ), bukan “benar” (right), jika gejala itu dapat dilihat oleh mata, dapat diamati, dapat diukur (Suyanto (ed.), 2005: iv). Pandangan dunia positivistik adalah sebagai berikut: objektif (bebas nilai), fenomenalisme (semesta yang teramati), reduksionisme (semesta direduksi menjadi fakta yang dapat diamati), naturalism (semesta adalah objek mekanis). (Bungin, 2006: 10). Namun, karena karakternya ini, pendekatan positivistik membuat penelitian hanya menghasilkan fakta-fakta empiris yang otomatis mereduksi kekayaan pengalaman manusia. Bungin menyebut, prinsip bebas nilai positivistik membuat ilmuan menjadi robot-robot tak berperasaan. Beberapa kelemahan ini membuat pendekatan positivistik lama-lama dimodifikasi, bahkan ditinggalkan manakala ditemukan bahwa tidak semua gejala sosial dapat diukur dan diamati secara empiris. Demikian muncullah pendekatan penelitian yang bersifat fenomenologis. Pendekatan ini memberikan ruang kepada peneliti sosial untuk tidak sekadar mengobservasi fakta-fakta anorganik tetapi gejala-gejala yang mengandalkan intuitive insight untuk memahami objek kajian sosial.

Penelitian sosial bertujuan untuk mengungkap dan memahami realitas sosial. Dalam hal ini, peran metode penelitian sosial bukan sebagai objek atau ideologi ditentukan pada awal penelitian melainkan sebagai alat atau cara untuk melakukan penelitian. Hal ini berarti metode penelitian selalu mengikuti objek atau ide penelitian, bukan sebaliknya. Terkadang, peneliti yang memiliki kecenderungan menggunakan metode tertentu akan menentukan metode terlebih dahulu barulah mencari objek penelitiannya. Dengan mengenal hakikat metode penelitian sosial ini diharapkan dapat membantu memahami berbagai konsep hingga aplikasi penelitian sosial.  Bagian selanjutnya akan membantu mengingatkan mengenai logika berpikir ilmiah sebagai dasar melakukan penelitian sosial.

Logika Berpikir Ilmiah

Keasyikan dalam melakukan penelitian sosial dapat dirasakan ketika peneliti telah memahami logika berpikir ilmiah. Pada dasarnya, logika berpikir ilmiah merupakan seperangkat pengetahuan untuk mencapai suatu kebenaran yang sahih dan handal. Berpikir ilmiah bertolak dari pemikiran Rene Descartes dengan slogannya Cogito ergo Sum, “Saya berpikir maka saya ada”.  Dalam perkembangannya, hasil dari berpikir ilmiah atau scientific knowledge dicirikan oleh sistematika, relative, koheren, heuristic (pengertian yang terbuka), kausal, netral atau tidak emosional (Suyanto (ed.), 2005: 3).

Dalam Buku Metode Penelitian sosial (Suyanto (ed.), 2005: 4), berpikir secara ilmiah dapat dilakukan secara formal dan material. Berpikir formal adalah berpikir yang mendasarkan premis-premis dari bentuk pengertian (aspek eksternal). Kesimpulan atau putusannya disasarkan pada hubungan bentuk (formal) pada aspek eksternalnya saja, dan bukan pada aspek isinya (aspek internal. Sedangkan berpikir secara material adalah berpikir yang mendasarkan premis-premis dari bentuk pengertian (aspek internal). Kesimpulan atau keputusan diperoleh melalui hubungan antara isi pengertian pada aspek internalnya, dan bukan pada aspek eksternalnya. Dua bentuk cara berpikir ini kemudian melahirkan kebenaran formal dan kebenaran material. Keduanya dapat menjadi hasil dari sebuah penelitian sosial.

Selain memahami bentuk-bentuk pemikiran, untuk dapat memahami logika berpikir ilmiah hendaknya memahami pola umum dalam berpikir, yakni deduktif dan induktif. Proses berpikir deduktif merupakan proses berpikir dari hal-hal yang umum menuju hal-hal yang khusus. Sedangkan proses berpikir induktif adalah proses berpikir dengan menggunakan premis-premis khusus menuju ke premis umum. Dasar pola berpikir iduktif ini adalah observasi. Pemikiran ilmiah menggunakan kedua pola ini secara bolak balik dan terus menerus. Pola-pola dalam logika berpikir ini menentukan terjadinya sebuah pohon pengetahuan yang terdiri dari akar (realitas) hingga puncak pohon (paradigma). Berikut akan dijelaskan setiap bagian yang membentuk pohon pengetahuan ilmiah (Suyanto (ed.), 2005: 8).

  1. Realitas, yakni materi dasar, ide, fakta
  2. Gejala, yakni apa saja yang ditangkap manusia
  3. Tanda, manusia memberi tanda terhadap gejala itu
  4. Symbol, manusia memberikan makna, arti, nilai sehingga memunculkan sebuah istilah
  5. Istilah, kata untuk menggambarkan symbol itu
  6. Pengertian, pemberian makna atau arti pada istilah
  7. Pemberian nilai dan norma, pemberian arti yang lebih subjektif dan bermakna khusus
  8. Konstruk, membangun suatu pengertian yang lebih menyeluruh dan terorganisasi
  9. Konsep, pengertian yang lebih menyeluruh dengan batas-batas yang jelas
  10. Preposisi, kumpulan beberapa konsep dengan pengertian tertentu dan utuh
  11. Argumentasi, kumpulan beberapa proposisi dengan pola berpikir khusus
  12. Hipotesis, teori yang kebenarannya belum seluruhnya terbuktikan
  13. Teori, pernyataan yang telah terbuktikan
  14. Dalil, teori yang kebenarannya sangat luas dan terbukan dalam waktu yang lama
  15. Aksioma, teori yang kebenarannya tak terbantahkan lagi dan dapat dikatakan universal
  16. Paradigma, suatu konsep yang paling umum dan terdalam untuk melihat dan memahami realitas

Untuk melihat suatu model proses keilmuan, dapat meminjam pandangan klasik dari Walter Wallace:

  1. Ilmu memiliki komponen utama yaitu teori, hipotesis, data dan generalisasi
  2. Proses keilmuan bergerak dari teori ke hipotesis, ke data dan generalisasi
  3. Proses induksi akan berakhir pada keinginan untuk melakukan suatu generalisasi
  4. Proses keilmuan akan menghasilkan suatu “teori baru”

Dalam proses keilmuan di atas, formula logika ilmu adalah apa yang disebut sebagai logicohipotetico-verifikatif (Suyanto (ed.), 2005: 11-13). Pernyataan ini meringkas proses keilmuan sebagai proses pembuktian hipotesis. Tampaknya pembuatan dan pemunculan hipotesis sangat penting dalam ilmu, dan kemudian hipotesis diverifikasi/ dibuktikan dalam penelitian di lapangan. Logika ini merupakan langkah-langkah yang harus memenuhi prosedural seperti:

  1. Perumusan masalah
  2. Penyusunan kerangka berpikir
  3. Penyusunan hipotesis
  4. Pengujian hipotesis
  5. Penarikan kesimpulan

Logika keilmuan lain yang juga digunakan dalam penelitian ilmiah adalah deduct-inducto-hypotetico-verifikatif . Menurut logika berpikir ini, proses berpikir ilmiah dalam ilmu ialah melalui proses:

  1. Deduksi
  2. Induksi
  3. Penyusunan hipotesis
  4. Pembuktian hipotesis/ verifikasi

Khusus dalam logika penelitian sosial, Neumann mengajukan beberapa langkah yang harus ditempuh dalam mengerjakan riset sosial, yakni (2000: 11):

  1. Topic selection
  2. Focus research question
  3. Carry out the specific study of research project (design study)
  4. Gather data or evidence
  5. Analyze the data
  6. Interpret the data
  7. Inform others

Melakukan langkah-langkah di atas tidak lantas menjadi jaminan keabsahan dan kevalidan ilmu.  Dalam logika ilmu pun dijumpai materi tentang kesesatan berpikir (fallacia/ fallacy) yaitu suatu proses berpikir yang menghasilkan putusan akal atau kesimpulan yag pasti salah atau keliru. Beberapa sumber yang mendatangkan kesesatan itu adalah: bahasa, hal yang tidak relevan, konsep dan proporsisi, procausal non causal , definisi dan komposisi, asas petition-principii¸ asas ignorantio-elenchi. Dengan demikian, berpikir ilmiah tampak nyata memiliki sifat yang heuristik, yang bermakna terbuka, fleksibel terhadap pembaharuan, dan didasari dengan pola berpikir yang rasional, kritis, fundamental, bebas nilai.

Dengan memahami pengantar metode penelitian sosial serta logika berpikir ilmiah sebagai dasarnya disimpulkan bahwa suatu riset sosial sangat diperlukan mengingat banyaknya problem dalam berbagai aspek kehidupan. Neumann mengatakan, “Social research can be used to raise children, reduce crime, improve public health, sell product, or just understand one’s life” (2000:1). Pengenalan ini menjadi dasar untuk menapaki proses selanjutnya yakni mengenai problem dalam penelitian sosial.

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI – UNIVERSITAS KRISTEN PETRA

DESKRIPSI MATA KULIAH

NOVAK                                 :

MATA KULIAH                   : METODE PENELITIAN SOSIAL

BEBAN KREDIT                   : 3 SKS

DESKRIPSI DOSEN PENGAMPU

NAMA                                   : K. B. PRIMASANTI, SIP

RUANG KERJA                    : C 106

EXT/ EMAIL                         : 3048/ primasanti@peter.petra.ac.id

 

DESKRIPSI MATA KULIAH

Perkuliahan metodologi penelitian sosial bertujuan memberi gambaran, penguasaan pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa tentang permasalahan sosial dan berbagai pendekatan metodologi riset yang digunakan untuk melakukan penelitian terhadapnya. Pendekatan metodologis dimaksud pula untuk membantu mahasiswa memahami bagaimana menggunakan pendekatan metode riset baik kualitatif maupun kuantitatif, berbagai metode pengumpulan data, dan berbagai metode analisis data, serta memberi pengetahuan tentang bagaimana melakukan penelitian dan membuat laporan penelitian yang baik.

KOMPETENSI YANG HENDAK DICAPAI

  1. a. Standar Kompetensi

Mahasiswa memahami metode penelitian sosial dan memiliki ketrampilan menggunakan metode penelitian sosial tersebut dalam berbagai kasus.

  1. b. Kompetensi Dasar dan Indikator
  2. Penguasaan konseptual teoritik mengenai metode penelitian sosial
  3. Kemampuan berpikir komprehensif dalam mencermati fenomena sosial dan dituagkan dalam rencana penelitian sosial
  4. Aplikasi berbagai metode dalam penelitian sosial
  5. Menggunakan metode penelitian sosial secara kontekstual

MATERI POKOK

Materi pokok yang disajikan dalam perkuliahan ini adalah:

  1. Pengenalan metodologi penelitian sosial
  2. Permasalahan sosial dan ruang lingkup penelitian
  3. Metode penelitian sosial
  4. Ketrampilan melakukan penelitian sosial

LITERATUR

Baker, Therese L. 1998. Doing Social Research.Singapore: McGraw-Hill

Bryman, Alan. 2004. Social Research Methods. New York:Oxford

Mulyana, Deddy., Solatun. 2007. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Newmann, Lawrence. Quantitative and Qualitative Social Research.

Panneerselvam, R. 2004. Research Methodology.New Delhi: Prentice-Hall.

Singarimbun, Masri., Effendi, Sofian. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta: Pt Pustaka LP3ES

Usman, Husaini., Akbar, Purnomo Setiady. 2008. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara

Suyanto, Bagong., Sutinah, et. al. 2008. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Kencana

METODE PEMBELAJARAN

Metode yang akan digunakan dalam mata kuliah ini adalah:

  1. Seminar kelas
  2. Diskusi dalam kelas
  3. Penulisan makalah/ resume
  4. Proyek lapangan

EVALUASI

Taksonomi Bloom

Komposisi Nilai

Setiap unit evaluasi akan dinilai dengan menggunakan kriteria penilaian tertentu yang disebut rubrik (terlampir).

Unsur Penilaian Presentase
Paper summary dari MPS 5 %
Paper topic penelitian sosial 5%
Tugas 1 (menyesuaikan) 10%
Tugas 2 (menyesuaikan) 10%
UTS (ujian tertulis) 25%
UAS (field project and presentation) 45%
Jumlah 100%

Kehadiran/ Partisipasi

Mengingat materi perkuliahan yang berkesinambungan dan membutuhkan partisipasi aktif para peserta baik individual maupun kelompok, kehadiran mahasiswa dalam setiap pertemuan sangatlah penting. Presentasi kehadiran ini akan berpengaruh pada diperbolehkan atau tidak mahasiswa mengikuti ujian dalam mata kuliah ini.

Jumlah Absensi Nilai Kehadiran
0 kali
1 kali
2 kali
3 kali
4 kali
5 kali
10 %
8 %
6 %
4 %
2 %
0 % dan Tidak boleh mengikuti ujian

KOMITMEN KELAS

  1. Mahasiswa berkomitmen untuk mengikuti perkuliahan dengan sungguh-sungguh
  2. Bersedia melaporkan segala bentuk persoalan yang menghambat perkuliahan
  3. Menaati aturan pengumpulan tugas sesuai kesepakatan bersama
  4. Mahasiswa TIDAK DIPERKENANKAN mengikuti aktivitas perkuliahan, tugas, dan ujian jika:
  • Terlambat hadir lebih dari 30 menit untuk tes dan ujian.
  • Memakai sandal (sepatu atau sandal sepatu diperbolehkan)
  • Tidak berpakaian sebagaimana ketentuan perkuliahan yang berlaku di UK Petra.
  1. Mahasiswa TIDAK DIPERKENANKAN mengikuti UAS jika kehadiran kurang dari 75% pertemuan matakuliah.
  2. Kecurangan dalam bentuk apa pun ketika tes dan ujian menyebabkan mahasiswa secara langsung memperoleh Nilai E.
  3. Pada saat perkuliahan berlangsung, handphone harus disilent atau dimatikan agar tidak mengganggu perkuliahan.
  4. Sesi-sesi perkuliahan menyesuaikan jadwal dalam kalender akademik dan situasi terkini (jika ada libur nasional, maka diadakan diskusi kelas untuk memutuskan pengganti kuliah)
  5. Toleransi keterlambatan 20 menit, selebihnya diperbolehkan masuk tetapi absen (tidak tanda tangan kehadiran)
  6. PRS 1, 2, 3 dihitung sebagai absen
  7. Suratijin kepanitiaan dansuratijin sakit dihitung absen dengan keterangan I (dengan memperhatikan prestasi kehadiran di kelas) atau diterima dengan tugas pengganti kehadiran.
  8. Tidak ada ujian susulan, kecuali bagi yang sakit dengansuratijin dokter mendapat ujian pengganti.
  9. Peraturan lainnya yang muncul saat perkuliahan berlangsung akan didiskusikan dalam kelas.

 

RENCANA PERKULIAHAN

SESI KOMPETENSI DASAR MATERI KEGIATAN KELAS TAGIHAN BOBOT NILAI
1 Pengenalan MetodoPenelitian Sosial 1.  Pengantar Metode Penelitian Sosial

2.  Logika Berpikir Ilmiah

3.  Problem sosial dan problem teoritik dalam penelitian

Seminar kelas Rangkuman mengenai Metode Penelitian Sosial 5%
2 Permasalahan sosial dan ruang lingkup penelitian 1.  permasalahan sosial

2.  ruang lingkup penelitian

Seminar kelas

Diskusi

Dapat mengungkap tema-tema sosial yang dapat diteliti 5%
3 Metodole Penelitian Sosial Paradigma, teori-teori sosial, dan ragam metode penelitian sosial Seminar kelas Pembagian kelompok kelas: menghasilkan sebuah topik penelitian yang akan dikerjakan  
4 Metodole Penelitian Sosial (Kuantitatif) 1.  Pendekatan dan Metode Penelitian Kuantitatif

2.  Desain penelitian kuantitatif

Seminar kelas Rangkuman mengenai metode penelitian kuantitaitf  
5 Ketrampilan dalam penelitian sosial (Kuantitatif) 1.  penelitian kuantitatif

2.  Metrik instrument penelitian kuantitatif

3.  Masalah penelitian

4.  Variabel penelitian

Seminar kelas Konsultasi topik dan latar belakang  
6 Ketrampilan dalam penelitian sosial (Kuantitatif) 1.  Sumber data dan populasi penelitian

2.  Sampel penelitian dan teknik sampling

3.  Teknik-teknik analisis data

4.  Laporan penelitian kuantitatif

Seminar kelas Konsultasi sumber data dan populsi penelitian
7 Metodole Penelitian Sosial (Kualitatif) 1.  Pendekatan dan metode penelitian kualitatif

2.  Format penelitian kualitatif

3.  Teorirasi dalam penelitian kualitatif

4.  Masalah dan topik penelitian kualitatif

Seminar kelas Konsultasi metode penelitian untuk tugas lapangan  
8 UJIAN TENGAH SEMESTER (Ujian tertulis)                                                                                                                                                                                                                  25%  
9 Ketrampilan dalam penelitian sosial (Kualitatif) 1.  Realitas sosial dan data kualitatif

2.  metode pengumpulan data kualitatif

Seminar kelas Konsultasi proposal penelitian  
10 Ketrampilan dalam penelitian sosial (Kualitatif) 1.  Pelaksanaan penelitian kualitatif

2.  Strategi analisis data kualitatif

Seminar kelas    
11 Ketrampilan dalam penelitian sosial (Kualitatif) 1.  Hubungan metode pengumpulan data dan metode analisis data

2.  Metode-metode analisis data kualitatif

Seminar kelas    
12 Ketrampilan dalam penelitian sosial Pengujian keabsahan hasil penelitian

Pembuatan laporan penelitian

Seminar kelas Konsultasi laporan penelitian  
13. Presentasi tugas lapangan   Presentasi   45 % (paper kelompok +  konsultasi + presentasi individu + penilaian kelompok)
14. Presentasi tugas lapangan   Presentasi    
15. UJIAN AKHIR SEMESTER        

 

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Agar sebuah penelitian berjalan lancar, diperlukan metode untuk membahasnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Suharsimi (2005 : 250) mengemukakan bahwa dalam penelitian deskriptif, peneliti hanya bermaksud menggambarkan suatu permasalahan sesuai keadaan yang sebenarnya.
Jadi dalam penelitian deskriptif, penulis berusaha memberikan gambaran mengenai keadaan yang sebenarnya mengenai penerapan Quantum Teaching dalam motivasi belajar Sains siswa kelas VII A pada tahun 2007/2008.
Winarno dalam Abdul Hakim (1998 : 24) menambahkan penelitian deskriptif adalah penyelidikan yang tertuju pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang atau memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang aktual, data-data yang dikumpulkan, disusun, dan kemudian dianalisa.
Menurut pendapat tersebut, selain memberikan gambaran dari keadaan objek juga mempelajari, mengenal, dan memahami pelaksanaan Quantum Teaching yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Tanjung, dalam hal ini diusahakan untuk memberikan gambaran dan pemecahan masalah yang ada.

3.2 Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data dan segala informasi yang diperlukan dalam penelitian, maka digunakan teknik atau cara pengambilan data sebagai berikut :
a. Observasi, yaitu teknik pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan langsung terhadap segala hal yang berkaitan dengan objek yang diteliti. Ada dua macam observasi yaitu observasi partisipasi aktif dan pasif, dalam penelitian ini digunakan observasi partisipasi pasif, dimana peneliti bertindak sebagai pengamat secara pasif di tengah-tengah aktivitas subjek di lokasi penelitian. Pengamatan dilakukan dengan membuat catatan mengenai hal yang diamati. Pedoman observasi adalah tahap-tahap proses belajar dengan Quantum Teaching di kelas dari pembukaan sampai penutup
b. Studi pustaka, yaitu teknik pengumpulan data dengan mempelajari dan menganalisa suatu sumber pustaka baik berupa buku, artikel, maupun penelitian sebelumnya.
c. Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan serangkaian tanya jawab dengan responden secara langsung dan tatap muka serta mencatat keterangan yang dikemukakan responden. Nasution dalam Ahmad (2006 : 74-75) mengungkapkan bahwa :
wawancara yang dilakukan dalam penelitian naturalistik sering bersifat terbuka dan tidak berstruktur. Ia tidak menggunakan tes standar atau instrumen lain yang telah diuji validitasnya, ia mengobservasi apa adanya dalam kenyataan. Ia mengajukan pertanyaan dalam wawancara menurut perkembangan wawancara itu secara wajar berdasarkan ucapan dan buah pikiran orang yang diwawancarai itu.

Dalam penelitian ini ada pedoman wawancara yang berisi hal-hal pokok yang ingin diteliti dan ditanyakan kepada responden, perkembangan pertanyaan wawancara sesuai dengan perkembangan jawaban dari responden.
d. Angket adalah serangkaian daftar pertanyaan mengenai suatu masalah atau bidang yang akan diteliti. Angket dalam penelitian ini disebarkan kepada seluruh siswa kelas VII A. Secara prosedurnya adalah gabungan antara angket langsung dan tidak langsung, karena selain menggali informasi mengenai diri responden, juga menggali data mengenai guru dan cara mengajar di kelas. Secara item-nya berupa angket isian, dan bentuknya merupakan gabungan dari angket terbuka dan tertutup.
e. Dokumentasi adalah menyalin data-data yang ada di daerah penelitian untuk memperoleh data mengenai jumlah guru di SMP Negeri 1 Tanjung, profil sekolah yang bersangkutan, pelatihan Quantum Teaching dan data lain yang relevan dengan penelitian.

3.3 Tahap-Tahap Pelaksanaan Penelitian
a. Tahap Orientasi, tahap ini dilakukan untuk menemukan informasi awal maupun mendapatkan sumber-sumber dan dokumen yang bisa dijadikan bahan dalam penelitian pada bulan Februari sampai Maret 2008, mengurus surat izin penelitian ke Dinas Pendidikan, Dinas Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (KesBang LinMasy) dan PT. Adaro Indonesia sampai mendapatkan persetujuan dan izin melakukan penelitian dari lembaga yang bersangkutan memerlukan waktu dari bulan April-Juni 2008.
b. Tahap Eksplorasi, pada tahap ini pengumpulan data dimulai sesuai dengan fokus penelitian. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, angket, studi pustaka, dan dokumentasi. Kegiatan ini dilakukan di Dahai office Community Development, SMP Negeri 1 Tanjung dan kelas VII A, serta Lembaga Pengembangan Potensi Pendidikan Adaro & Partner. Dilakukan pada bulan Juli. Wawancara dilakukan empat kali yaitu pada 4 dan 16 Juli 2008 di Kantor Community Development, Dahai tentang profil Community Development, dan tentang beasiswa dari Community Development juga sekalian melakukan studi pustaka dan dokumentasi. Kemudian pada 10 Juli 2008 di Lembaga Pengembangan Potensi Pendidikan Adaro & Partner tentang profil lembaga yang bersangkutan, kegiatan yang sudah dilakukan, perpustakaan keliling, disertai studi pustaka dan dokumentasi. Serta pada 21 Juli 2008 di SMP Negeri 1 Tanjung dengan guru mata pelajaran Sains yang bersangkutan. Observasi juga dilakukan pada 21 Juli 2008 di kelas VII A SMP Negeri 1 Tanjung. Angket juga disebarkan dan diisi pada tanggal 25 Juli 2008 oleh siswa-siswi Kelas VII A SMP Negeri 1 Tanjung, juga melakukan dokumentasi di tempat yang sama.
c. Tahap Pengolahan dan Analisis Data, Nasution (1996 : 29) dalam Ahmad (2006 : 80) mengungkapkan :
dalam penelitian kualitatif, analisa harus dilakukan sejak awal. Data yang diperoleh dari lapangan segera harus dituangkan dalam bentuk tulisan dan dianalisis. Macam-macam cara dapat diikuti. Tidak ada cara tertentu yang dapat dijadikan pegangan bagi semua penelitian.

Pengolahan data dilakukan setelah data didapatkan dari lapangan, apabila dirasakan ada kekurangan dilakukan wawancara lagi atau teknik pengumpul data yang lain. Data yang berupa jawaban dari pertanyaan wawancara, catatan observasi, dokumentasi, dan kepustakaan dibuat dalam bentuk tulisan, dipelajari dan ditelaah, apakah fokus pertanyaan sudah terjawab atau belum. Data angket ditulis dalam bentuk tabel frekuensi. Setelah proses ini selesai dilanjutkan dengan tahap triangulasi.
d. Tahap Triangulasi, pada tahap ini dilakukan pengecekan kesesuaian antara data-data yang didapatkan dari semua teknik, bila ada kekurangan atau kesalahan akan diadakan koreksi atau penambahan bila perlu. Dilakukan pada awal bulan Agustus 2008. Setelah melewati tahap ini baru dibuat dalam bentuk laporan tertulis dan sistematis.
e. Setelah dibuat dalam laporan tertulis dan sistematis, karena penelitian ini adalah salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Pendidikan, selanjutnya di konsultasikan kepada dosen pembimbing I dan pembimbing II, kemudian dipertanggungjawabkan di hadapan Dewan Penguji Skripsi. Setelah pertanggungjawaban, diadakan perbaikan dan disahkan sekali lagi oleh Dewan Penguji Skripsi.

PENELITIAN KUALITATIF penggalian-hipotesis versus penelitian kuantitatif pengujian-hipotesis (Kasus “fatherhood”)

Posted on 02/07/2009 by tatang m. amirin| 4 Comments

Tatang M. Amirin; Edisi 4 Juli 2009; 11 Agustus 2009

Penelitian kuantitatif; penelitian kualitatif; uji-hipotesis; gali hipotesis; metode “grounded theory”

Tulisan ini aslinya berjudul “Introducing Qualitative Hypothesis-Generating Research” (memperkenalkan Penelitian Kualitatif Penggalian-Hipotesis) yang diinternetkan oleh The Yeshiva University Fatherhood Project (kita singkat YUFaP)–didownload Mei 2009; sumber lupa dinukilkan; dalam teks tidak ada.

Yang dipaparkan dalam tulisan ini hasil pemilihan, penyederhanaan, dan peringkasan dari tulisan tersebut, agar tak terlampau panjang dan mudah “nyambung” (komunikatif) dengan pembaca.

Tulisan tersebut menarik, karena mencoba menjelaskan pilihan Tim YUFaP untuk lebih memilih melakukan proyek penelitiannya dengan pendekatan kualitatif dibadingkan kuantitatif, dengan membandingkan kedua pendekatan tersebut lewat contoh yang relatif jelas dan mudah terpahami, serta menegaskan betapa “sulit” meneliti apa yang jadi objek penelitiannya (“fatherhood”) dengan pendekatan tradisional kuantitatif uji-hipotesis. [Istilah tradisional dalam hal ini menunjuk kelaziman atau kebiasaan kebanyakan orang atau para peneliti melakukannya].

Seperti telah disebutkan, penelitian yang mereka lakukan mengenai “fatherhood”. Istilah ini agak susah diindonesiakan. “Keayahan” (“kebapakan”) atau “perayahan” (“perbapakan), atau malah “mengayahi” (“membapaki”). “Brotherhood” biasanya diindonesiakan menjadi persaudaraan, bukan kesaudaraan. Akan tetapi “motherhood” enaknya diindonesiakan menjadi “keibuan,” dan “childhood” menjadi “kekanakan.” Jadi, ya sudahlah, toh lama-lama akan terbiasa, kita gunakan saja istilah keayahan atau kebapakan. “Hood” itu, menurut kamus (Oxford’s), merupakan kata sifat yang menunjukkan keadaan atau kondisi menjadi sesuatu. Dengan demikian, “fatherhood” artinya sifat keadaan menjadi ayah atau bapak. Jadi, ya, memang indonesianya keayahan, seperti ke-kepala sekolah-an, ke-pengawas-an, ke-guru-an, ke-pendidik-an [Tentang yang terakhir ini suka kacau balau. Coba saja simak istilah-istilah ini: pendidik, pendidikan, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, serta lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK)!]

Pendahuluan

Tulisan tersebut dimulai dengan pendahuluan yang menegaskan bahwa pada umumnya setiap penelitian dimulai dari keingintahuan, atau rasa ingin tahu, akan dunia. Sebagai contoh tentang keingintahuan itu, Penukil (dari Penukil saja agar “nyambung”), dalam judul tulisan ini sengaja memunculkan istilah “fatherhood,” sesuatu istilah yang relatif baru muncul ke hadapan kita pada umumnya. Selama ini sudah ada istilah “motherhood” dan “parenting.” Tentu ada rasa penasaran juga: apa itu “fatherhood,” walau pengindonesiaannya sudah ditunjukkan di atas.

Selain itu, bagi yang sedang benar-benar ingin tahu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif dengan contoh jelas, tentu penasaran ingin tahu apa yang akan dipaparkan oleh Mang Tatang dalam Tatangmanguny’s Blog ini. Siapa tahu cocok dengan yang diperlukan.

Apa itu penelitian kualitatif?

Sebelum lanjut ke mana-mana, Tim YUFaP menegaskan terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan penelitian kualitatif. Tim YUFaP merumuskan penelitian kualitatif sebagai berikut.

Qualitative research is research that involves analyzing and interpreting texts and interviews in order to discover meaningful patterns descriptive of a particular phenomenon” (tulis miring dari pengutip).

Jadi, penelitian kualitatif itu, menurut YUFaP, merupakan penelitian yang menganalisis dan menafsiri berbagai tulisan atau catatan dan berbagai hasil wawancara dalam rangka menemukan deskripsi (candraan, paparan) tentang pola-pola yang bermakna (komunikatif, jelas, logis, bisa dipahami, dan tentu saja benar) dari sesuatu gejala.

Beberapa metodologi (metode) penelitian yang termasuk ke dalam pendekatan penelitian kualitatif, menurut YUFaP, adalah: observasi partisipan, karya-lapangan (“fieldwork;” penelitian lapangan), etnografi, wawancara takterstruktur, riwayat kehidupan (“life histories”), analisis teks, analisis diskursus (“discourse analysis”), dan sejarah budaya kritikal “(critical cultural history”). Metode-metode tersebut sebagian agak kurang akrab didengar diketahui umum, tapi biar sajalah dulu, tak terlampau penting.

Penelitian kualitatif versus kuantitatif

Penelitian kualitatif berbeda dari penelitian tradisional, yaitu penelitian kuantitatif, papar YUFaP lebih lanjut. Perbedaannya terletak pada jika penelitian tradisional (kuantitatif) mengarah kepada pengujian hipotesis (“hypothesis-testing”), sementara penelitian kualitatif mengarah kepada penggalian-penemuan hipotesis (“hypothesis-generating”).

Penelitian penggalian-hipotesis dianggap YUFaP sebagai pilihan-lain (alternatif) penelitian pengujian hipotesis. Tegasnya penelitian kualitatif –untuk objek penelitian tertentu–merupakan pilihan yang lebih baik daripada penelitian kuantitatif.

Untuk menjelaskannya, YUFaP memaparkan pengalamannya melakukan penelitian dengan alternatif (penelitian kualitatif) tersebut. Nah, agar mudah, Penukil coba mewakili mereka untuk berceritera kepada Anda semua. Jadi ini ceriteranya.

Seperti telah disebutkan, yang dijadikan objek projek penelitian YUFaP adalah tentang “fathers” (para ayah) dan “fathering.” Nah, ini lagi istilah baru, kira-kira indonesianya “pengayahan” atau membapaki. Agak lucu dan asing di telinga, biarlah, lama-lama akan terbiasa atau akrab juga.

Mengapa soal (isu) atau persoalan ayah dan pengayahan serta keayahan itu yang dijadikan topik penelitian YUFaP? Katanya ada dua alasan mengenainya, yaitu yang sifatnya subjektif-pribadi, dan yang bersifat profesional-ilmiah.

Dari sisi subjektif-pribadi, itu karena setiap kita pasti punya kenangan atau kesan tertentu mengenai sosok ayah kita masing-masing, entah kenangan manis, entah kenangan pahit, entah kesan positif, dan entah kesan negatif. Di sisi lain, bagi kita yang sudah menjadi ayah, maka soal keayahan itu menjadi menarik, karena setiap kita sebagai ayah, dengan cara kita sendiri-sendiri, sedikit atau banyak pasti terlibat dalam proses pengasuhan dan pembesaran (membesarkan) anak-anak kita, dan setiap kita berusaha untuk menciptakan keluarga yang bahagia dan sejahtera, yang di dalamnya (menurut norma Amerika) ada kesetaraan antara ayah dan ibu.

Dari sisi profesional, akar permasalahan muncul dari kecenderungan teori tradisional mengenai pembinaan (pengasuhan) anak yang tidak pernah menyentuh peran ayah.Paraahli teori ini selalu beranggapan bahwa ibu merupakan sosok yang paling penting dalam kehidupan anak, dan ayah hanya sekedar berperan sebagai pendukung ibu. Ketika tim YUFaP sedang bergerak melakukan projek penelitian ini, pada saat itu tentangan terhadap anggapan (teori) tersebut sedang muncul (misal dari Cath, Gurwitt, & Gunsberg, 1989; Lamb, 1989) dan tim ini punya keinginan untuk ikut berperan dalam pengembangan tubuh penelitian dan teori “pengasuhan anak” dimaksud.

Tim ini punya niatan kuat untuk melakukan penelitian dimaksud dari sudut keberagaman budaya. Kebanyakan penelitian mengenai keayahan (“fatherhood”)–di AS tentunya–hanya meneliti keluarga tradisional Euro-Amerika (kulit putih) saja. Tentu pola ini dianggap memiliki keterbatasan, baik dari sisi pengembangan teori, maupun dari sisi pengembangan pengetahuan praktis (untuk menjadi ayah yang baik atau “fathering”). Tim ini meneliti “keayahan” dalam beragam etnis dan budaya AS.

Mengapa tim ini memilih menggunakan penelitian kualitatif yang “menggali dan memunculkan hipotesis”? Sebelum sampai pada alasan yang sebenarnya, Tim ini memberikan penjelasan rasionalnya dengan memaparkan terlebih dahulu apa yang disebut dengan penelitian kuantitatif yang “menguji-hipotesis” itu. Untuk itu Tim ini mendefinisikan penelitian kuantitatif penggalian-hipotesis sebagai berikut (ditulis miring oleh pengutip).

Hypothesis-testing research investigates a phenomenon in terms of a relationship between an independent and dependent variable, both of which are measurable numerically. This relationship is called a hypothesis. The aim of the research is to test whether the hypothesized relationship is actually true, using statistical methods.

Penelitian uji hipotesis, jelas YUFaP, meneliti sesuatu gejala dalam ujud hubungan antara variabel independen dan variabel dependen yang kedua-duanya dapat diukur dan dinyatakan dalam bilangan. Hubungan tersebut disebut sebagai hipotesis. Tujuan penelitian adalah menguji (mengetes) dengan menggunakan berbagai metode statistik apakah hubungan yang dihipotesiskan tersebut dalam kenyatannya benar-benar betul.

Contoh sederhana penerapan penelitian pengujian hipotesis dilukiskan tim YUPaF, dengan contoh topik (yang tidak dilakukan oleh tim) mengenai “keayahan” juga, sebagai berikut.

Nah, walau sudah banyak ditulis dalam paparan lain dalam blog ini, mengenai variabel dependen dan independen tadi mungkin perlu dijelaskan secara ringkas. Pertama, variabel adalah sesuatu ujud yang mengandung sifat (atribut) yang bervariasi (beragam). Kasih sayang ayah pada anak, misalnya, bisa “bersifat” tinggi, bisa rendah (Dalam bahasa keseharian diwujudkan dalam kata-kata sangat sayang sekali, kurang sayang, tidak sayang). Variabel dependen adalah variabel yang sifat (atributnya) bisa berubah menjadi tinggi atau rendah (dan sebagainya) jika “dipengaruhi” oleh variabel lain (yang disebut variabel independen). Variabel independen merupakan variabel yang sifat atau atributnya bisa mengubah sifat atau atribut variabel dependen. Kasih sayang ayah pada anaknya (tinggi atau rendah), misalnya, bisa “mempengaruhi” tinggi rendah ayah memberi perhatian pada anak-anaknya. Dalam hal ini kasih sayang ayah menjadi variabel independen, perhatian ayah pada anak menjadi variabel dependen. Tegasnya, jika kasih sayang ayah tinggi, perhatiannya pada anaknya pun akan tinggi, dan sebaliknya. Dalam paparan berikut kasih sayang ayah menjadi variabel dependen. Memang bisa demikian, tergantung pada kontek penelitiannya.

Kita lanjutkan dengan “proyek penelitian kuantitatif uji-hipotesis.” Pertama-tama penelitian dimulai dengan memilih sebuah variabel dependen yang dianggap berkaitan dengan keayahan tersebut, misalnya kasih sayang ayah pada anak-anaknya. Karena penelitian kuantitatif itu berbasis ukur-mengukur, maka kasih sayang pada anak itu dibuat dalam skala, misalnya, dari bilangan 1 (sangat rendah, sangat kurang sayang) sampai dengan bilangan 5 (sangat tinggi, sangat sayang sekali).

Langkah kedua, peneliti menetapkan variabel independen, yaitu variabel (faktor) yang dianggap akan mempengaruhi variabel kasih sayang tadi.
Mungkin peneliti akan memilih sebagai variabel independennya intensitas kontak ayah dengan anak-anaknya, yang secara operasional diukur dalam hitungan menit si ayah suka berada bersama dengan anaknya.

Akhirnya, peneliti merumuskan hipotesis mengenai hubungan variabel independen dengan variabel dependennya. Mungkin hipotesisnya menyatakan bahwa semakin sering ayah melakukan kontak dengan anaknya, semakin tinggi kasih sayangnya pada anaknya. Hipotesis ini dapat diuji dengan melihat apakah secara statistik ada korelasi (hubungan) yang signifikan (meyakinkan) antara variabel independen (kekerapan kontak ayah dengan anak) dan variabel dependen (kasih sayang ayah pada anak).

Contoh yang disederhanakan tersebut, menurut YUFaP, cukup untuk nantinya memberikan gambaran bahwa ternyata dengan mempergunakan pendekatan kuantitatif uji-hipotesis itu akan ada masalah yang bakal dihadapi, setidak-tidaknya, menurut YUFaP, dua masalah.

Pertama, peneliti (dalam hal ini dari kelas menengah kulit putih AS) bisa tidak tahu banyak mengenai budaya (kebiasaan kehidupan keseharian) orang-orang dari kelompok lain, sehingga tidak mudah merumuskan hipotesis yang benar-benar tepat untuk ayah-ayah dari berbagai latar belakang budaya dan kehidupan keseharian.

Jelasnya, ayah dari kelas menengah kulit putih, yang hanya dengan melakukan satu jenis pekerjaan saja (misal siang hari) sudah bisa mencukupi kebutuhan keuangan keluarganya, tentu akan punya cukup banyak waktu untuk berada bersama anak-anaknya. Jadi, hipotesis bahwa semakin sering ayah melakukan kontak dengan anak-anaknya, semakin tinggi curahan kasih sayang ayah kepada anak-anaknya, mungkin bisa benar.

Keadaan tersebut akan berbeda dengan, misalnya, ayah dari kelas pekerja (kelas bawah) imigran Amerika Latin. Ayah ini mungkin harus melakukan dua pekerjaan penuh waktu (siang dan malam hari) agar punya cukup biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dengan kata lain, justru curahan rasa kasih sayang kepada anak-anaknya (berusaha mencukupi biaya sekolah) itu akan menyebabkan ia kurang waktu, bukan lebih banyak waktu, kontak dengan anak-anaknya. Dengan kata lain, semakin berusaha mencurahkan kasih sayang kepada anak-anaknya, semakin sedikit kontaknya dengan anak-anaknya itu.

Lebih jauh dari itu, bukan saja tidak mudah merumuskan hipotesis yang bermakna (sesuai realita), bahkan untuk menentukan variabel dependen dan independen pun mungkin peneliti tidak punya pengetahuan yang memadai juga. Ambil contoh kasus para ayah keluarga Haiti yang religius. Tim YUFaP menemukan kenyataan bahwa keyakinan keagamaan mereka merupakan variabel penting untuk memahami konsep ayah yang baik dalam pandangan mereka. Yang seperti itu tidak mungkin “kita” bayangkan akan menjadi dasar kehidupan keluarga “kita” kelas menengah kulit putih yang sekuler.

Kesulitan (kelemahan) kedua dengan pendekatan kuantitatif uji-hipotesis itu adalah varaiabel-variabel yang dikorelasikan itu tidak bisa menggambarkan sisi subjektif para ayah. Jelasnya, apa yang sebenar-benarnya menjadi perasaan ayah-ayah itu terhadap anak-anaknya, tidak bisa diketahui lewat variabel-variabel yang diukur-ukur tersebut.

Dalam pemikiran Tim YUFaP untuk bisa memahami benar-benar perasaan kasih sayang ayah kepada anak itu, ada beberapa pertanyaan yang perlu dicari jawabannya, antara lain:

Seperti apakah rasa kasih sayang ayah pada anak itu diwujudkan?

Apa yang dirasakan dan apa makna kebersamaan seorang ayah dengan anak-anaknya?

Apakah seseorang ayah itu masih (bisa) ingat saat-saat ketika ia bersama ayah dan ibunya?

Apakah seseorang ayah merasakan kegugupan, merasakan kesulitan, ketika ia harus berada bersama bayinya tanpa isteri atau wanita lain bersamanya?

Beberapa persoalan tersebut, dalam pandangan YUFaP, tidak bisa diteliti dan diukur-ukur dengan penelitian kuantiatif uji-hipotesis. Agar hal-hal tersebut dapat terteliti dengan baik dan benar, maka Tim YUFaP mencari metode penelitian lain yang tidak memerlukan adanya perumusan hipotesis sebelum penelitian dilakukan, sekaligus yang memungkinkan Tim meneliti aspek-aspek pengalaman subjektif subjek penelitian secara langsung. Dasar pemikiran tersebut mengarahkan Tim ke peendekatan penelitian penggalian-hipotesis dengan menggunakan metode “grounded theory.” [Sebutan metode ini tidak diindonesiakan agar tidak kacau–Pen. Yang jelas, ini para ahli penelitian memasukkan metode ini ke dalam rumpun metode penelitian “kualitatif”]

Metode Grounded Theory

Metode grounded-theory memberikan peluang kepada para peneliti untuk melakukan penelitian tanpa harus melakukan pengujian hipotesis. Tegasnya, penelitian ini merupakan penelitian nonhipotesis, tidak bermula dari adanya hipotesis. [Penelitian yang bermula dari hipotesis lazim pula disebut sebagai pendekatan “theory-then-research approach”–Pen.]. Sebaliknya, justru metode ini memberikan peluang kepada peneliti untuk merumuskan hipotesis dengan cara (setelah) mendengarkan apa yang dituturkan oleh partisipan penelitian.

Oleh karena dalam metode ini terkandung adanya tahap (proses) mengembangkan (merumuskan) hipotesis setelah data dihimpun (setelah proses penelitian atau penghimpunan data mulai dilakukan), maka disebutlah sebagai penelitian penggalian-hipotesis, bukan penelitian pengujian-hipotesis.

Metode grounded theory mengandung dua asas pokok, yaitu: (1) lebih bersifat menanyai dibandingkan mengukur, dan (2) menggali memunculkan hipotesis menggunakan penyandian teoritis atau “theoretical coding.” Penjelasan masing-masing sebagai berikut.

Menanyai, bukan mengukur

Metode grounded theory memberi kemungkinan peneliti untuk menambah wawasan mengenai apa yang belum diketahuinya untuk mampu merumuskan hipotesis yang benar-benar bermakna (baik dan benar). Peneliti menggunakan partisipan penelitian sebagai sumber penambah pengetahuannya. Setelah itu, maka peneliti akan menjadi orang yang benar-benar ahli mengenai gejala yang ditelitinya karena mereka berpengalaman bersentuhan secara langsung dengan gejala tersebut.

Metodologi penelitian ini menanyai partisipan penelitian berbagai persoalan mengenai pengalaman subjektif (individual) mereka dan memunculkan hipotesis dari jawaban-jawaban yang mereka berikan. Misalnya, kata YUFaP, hipotesis Tim mengenai keayahan warga Amerika asal Haiti dikembangkan (dirumuskan) dari apa yang dikatakan para ayah Haiti dalam wawancara yang dilakukan Tim.

Catatan Penukil: Jadi, dalam wawancara itu tidak ada sedikitpun pertanyaan yang bersifat mengukur (tinggi rendah, besar kecil, luas sempit, banyak sedikit dan sebagainya). Peneliti mengajukan pertanyaan penggalian fakta (fact finding) secara “kualitatif,” bukan mengukurnya (secara kuantitatif).

Merumuskan hipotesis menggunakan penyandian teoritis

Metode grounded theory menggunakan prosedur analisis data yang disebut theoritical coding (penyandian teoritis) untuk merumuskan hipotesis berdasarkan apa yang dikemukakan partisipan penelitian. Sebutan grounded theory berdasarkan fakta bahwa penyandian teoritis memungkinkan kita meng-”ground”-kan (mem-”bumi”-kan) hipotesis kita pada apa yang dikatakan oleh partisipan penelitian. [Hipotesis datang bukan dari “awang-awang” atau “langit” (teori), melainkan dari “bumi” atau empiri (lapangan, kancah)–Pen.]

Sampai sejauh ini, grounded theory yang dibahas, menurut YUFaP, berkisar tentang data hasil wawancara terhadap perorangan. Sebenarnya data dapat juga diperoleh melalui wawancara pada kelompok “ahli” (berpengetahuan luas mengenai hal yang dipertanyakan) tertentu (disebut focus group).  Perlu dipahami pula bahwa data penelitian kualitatif dapat pula diperoleh antara lain dari amatan perilaku (observasi nonpartisipan), observasi partisipan, telaah media (media accounts), dan artifak-artifak (peninggalan) budaya.

Jadi, teknik-teknik pengumpulan data yang sudah dipaparkan sejauh ini telah mencakup teknik-teknik penting dari penelitian kualitatif, tetapi tidak berarti sudah semuanya. Dengan wawasan seperti itu dalam pikiran kita, maka kita dapat merumuskan penelitian kualitatif penggalian-hipotesis itu, menurut YUFaP, sebagai berikut.

Qualitative hypothesis-generating research involves collecting interview data from research participants concerning a phenomenon of interest, and then using what they say in order to develop hypotheses. It uses the two principles of  (1) questioning rather than measuring and (2) generating hypotheses using theoretical coding.

Penelitian kualitatif penggalian-hipotesis menghimpun data wawancara dari partisipan penelitian mengenai sesuatu gejala yang menjadi objek penelitian, kemudian berdasarkan tuturan para partisipan penelitian tersebut dikembangkanlah hipotesis. Penelitian ini menggunakan dua asas (prinsip) utama, yaitu (1) lebih bersifat menanyai, bukan mengukur-ukur fakta, dan (2) mengembangkan hipotesis menggunakan penyandian teoritis. Itu artinya.

Proyek Penelitian YUFaP

Proyek penelitian YUFaP tentang “fatherhood” ini merupakan penelitian raksasa yang mewawancarai 400 orang ayah dari berbagai subkultur A.S. : ayah Haiti Amerika, ayah “Promise Keeper, ayah duda, ayah gay, ayah ZLatin, ayah kulithitam yang tidak menikah, ayah tiri, dan ayah kulit putih kelas menengah dari pasangan yang kerja dua sip.

Setiap subkultur diambil sampel sekitar 20 orang ayah yang diwawancarai dalam kelompok kecil yang disebut “focus group” terdiri atas 4 sampai 6 orang partisipan. Jadi setiap penelitian akan melibatkan sekitar 4 sampai 5 focus group.Parapartisipan diambil sebagai “convenience sample” menggunakan teknik “snowball sampling.” Caranya yaitu mula-mula mewawancarai orang-orang yang mudah dijangkau (diketahui, ditemukan), kemudian mewawancarai orang lain yang diketahui oleh yang sudah diwawancarai tersebut.Parapewawancara adalah mahasiswa program master yang, tidak seluruhnya, termasuk anggota subkultur masing-masing.

Setelah data dianalisis, maka sebuah sinopsis garis besar hasil penelitian tersebut dibawa kembali kepada para partisipan untuk didiskusikan. Diskusi ini mengoreksi, memperluas, dan memperdalam apa yang dipahami para peneliti mengenai pengalaman individual subjektif para partisipan penelitian. Data kemudian diolah oleh para mahasiswa dan dijadikan sebagai projek penelitian untuk meraih gelar Psy.D. (Psychological Doctor)-nya.

Nah, itulah gambaran ringkasnya.

Mau ngutip? Tulis: Amirin, Tatang M. (2009). “Penelitian kualitatif penggalian-hipotesis versus penelitian kuantitatif pengujian-hipotesis (Kasus “fatherhood”).” tatangmanguny.wordpress.com

Teknik sampling I

Posted on 28/06/2009 by tatang m. amirin| 3 Comments

Tatang M. Amirin;Edisi 28 Juni 2009; 28 Juli 2009; 21 Agustus 2009

Populasi homogen; populasi heterogen; studi populasi/sensus; studi sampel; representativitas sampel; probability/random sampling; simple random sampling; systematic/ordinal sampling; teknik undian, teknik ordinal, penggunaan tabel bilangan random; stratified sampling; cluster sampling; area sampling; proportional (proportionate) sampling; disproportional (disproportionate) sampling

POPULASI PENELITIAN (populasi subjek dan atau responden penelitian) ada yang homogen (seluruh anggotanya memiliki ciri dan kondisi yang seragam), ada yang heterogen (anggota-anggotanya memiliki ciri dan kondisi beragam karena berstrata, ber-”cluster”, dan atau ber-”area”), ada yang terhingga (bisa dan mudah dihitung anggotanya), ada yang tak terhingga (tidak mudah dan tidak mungkin dihitung anggotanya), dan tidak jelas tau tidak pasti (tidak diketahui secara pasti keberadaan dan atau jumlah anggotanya).

Melakukan penelitian, berkaitan dengan populasi penelitian (populasi subjek dan atau responden penelitian) itu, dapat dengan studi (penelitian) populasi, yaitu meneliti seluruh anggota populasi, dapat pula dengan studi (penelitian) sampling, yaitu hanya meneliti sebagian anggota populasi (sampel subjek dan atau responden).

Studi populasi (sensus) dilakukan manakala anggota populasi jumlahnya kecil atau sedikit, jelas dan tegas keberadaannya serta mudah “dijangkau,” dan data yang hendak dihimpun darinya relatif tidak memerlukan waktu yang sangat lama.  Kecil atau sedikit itu tentu sangat relatif. Seribu orang pun jika akan disebari angket yang isi pertanyaannya tidak banyak, termasuk sedikit, jadi bisa dan mungkin diteliti dengan studi populasi. Lihat contoh “kuis pilpres” yang dilakukan harian Kedaulatan Rakyat. Berapa ribu (juta) pembaca harian tersebut yang tersebari “angket kuis”? Mengolah datanya pun sangat sederhana, mudah, dan cepat. Tapi, jika akan dilakukan wawancara mendalam kepada anggota populasi, apalagi akan dilakukan observasi partisipan terhadap kehidupan anggota populasi, maka persoalan menjadi lain.

Penelitian dilakukan dengan studi sampling manakala, dengan mempertimbangkan berbagai segi, dipandang tidak perlu atau tidak mungkin studi populasi (meneliti seluruh anggota populasi) dilakukan.

Penelitian (studi) populasi dikatakan tidak perlu apabila hanya dengan meneliti sampelnya saja pun sudah akan dapat diperoleh hasil penelitian yang representatif, yang mencerminkan sifat atau keadaan populasi. Studi populasi dikatakan tidak mungkin apabila jumlah atau kondisi anggota populasi sedemikian rupa sehingga tidak memberikan peluang kepada peneliti untuk menelitinya secara kseluruhan. Kondisi dimaksud akan dijelaskan di bawah.

Contoh (untuk mempermudah) adalah “meneliti” golongan darah seseorang (A, B, AB ataukah O). Jelas tidak mungkin meneliti seluruh darah yang ada di dalam tubuh (tidak mungkin seluruh darah dikeluarkan untuk diteliti). Lagipula tidak perlu, karena darah di dalam tubuh (dalam kaitan dengan golongan darah, dan juga dalam beberapa konteks lain) bersifat homogen atau seragam (mempunyai ciri atau kondisi yang sama).

Penelitian dengan pendekatan studi sampling tidak dianjurkan manakala studi populasi memungkinkan, sebab betapapun, studi sampling tidak seakurat, setepat seperti studi populasi. Jika “menanyai” semua murid (menyensus atau studi populasi) apakah sudah memahami pelajaran atau kah belum–dengan dites, maka hasilya akan yakin mencerminkan prestasi belajar seluruh dan setiap murid. Jika beberapa saja yang dites (misalnya tes lisan di akhir pelajaran), maka simpulannya tidak meyakinkan akan mencerminkan seluruh dan setiap murid.

Oleh karena itu, manakala jumlah anggota populasi relatif sedikit, yang memungkinkan untuk meneliti seluruhnya, studi populasi lebih dianjurkan (bahkan “wajib”).

1. Representativitas sampel dan probabilitas sampling

Pengambilan sampel (sampling), yakni mengambil sebagian dari anggota populasi penelitian, haruslah sedapat-dapat menghasilkan sampel yang representatif, yaitu yang mencerminkan atau mewakili ciri dan kondisi populasinya, agar sifat atau keadaan yang termunculkan dari (meneliti) sampel tersebut juga akan mencerminkan sifat dan keadaan populasinya.

Selain itu, dalam mengambil sampel itu haruslah pula dengan cara yang adil, yakni yang memberikan kesempatan atau peluang (probabilitas) yang sama kepada setiap anggota populasi untuk terpilih menjadi sampel penelitian. Cara yang adil tersebut disebut dengan cara random (kerap diindonesikan menjadi acak–hati-hati: bukan acak-acakan! Acak sama dengan tidak pilih-pilih atau tidak pilih kasih).

Probabilitas penetapan sampel (pengambilan sampel secara random) itu tentu hanya mungkin dilakukan pada populasi penelitian yang terhingga, yang keberadaan dan jumlah anggotanya bisa dan mungkin dihitung, atau yang diketahui secara pasti. Tidak mungkin asas probabilitas (cara random) dilakukan pada populasi yang tak terhingga, lebih-lebih pada populasi yang tak jelas atau tak pasti keberadaan dan atau jumlah anggotanya.

2. Pengambilan sampel dari populasi homogen

Dalam penelitian pendidikan dan sosial lainnya, pengambilan sampel dari populasi (apakah berupa populasi subjek penelitian atau populasi responden penelitian) yang homogen, yang mempunyai ciri dan atau kondisi yang seragam, dilakukan dengan teknik simple random sampling (pengambilan sampel secara acak sederhana). Dikatakan sederhana karena tidak memerlukan perhatian pada kerumitan dengan adanya keberagaman ciri dan atau kondisi, dan caranya (teknisnya) pun amat sangat sederhana.

Prosesnya menjadi: (1) ketahui berapa banyak jumlah anggota populasinya, (2) tentukan berapa banyak sampel yang akan diambil dari sekian banyak anggota populasi, (3) ambil sampel.

Untuk diingat: penetapan banyaknya sampel dalam teknik simple random sampling ini tidak sama dengan penetapan banyaknya sampel yang akan diambil dengan teknik quota sampling, walaupun sama-sama menetapkan banyaknya sampel yang akan diambil (quota arti sederhananya jatah; misalnya quota haji berarti jatah banyaknya jamaah haji yang boleh diberangkatkan dari sesuatu negara). Teknik quota sampling akan terpaparkan di bawah.

Perhatikan:

(1) Karena, seperti telah disebutkan di muka, populasi bersifat homogen, maka sebenarnya jumlah sampel sedikit pun tidak masalah (Ingat kasus sampel sayur dan darah). Akan tetapi, untuk penelitian sosial (kemasyarakatan) yang akan menggunakan analisis statistik, karena datanya bersifat kuantitatif, atau karena akan menghitung-hitung persentase responden yang bersifat demikian-demikian, atau berkeadaan demikian-demikian (bersikap, berpendapat, menilai, berprestasi, bermotivasi dsb.) akan baik jika diambil sampel di atas 30, agar unsur “representativitas” alami (yakni adanya “kurve normal” dalam sampel seperti adanya “kurve normal” dalam alam nyata) dapat terpenuhi.

“Kurve normal” (yang berbentuk seperti gambar lonceng atau gunung itu–lihat gambar di bawah) dapat digambarkan maknanya sebagai berikut:

Menurut ukuran tinggi tubuh orang Indonesia, di Indonesia akan terdapat sedikit yang tubuhnya pendek (seperti orang Jepang dulu)–ini ada di sisi kiri gambar lonceng yang landai. Sebagian besar penduduk Indonesia bertubuh sedang (normalnya orang Indonesia)–ini berada di bagian tengah lonceng yang menggelembung. Lalu, ada sedikit pula orang yang tubuhnya jangkung (seperti orang Barat)–ini yang berada di sisi kanan lonceng yang landai. Jika lebih dirinci, ada sangat sedikit orang cebol (2%-an), sedikit orang pendek (14%-an), banyak sekali orang normal (68%-an), sedikit orang tinggi (14%-an), dan sangat sedikit orang super tinggi (2%-an).

 

 

Dari sisi kepandaian pun, contoh lain, keseluruhan atau totalitas orang (pendudukIndonesia, misalnya) “berbentuk kurva normal.” Jelasnya akan ada sedikit yang amat bodoh atau “bloon” (sisi kiri lonceng yang landai atau “mengkaki gunung”), kebanyakan atau sebagian besar yang sedang-sedang atau normal (bagian tengah atau “gundukan gunung”), dan sedikit pula yang jenius atau cerdas (sisi kanan lonceng yang juga “mengkaki gunung”).

(2) Besaran atau banyaknya sampel yang akan diambil tergantung pada banyaknya anggota populasi. Ingat: studi populasi lebih baik daripada studi sampling. Namun demikian, jika kepada responden akan dilakukan penelitian (pengumpulan data) secara mendalam dan meluas (dengan wawancara dan observasi berhari-hari) yang tentu akan memerlukan waktu lama, misalnya, maka sampel yang banyak tentu akan merepotkan (kapan penelitiannya akan selesai?). Lebih-lebih jika anggota populasi tersebar di berbagai wilayah yang berjauhan yang sulit transportasi untuk menjangkaunya. Ini berbeda dengan jika penelitian akan menggunakan teknik survai atau penyebaran angket yang tidak memerlukan waktu lama dan respondennya pun mudah dijangkau.

Cara menentukan sampel dari seluruh anggota populasi sangat sederhana, yaitu dengan mengundi mereka, seperti melakukan undian arisan. Jelasnya: (1) buat daftar urutan seluruh anggota populasi, (2) buat kartu “lintingan” seperti untuk arisan, (3) tuliskan setiap “nama” atau nomor urut anggota populasi dalam satu kertas lintingan, lalu linting, dan terakhir (4) undi sebanyak jumlah sampel yang diperlukan.

Cara lain mengundi mereka dengan mempergunakan Tabel Bilangan Random yang ada (biasanya telampir) pada buku-buku statistik atau metodologi penelitian. Silakan baca antara lain buku Penulis “Menyusun Rencana Penelitian” terbitan RajaGrafindo Persada–walau sudah tidak diterbitkan lagi karena sudah dibajak orang. Ini contohnya.

 

Bagaimana cara menggunakannya? Ambil contoh ada sebanyak 185 orang mahasiswa Program Studi Pendidikan Anak Jalanan sebagai anggota populasi penelitian. Dari 185 orang tersebut akan diambil (sekedar contoh)limaorang sampel. Apa yang kita lakukan? Sebelumnya harus dipahami dulu bahwa populasi kita ada seratus delapan puluhlimaorang yang jika dituliskan akan terdiri atas tiga angka (1-8-5). Oleh karena itu, maka dari tabel di atas akan diambil tiga angka pertama dari setiap satuan blok angka (satu blok terdiri ataslimaangka). Contohnya dari blok angka pertama paling atas kiri, yaitu 61424, akan diambil angka 614. Yang kita lakukan langkah-langkahnya sebagai berikut.

(1) Susun daftar urutan anggota populasi (dari nomor urut 1 sampai dengan 185).

(2) Pegang pinsil di tangan kanan.

(3) Tutup mata. Lalu letakkan ujung pinsil pada tabel tersebut di atas. Katakanlah ujung pinsil berada pada satuan angka 20631 (kolom kiri kedua dari bawah).

(4) Ambil tiga angka pertama dari blok  angka tersebut (206). Dari daftar anggota populasi kita tidak ada nomor urut tersebut (terakhir nomor 185). Maka kita geser ke bawah, ke blok angka berikut.

(5) Tertemukan blok angka 89990. Ambil tiga angka pertama (899). Juga tidak ada nomor urut anggota populasi dengan nomor sebesar itu. Geser lagi ke urutan blok berikut. Dalam hal ini naik ke kolom kedua atas.

(6) Tertemukan kemudian blok angka 10005. Ambil tiga angka pertama (100). Lingkari nomor urut 100 dari daftar anggota populasi. Ini sampel pertama.

(7) Kita lanjutkan ke blok berikut. Tertemukan blok angka 20419. Juga tidak ada nomor urut 204. Kita lanjutkan seperti itu. Akan terlingkari nomor urut 049 (dari blok 04952),  sampel kedua. Lalu 082 (dari 08216) sampel ketiga, 153 (dari 15370) sampel keempat, dan 164 (dari 16447) sampel kelima, atau terakhir.

Teknik kedua adalah teknik systematic random sampling (pengambilan sampel secara acak dan sistematik). Dalam buku tertentu disebut sebagai teknik ordinal (= urutan; salah satu dari tiga cara mengambil sampel acak sederhana, yaitu: undian, ordinal, dan menggunakan Tabel Bilangan Random).

Caranya: (1) ketahui berapa jumlah angota populasi, (2) tetapkan berapa sampel akan diambil, (3) buat daftar urutan anggota populasi, (3) pilih salah satu nomor urutan secara adil atau random untuk dijadikan sampel pertama–misalnya dengan “melihat” tanggal saat melakukan pengambilan sampel–nomor urut subjek atau responden yang sesuai tanggal menjadi sampel pertama, kemudian (4) ambil sampel dari daftar berdasarkan urutan kelipatan (jumlah populasi dibagi jumlah sampel yang makan diambil).

Contoh: Jika anggota populasi ada 1000 dan akan diambil sampel sebanyak 100, maka hasil pembagiannya menjadi 1000 : 100 = 10. Jadi, jika, misalnya terambil untuk pertama kali nomor 26 (tanggal sekarang), maka sampel berikutnya (urut sistematik kelipatan ke bawah, yaitu tambah 10) adalah nomor 36, 46, 56 . . . 996 dan kembali ke nomor urut kecil (karena pasti berhenti di nomor urut 1000) ke nomor 6 serta 16.

3. Pengambilan sampel dari populasi berstrata (stratified sampling [stratifaid saempling])

Populasi berstrata adalah populasi (populasi subjek atau responden penelitian) yang anggota-anggotanya terkelompokkan ke dalam strata-strata (jenjang, lapisan) tertentu. Setiap strata dari sesuatu populasi disebut sebagai subpopulasi. Seperti telah dicontohkan di muka, contoh strata yang ada dalam populasi itu antara lain:

(a) Tingkatan kelas di sekolah: Kelas XII SMA, Kelas XI SMA, dan Kelas X SMA. Jadi murid-murid terkelompokkan ke dalam (berada pada) setiap jenjang kelas.

(b) Tingkatan kemampuan belajar: Kelompok pandai, kelompok biasa (sedang), dan kelompok kurang pandai (untuk tidak mengatakan bodoh); atau: kelompok cepat belajar, kelompok biasa (normal), dan kelompok lambat belajar.

(c) Tingkatan pendidikan formal yang pernah ditempuh: Lulusan PT, lulusan SMTA, lulusan SMTP, dan lulusan SD.

(d) Tingkatan status ekonomi: Kelompok kaya raya, kelompok kaya, kelompok menengah, kelompok miskin, dan kelompok di bawah garis kemiskinan.

Mengingat ada strata atau lapisan-lapisan seperti itu, dalam melakukan penelitian, jika–sekali lagi–lapisan itu dapat diduga akan membuat perbedaan objek penelitian (misalnya akan mempengaruhi “selera berpakaian”), maka sampel harus diambil dengan mencerminkan adanya strata tersebut. Tegasnya, dari setiap strata (subpopulasi) itu harus ada wakil yang menjadi sampel. Cara atau teknik ini disebut teknik stratified sampling. Stratified sampling adalah teknik pengambilan sampel dari populasi dengan memperhatikan adanya strata dalam populasi tersebut, yaitu dari setiap strata ada anggota populasi yang dipilih menjadi sampel.

a. Proportional dan disproportional stratified sampling

Catatan: Istilah lain dari proportional adalah proportionate, artinya sebanding, seimbang. Lawan katanya (antonim) adalah disporportional atau disporportionate (maaf, selama ini saya salah tulis–karena tak buka kamus online, yaitu menuliskannya nonproportional–walapun dalam beberapa literatur diistilahkan juga nonproportional). Istilah proportional lebih banyak digunakan oleh para penulis metodologi penelitian dan lainnya dibanding proportionate).

Setiap strata dari populasi berstrata (setiap subpopulasi dari populasi berstrata) tentu memiliki sejumlah anggota, dan jumlah anggota setiap strata (subpopulasi) bisa berbeda dari strata (subpopulasi) yang lain.
Ada dua pilihan kemungkinan mengambil sampel dari setiap strata, yaitu dengan cara yang proporsional (memperhatikan perbandingan jumlah anggota setiap strata atau subpopulasi) atau tidak proporsional (tidak memperhatikan perbedaan jumlah anggota subpopulsi).

Jadi, pengambilan sampel secara proporsional artinya mengikuti perbandingan banyaknya anggota antar subpopulasi, atau dari setiap subpopulasi diambil sampel sebanding dengan jumlah anggota yang ada dalam subpopulasi tersebut. Pengambilan sampel secara nonproporsional artinya mengambil sampel dengan tidak memperhatikan perbandingan banyaknya anggota antar subpopulasi. Ini bisa sama rata dari setiap subpopulasi diambil sampel dalam jumlah yang sama, atau besar kecilnya sekedar mengikuti banyaknya jumlah anggota dalam setiap subpopulasi tanpa perhitungan yang tepat (tidak matematis).

Contoh:

Murid Kelas IX SMP (dari beberapa kelas paralel) ada 222 orang, murid Kelas VIII ada 333 orang, dan murid Kelas VII ada 444 orang. total murid ada 999 orang. Sampel akan diambil 10% dari seluruh anggota populasi, jadi sebanyak 99,9 (dibulatkan 100) orang.

Jika tidak proporsional (disproportional stratified sampling) mungkin peneliti akan membagi rata total sampel yang harus diambil menjadi sama banyak dari setiap kelas, masing-masing 33 orang, kecuali dari kelas VII 34 orang. Jika proporsional (proportional stratified sampling), maka dari setiap kelas akan diambil 10% dari total anggota subpopulasi kelas tersebut. Jadi dari Kelas IX akan diambil 10% x 222 orang = 22 orang, dari kelas VIII 33 orang, dan dari Kelas VII 44 orang (digenapkan menjadi 35 orang).

Pengambilan sampel sebaiknya dengan teknik yang proporsional. Kenapa? Karena, betapapun, itu jauh lebih representatif, sehingga diharapkan hasil penelitiannya juga akan lebih representatif. Lihat contoh “bias” hasil penelitian yang disebabkan salah teknis pengambilan sampel pada paparan tentang “cluster sampling.”

b. Proportional stratified random sampling

Selanjutnya pengambilan sampel dari setiap jenjang kelas (subpopulasi) dilakukan dengan cara random atau sistematik seperti telah dicontohkan di muka (dengan kata lain menggunakan teknik undian, ordinal, atau menggunakan Tabel Bilangan Random). Dengan cara seperti ini maka teknik pengambilan sampel yang digunakan selengkapnya menjadi proportional stratified random sampling (pengambilan sampel secara acak dengan memperhatikan strata yang ada dalam populasi dan perbandingan jumlah anggota antar strata).

Ingat, karena populasinya heterogen (beragam, dalam hal ini berstrata), maka jangan (tidak tepat) menggunakan teknik simple random sampling. Jangan salah pula: tidak harus stratanya disampling. Maksudnya, dari sekian strata (misal ada 7) diambil sebagiannya saja (misal 3), lalu dari sampel strata yang terpilih itu (3 strata) baru diambil sampel anggotanya. Ini malah nantinya akan menjadi tidak representatif, karena tidak mencerminkan keseluruhan strata, padahal antar strata jelas-jelas memiliki keberagaman atau heteroginitas.

4. Pengambilan sampel dari populasi ber-”cluster” (cluster sampling)

Cluster artinya kerumunan, kelompok, rumpun, atau ikatan sejenis (punya kesamaan sifat atau kondisi). Jadi populasi “berklaster” artinya populasi yang di dalamnya ada kelompok-kelompok atau golongan-golongan. Dalam hal ini kelompok atau golongan tidak mengandung golongan karena tingkatan (golongan bertingkat). Oleh karena itu, walau ada yang menyamakan cluster dengan strata, Penulis membedakan cluster dari strata, karena itu memudahkan pikiran saat akan mengambil sampel. Untuk lebih tegasnya, populasi berklaster (bergolongan) adalah populasi (populasi subjek penelitian atau responden penelitian) yang anggota-anggotanya terbagi-bagi ke dalam, atau berada di dalam, golongan-golongan menurut kesamaan ciri atau kondisi tertentu yang bukan perjenjangan.

Istilah “cluster” sering dipakai jugauntuk menyebut (disamakan makna dengan) “area.” Tentang pengambilan sampel dari populasi ber-”area” akan dibicarakan di bawah.

Seperti telah disebutkan di muka, “cluster” dalam populasi penelitian itu bisa antara lain berupa:

(a) Golongan menurut jenis kelamin: laki-laki dan perempuan.

(b) Golongan menurut jenis pekerjaan: PNS, pegawai swasta, buruh, petani, pedagang, ibu rumah tangga, pelajar/mahasiswa.

(c) Golongan menurut pemelukan agama: Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Kong Hu Cu.

(d) Golongan menurut usia: bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa, lansia.

(e) Golongan menurut pengelompokan tertentu yang sejajar: Kelas XII IPA-1, Kelas XII IPA-2, Kelas XII IPA-3, Kelas XII IPS-1, Kelas XII IPS-2 dsb.

Pengambilan sampel dari populasi berklaster pada prinsipnya sama dengan pengambilan sampel dari populasi berstrata, hanya saja dalam hal ini strata itu diganti dengan cluster. Jadi, dalam pengambilan sampelnya bisa ada teknik proportional cluster sampling dan ada teknik disproportional cluster sampling. Pengambilan sampel dari setiap cluster (subpopulasi) juga menggunakan teknik random sampling. Jadi, akan ada teknik proportional cluster random sampling.

Ingat: cara proporsional lebih baik daripada cara yang tidak proporsional. Bias atau kemelencengan hasil penelitian (penggeneralisasian hasil penelitian terhadap sampel kepada populasinya) dapat terjadi jika sampel tidak diambil secara proporsional, seperti dalam contoh berikut.

Seorang pengusaha ingin mendirikan usaha peternakan babai sekaligus penjagalan dan pengolahannya di suatu daerah. Agar tidak bermasalah dengan penduduk, pengusaha itu menyewa peneliti untuk melakukan jajag pendapat (bertanya apakah warga keberatan atau tidak keberatan). Peneliti mengambil sampel dengan cara acak sederhana, sebanyak 100 orang (orang dewasa). Hasilnya sebagian besar warga tidak keberatan. Akan tetapi, pada saat usaha peternakan, penjagalan dan pengolahan babi itu akan didirikan, ternyata warga setempat demo besar-besaran protes keberatan. Lho!? Kok bisa?

Ketidaktepatan (bias) hasil penelitian dari realita sebenarnya terjadi karena peneliti salah cara dalam pengambilan sampel. Yang terjaring sebagai sampel dari 100 orang itu ternyata dilihat dari sudut pemelukan agama (karena “usaha babi” ini berkaitan dengan nilai keagamaan) terjaring yang beragama Islam 25 orang, Katolik 30 orang, Kristen Protestan 30 orang, Hindu 3 orang dan Budha 12 orang (total 100 orang).

Populasinya sebenarnya yang beragama Islam ada 1785 orang (tersampel hanya 25 orang), Katolik 155 orang (tersampel 30 orang), Kristen Protestan 202 orang (tersampel 30 orang), Hindu 11 orang (tersampel 3 orang), dan Budha 28 orang (tersampel 12 orang). Tampak bahwa sampel tidak proporsional (mengikuti perbandingan anggota dari setiap subpopulasi), karena peneliti memperlakukan populasi sebagai populasi homogen.

Peneliti tidak menyadari bahwa populasinya beragam (heterogen) karena di dalamnya ada unsur pemelukan agama yang terkait dengan objek penelitian (penerimaan keberadaan usaha babi). Babi itu haram dan suka dikatakan najis oleh orang Islam. Perbandingan sampel yang terambil, dengan cara acak sederhana tadi, yang beragama Islam 25 orang, yang non-Islam 75 orang. Jadi hasil jajag pendapatnya, dapat diduga, kira-kira akan memunculkan sebagian besar (75%) warga (dari kalangan non-Islam) tidak keberatan.

Ini akan berbeda jika secara proporsional menurut cluster keagamaan. Jika dari setiap subpopulasi keagamaan diambil 10% sampel, misalnya, maka akan terambil sebagai sampel yang beragama Islam sebanyak 178,5 (dibulatkan 178) orang (dari 1785 orang), Katolik 15,5 (dibulatkan 16) orang (dari 155 orang), Kristen Protestan 20,2 (dibulatkan 20) orang (dari 202 orang), Hindu 1,1, (dibulatkan 1) orang (dari 11 orang), dan Budha 2,8 (dibulatkan 3) orang (dari 28 orang). Perbandingannya: Islam 178 orang dan non-Islam 40 orang (total 218 orang). [Tentang teknik pembulatan lihat paparan di bawah].

Banyak mana kira-kira antara yang keberatan dan yang tidak keberatan? Yang keberatan ada sekitar 4/5 warga atau sekitar 80%.

Dari ilustrasi di atas dapat ditegaskan bahwa jangan menggunakan teknik simple random sampling pada populasi yang berklaster, karena keberagaman dengan adanya klaster itu dapat berpengaruh terhadap hasil penelitian.

Jika sesuatu kelas-rombongan-belajar (misal Kelas VIIA, Kelas VIIIC, dan Kelas IXD) tempat murid-murid “mengelompok” dianggap sebagai suatu klaster, maka sekolah tertentu (misal SDN Sukasari I, SDN Sukamulya III, dan SDN Sukamaju III di Kecamatan Padasuka) tempat para guru berkelompok dapat disebut juga sebagai “klaster” dari populasi guru-guru SD. Jadi, jika seseorang ingin meneliti para guru SD di Kecamatan Padasuka, peneliti itu dapat mengambil terlebih dahulu sampel sekolah dari seluruh “populasi sekolah” yang ada di Kecamatan Padasuka. Setelah itu, dari sekolah yang tersampling tersebut diambil secara random gurunya sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan (jumlahnya menurut proporsi jenis kelamin jika termasuk dipertimbangkan).

5. Pengambilan sampel dari populasi berstrata dan berklaster

Populasi penelitian dapat mengandung keragaman strata sekaligus klaster. Murid-murid di sebuah SMP berjenjang menurut tingkatan kelasnya (kelas VII, VIII, dan IX). Di dalam setiap jenjang kelas itu terdapat klaster kelas (rombongan belajar) semisal Kelas VIIA, Kelas VIIB, Kelas VIIC dst. Selain itu, masih terdapat pula klaster jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) di setiap kelas-rombongan-belajar. Dalam keadaan populasi seperti itu, maka cara mengambil sampelnya menggunakan perpaduan teknik stratified sampling dan cluster sampling menjadi stratified cluster random sampling (pengambilan sampel secara acak dari populasi berklaster dan berstrata).

Dalam contoh di atas seluruh kelas-rombongan-belajar (Kelas VIIA, VIIB, VIIC dst.) dalam tiap jenjang kelas (kelas-tingkat VII) dianggap homogen. Oleh karenanya tidak harus seluruh kelas-rombongan-belajar itu diteliti, cukup diwakili sebagian saja untuk mewakili kelas-tingkatnya. Jadi, dari seluruh kelas-rombongan-belajar per kelas-tingkat cukup diambil, misalnya, satu kelas-rombongan-belajar saja. Sebagai contoh, dari kelas-tingkat VII, misalnya terambil secara acak sederhana Kelas VIIB, dari kelas-tingkat VIII terambil Kelas VIIIE, dan dari kelas-tingkat IX terambil Kelas IXA.

Dari kelas-rombongan-belajar yang terambil sebagai sampel itu kemudian diambil sampel murid secara acak sederhana dengan memperhatikan jenis kelaminnya dan perbandingan anggota jenis kelamin serta perbandingan anggota antar kelas yang terpilih sebagai sampel. Contoh konkritnya di Kelas VIIB ada 39 murid (15 L dan 14 P), di Kelas VIIIE ada 40 murid (19 L dan 21 P), dan di Kelas IXA ada 40 murid (16 L dan 24 P). Jika dari tiap kelas tersebut diambil sampel sebanyak 50%, maka dari Kelas VIIB akan terambil sampel 7,5 L (dibulatkan 8 L) dan 7 P, dari Kelas VIIIE terambil sampel 9,5 L (dibulatkan 10 L) dan 10,5 P (dibulatkan 10 P), dan dari Kelas IXA terambil 8 L dan 12 P.

Catatan: Jika angka berujud desimal tengahan (7,5 atau 8, 5 atau 11, 5 dan 14,5) maka pembulatannya mengikuti aturanberikut: Jika sebelum tanda koma berujud angka genap maka dibulatkan ke bawah (8,5 menjadi 8; 14,5 menjadi 14), sementara jika angkanya gasal dibulatkan ke atas (7,5 menjadi 8; 19,5 menjadi 20).

Ikuti anekdot berikut: Orang yang “ganjil” (gasal sering disebut lain dengan ganjil–ganjil bermakna lain tidak normal atau tidak waras) perlu dibantu, orang yang “genap” (Jawa: “wong genep” sama dengan “orang waras”) tak perlu dibantu, karena sudah “genap.” Jadi karena dalam 17,5 angka 7 sebelum angka 5 merupakan bilangan “ganjil” maka dibantu (dijadikan genap atau “digenapkan” menjadi 18, tidak dibiarkan “ganjil” 17).

6. Pengambilan sampel dari populasi ber-area (area sampling)

Adakalanya sesuatu penelitian berkaitan dengan keberadaan subjek atau responden dalam area (wilayah) tertentu. Jika peneliti ingin meneliti (mengobservasi) kehidupan murid sebuah yayasan pendidikan di rumahnya (perilaku kehidupannya sehari-hari di rumah), maka tentu bukan sekolah yang menjadi tempat penelitian, melainkan tempat tinggal murid. Para murid tersebut tentu tinggal di berbagai area (geografis adan atau administratif).

Oleh karena persebaran tempat tinggal murid tersebut mungkin mencakup sedemikian banyak wilayah (area), maka untuk mengambil sampelnya digunakanlah pertama-tama teknik area random sampling (pengambilan sampel secara acak dengan memperhatikan adanya area dalam populasi). Maksudnya dengan cara berikut (mengikuti contoh di atas):

(a) Catat (identifikasi) area mana saja yang menjadi tempat tinggal murid dan berapa banyak murid tinggal di area tesebut.

(b) Singkirkan area yang terlampau sedikit dan yang terlampau banyak didiami murid. Maksudnya tidak akan diikutsertkan dalam pengambilan sampel. Atau, gabungkan area-area yang terlampau sedikit didiami murid menjadi satu area “cukup banyak murid,” misalnya desa Karangtales dan Karangtela menjadi satu area dinamai Karangtelatales, sementara yang terlampau “banyak murid” dipecah menjadi area yang lebih “sedikit murid,” misalnya Karangsalam dibagi tiga menjadi Karangsalam I, Karangsalam II, dan Karangsalam III.

(c) Ambil sampel area dari seluruh “populasi area” tempat tinggal murid secara acak sederhana (jumlah diperkirakan yang layak atau pantas untuk mendapatkan sampel murid yang representatif).

(d) Ambil dari area tersampel sampel murid sejumlah sesuai dengan rencana. Dalam hal ini tampaknya tidak perlu proporsional karena area tempat tinggal tidak mempengaruhi perilaku kehidupan keseharian. Yang diperkirakan akan mempengaruhi bukan areanya, akan tetapi pola hidup dan budaya masyarakat setempat. Jika pola hidup dan budaya dimaksud sudah diketahui, dalam penetapan area haruslah berdasarkan keberagaman pola hidup dan budaya tersebut, bukan berdasar geografis atau administratif (Jadi, semacam “area budaya”).

Contoh lain:

Seorang mahasiswa ingin meneliti efektivitas jam perpustakaan di sekolah dasar se-Kabupaten Gunungduwur. Jadi, objek penelitiannya efektivitas jam perpustakaan. Subjek penelitiannya perpustakaan SD. Ada sekian ratus SD di Kabupaten Gunungduwur. Tentu berat untuk mewawancara seluruh informan penelitian (pengelola perpustakaan SD) dan mengobservasi pelaksanaan jam perpustakaan di setiap SD. Oleh karena itu penelitiannya akan menggunakan studi sampling.

Yang pertama-tama dilakukan adalah mendata “area” kecamatan yang ada di Kabupaten Gunungduwur. Ada 17 kecamatan di Kabupaten Gunungduwur. Dari 17 kecamatan itu diambil sebagai sampel 25% atau seperempatnya. Jadi akan diambil sebanyak 4 kecamatan. Ketujuh belas kecamatan itu lalu disampling dengan teknik ordinal (systematic sampling). Mahasiswa tersebut lahir tanggal 21 April. Jadi angka 21 akan dijadikan angka pengambilan sampel pertama dari urutan daftar kecamatan (yang sudah disusunnya urut abjad). Jadi ia hitung dari 17 kembali ke 1 menjadi 18, 2 jadi 19, 3 jadi 20 dan 4 jadi 21. Terambillah nomor urut 4 sebagai sampel kecamaan pertama. Karena dari 17 akan diambil 4, maka angka pembagiannya menjadi 17/4 = 4. Jadi sampel akan diambil secara “sistematis” (berurutan atau ordinal) dengan kelipatan 4. Yang telah terambil pertama nomor urut 4. Jadi berikutnya nomor urut 8, kemudian 12, dan teakhir nomor 16. Untuk mudahnya sebut saja Kecamatan Gunungpapat, Kecamatan Gunungwolu, Kecamatan Gunungrolas, dan Kecamatan Gunungnembelas.

Dari tiap kecamatan tersebut didata (diidentifikasi) desa-desanya, karena SD di setiap desa ada lebih dari lima. Di Kecamatan Gunungpapat ada lima desa, di Kecamatan Gunungwolu ada empat desa, di Kecamatan Gunungrolas ada tiga desa, dan di Kecamatan Gunungnembelas ada lima desa. Diambillah oleh mahasiswa tersebut dengan cara random juga, desa sampel dari tiap kecamatan sebanyak 50%-nya. Dari Kecamatan Gunungpapat terambil 2 desa, dari Kecamatan Gunungwolu 2 desa, dari Kecamatan Gunungrolas 2 desa (50% dari 3 = 1,5 dibulatkan 2), dan dari Kecamatan Gunungnembelas terambil 2 desa. Total 8 desa. Selanjutnya seluruh SD yang ada di desa-desa tersebut dijadikan sebagai sampel penelitian, tidak disampling lagi. Total SD yang diteliti ada 53 SD. Jadi ada 53 perpustakaan SD yang akan diteliti, tanpa melihat dulu apakah perpustakaannya ada atau tidak ada. Jika tidak ada otomatis gugur dari sampel penelitian.

Selanjutnya mahasiswa tersebut tinggal mendatangi SD-SD dimaksud, “kulonuwun” (minta izin) kepala sekolah masing-masing, kemudian menemui pengelola perpustakaan (guru atau staf lain jika ada) untuk mengumpulkan data (wawancara dan observasi, dikuatkan dengan data dokumentasi), termasuk wawancara ke para guru lain–sebagai informan tambahan, jika perlu, dan juga murid (dipilih secara “purposive” atau “sengaja” karena alasan logis tertentu–dalam hal ini “sedang menggunakan jam perpustakaan”– murid-murid yang sedang ada di perpustakaan pada hari obserasi dilakukan).

[Pengambilan sampel dari populasi tak terhingga dan tak jelas atau pasti dibicarakan dalam uraian berikut, agar paparan ini tak terlampau panjang]

SAMPEL, sampling, dan populasi penelitian (Bagian II: Teknik sampling II)

Posted on 30/06/2009 by tatang m. amirin| 48 Comments

Tatang M. Amirin; Edisi 1 Juli 2009; 9 Juli 2009; 13 Juli 2009; 28 Juli 2009

Populasi tak terhingga; populasi tak jelas/pasti; quota sampling; purposive sampling; convenience/opportunistic/incidental/accidental sampling; snowball sampling

 

Mengingat tulisan tentang sampel, samping, dan populasi penelitian ini dipotong-potong menjadi beberapa bagian, maka sebelum masuk ke pembahasan bagian ini, perlu dirujuk ulang secara singkat apa yang penting dipahami terlebih dahulu.

Pertama, dalam penelitian ada subjek penelitian, yaitu seseorang atau sesuatu, apa saja, yang tentangnya (sifatnya, keadaannya, “attribute”-nya) penelitian akan dilakukan. Sifat atau keadaan (“attribute”) subjek yang akan diteliti itu disebut sebagai objek penelitian. Jika subjek penelitian banyak, maka keseluruhan subjek penelitian itu disebut populasi subjek penelitian. Setiap subjek penelitian merupakan anggota populasi subjek penelitian.

 

Kedua, ada kalanya penelitian, dalam arti pengumpulan data, dilakukan kepada/terhadap subjek itu sendiri, ada kalanya kepada/lewat orang lain. Siapapun yang “ditanyai” (dalam arti luas) mengenai sifat keadaan subjek penelitian itu, disebut responden penelitian. Jadi subjek penelitian bisa sekaligus menjadi responden penelitian, bisa juga tidak. Orang lain yang ditanyai mengenai sifat keadaan subjek merupakan responden murni (maksudnya yang bukan subjek penelitian). “Responden murni” yang jumlahnya banyak disebut populasi responden penelitian. Populasi responden penelitian jadinya merupakan keseluruhan responden penelitian. Setiap responden disebut anggota populasi responden penelitian.

1. Populasi tak terhingga dan tak jelas (tak pasti)

Populasi penelitian, apakah itu populasi subjek penelitian, ataukah populasi responden penelitian, ada yang jumlah anggotanya bisa dan mudah dihitung, ada yang tidak bisa atau tidak mudah dihitung. Oleh karenanya populasi penelitian dibedakan (oleh Penulis) menjadi tiga kategori. Pertama populasi terhingga, kedua populasi tidak terhingga, dan ketiga populasi tidak jelas atau tidak pasti.

Populasi terhingga adalah populasi yang anggota-anggotanya sangat mungkin dan bisa dihitung. Terhingga artinya ada hitungan tertentu, bisa dihitung jumlah atau banyaknya. Sebaliknya, tak terhingga artinya tidak bisa dihitung jumlah atau banyaknya. Ini seperti kalau orang mengucapkan, “Hutang budi kami kepadanya sungguh tiada terhingga.” Jadi, populasi tak terhingga adalah populasi penelitian yang jumlah anggotanya tidak bisa atau tidak mudah dihutung.

Pengambilan sampel dari populasi terhingga telah dibicarakan di muka. Teknik-teknik sampling yang telah dibicarakan, yaitu teknik simple random sampling, systematic sampling (teknik ordinal), stratified random sampling, cluster random sampling, dan area random sampling, semuanya berkaitan dengan populasi terhingga.

Oleh karena itu yang akan dibicarakan berikut adalah teknik pengambilan sampel (teknik sampling) dari populasi tak terhingga dan tak jelas atau tak pasti.

Seperti telah disebutkan pada uraiana terdahulu, populasi tak jelas atau tak pasti adalah populasi yang keberadaan dan jumlah anggotanya tidak diketahui secara pasti, tidak jelas keberadaan dan jumlahnya. WTS, sebagai contoh, dapat diketahui umum keberadaannya–karena ada tempat-tempat tertentu yang biasa mereka ada di situ, akan tetapi tidak pasti banyaknya (tak bisa “dihingga”–karena sebagian tidak diketahui juga keberadaannya).

Di sisi lain, orang yang kawin siri, yang, walaupun “diketahui adanya” karena ada banyak ceritera dan kabar berita tentangnya, akan tetapi keberadaannya saja pun tidak diketahui secara pasti di mana, apalagi jumlahnya. Itu contoh populasi tak jelas atau tidak pasti. Contoh lain adalah keluarga yang sejahtera (sakinah, mawaddah, dan rohmah). Pasti ada yang demikian, tetapi di mana (keluarga yang mana saja) dan berapa jumlahnya, tak jelas, tak bisa dipastikan.

Berikut akan dibahas berbagai hal yang berkaitan dengan populasi tak terhingga dan tak jelas serta sampel dan teknik pengambilan sampelnya.

Sebagai catatan, teknik-teknik yang akan dipaparkan ini bisa atau mungkin juga digunakan untuk mengambil sampel dari populasi terhingga, akan tetapi tentu akan menjadi “jelek” sekali representativitasnya, sehingga hasilnya (untuk generalisasi) menjadi tidak bisa dijamin keakuratannya.

2. Teknik-teknik nonprobability sampling

Seperti telah disebutkan, populasi (populasi subjek dan atau responden penelitian) tak terhingga adalah populasi yang jumlah anggotanya tidak bisa atau tidak mungkin dihitung, sehingga tidak diketahui secara pasti berapa jumlah anggota populasi tersebut, sedangkan populasi tak jelas atau tidak pasti adalah populasi yang keberadaan dan jumlah anggotanya tidak jelas atau tidak bisa dipastikan jumlahnya.

Oleh karena anggota populasinya tidak diketahui secara pasti siapa saja dan berapa banyak, maka tidak mungkin mengambil sampel dari populasi tersebut secara adil, memberi peluang yang sama kepada setiap anggota untuk terambil menjadi sampel (probability sampling), atau mengambil sampelnya secara acak (random sampling). Oleh karena tidak memberi peluang yang adil, yang sama, kepada setiap anggota populasi untuk menjadi sampel, maka teknik-teknik pengambilan sampel dari populasi tak terhingga dan tidak jelas ini dikelompokkan ke dalam rumpun nonprobability sampling, yaitu cara pengambilan sampel yang tidak memberi peluang yang sama kepada setiap anggota untuk terambil sebagai sampel, atau nonrandom sampling (cara pengambilan sampel yang tidak acak).

Apa saja teknik-teknik sampling (pengambilan sampel) yang nonprobability (nonrandom) itu, dan kapan atau terhadap populasi yang seperti apa cocok digunakan, akan dibahas satu per satu, disertai contoh penggunaan agar mempermudah yang akan menerapkannya dalam praktik.

3. Quota sampling

Teknik quota sampling adalah teknik pengambilan sampel dengan cara menetapkan jumlah tertentu sebagai target yang harus dipenuhi dalam pengambilan sampel dari populasi (khususnya yang tidak terhingga atau tidak jelas), kemudian dengan patokan jumlah tersebut peneliti mengambil sampel secara sembarang asal memenuhi persyaratan sebagai sampel dari populasi tersebut.

Pada uraian terdahulu telah disebutkan bahwa penetapan banyaknya sampel yang akan diambil dengan quota sampling berbeda makna dan teknis dari penetapan jumlah sampel pada populasi terhingga. Pada populasi terhingga penetapan jumlah sampel yang akan diambil itu lazimnya bersifat “proporsional,” setidak-tidaknya memperhatikan “besaran atau banyaknya anggota populasi), sehingga sebanding atau mendekati sebanding jumlah anggota dalam populasi (bahkan selalu seiring dengan heteroginitas populasi), karena jumlah anggota populasi jelas hitungannya. Oleh karena jelas hitungan anggota populasinya, maka untuk representativitas, pengambilan sampel biasanya menggunakan persentase.

Pada quota sampling banyaknya sampel yang ditetapkan itu hanya sekedar perkiraan akan relatif memadai untuk mendapatkan data yang diperlukan yang diperkirakan dapat mencerminkan populasinya, tidak bisa diperhitungkan secara tegas proporsinya dari populasi, karena jumlah anggota populasi tidak diketahui secara pasti tadi. Quota sampling pasti, karenanya, nonrandom sampling.

Contoh:

Peneliti ingin mengetahui apa yang menjadi latar belakang (motivasi, niat) yang sesungguhnya dari para orang tua ingin menyekolahkan anaknya pada sekolah tertentu.Paraorang tua di sini dimaksudkan mereka yang memiliki anak usia sekolah tertentu dan belum masuk ke sekolah tersebut (bukan orang tua murid, melainkan orang tua anak usia sekolah).

Keinginan para orang tua itu tentu bisa benar-benar dilaksanakan, bisa pula tidak. Kenapa? Jika sekolah itu sekolah yang termasuk elit, mungkin saja ada orang tua yang dalam hatinya ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut, tetapi tidak bisa karena tak mampu dan alasan lainnya. Jadi, keinginan (motivasi, niat) itu sebenarnya ada, tapi tidak hendak (karena tidak bisa atau tidak mungkin) diaktualisasikan (diwujudkan).

Dengan “status” seperti itu maka jumlah populasi orang tua tersebut menjadi tak terhingga, karena orang tua anak usia sekolah yang “berkeinginan” itu bisa tak diketahui secara pasti. Ini berbeda dengan jumlah orang tua yang benar-benar mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut, yang bisa dipastikan jumlahnya akan terhingga, bisa dihitung, karena tercatat sebagai pendaftar (lebih-lebih yang benar-benar anaknya diterima).

Oleh karena berkeadaan seperti itu, maka peneliti dapat menetapkan besaran “kuota” sampel yang akan diambil dengan memperhitungkan yang mendaftar dan perkiraan banyaknya yang sebenarnya berkeinginan tadi. Jelasnya: Jika yang medaftar ada 200 orang–yang diterima mungkin hanya 90 orang–berapa kira-kira yang tidak mendaftar tetapi berkeinginan?

Catatan:

Jika penelitian ini melibatkan orang tua anak usia sekolah yang benar-benar mendaftarkan anaknya dan yang tidak mendaftarkan anaknya (tetapi berkeinginan tadi), maka ada dua subpopulasi dari populasi orang tua anak usia sekolah yang berminat mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut, yaitu (1) yang benar-benar mendaftar, dan (2) yang potensial (ada keinginan) mendaftar tapi tidak mendaftarkan anaknya.

Dari yang mendaftar (karena tercatat, jumlahnya pasti, jadi merupakan subpopulasi terhingga) tentu dapat diambil sampel dengan teknik-teknik probability sampling. Sampel yang akan diambil dengan quota sampling adalah sampel dari para orang tua yang berkeinginan tetapi tidak mendaftar.

Apabila penelitian dilakukan jauh hari sebelum masa pendaftaran dilakukan, maka populasinya secara sekeluruhan bersifat tak terhingga (hanya ada “satu” populasi, tidak terdiri atas “dua subpopulasi”), karena yang mendaftar belum ada. Oleh karenanya maka sampelnya dapat diambil dengan teknik quota sampling.

4. Purposive sampling

Istilah purposive sering diterjemahkan bertujuan, karena purpose artinya maksud atau tujuan; jadi purposive sampling diartikan sebagai pengambilan sampel secara bertujuan. Ini benar, tapi tidak betul. Beberapa definisi sering menyebutnya sebagai pengambilan sampel “with purpose in mind” (dengan tujuan atau maksud tertentu di hati). Tetapi tujuan tersebut tidak jelas (tujuan apa?). Itu makanya disebut benar tapi tidak betul, karena tak jelas.

Kalau membuka kamus (buka kamus yang “besar” semisal Oxford Advances Learner’s Dictionary), akan tertemukan bahwa memang salah satu arti purpose adalah tujuan. Tapi tentu dalam hal ini bukan itu yang dimaksud, karena tidak ada pengambilan sampel yang tidak punya tujuan, apalagi menelitinya. Jika dibaca lebih cermat kamus tersebut, maka akan ditemukan arti lain dari purpose, antara lain kesengajaan (“intention”), tidak sekedar secara kebetulan (“accidental“); juga berarti alasan (“reason“) tertentu; dan juga tuntutan keadaan tertentu (the requirements of a particular situation) atau, jelasnya, menurut persyaratan tertentu.

Jadi, dapatlah dikatakan bahwa purposive sampling adalah pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan. Dalam bahasa sederhana purposive sampling itu dapat dikatakan sebagai secara sengaja mengambil sampel tertentu (jika orang maka berarti orang-orang tertentu) sesuai persyaratan (sifat-sifat, karakteristik, ciri, kriteria) sampel (jangan lupa yang mencerminkan populasinya).

Misalnya yang diperlukan sebagai sampel adalah “perempuan pengguna sepeda motor tipe laki-laki (bukan bebek dan sejenisnya)”–karena yang sedang dicari (jadi, populasinya) adalah perempuan-perempuan pengguna sepeda motor tipe laki-laki. Hati-hati, populasinya bukan semua pengguna sepeda motor, sepeda motor jenis atau tipe apapun. Hati-hati pula, bukan “pengguna motor: kasus perempuan pengguna motor laki-laki.” Juga hati-hati: bukan pengguna sepeda motor laki-laki: kasus perempuan. Populasinya semua perempuan pengguna sepeda motor laki-laki (artinya, atau definisi operasionlanya: perempuan yangselalu atau sering kali jika bepergian menggunakan sepeda motor jenis itu, apapun yang menjadi latar belakangnya).

Dalam kasus tertentu, Penulis lebih suka menyebut purposive sampling dalam istilah bahasa Jawa sebagai teknik pengambilan sampel secara “njujug“, “menuju langsung ke “tempat” (area, wilayah, lokasi) tertentu yang banyak anggota populasi dimaksud berada.

Jadi, KEJAR sampel di mana berada!

Contoh:

Jika ingin meneliti anak-anak jalanan, datangilah (untuk mengambil sampel) perempatan-perempatan jalan raya. Kenapa? Karena di situ anak-anak jalanan sering melakukan aktivitas ngamen dan meminta-minta. Jadi, jelas tidak perlu dengan teknik area sampling (area geografis dan atau administratif). Maksudnya, memilih-pilih (menyampel) area, lalu dari area-area tersampel itu dicari anak-anak jalanannya. Muspro, mubazir, gitu kira-kira. Sebab, bisa jadi dari area tertentu malah tak tertemukan anak jalanan itu.

Jika ingin meneliti “ayam-ayam kampus” (maaf lho, karena ini sudah “populer” alias diketahui “populi” atau orang banyak) contoh lainnya, datangilah tempat-tempat yang biasa dipakai “praktek lapangan” mereka, bukan di kampus [Dimarahi Rektor, nanti, hehe. Tentu juga, jangan tanya saya di mana mereka ngetem, tentu saja, hehe! Mana tahu?! Eh, belum tahu, belum berkepentingan, sih. Hus, untuk penelitian, maksudnya, bukan kepentingan lain!Heheh . . . Tanya “informan”-nya saja, lah! Informannya siapa, gak tahu juga aku!]. Nah, jadi, lalu, ambillah sampel mereka di atau dari tempat mangkalnya itu.

Dengan cara seperti itu, maka:

(1) Tuntutan mendapatkan sampel yang sesuai atau pas (yang termasuk anggota “anak jalanan” atau “ayam kampus”) pasti tecapai.

(2) “Secara sengaja” (baca: terencana; purposive) mencari anggota populasi “njujug langsung ke tempat tertentu” punya alasan logis, karena jelas lebih efektif dan efisien, daripada mencari-cari ke mana-mana yang belum tentu menemukan apa yang dicari.

Ambil contoh Anda akan meneliti kasus tawuran pelajar. Sudah diketahui umum bahwa yang suka tawuran itu hanya dari beberapa sekolah tertentu saja (antar sekolah tertentu). Jadi, secara sengaja (purposive) Anda lakukan perburuan (hunting) sampel murid yang suka tawuran ke sekolah-sekolah tertentu itu saja, tak perlu semua sekolah dimasuki, atau disampel. Di sekolah itu saja pun mungkin Anda harus cukup lama berakrab-akrab dulu dengan murid-murid sebelum mendapatkan sampel para petawur itu. Jangan begitu datang langsung “to the point” (togmol, kata orang Sunda) mencari dan mewawancarai petawur. Bisa terjebak, salah “tangkap,” dan mendapatkan informasi yang bias. [Hehehe . . ., maaf, jangan suka main “tangkap dulu urusan belakang” kayak oknum polisi-polisi yang tidak profesional–ditangkap, dianggap teroris, lalu dilepas, tak terbukti! Bikin trauma dan stres orang saja!].

Ada pula yang memberi makna purposive sampling itu sebagai pengambilan sampel secara sembarang asal memenuhi persyaratan. Jadi ini akan sama dengan opportunistic (incidental, acidental) sampling. Misal dalam polling (jajag pendapat) seseorang peneliti (observer) mencegat orang-orang yang lewat untuk ditanyai. Barangsiapa sesuai ketentuan (kriteria sampel) maka langsung diambil sebagai sampel, yang tidak memenuhi kriteria dibiarkan lewat. Sekali lagi, cara seperti itu lebih lazim disebut dengan opportunistic (accidental, incidental) sampling (mengambil sampel siapa saja yang kebetulan pas untuk menjadi sampel).

Dalam penelitian kualitatif sampel lazim diambil secara purposive. Ini juga maknanya sama, yakni “njujug,” hanya saja yang dijadikan “jujugan” (tujuan) bukan tempat, melainkan orang (subjek/reponden penelitian). Jelasnya, yang “dituju” adalah orang-orang tertentu yang (dengan alasan atau latar belakang logis) memenuhi persyaratan (tuntutan persyaratan) sebagai “responden” (yang dapat memberikan jawaban atas pertanyaan penelitian). Ini hampir mirip dengan informan (narasumber) penelitian. Jangan lupa, bedanya, informan tidak memberikan informasi pribadi, melainkan informasi kelembagaan. Sampel penelitian kualitatif yang purposive tadi, tetap memiliki ciri individual, pribadi. Artinya, keindividuannya itu yang diteliti. Ia tidak mewakili kelembagaan (apapun lembaga, organisasi dsb).

Purposive sampling suka juga disebut judgmental sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan “penilaian” (judgment) peneliti mengenai siapa-siapa saja yang pantas (memenuhi persyaratan) untuk dijadikan sampel. Oleh karenanya agar tidak sangat subjektif, peneliti harus punya latar belakang pengetahuan tertentu mengenai sampel dimaksud (tentu juga populasinya) agar benar-benar bisa mendapatkan sampel yang sesuai dengan persyaratan atau tujuan penelitian (memperoleh data yang akurat).

Berapa banyak sampel purposif diambil? Rumusnya sederhana: sebanyak yang dianggap cukup memadai untuk memperoleh data penelitian yang mencerminkan (representatif) keadaan populasi. Maksudnya, data dari sampel purposif tersebut dianggap sudah bisa menggambarkan (menjawab) apa yang menjadi tujuan dan permasalahan penelitian. Tentu tidak bagus kalu cuma satu dua orang. Sebanyak mungkin jauh lebih baik. Angka pasti? Tidak ada. Perhatikan perkiraan “anggota populasi” yang ada di “area” (contoh: tempat mangkal anak jalanan dan ayam kampus tadi) ada berapa banyak, lalu ambillah sebanyak mungkin).

Hati-hati dengan kasus “ayam kampus.” Bisa jadi ini termasuk jenis populasi tidak jelas atau tidak pasti (tidak jelas keberadaannya dan tidak pasti jumlahnya). Dalam kasus ini gunakan teknik sampling untuk populasi tak jelas/tak pasti (uraian berikut).

5. Convenience dan incidental (accidental, opportunistic) sampling

Istilah convenience sampling sering disamamaknakan dengan incidental sampling dan accidental sampling. Convenience artinya mudah atau kemudahan atau kenyamanan (dalam arti tidak memberikan kesulitan atau kesusahan). Incidental artinya tidak secara sengaja, secara kebetulan, atau sampingan (bukan yang pokok atau utama). Accidental artinya (salah satu yang cocok dengan pengambilan sampel) adalah tidak secara sengaja, atau secara kebetulan. Opportunistic artinya juga secara kebetulan. Jadi, incidental, accidental, dan opportunistic mempunyai makna yang sama.

Convenience sampling maksudnya mengambil sampel yang sesuai dengan ketentuan atau persyaratan sampel dari populasi tertentu yang paling mudah dijangkau atau didapatkan. Misalnya yang terdekat dengan tempat peneliti berdomisili.

Incidental (accidental, opportunistic sampling) maksudnya mengambil sampel secara sembarang (kapanpun dan dimanapun menemukan) asal memenuhi syarat sebagai sampel dari populasi tertentu.

Jadi, sebenarnya antara convenience sampling dan incidental (accidental, opportunistic) sampling ada perbedaan, yaitu pada convenience sampling pengambilan sampel secara sengaja (sengaja yang mudah), sementara pada incidental (accidental, opportunistic) faktor kesengajaan tidak menjadi pokok, faktor kebetulan justru yang paling menonjol (mencari-cari sampai secara “kebetulan” mendapatkan sampel yang dikehendaki). Akan tetapi semuanya mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama menempuh cara yang relatif paling mudah, yang tidak menyulitkan. Hanya saja pada incedental (accidental, opportunistic) sampling kemudahan itu dilihat dari sudut “asal menemukan yang memenuhi ketentuan atau persyaratan,” sementara pada convennience sampling faktor kemudahan itu dilihat dari keterjangkauan (tempat dan hubungan).

Jadi, ketemu pegang! Maksudnya, jika menemukan yang sesuai kriteria,pegang (ambil) sebagai sampel.

Contoh:

Seorang peneliti ingin mengetahui partisipasi orang tua murid dalam meningkatkan prestasi belajar anak-anaknya. Peneliti mengambil sebagai sampel tetangganya, temannya, kerabatnya, sejawatnya, dan kenalannya yang semuanya termasuk kategori “anggota populasi penelitian” (dalam hal ini orang tua murid). Ini termasuk convenience sampling, pengambilan sampel dengan cara yang paling mudah, paling tidak sulit, paling nyaman.

Peneliti lain ingin mengetahui bagaimana komentar mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (FIP UNY) mengenai tampilan dan isi Tatangmanguny’s Blog. Tentu yang jadi populasi adalah mahasiswa yang pernah membuka blog tersebut, tidak semua mahasiswa FIP UNY. Mencarinya tentu tidak mudah. Populasinya tak terhingga. Harus ditanya satu per satu. Jika ada yang kebetulan pernah membukanya, jadilah pertanyaan dilanjutkan, dan para mahasiswa tersebut terambillah jadinya sebagai sampel (opportunistic, incidental, accidental samples).

Berapa banyak sampel yang akan diambil? Sama dengan contoh purposive sampling di atas, yaitu sampai merasa dari sampel yang terjaring tersebut cukup mendapatkan gambaran (kejelasan) jawaban permasalahan penelitian. Angka pasti? Juga tidak ada.

6. Snowball sampling

Orang-orang, terutama anak-anak, di daerah bersalju, suka bermain-main dengan bola salju (snowball). Bukan lempar-lemparan, melainkan menggelindingkan bola salju itu dari bukit ke lembah, ke bawah. Bola yang digelindingkan hanya sekepalan tangan. Pada ketika menggelinding itu, ada salju yang ikut menempel ke bola sekepal tadi. Makin ke bawah jadinya makin banyak salju yang menempel, dan makin membesarlah bola salju tersebut.

Pengambilan sampel dengan teknik snowball sampling gambarannya seperti menggelindingkan bola salju sekepalan tangan anak tadi. Di ketika populasi penelitian tidak jelas keberadaannya, dan tidak pasti jumlahnya, temuan satu sampel saja sudah sangat amat berarti. Dari sampel pertama itu dicarilah (diminta informasinya) mengenai “teman-teman” sampel lainnya.

Nah, sebentar, perlu didefinisikan dulu apa itu snowball sampling, karena definisi itu diperlukan untuk dikutip mahasiswa (siapapun yang akan meneliti, tentunya).

Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel dari populasi yang tidak jelas keberadaaan anggotanya dan tidak pasti jumlahnya dengan cara menemukan satu sampel, untuk kemudian dari sampel tersebut dicari (digali) keterangan mengenai keberadaan sampel (sampel-sampel) lain, terus demikian secara berantai.

 

Ambil contoh akan meneliti para pengguna narkoba. Jika sudah tertemukan satu orang pengguna, dari orang tersebut digali infomrasi siapa saja teman atau teman-temannya yang sama-sama suka mengkonsumsi narkoba. Dari temannya tadi dicari lagi informasi siapa teman atau teman-teman lainnya. Begitu seterusnya, sampai sampel dirasa cukup untuk memperoleh data yang diperlukan, atau sampai “mentog” sudah tidak terkorek lagi keterangan sampel lainnya siapa dan di mana, atau sampai data yang diperoleh dipandang sudah cukup memadai untuk menjawab permasalahan penelitian.

UKURAN SAMPEL: Rumus Slovin

Posted on 19/04/2010 by tatang m. amirin| 68 Comments

Tatang M. Amirin; 19 April 2009; 9 Mei 2010; 24 September 2010; 5 Januari 2011

(Kutipkan dalam daftar pustaka Anda: Amirin, Tatang M. 2011. “Ukuran Sampel: Rumus Slovin.” Tatangmanguny.wordpress.com.)

Melakukan penelitian (jenis survai) itu pasti yang terbaik adalah dengan “studi populasi,” yaitu seluruh anggota populasi (seluruh subjek penelitian) diteliti (dihimpun data darinya). Nah, agar pembaca yang “langsung” membaca tulisan ini (belum baca tulisan lainnya)  sambung dengan istilah populasi, terlebih dahulu perlu penjelasan mengenainya.

Jika kita akan meneliti karyawan sebuah perusahaan yang banyaknya 1.000 orang, maka seluruh karyawan yang seribu orang itu disebut sebagai populasi penelitian kita. Tiap-tiap karyawan dari seluruh karyawan yang seribu orang itu disebut sebagai subjek penelitian, sekaligus kita sebut sebagai anggota populasi penelitian kita. Jadi, dengan demikian, dapat disimpulkan pula bahwa populasi penelitian itu adalah keseluruhan subjek penelitian.

Ada kalanya, karena berbagai keterbatasan, kita tidak mungkin meneliti (“menanyai”  atau mengumpulkan data — bisa dengan wawancara, observasi, angket, tes dsb. — dari) seluruh anggota populasi. Jadi, kita tidak bisa melakukan studi populasi. Kita mau tidak mau harus mengambil sebagian daripada seluruh anggota populasi tersebut. Sebagian subjek penelitian yang kita teliti (“tanyai”) langsung itu kita sebut sebagai sampel. Cara-cara bagaimana mengambil sampel dari populasi penelitian disebut dengan sampling.

Pertanyaan yang sering muncul berkaitan dengan pengambilan sampel (sampling) itu adalah mengenai seberapa besar (banyak) jumlah sampel (“sample size”) yang patut diambil agar hasil penelitian yang dilakukan bisa diyakini benar. Apa makna bisa diyakini benar itu?

Pertama, karena tidak semua anggota populasi diteliti, diyakini benar itu artinya seberapa tinggi hasil penelitian dari sampel itu taraf  “kebisadipercayaannya” akan mencerminkan seluruh anggota populasi. Maksudnya, data yang dihasilkan dari sampel itu benar-benar akan relatif  sama dengan data yang diperoleh jika penelitian dilakukan terhadap seluruh anggota populasi. “Nyicipi” rasa sayur setengah sendok dari sepanci itu yakinkah akan  sama persis dengan jika “makan” seluruh sayur itu? Tentu tidak. Sebab ada kalanya tidak “galoh” (merata rasanya di seluruh bagian).

Terjadinya hasil penelitian yang tidak bisa diyakini bahwa betul-betul benar itu akan diperbesar apabila sampel yang diambil “terlampau kecil” berbanding jumlah keseluruhan anggota populasi.

Kedua, walau bagaimanapun, hasil penelitian itu tidak selalu bisa diharapkan betul-betul benar (yakin 100% benar). Karena berbagai faktor, hasil penelitian itu dapat mengandung kesalahan (error, galat/”ghalat”). Salah satu kesalahan itu terjadi karena ada yang “secara kebetulan benar.” Murid yang sebenarnya “tidak tahu” bisa saja menjawab soal ujian “cekpoin” benar, karena kebetulan memilih pilihan jawaban yang merupakan jawaban yang benar.

Kesalahan (error/galat) yang terjadi karena kebetulan itu lazim dilambangkan (direpresentasikan) dengan “taraf signifikansi.” Jelasnya, taraf seberapa besar kemungkinan terjadinya kebenaran karena kebetulan saja benar. Dalam bahasa lain seberapa besar taraf  “toleransi” akan terjadinya kesalahan karena faktor kebetulan benar.

Untuk ilmu kealaman taraf signifikansi itu disepakati para ahli (dalam berbagai literatur umumnya menyatakan sama) yang “terbaik” sebesar 0,01. Maksudnya hanya ada 0,01 atau 1% saja kesalahan karena kebetulan itu terjadi. Jadi, dengan kata lain, yakin sebesar 99% bahwa hasil penelitian itu benar. Itu artinya, karena tetap berhati-hati, tidak ada yang “patut” diyakini 100% benar.

Untuk ilmu-ilmu sosial disepakati yang “terbaik” itu sebesar 0,05 .  Maksudnya hanya ada 0,05  atau 5% saja kesalahan karena kebetulan itu terjadi. Jadi, yakin 95% bahwa hasil penelitian itu benar. Ini karena tingkat kepastian (keajegan) “orang-orang” (sosial) itu relatif tidak seajeg seperti gejala kealaman.

Dalam pengambilan sampel, kedua aspek tersebut di atas menjadi salah satu perhatian utama. Jika hasil penelitian diharapkan mencapai taraf signifikansi tinggi (taraf kesalahan karena faktor kebetulan kecil), maka jumlah sampel dituntut lebih banyak dibandingkan harapan taraf signifikansi lebih rendah (banyak kesalahan yang disebabkan ada yang “karena kebetulan benar” lebih besar).

Salah satu cara menentukan besaran sampel yang memenuhi hitungan itu adalah yang dirumuskan oleh Slovin (Steph Ellen, eHow Blog, 2010) berikut.
n = N/(1 + Ne^2)

n = Number of samples (jumlah sampel)
N = Total population (jumlah seluruh anggota populasi)
e = Error tolerance (toleransi terjadinya galat; taraf signifikansi; untuk sosial dan pendidikan lazimnya 0,05)

^2 = pangkat dua

Untuk menggunakan rumus tersebut, pertama-tama tetapkan terlebih dahulu taraf keyakinan atau confidence level (…%) akan kebenaran hasil penelitian atau taraf signifikansi toleransi kesalahan (0,..) terjadi. Misalnya kita ambil taraf keyakinan 95%, yaitu yakin bahwa 95% hasil penelitian benar, atau taraf signifikansi 0,05 (hanya akan ada 5% saja kesalahan karena “kebetulan benar” terjadi).

Nah, jika yang akan kita teliti itu sebanyak 1.000 orang karyawan, seperti dicontohkan di muka, dan taraf signifikansinya 0,05, maka besarnya sampel menurut rumus Slovin ini akan menjadi:

n = N/(1 + Ne^2)  = 1000/(1 + 1000 x 0,05 x 0,05) = 286 orang.

Cobalah gunakan rumus tersebut jika taraf keyakinan (kepercayaan) hanya 90% (taraf signifikansi 0,10)! Berapa banyak sampel harus diambil? Jawabnya:

n = N/(1 + Ne^2) = 1000/(1 + 1000 x 0,10 x 0,10) = . . . orang.

Jumlah sampel yang terambil lebih kecil daripada taraf signifikansi 0,05 (taraf keyakinan 95%), atau lebih besar?

STOP!

Rumus Slovin ini tentu mempersyaratkan anggota populasi (populasi) itu diketahui jumlahnya (simbulnya N). Dalam bahasa saya disebut populasi terhingga. Jika populasi tidak diketahui jumlah anggotanya (populasi tak terhingga), maka rumus ini tak bisa digunakan. Lebih-lebih jika populasinya tak jelas (tidak diketahui keberadaannya, apalagi jumlahnya, misalnya orang yang korupsi atau nikah siri). Teknik sampling yang digunakan pun tentu tak bisa teknik yang bersifat random (“probability sampling”), harus menggunakan teknik yang sesuai (quota, purposive, snowball, accidental dsb.)

Populasi, Sampel, & Teknik Pengambilan Sampel

PENGUMUMAN: UTS dilaksanakan Selasa 6 April 2010 Jam. 14.30. Ruang 201 A                                    Perkuliahan Selanjutnya Setiap SelasaJam.14.30 WIB.

Dosen: Shinta Doriza, S.Sos, M.S.E., M.Pd.

Sub materi: Populasi, Sampel, Teknik Pengambilan Sampel, dan Teknik Menulis Populasi-Sampel-Teknik Pengambilan Sampel

Sumber: lihat Daftar Pustaka

Sebelum memahami tentang pokok bahasan ini, maka perlu diketahui unit observasi=unit analisis dalam sebuah penelitian. Unit analisis adalah individu/ rumah tangga/kelompok yang dapat memberikan keterangan tentang apa yang ingin di amati atau yang ingin dipelajari oleh seorang peneliti (Agung, 1998: 12).

 

POPULASI

Populasi merupakan totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung ataupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya (Sudjana, 2005: 6).

Populasi didefinisikan sebagai himpunan (yang lengkap atau sempurna) dari semua unit observasi yang mungkin (Agung, 1998: 12).

SAMPEL

Sampel didefinisikan sebagai himpunan unit observasi yang memberikan keterangan atau data yang diperlukan oleh suatu studi(Agung, 1998: 12).

Sampel merupakan himpunan bagian dari populasi.

Sampel harus representatif dalam arti segala karakteristik populasi hendaknya tercerminkan pula dalam sampel yang diambil (Sudjana, 2005: 6).

Alasan dilakukan pengambilan sampel (Cochran, 1991):

1. Mengurangi biaya karena jumlah yang diambil hanya sebagian dari jumlah populasi yang ada;

2. Kecepatan lebih besar karena data dapat dikumpulkan dan diringkas lebih cepat apabila membutuhkan informasi secara cepat;

3. Cakupan lebih besar dan fleksibel mengenai jenis informasi yang diperoleh;

4. Tingkat ketelitian lebih besar.

Jenis Teknik Pengambilan Sampel  ( Sumber: http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/statistika_probilitas/bab1-teknik_penarikan_sampel.pdf  ) 

 

TEKNIK MENULIS POPULASI-SAMPEL-DAN TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

1. Sebukan dan tetapkan populasi penelitian;

2. Sebutkan dan tetapkan sampel penelitian berdasarkan ciri populasi dan karakteristik populasi yang menjadi sasaran dan dapat mewakili populasi;

3. Sebutkan teknik pengambilan sampel yang di ambil;

4. Jelaskan mengapa teknik tersebut digunakan.

SUMBER:

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/statistika_probilitas/bab1-teknik_penarikan_sampel.pdf

Agung, I Gusti Ngurah. 1998. Metode Penelitian Sosial 1 & 2. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Cochran, William. G. 1991. Teknik Pengambilan Sampel-Edisi Ketiga. Jakarta: UI Press.

Fuchran, Arief. A. 2007. Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan. Malang: Pustaka Pelajar

Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

Definisi Konseptual Variabel & Definisi Operasional Variabel

Sumber: Prof. Dr. M.A.S Imam Chourmain, M.Ed. 2008. Acuan Normatif Penelitian Untuk Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi.Jakarta: Al-Haramain Publishing House. Hal: 36.

Definisi Konseptual Variabel adalah penarikan batasan yang menjelaskan suatu konsep secara singkat, jelas, dan tegas.

Definisi Operasional Variabel adalah penarikan batasan yang lebih menjelaskan ciri-ciri spesifik yang lebih substantive dari suatu konsep. Tujuannya: agar peneliti dapat mencapai suatu alat ukur yang yang sesuai dengan hakikat variabel yang sudah di definisikan konsepnya, maka peneliti harus memasukkan proses atau operasionalnya alat ukur yang akan digunakan untuk kuantifikasi gejala atau variabel yang ditelitinya.

  1. PENELITIAN EKSPERIMEN BIDANG PENDIDIKAN
    Oleh : Prof. Supardi

MEMPERSIAPKAN EKSPERIMEN
Marilah kita mempersiapkan penelitian eksperimen secara baik. Sebelum peneliti melaksanakan treatment/perlakuan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Sebagai ilustrasi seorang guru akan mengadakan percobaan tentang keampuhan dua metode mengajar dalam bidang Matematika, Mana di antara dua macam metode yang dapat memberikan prestasi belajar lebih baik (metode pemahaman konsep atau metode pemecahan soal). Karena, ditemukan selama guru menggunakan metode pemahaman konsep prestasi belajar siswanya belum menggembirakan.
1. Langkah awal dijumpai ada problem terhadap prestasi belajar matematika yang selama ini diajarkan melalui metode pemahaman konsep. Seorang guru matematika waktu mengikuti diklat mendapat metode baru yaitu metode pemecahan soal“ muncul pertanyaan: manakah di antara dua metode pembelajaran Matematika yang dapat menumbuhkan prestasi belajar lebih baik?.
2. Tujuannya: Untuk mengetahui apakah metode pemecahan soal lebih baik dalam mengembangkan kecakapan matematika dibandingkan dengan pemahaman konsep (Untuk mengetahui pengaruh metode pemecahan soal terhadap prestasi belajar matematika). Guru juga dapat mengetahui sikap siswa terhadap metode pembelajaran tersebut.
3. Langkah berikutnya, mencari dasar teori yang berkaitan dengan variabel penelitian (metode pembelajaran pemecahan soal dan pemahaman konsep, serta prestasi belajar). Diupayakan adanya kerangka pemikiran yang mengarah pada simpulan bahwa metode pemecahan soal lebih baik dalam menanamkan pemahaman matematika dibandingkan dengan metode pemahaman konsep.
4. Selanjutnya, perlu dikemukakan hipotesisnya: “Metode pemecahan soal lebih baik dibandingkan metode pemahaman konsep dalam meningkatkan prestasi belajar matematika”. Hipotesis ini diperlukan untuk pedoman peneliti dalam merancang lebih lanjut..
5. Langkah awal bagian metode penelitian adalah melakukan pengukuran kepada dua kelompok yang siswanya mempunyai kesamaan kemampuan /IQ dalam matematika. Dari dua kelompok yang sudah mempunyai kesamaan itu dipilih secara random untuk menentukan mana kelompok kontrol dan mana yang akan ditugaskan sebagai kelompok eksperimen.
6. Menentukan siapa guru yang akan ditugasi untuk mengajar pada masing-masing kelopok tersebut. Bilamana telah mendapatkan guru yang memiliki kualitas yang sama, dipilih secara random untuk ditugaskan ke kelompok eksperimen/kontrol. Kalau gurunya sama/satu orang, wajib menjaga obyektivitas dalam menerapkan kedua metode tersebut.
7. Persiapkan materi ajar dan rincian tindakan yang akan dilakukan pada metode yang telah ditetapkan untuk kedua kelompok tersebut.
Sesudah memahami langkah-langkah tersebut, kita perlu melihat kembali hal hal mendasar yang perlu diperhatikan sebelum eksperimen dilakukan. Kalau semua komponen tersebut sudah dipersiapkan dengan baik dan lengkap barulah mencoba menyusun rancangan/desain eksperimennya.

DAFTAR PUSTAKA

Linquit EP, 1986, Design and Analysis of Experiments in Psychologi and Educa-

Tion,Boston: Houghton Mifflin Company

Federer, WT, 1974, Experiment Design,: Theory and Applications, Oford & LBH Publishing Co.,New Delhi

Kempthorne, O., 1984, The Design andAnalysis of Experiments, Wiley Eastern Private Ltd.New Delhi

Montgomery, D C., 1976., Design and Analysis of Experiment, John Wiley & Sons,New York

Sudjana, 1994, Desain dan Analisis Eksperimen, Penerbit Tarsito Bandung.

Sukardi, 2004, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta

Sutrisno Hadi, 2004, Metodologi Research,: untuk menulis laporan, skripsi thesis dan disertasi, Penerbit Andi Yogyakarta

SKALA LIKERT: PENGGUNAAN DAN ANALISIS DATANYA

Posted on 01/11/2010 by tatang m. amirin| 2 Comments

Tatang M. Amirin, 31 Oktober 2010; 4 Januari 2011

Banyak orang yang bingung jika menggunakan Skala Likert [baca biasa likert, walau ada yang baca laikert–kata Wikipedia], dan bahkan salah larap. Skala Likert digunakan untuk membuat angket, tapi kadang-kadang salah isi yang disasar untuk dihimpun dengan Skala Likert tersebut. Likert itu nama orang, lengkapnya Rensis Likert, pendidik dan ahli psikologi Amerika Serikat. Jadi, skala ini digagas oleh Rensis Likert, sehingga disebut Skala Likert.

Kalau begitu mari kita mulai dengan memperjelas apa dan untuk apa Skala Likert itu.

Pengertian dan Kegunaan Skala Likert

Skala itu sendiri salah satu artinya, sekedar memudahkan, adalah ukuran-ukuran berjenjang. Skala penilaian, misalnya, merupakan skala untuk menilai sesuatu yang pilihannya berjenjang, misalnya 1, 2, 3, 4, 5. Skala Likert juga merupakan alat untuk mengukur (mengumpulkan data) yang “itemnya” (butir-butir pertanyaannya) berisikan pilihan yang berjenjang.

Untuk apa sebenarnya Skala Likert itu? Skala Likert itu “aslinya” untuk mengukur kesetujuan dan ketidaksetujuan seseorang terhadap sesuatu objek, yang jenjangnya bisa tersusun atas:  sangat setuju–setuju–netral antara setuju dan tidak–kurang setuju– sama sekali tidak setuju. Pernyataannya (objek skala) harus mengandung isi yang akan “dinilai” responden, apakah setuju atau tidak setuju. Contoh di bawah ini pernyataannya berbunyi “Doktrin Bush merupakan kebijakan luar negeri yang efektif.” Objek khasnya adalah kebijakan yang efektif atau tidak efektif.  Responden diminta memilih satu dari lima pilihan jawaban yang dituliskan dalam angka, masing-masing mencerminkan 1–sangat tidak setuju, 2–tidak setuju, 3–netral (tidak berpendapat), 4–setuju, 5–sangat setuju.

The Bush Doctrine is an effective foreign policy.

Strongly Disagree—1—2—3—4—5—Strongly Agree

Based on the item, the respondent will choose a number from 1 to 5 using the criteria below:

1 – strongly agree

2 – somewhat agree

3 – neutral/no opinion

4 – somewhat disagree

5 – strongly disagree

Apa artinya? Artinya setujukah responden bahwa kebijakan luar negeri Bush itu sebagai kebijakan yang efektif (memecahkan masalah luar negeri AS)? Jadi, responden tinggal milih: setuju atau tidak setuju, atau tak memilih keduanya (netral saja, tidak berpendapat).

 

Salah Tafsir: Asal ada Setuju–Tidak Setuju

Tidak sedikit mahasiswa dan peneliti lain yang hanya melihat Skala Likert itu sebagai angket pilihan setuju–tidak setuju. Jadi, jika pilihan jawabannya setuju-tidak setuju, maka itu namanya Skala Likert. Lalu, segala macam pernyataan dimintakan kepada responden untuk memilih menjawab setuju atau tidak setuju. Ini contohnya:

Salat itu penting, karena salat itu merupakan tiang agama.

1. Sangat setuju

2. Setuju

3. Setuju tidak, tidak setuju pun tidak (netral)

4. Tidak setuju

5. Sangat tidak setuju

Jelas isi pernyataan itu bukan sesuatu yang harus disetujui atau tidak disetujui. Itu pengetahuan, pengetahuan agama, yang  diajarkan oleh para ustad dan kiyai. Jadinya itu soal “murid” tahu atau tidak tahu bahwa salat itu penting, dan pentingnya itu karena (dengan alasan) merupakan tiang agama (“ash-shalatu imaaduddin“), bukan harus setuju atau tidak setuju.

Kedua, itu tidak bisa “dijenjangkan” kesetujuan-ketidaksetujuannya, karena tidak logis. Kalau misalnya “setuju” salat itu penting, apa bedanya dengan “sangat setuju.” Jika jawabannya diubah jadi “setuju–agak setuju,” makna dari agak setuju itu apa, tak jelas. Tentu tidak bisa ditafsirkan bahwa  jika agak setuju berarti menunjukkan menurut responden salat itu agak penting, dan jika setuju sekali berarti salat itu sangat amat penting, dan sebaliknya.

Ketiga, ada dua isi yang harus disetujui atau tidak disetujui di dalam satu pernyataan itu, yaitu: (1) salat itu penting, dan (2) salat itu tiang agama. Ini tidak boleh terjadi dalam penyusunan angket, sebab akan membingungkan. Salat mungkin bisa dianggap penting (setuju bahwa penting), tapi alasannya sebagai tiang agama tidak setuju,  setujunya karena ia rukun Islam kedua. Jadi, jawabannya apa? Setuju, atau tidak setuju, atau netral saja?

Lain halnya dengan masalah “hukum potong tangan bagi pencuri,” misalnya (sekedar misal, lho), kan ada orang setuju, ada yang tidak setuju. Jadi, pernyataannya bisa dirumuskan, misalnya, “Orang yang mencuri harus dihukum potong tangan.” Jawabannya (SS – S – N – TS -STS).

Nah, karena berkaitan dengan setuju (S) dan tidak setuju (TS), maka bisa jadi ada orang yang netral (N) atau tidak berpendapat. Netral artinya setuju ya tidak, tidak setuju pun tidak juga. Tidak memihak pada kesetujuan ataupun ketidaksetujuan. Ekstrimnya, tidak berpendapat.

Jadi, bisa ada yang agak setuju, tapi tidak setuju banget, ada juga yang agak setuju, tapi tidak setuju banget. Ya cuma seperti itu gambarannya.

Karena berkaitan dengan kesetujuan-ketidaksetujuan, maka yang dipertanyakan haruslah yang “populer,” yang sudah terkonsumsi masyarakat, yang masyarakat (responden) tahu. Kalau tidak tahu bagaimana ia akan menyatakan setuju dan tidak setuju.

Ini contoh (sekedar contoh).

Pemerintahan SBY tidak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Semua orang Indonesia “terlibat” dalam pemerintahan SBY, terkena pemerintahan SBY, dan tahu (merasakan) seperti apa berada di bawah pemerintahan SBY. Jadi, pasti bisa menjawab.

Pernyataan ” SBY patut mendapatkan Hadiah Nobel” pun bisa untuk dimintakan persetujuan dan “pertidaksetujuan” responden, tetapi respondennya tertentu, yang paham seluk beluk pemberian hadiah Nobel. Mbah Marijan (alm) dan embah-embah lain setara Mbah Marijan mungkin tak tahu.

Nah, itulah sebabnya Skala Likert suka disebut (dan memang tergolong) skala sikap, skala tentang sikap, yaitu sikap setuju dan tidak setuju terhadap sesuatu (yang bisa disetujui dan tidak disetujui).

Skala Likert ada kalanya “menghilangkan” tengah-tengah kutub setuju dan tidak setuju. Responden dipaksa untuk “masuk” ke “blok” setuju atau tidak setuju.  Ini contohnya.

Mahasiswa boleh tidak ikut kuliah, asal sungguh-sungguh belajar mandiri.

1. Sangat setuju

2. Setuju

3. Tidak setuju

4. Sangat tidak setuju

Pertanyaan dibuat demikian agar orang berpendapat, tidak bersikap netral atau tidak berpendapat.

“Skala” dalam Skala Likert

Berapa jenjang skala dibuat dalam Skal Likert? Itu amat tergantung pada “kata-kata” yang digunakan di dalam butir (item) Skala Likert. Kalau digunakan model verbal (kata-kata) setuju–tidak setuju, maka paling tidak ada tiga, yaitu setuju–netral–tidak setuju. Perubahan lebih banyak tentu akan mengikuti kutubnya (kutub setuju dan kutub tidak setuju). Jadi, jika ditambah, akan menjadi, misalnya: sangat setuju–setuju–netral–tidak setuju–sangat tidak setuju (ada 5 skala). Tentu bisa jadi tujuh jika ditambahi lagi dengan sangat setuju sekali dan sama sekali tidak setuju. Atau tambahannya berupa “agak setuju” (sebelum setuju) dan “agak tidak setuju” (sebelum tidak setuju). Jika digabungkan, maka jadi sembilan skala (jenjang).

1. Sangat setuju sekali

2. Sangat setuju

3. Setuju

4. Agak setuju

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s