“Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Identitas Buku

Buku yang dilaporkan berjudul “Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”, karya Ahmad Syafii Maarif. Diterbitkan tahun 2009 oleh PT Mizan Pustaka, sebanyak 388 halaman.

  1. Ruang Lingkup Buku

Ruang lingkup buku terdiri dari Pengantar, Islam dan Nusantara, Islam dan Demokrasi, Islam Indonesia, Masa Depan Agama, Islam dalam Bingkai KeIndonesiaan dan Kemanusiaan

  1. Sistematika Uraian

Pengarang mendiskusikan masalah pergumulan antar-agama dan antar-kultur yang berlangsung berabad-abad. Sebelum kedatangan islam, bumi Nusantara ini sudah didiami oleh penganut berbagai agama dan kepercayaan animisme, dinamisme, jauh sebelum agama Hindu dan Budha datang ke Nusantara.

Sebuah “keajaiban” sejarah kemudian, islam sebagai pendatang baru telah “menaklukkan” Nusantara sehingga dalam perjalanan waktu, mungkin cukup lama, telah menjadi agama yang dipeluk oleh sebagian besar penduduk sampai sekarang. Tetapi golongan minoritas: kristen, katholik, hindu, buddha, dan konfusianisme yang telah hidup dengan damai berdampingan dengan saudara-saudara mereka yang beragama islam.

Pengarang lebih memusatkan perhatian pada pandangan islam tentang demokrasi, toleransi, dan keragaman agama dan budaya, 1.001 ekspresi dalam menafsirkan agama, dan pesan anti kekerasan. Keragaman agama dan budaya sudah menjadi watak penduduk nusantara jauh sebelum lahirnya Indonesia sebagai bangsa yang belum berumur satu abad.

Dalam buku ini dibahas secara kritikal masalah-masalah yang berkaitan dengan perbedaan visi antar-generasi muslim, raison d’etre bagi munculnya kelompok-kelompok radikal dan dimensi global dari islam indonesia. Memusatkan perhatian untuk menelaah masalah kesenjangan bahwa kenyataanya jumlah yang mayoritas tidak sebanding dengan kualitas yang ditunjukkan. Masalah pendidikan akan menjadi tinjuan khusus karena berbincang tentang kualitas umat islam akan tidak punya makna apa-apa, jika masalah pendidikan tidak terpecahkan. Pendidikan yang lebih berorientasi kepada bentuk formal, tetapi mengabaikan substansi untuk menciptakan manusia baik yang cerdas, merdeka dan tulus hanya akan melahirkan para penganggur, sekalipun menyandang sederetan titel.

Selanjutnnya perhatian juga dipusatkan kepada islam sebagai agama terbuka, masalah ketulusan, masalah simbol dan peta global. Akan lebih dipertajam keterkaitan islam dengan keindonesiaan dan kemanusiaan pada tataran universal. Pemikiran Iqbal tentang Ijtihad dan dialog Tuhan dengan manusia disertakannya.

Dan akhirnya diungkap pula perspektif ke depan bagi Indonesia berdasarkan argumen-argumen yang telah dibangun dalam karya ini. Dibagian ujung bab ini pula gagasan-gagasan tentang islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan lebih dipertajam dan dikemas lebih ringkas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

INTISARI BAHASAN

 

  1. A.    Gambaran Umum

Islam lahir dan berkembang sepenuhnya dalam darah dan daging sejarah, tidak dalam kevakuman budaya. Sebagai agama – Sejarah, Islam telah, sedang dan akan terus bergumul dengan lingkungan yang senantiasa berubah. Tujuan Islam adalah mengarahkan perubahan itu agar tidak tergelincir dari jalan lurus kenabian, dari jalan keadilan. Namun, seringkali Islam diasingkan dari persentuhan dengan fakta budaya dan sosial. Akibatnya, Islam menjadi ahistoris dan gampang menghadapi perubahan dan gagal mengamban misinya menuntun peradaban.

Buku ini memuat gagasan reflektif dari seorang cendikiawan muslim dan guru bangsa. Refleksi ini lahir dari keprihatinan bahwa umat Islam, sebagai penduduk mayoritas nusantara, semestinya tidak lagi mempersoalkan hubungan Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Ketiga konsep itu haruslah sejalan  agar islam yang berkembang di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif.

Apabila keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan telah senapas dalam jiwa, pikiran dan tindakan umat Muslim Indonesia, Islam Indonesia akan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa. Sebuah Islam yang dinamis dan bersahabat,  yang memberikan keadilan, keamanan dan perlindungan kepada semua penduduk Nusantara. Sebuah Islam yang sepenuhnya berpihak kepada rakyat miskin dan menolak kemiskinan sehingga berhasil dihalau dari negeri ini. Pada buku ini terlihat pemikiran yang utuh, mendalam, kreatif dan berpijak pada pemahaman sejarah yang kukuh tentang isu-isu penting yang menentukan identitas muslim Indonesia.

  1. B.     Islam dan Nusantara
    1. Panggung Interaksi Lintas Agama dan Lintas Kultur

Islam merupakan salah satu komponen penting dari nasionalisme bangsa ini, di samping bahasa dan pengalaman sejarah. Agama-agama lain juga hidup subur karena besarnya toleransi masyarakat dalam menghargai perbedaan. Agama Hindu dan Budha pernah sangat berpengaruh di nusantara selama berabad-abad terutama di kalangan elite. Kultur Hindu hanya menyentuh lapisan atas masyarakat Indonesia. Dengan kedatangan Islam, peta sosio religius nusantara mengalami perubahan drastis, elite dan rakyat menjadi muslim.

  1. Islam Pasca Indianisasi dan Gelombang Kristenisasi di Nusantara

Islam menggantikan posisi Hindu Budha. Islam memberikan rakyat kecil sebuah kesadaran tantang nilai pribadinya sebagai anggota komunitas Islam. Menurut ideologi Hindu, ia hanya seorang mahluk tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan anggota-anggota kasta yang lebih tinggi. Di bawah Islam ia dapat merasa dirinya sejajar dengan mereka atau bahkan dalam kualitasnya sebagai seorang muslim. Dalam pengertian ini Islam dapat dipandang sebagai agen pemicu gejolak bagi proses revolusioner yang terjadi pada abad ke – 20.

  1. ”Jasa “, Penjajahan, Islam, dan Pergerakan Nasional

Pergerakan Nasional di negara Indonesia sebenarnya adalah buah langsung dari sistem pendidikan Belanda. Sistem pesantren berjasa sebagai kekuatan laten untuk melawan penjajahan, peperangan malawan Belanda hampir sepenuhnya dipimpin oleh ulama, kiyai, dan tokoh-tokoh muslim lainnya.

  1. Lahirnya Indonesia sebagai  Bangsa dan Negara Merdeka.

Kesadaran nasional muncul di kalangan para pemuda nusantara yang berpendidikan Barat. Kurikulum di sekolah-sekolah mereka belajar memang telah membuka wawasan kemanusiaan yang lebih luas, di dalamnya gagasan tentang demokrasi dan nasionalisme semakin diminati. Proses kesadaran berbangsa ini berjalan dengan sangat cepat dan puncaknya adalah apa yang dikenal dengan sumpah pemuda 28 Oktober 1928.

  1. PD II, UUD, dan Proklamasi Kemerdekaan

PD II telah mengubah peta dunia secara dramatis. PD II z akan menghabiskan dominasin Eropa atas tanah jajahannya, termasuk jajahan Belanda atas Indonesia. Gelombang sejarah negeri-negeri terjajah pada waktu itu memang sedang bergerak untuk memerdekakan diri. Kemudian Belanda mau mengakui kemerdekaan Indonesia melalui hasil KMB.

  1. Pertarungan Ideologi: Pemilu 1955 dan Islam VS. Pancasila, 1956-1959

Pada September 1955 diselenggarakan pemilu pertama di Indonesia. Hal ini merupakan tonggak penting demokrasi di Indonesia. Tetapi setelah tiga tahun bersidang tersekat oleh masalah dasar negara: yaitu Pancasila atau Islam. Akhirnya pancasila dimenangkan melalui dekrit untuk dikukuhkan sebagai dasar negara sejak 5 Juli. Kelemahan selama ini terlihat dari sikap-sikap para elite yang mudah terpecah dan tidak bertanggungjawab dalam menjaga pilar-pilar demokrasi.

  1. C.    Islam dan Demokrasi
    1. Mengapa Islam selaras dengan gagasan Demokrasi?

Mayoritas umat Islam Indonesia adalah pendukung sistem demokrasi. Memandang demokrasi sebagai realisasi prinsip syura seperti yang diajarkan Al-Qur’an. Selain pertimbangan agama, umat Islam Indonesia mendukung demokrasi juga berdasakan realitas perimbangan jumlah mereka yang mayoritas sebagai pemeluk Islam. Oleh karena itu muncul lah partai-partai yang bercorak Islam sebelum dan pasca-proklamasi.

  1. Pasang surut Demokrasi di Indonesia

Pasang surut pelaksanaan demokrasi di Indonesia berkaitan erat dengan laku para elitnya, apakah mereka berlapang hati atau atau malah berhati sempit dan tidak bertanggung jawab. Sikap miopik dan parokial ini terutama bersumber pada kondisi lemahnya kultur kenegaraan yang diidap sebagian besar politisi Indonesia. Visi mereka jauh melampaui kepentingan terbatas yang bersifat pribadi, golongan, atau partai Indonesia yang masih memiliki sumber alam yang dapat diolah untuk kepentingan rakyat, tentu sudah terbang melambung tinggi dan dihormati negara-negara lain. Generasi para pendiri bangsa banyak yang dikenal secara luas oleh dunia. Tapi kendalanya tetap saja berkutat pada suasana kepentingan politik sempit yang menutup ruang untuk mengembangkan budaya toleransi di kalangan elite.

  1. Islam dan Masalah Keragaman Agama dan Budaya

Masalah keragaman agama dan budaya tidak bisa lepas dari prinsip kebebasan yang merupakan salah satu pilar utama demokrasi. Tetapi di mata A-Qur’an kebebasan bukan lah tanpa batas, yaitu dibatasi oleh ruang lingkup kemanusiaan itu sendiri. Manusia hanya bebas dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang betul-betul bersifat ikhtiariah, yakni yang di dalamnya ia mempunyai pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan. Oleh karena itu ia pun bertanggung jawab dalam hal -hal yang benar-benar ia tidak terpaksa dalam melakukan atau tidak melakukannya

  1. Tempat Toleransi dalam Islam

Jalan yang terbaik dan sah bagi seorang muslim dalam kehidupan bermasyarakat adalah mengembangkan kultur toleransi. Karena Al-Qur’an menguatkan adanya eksistensi keberbagai suku, bangsa, agama, bahasa, dan sejarah. Semua ini hanya mungkin hidup dalam harmonis, aman dan damai jika di sana kultur lapang dada dijadikan perekat utama.

  1. Sebuah Islam, seribu satu Ekspresi

Perbedaan dan keragaman dalam menafsirkan ajaran agama adalah fakta yang harus diakui. Masalahnya menjadi lebih penting jika diingatkan pula bahwa bukan saja kekuatan masing-masing dimensi keagamaan yaitu dimensi keyakinan, pengetahuan, ritual, pengabdian dan pengalaman relegius pada setiap kesatuan etnis kultural berbeda-beda, bahkam besarnya ruang lingkup dan dalamnya pengaruh agama dalam kehidupan sosial juga tidak sama.

  1. Dimensi Global Islam Indonesia dan Upaya Mencari Titik Temu Antara Sesama Anak Manusia

Peradaban Islam yang dibangun di Indonesia tidak boleh hanyut dan larut dalam unsur-unsur lokal yang negatif dan terbelakang dan juga tidak terseret oleh arus global yang dapat mengundang malapetaka bagi Islam Indonesia, seperti perilaku kekerasan atas nama agama dan gaya hidup materialistik. Islam sebagai acuan moral individu dan publik harus diberi posisi utama dalam pergaulan antara manusia baik lokal, nasional dan global. Khusus untuk menghadapi tantangan global yang semakin dahsyat, Islam Indonesia perlu melahirkan pasukan intelektual kelas satu. Pasukan ini di samping memahami warisan pemikiran klasik Islam dengan baik juga mengetahui perkembangan peradaban kontemporer umat manusia.

  1. D.     Islam Indonesia: Masalah Kualitas
    1. Mayoritas Minus Kualitas: Masalah Pendidikan

Kualitas pendidikan Indonesia yang mayoritas muslim masih jauh dari yang semestinya. Strategi pendidikan kita yang tidak pernah mantap proklamasi menjadi sebab utama mengapa kualitas manusia Indonesia masih saja berada di bawah standar, baik diukur pada tingkat regional apalagi pada tingkat global. Kalangan umat Islam sejak era penjajahan, telah pula mendirikan pusat-pusat pendidikan umum dan yang khas Islam, dalam bentuk pesantren dan madrasah yang kemudian setelah merdeka berada di bawah payung Departemen Agama (Depag).

  1. Konsep “The Unity of Knowledge”

Terdengar gagasan agar pendidikan Indonesia ditempatkan di bawah satu atap depdiknas. Tetapi fakta sejak proklamasi kemerdekaan menunjukkan depdiknas belum pernah berada di bawah pimpinan menteri non Muslim, sementara untuk Depag hampir mustahil hai itu terjadi.

  1. Muhammadiyah tentang Pendidikan

Sosok seorang muslim adalah bagian dari umat manusia dengan kriteria khas, seorang yang berserah diri kepada Allah dengan penuh kesadaran. Pendidikan adalah sarana yang efektif untuk membentuk corak manusia yang kita inginkan. Yakni manusia yang berarti berdasarkan pandangan hidup tertentu, dalam hal ini pandangan hidup Islami. Atau lebih khusus lagi pandangan hidup Qur’ani.

  1. Manusia yang Berarti dalam Persfektif Al-Qur’an Ke Arah Perumusan Filsafat Pendidikan Islam/Muhammadiyah

Muhammadiyah punya hak dan kewajiban untuk merumuskan filsafat pendidikan Islam berdasarkan pemahaman yang cerdas dan kreatif terhadap Al-Qur’an. Filsafat pendidikan yang dimaksud harus mampu menyatukan antara tuntutan otak dan tuntutan hati. Dalam isyarat Al-Qur’an sistem pendidikan yang mampu menyatukan kekuatan fikr dan dzikr.

  1. Padepokan Musa Asy’aried

Padepokan ini berangkat dari sebuah keprihatinan kultural tentang dunia pendidikan Indonesia yang tidak menyentuh realitas. Isi dan metode pendidikan Islam yang diwariskan sejak sekian abad yang lalu dapat diandalkan untuk melepaskan umat Islam dari keterbelakangan

  1. Pendidikan di Lingkungan NU

Orientasi pendidikan di kalangan NU harus ditata kembali, dengan mengambangkan cara baru yang tepat, guna mengukur kemampuan anak didik dalam melakukan kerjanyata kemanusiaan dan kemasyarakatan, serta diarahkan pada pengenalan hajat hidup tanpa menggoyahkan sikap yang dilandasi aqidah Islam.

  1. Islam dan Masa Depan Indonesia

Sistem demokrasi yang bisa mengandalkan suara mayoritas dalam mengambil suatu keputusan harus dijalankan dengan sangat hati-hati. Aspek keadilan dan tenggang rasa jangan sampai tersingkirkan. Keamanan masa depan Indonesia tidak akan lepas dari kesediaan golongan mayoritas dan minoritas. Golongan mayoritas berpegang pada doktrin “jika pun banyak, tidak akan melanda, jika pun besar, justru akan memayungi”. Golongan minoritas juga harus pandai-pandai membawakan diri dalam lingkungan demokrasi.

 

 

 

  1. E.     Masa Depan Agama
    1. Islam Agama Terbuka, di mana Posisi Manusia

Masyarakat muslim bertahan dalam sosok tiga kekuatan:

  1. Mullaisme (keulamaan). Ulama
  2. Mistisme.
  3. Raja-raja.
  4. Islam dan Ketulusan Beragama

Ketulusan adalah sifat dasar yang menyatu dengan karakter manusia. Orang yang mengaku bijak tapi curang dalam berbuat adalah adalah pengakuan palsu. Begitu juga seseorang yang memperdagangkan agama atas nama Tuhan adalah orang yang sedang main api tentang kebenaran dan sekaligus mengingkari konsep ketulusan.

  1. Peta Global: Antara Harapan dan Kecemasan

Peta peradaban global juga jauh dari selesai jika ditinjau dari sistem kenabian yang sudah semakin terlantar di tengah arus sekularisme/ateisme atau arus fundamentalisme agama. Kenyataan yang terbentang di depan kita pada permulaan abad ke – 21 ini bukan pemahaman moral dan kultural yang berlaku, melainkan justru oleh si kuat atas si lemah dengan korban ribuan manusia tak berdosa. Sasaran utamanya kali ini adalah beberapa bangsa-bangsa muslim..

  1. F.     Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan

. Peta masa depan Indonesia yang hendak kita bangun dan ciptakan haruslah demikian rupa, sehingga siapa pun yang hidup di nusantara ini benar-benar merasakan kenyamanan dan keamanan, karena prinsip keadilan berlaku untuk semua, tidak ada diskriminasi dengan pertimbangan dan alasan apapun. Karena mayoritas penduduk beragama Islam, tanggung jawab mereka lah untuk menciptakan sebuah Indonesia yang adil dan berwajah ramah menjadi sangat besar mereka sesuai jumlah mereka yang besar. Tetapi tanggung jawab itu akan sulit dilaksanakan jika kualitas umat Islam masih di bawah standar.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

            Sebagai penduduk mayoritas di Nusantara, semestinya umat Islam tidak lagi subuk mempersoalkan hubungan Islam, keindonesiaan dan kemanusiaan. Ketiga konsep itu haruslah ditempatkan dalam satu napas sehingga Islam yang mau dikembangkan di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar Bangsa dan Negara. Sebutlah sebuah Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub kultur dan agama kita yang beragam. Sebuah Islam yang memberikan keadilan, kenyamanan, keamanan dan perlindungan kepada semua orang yang berdiam di nusantara ini tanpa diskriminasi apapun agama yang diikutinya atau tidak diikutinya. Sebuah Islam yang sepenuhnya berpihak kepada rakyat miskin, sampai batas-batas yang jauh di negeri kepulauan ini.

Ketidak berdayaan sebuah komunitas untuk menghadapi tantangan dunia modern dengan segala masalah yang menyertainya, tidak boleh mengecilkan hati dan nyali anggota komunitas itu, lalu menempuh jalan pintas ekstrem yang sangat berbahaya. Bom bunuh diri di Indonesia sambil membunuh orang lain adalah bentuk ekstrem dari perasaan putus harap dan tak berdaya itu, apapun penyebab yang melatar belakanginya.

Islam lahir dan berkembang sepenuhnya dalam darah daging sejarah, tidak dalam kevakuman budaya dan tidak pula dalam ruang sunyi yang jauh dari keramaian suasana kota. Pada periode madinah pun islam tumbuh dan berkembang dalam lindungan kota dagang. Jadi baik di makkah ataupun madinaah, islam selalu bersentuhan dengan sebuah dunia yang dinamis, penuh persaingan dan kreatif.  Pada dasawarsa ketiga abad ke – 20  muncul sebuah bangsa dari kumpulan etnisitas dan sub-kultur yang beragam dan plural, tetapi sebagian besar rakyatnya adalah pemeluk Islam. Tidak diragukan lagi bahwa Islam kemudian merupakan salah satu komponen penting dari nasionalisme bangsa ini, di samping bahasa dan pengalaman sejarah. Agama-agama lain juga hidup subur karena besarnya toleransi masyarakat dalam menghargai perbedaan. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, para khalifah dan penguasa sangat bertanggung jawab untuk proses Islamisasi dan Arabisasi besar-besaran

Kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha secara berangsur-angsur diganti oleh sistem kekuasaan yang bercorak Islam. Orang Islam merasa bahwa harga dirinya tidak disekat oleh dinding-dinding kasta yang melecehkan martabat manusia selama ratusan tahun.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo melihat beberapa faktor yang mempermudah proses Islamisasdi Jawa khususnya ,antara lain:

  1. Suasana kota yang serba terbuka mendorong kecenderungan struktural untuk mobilitas yang lebih besar, termasuk berpndah agama.
  2. Masyarakat lama yang mengalami disintergrasi dan disorientasi memerlukan identitas dan nilai-nilai baru.
  3. Akibat kemerosotan pusat kekuasaan Hindu – Jawa, terjadilah perubahan struktural masyarakat yang membawa perubahan struktur kekuasaan.

Adalah sebuah fakta yang tidak dpat dibantah, jika Islam agak bertapak secara kultural, sekalipun jauh dari sempurna pengikut agama ini akan sulit untuk menukar imannya. Gambaran masa lampau pada saat nusantara masih di bawah sistem kolonial yang memang sangat buram bagi pribumi. Gereja pada waktu itu hampir sepenuhnya berpihak kepada sistem penjajahan. Sikap semacam ini tentu tidak terlalu mengherankan karena pimpinan gereja pada era itu terpegang di tangan asing. Tetapi pada zaman revolusi mempertahankan kemerdekaan, tokoh-tokoh Islam dan kristen sama bahu membahu untuk menghalau Belanda yang dibantu Inggris ketika ingin meneruskan kembali penjajahannya. Sebuah situasi yang sangat kontras dengan sikap gereja sebelum abad ke – 20.

Pergerakan Nasional di negara Indonesia sebenarnya adalah buah langsung dari sistem pendidikan Belanda. Kemudian muncul lah tokoh-tokoh pergerakan secara berangsur bergerak menuju kemerdekaan Tanah air. Dengan demikian secara tidak langsung penjajah juga telah “berjasa” bagi nusantara. Gagasan tentang pergerakan nasnional muncul pertama kali dari kaum terdidik di sekolah-sekolah Belanda. Kaum terpelajar ini sebagian besar beragana Islam. Sistem pesantren berjasa sebagai kekuatan laten untuk melawan penjajahan, peperangan malawan Belanda hampir sepenuhnya dipimpin oleh ulama, kiyai, dan tokoh-tokoh muslim lainnya.

Munculnya Indonesia sebagai bangsa dan kemudian sebagai negara merdeka adalah hasil karya dan perjuangan tokoh-tokoh pergerakan nasional, baik yang menggunakan pendekatan politik, maupun pendekatan sosio kultural keagamaan. Gabungan pendekatan politik dan sosio kultural atau keagamaan melalui caranya masing-masing semakin membangun kesadaran rakyat nusantara tentang penting dan perlunya kemerdekaan tanah air, sesuatu yang sangat dicemaskan oleh pihak penjajah.

PD II akan menghabiskan dominasi Eropa atas tanah jajahannya, termasuk jajahan Belanda atas Indonesia. Gelombang sejarah negeri-negeri terjajah pada waktu itu memang sedang bergerak untuk memerdekakan diri. Sebaliknya Belanda masih saja tidak rela atas kemerdekaan Indonesia. Dibantu oleh Inggris, Belanda masuk kembali untuk meneruskan penjajahannya. Indonesia harus berperang selama empat tahun untuk mempertahankan proklamasi kemerdekaan. Kemudian Belanda mau mengakui kemerdekaan Indonesia melalui hasil KMB.

Pada September 1955 diselenggarakan pemilu pertama di Indonesia. Ada dua agenda yang ingin dicapai dari pemilu ini. Agenda pertama berjalan lancar, sedangkan agenda kedua semula juga lancar dan mulus. Tetapi setelah tiga tahun bersidang tersekat oleh masalah dasar negara: yaitu Pancasila atau Islam. Akhirnya pancasila dimenangkan melalui dekrit untuk dikukuhkan sebagai dasar negara sejak 5 Juli. Setelah dekrit 5 Juli 1959 sampai 1998, demokrasi di Indonesia tinggal nama, yang berlaku adalah sistem politik otoritarian dalam lingkungan budaya semi feodal. Dalam demokrasi dalam kaitannya dengan Islam, dibunuhnya masyumi oleh rezim otoritarian merusak perjalanan dan perkembangan demokrasi Islam. Partai ini dipimpin oleh para negarawan hasil didikan Barat, tetapi punya komitmen keislaman dan kebangsaan yang kental. Dari sisi moral politik, mereka adalah garda depan demokrasi di Indonesia.

Mayoritas umat Islam Indonesia adalah pendukung sistem demokrasi. Memandang demokrasi sebagai realisasi prinsip syura seperti yang diajarkan Al-Qur’an. Selain pertimbangan agama, umat Islam Indonesia mendukung demokrasi juga berdasakan realitas perimbangan jumlah mereka yang mayoritas sebagai pemeluk Islam. Oleh karena itu muncul lah partai-partai yang bercorak Islam sebelum dan pasca-proklamasi.

Pasang surut pelaksanaan demokrasi di Indonesia berkaitan erat dengan laku para elitnya, apakah mereka berlapang hati atau atau malah berhati sempit dan tidak bertanggung jawab. Sikap miopik dan parokial ini terutama bersumber pada kondisi lemahnya kultur kenegaraan yang diidap sebagian besar politisi Indonesia. Visi mereka jauh melampaui kepentingan terbatas yang bersifat pribadi, golongan, atau partai Indonesia yang masih memiliki sumber alam yang dapat diolah untuk kepentingan rakyat, tentu sudah terbang melambung tinggi dan dihormati negara-negara lain. Generasi para pendiri bangsa banyak yang dikenal secara luas oleh dunia. Tapi kendalanya tetap saja berkutat pada suasana kepentingan politik sempit yang menutup ruang untuk mengembangkan budaya toleransi di kalangan elite.

Indonesia kedepan harus menyatakan secara sadar bahwa sistem demokrasi adalah pilihan satu-satuya, orang tidak boleh berpaling pada sistem yang lain. Nabi yang mendapat wahyu tidak menunjukkan dirinya lebih tinggi dari para sahabatnya jika sedang bermusyawarah. Penampilan Nabi yang mulia di tengah-tengah sahabatnya pastilah akan terus mengilhami kultur egalitarianisme pada umat Islam.

Masalah keragaman agama dan budaya tidak bisa lepas dari prinsip kebebasan yang merupakan salah satu pilar utama demokrasi. Tetapi di mata A-Qur’an kebebasan bukan lah tanpa batas, yaitu dibatasi oleh ruang lingkup kemanusiaan itu sendiri. Manusia hanya bebas dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang betul-betul bersifat ikhtiariah, yakni yang di dalamnya ia mempunyai pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan. Oleh karena itu ia pun bertanggung jawab dalam hal -hal yang benar-benar ia tidak terpaksa dalam melakukan atau tidak melakukannya

Jalan yang terbaik dan sah bagi seorang muslim dalam kehidupan bermasyarakat adalah mengembangkan kultur toleransi. Karena Al-Qur’an menguatkan adanya eksistensi keberbagai suku, bangsa, agama, bahasa, dan sejarah. Semua ini hanya mungkin hidup dalam harmonis, aman dan damai jika di sana kultur lapang dada dijadikan perekat utama. Paradigma yang terdapat di dalam Al-Qur’an, baim ayat-ayat toleransi maupun reinterpretasi ayat-ayat yang seringkali digunakan untuk tindakan toleransi.

Perbedaan dan keragaman dalam menafsirkan ajaran agama adalah fakta yang harus diakui. Masalahnya menjadi lebih penting jika diingatkan pula bahwa bukan saja kekuatan masing-masing dimensi keagamaan yaitu dimensi keyakinan, pengetahuan, ritual, pengabdian dan pengalaman relegius pada setiap kesatuan etnis kultural berbeda-beda, bahkam besarnya ruang lingkup dan dalamnya pengaruh agama dalam kehidupan sosial juga tidak sama.

Peradaban Islam yang dibangun di Indonesia tidak boleh hanyut dan larut dalam unsur-unsur lokal yang negatif dan terbelakang dan juga tidak terseret oleh arus global yang dapat mengundang malapetaka bagi Islam Indonesia, seperti perilaku kekerasan atas nama agama dan gaya hidup materialistik. Islam sebagai acuan moral individu dan publik harus diberi posisi utama dalam pergaulan antara manusia baik lokal, nasional dan global. Khusus untuk menghadapi tantangan global yang semakin dahsyat, Islam Indonesia perlu melahirkan pasukan intelektual kelas satu. Pasukan ini di samping memahami warisan pemikiran klasik Islam dengan baik juga mengetahui perkembangan peradaban kontemporer umat manusia.

Strategi pendidikan kita yang tidak pernah mantap proklamasi menjadi sebab utama mengapa kualitas manusia Indonesia masih saja berada di bawah standar, baik diukur pada tingkat regional apalagi pada tingkat global. Kalangan umat Islam sejak era penjajahan, telah pula mendirikan pusat-pusat pendidikan umum dan yang khas Islam, dalam bentuk pesantren dan madrasah yang kemudian setelah merdeka berada di bawah payung Departemen Agama (Depag). Di samping juga ada beberapa departemen yang menyelenggarakan pendidikan.

Terdengar gagasan agar pendidikan Indonesia ditempatkan di bawah satu atap depdiknas. Tetapi fakta sejak proklamasi kemerdekaan menunjukkan depdiknas belum pernah berada di bawah pimpinan materi non Muslim, sementara untuk Depag hampir mustahil hai itu terjadi. Dalam konsep kesatuan ilmu pengetahuan, dualisme sistem pendidikan yang terdapat hampir diseluruh Dunia Islam secara berangsur dapat dipecah jika kita berangkat dari pemikiran yang bercorak filosogis.

Pendidikan baru muncul sejak masa pendudukan Jepang sampai sekarang dalam kemasan rumusan yang semakin komprehensif. Tetapi rumusan yang bersifat folisofis tentang pendidikan Muhammadiyah/Islam belum ada. Dalam kaidah perguruan dasar dan menengah Muhammadiyah mengenai tujuan pendidikan dijelaskan terwujudnya manusia muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, cakap dan percaya kepada diri sendiri, cinta tanah air dan berguna bagi masyarakat dan negara, beramal menuju terwujudnya masyarakau utama adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

Asal ususl penciptaan manusia dalam Al-Qur’an berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk, kemudian dalam rahim terjadilah proses kreatif lebih lanjut sehingga mulailah terbentuk fisik manusia. Tetapi yang istimewa dalam proses penciptaan itu adalah katika ditiupkannya ruh. Dalam diri seorang ada potensi jahat dan baik. Maka di antara fungsi pendidikan adalah agar potensi baik dalam diri pesertadidik di dorong tumbuh dan berkembang. Dalam isyarat Al-Qur’an sistem pendidikan harus mampu menyatukan kekuatan fikr dan dzikr yang akhirnya akan melahirkan kelompok ulu al-albab, adanya pengembangan intelektual dan spiritual.

Padepokan ini berangkat dari sebuah keprihatinan kultural tentang dunia pendidikan Indonesia yang tidak menyentuh realitas. Isi dan metode pendidikan Islam yang diwariskan sejak sekian abad yang lalu dapat diandalkan untuk melepaskan umat Islam dari keterbelakangan.Orientasi pendidikan di kalangan NU harus ditata kembali, dengan mengambangkan cara baru yang tepat, guna mengukur kemampuan anak didik dalam melakukan kerjanyata kemanusiaan dan kemasyarakatan, serta diarahkan pada pengenalan hajat hidup tanpa menggoyahkan sikap yang dilandasi aqidah Islam.

Kesenjangan antara bentuk dan isi sudah lama terlihat di semua bangsa muslim di dunia. Karena umat Islam lebih terpaku oleh bentuk dengan mengabaikan isi. Corak dan bentuk yang serba Islam akan menjadi bumerang ketika bentuk-bentuk formal gagal menampulkan nilai-nilai keislaman dengan kualitas tinggi. Kesenjangan semacam ini berlaku karena orang pada umumnya mengabaikan kualitas, inilah yang dimaksud dengan pergumulan antara bentuk dan isi.

Islam mampu bertahan selama berabad-abad di nusantara ini, dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Agar jumlah umat Islam ini tidak menurun, masalah peningkatan kualitas harus lebih diutamakan. Indonesia dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika adalah sebuah bangsa multi etnis, multi iman dan multi ekspresi kultural dan politik. Hal ini jika dikelola dengan baik, cerdas, dan jujur pasti akan merupakan sebuah kekayaan kultural. Hal inilah yang menunjang masa depan Indonesia yang harus kita bela dan perjuangkan.

Masyarakat muslim bertahan dalam sosok tiga kekuatan:

  1. Mullaisme (keulamaan). Ulama selalu merupakan sumber kekuatan besar dalam Islam.
  2. Mistisme. Massa Muslim telah dibelokkan oleh semacam mistisme yang membutakan mata terhadap kenyataan.
  3. Raja-raja. Tatapan mata raja-raja muslim masa lampau berbeda dengan masa kini, semata-mata pada kepentingan dinasti mereka.

Ketulusan adalah sifat dasar yang menyatu dengan karakter manusia. Orang yang mengaku bijak tapi curang dalam berbuat adalah adalah pengakuan palsu. Begitu juga seseorang yang memperdagangkan agama atas nama Tuhan adalah orang yang sedang main api tentang kebenaran dan sekaligus mengingkari konsep ketulusan.

Peta peradaban global juga jauh dari selesai jika ditinjau dari sistem kenabian yang sudah semakin terlantar di tengah arus sekularisme/ateisme atau arus fundamentalisme agama. Kenyataan yang terbentang di depan kita pada permulaan abad ke – 21 ini bukan pemahaman moral dan kultural yang berlaku, melainkan justru oleh si kuat atas si lemah dengan korban ribuan manusia tak berdosa. Sasaran utamanya kali ini adalah beberapa bangsa-bangsa muslim. Ilmu pengetahuan tidak digunakan untuk “memuliakan manusia”, tetapi malah untuk menghancurkannya.

Apabila berbicara tentang Islam, keindonesiaan dan kemanusiaan berarti kita telah memasuki suatu ranah yang dalam dan luas. Peta masa depan Indonesia yang hendak kita bangun dan ciptakan haruslah demikian rupa, sehingga siapa pun yang hidup di nusantara ini benar-benar merasakan kenyamanan dan keamanan, karena prinsip keadilan berlaku untuk semua, tidak ada diskriminasi dengan pertimbangan dan alasan apapun. Karena mayoritas penduduk beragama Islam, tanggung jawab mereka lah untuk menciptakan sebuah Indonesia yang adil dan berwajah ramah menjadi sangat besar mereka sesuai jumlah mereka yang besar. Tetapi tanggung jawab itu akan sulit dilaksanakan jika kualitas umat Islam masih di bawah standar.

Perbedaan pandangan dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan haruslah dijadikan daya dorong untuk mencari titik temu yang lebih baik dalam masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Disinilah terletak kunci utamanya untuk mengukuhkan semangat integrasi nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

            Al-Qur’an dengan baik sekali menggambarkan tentang mutlaknya kualitas untuk memenangkan masa depan. “Berapa banyak terjadi kelompok kecil bisa mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah”. Coba perhatikan makna ayat ini yang semula ditujukan kepada pasukan Thalut yang minoritas berhadapan dengan tentara Jalut dalam jumlah besar. Sekalipun pasukan Thalut yang tahan uji berjumlah kecil, sementara yang lainnya sudah mau menyerah kepada tentara Jalut, kemenangan akhir berada dipihak minoritas yang patuh kepada perintah raja Thalut saat menyeberangi sebuah sungai. Perintah itu berupa agar pasukannya tidak minum dengan puas, kecuali sedikit saja. Kemenangan golongan minoritas juga kemudian terlihat saat perang badar di awal tahun Hijriah, pasukan minoritas muslim telah mengalahkan tentara Quraisy dalam jumlah yang sangat besar. Kelompok minoritas bisa saja menang jika syarat untuk itu mereka miliki. Jelas disini masalah kualitas lahir bathin tentu sangat menentukan kejayaan dan kemenangan sebuah komunitas, tidak terkecuali komunitas Muslim di Indonesia. Tetapi adalah sebuah ironi, mayoritas muslim di negeri ini sebagian besar berada dalam kemiskinan dan kebodohan, tingkat pendidikan sebagian besar mereka belumtentu berhasil menamatkan sekolah dasar.

Oleh karena itu kesadaran yang mendalam untuk memperbaiki kondisi umat ini perlu selalu dimiliki oleh para pemimpin mereka, jika kita memang ingin melihat masa depan Indonesia berpihak kepada Islam. Tetapi jika Islam itu menang dalam perlombaan peradaban haruslah ditafsirkan sebagai Islam yang memayungi semua orang. Kelompok minoritas harus merasa aman dan damai hidup di Indonesia karena mereka diperlakukan secara adil dan sebagai saudara sebangsa. Hak-hak mereka harus dijamin secara penuh, tidak ada diskriminasi. Dengan kata lain, Islam yang harus dikembangkan adalah sebagai kekuatan spiritual pelindung, bukan pengancam. Jihad dan ijtihad harus digiring. Cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan harus dihentikan.

 

2 responses »

  1. trima kasih ibu diana, sudah berbagi ilmunya..
    izin ngopi..saya ada bukunya tapi karena mendadak tugasnya jadi..saya ngopi yang sduah di tulis sama ibu. trima kasih banyak…semoga bermanfaat .aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s