Laporan Jurnal

Standar

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Identitas Buku

Buku yang dilaporkan berjudul “Teaching Transformed; Achieving Excellence, Fairness, Inclusion and Harmony”, karya Roland G.Tharp, Peggy Estrada, Stephanie Stoll Dalton dan Lois A.Yamauchi. Diterbitkan tahun 2000 oleh Westview Press Colorado, sebanyak 274 halaman.

  1. B.       Ruang Lingkup Buku

Ruang lingkup buku terdiri Pengantar dan Gambaran Umum, Perubahan Kelas, Aktivitas dalam Teori dan Kelas, Pola-Pola Aktivitas Instruksional dan Hubungan-Hubungan, Kultur dan Aktivitas Instruksional, Mendesain Organisasi Aktivitas Instruksional dan Fase 5 di Kelas: Bukti, Visi dan Masa Depan

  1. C.      Sistematika Uraian

Pengarang menyusun berbagai elemen, mengartikulasi visi, mengilustrasikannya dengan berbagai contoh, menyingkapkan dinamikanya, menjelaskan akibat-akibatnya, memberikan bukti yang mendukung, dan menggali potensinya Pengajaran Transformatif untuk pengajaran perubahan di sekolah untuk masa depan. Pembelajarannya adalah pada level “ruang kelas”; bukan terbatas pada kotak ruang kelas secara fisik, tetapi “ruang kelas” dalam pengertian kegiatan-kegiatan pengajaran yang diorganisir yang mungkin diperluas keluar bangunan sekolah dan bahkan ke dalam masyarakat. Adapun tujuan dari penyajian sistem dengan pola kegiatan-kegiatan yang dapat didesain untuk mencapai secara simultan seluruh tujuan-tujuan utama dari semua cabang gerakan reformasi sekolah; keunggulan akademik, keadilan, inklusif, dan harmoni.

Keadilan untuk melayani siswa minoritas dengan lebih baik, untuk menjamin “persamaan hak”, membuat mereka sama untuk semua. Keunggulan adalah prestasi setiap potensi siswa secara penuh, diberi, ditantang atau rata-rata. Inklusi menghimpun dan didistribusi secara sama kepada semua siswa dalam peluang-peluang sosial sekolah dan pembelajaran. Harmoni adalah nilai-nilai umum keseluruhan dengan memberikan bahasa untuk membangun komunitas kebangsaan, toleransi yang luas dan murah hati.

BAB. II

INTI SARI BAHASAN

  1. A.      Gambaran Umum

Studi terhadap desain dan organisasi terhadap aktivitas kelas masih belum diakui sebagai elemen dasar dari pendidikan, meskipun sama dengan studi mengajar dan belajar itu sendiri. Dalam teori pengembangan manusia yang disusun dalam buku ini, aktivitas didasarkan pada kerangka acuan dari ontologi manusia, dan pola-pola aktivitas (terdiri dari tindakan-tindakan, pribadi-pribadi, interaksi-interaksi, tata latar, peran-peran dan simbol-simbol) yang menentukan hasil dari sosialisasi dan pengembangan manusia. Masih berbagai konsep yang baru saja merasuk diskusi-diskusi kebijakan pendidikan, baik mereka mempunyai banyak pengaruh terhadap pendidikan guru maupun wacana publik secara umum.

  1. B.       Perubahan Kelas; Gambaran, Prinsip-Prinsip dan Kriteria
  2. Kriteria Kualitas untuk Aktivitas Pembelajaran dalam Kelas

Kriteria umum untuk memandu desain dan organisasi aktivitas kelas, yang ingin mengalami perubahan memenuhi beberapa standar dan kriteria yang secara simultan akan mencapai Kenggulan, Keadilan, Inklusi dan Harmoni.

  1. Prinsip Umum untuk Pedagogi yang Efektif

Lima prinsip umum adalah prinsip-prinsip sederhana yang disepakati oleh penelitian-peneliti pendidikan dan pengembang program, ditegakkan dari hasil membaca literatur penelitian, pengembangan, dan evaluasi program-program pendidikan untuk semua kultural dan kelompok sosial lebih dari satu setting periode dalam masa sepuluh tahun dan melampaui jarak yang luas, lima prinsip dilahirkan sebagai konsensus. Prinsip-prinsip adalah pernyataan-pernyataan yang disepakati mengenai mengajar efektif melintasi rentang kemungkinan yang luas dari keragaman, kelas, kurikulum, kultur, dan bahasa kelompok-kelompok. Prinsip-prinsip juga secara umum melintasi semua materi pelajaran, dan melayani kualitas standar-standar untuk semua mata pelajaran, “titik patokan” untuk mengukur ketulusan hari dari kesatuan kelas itu sendiri, dan kriteria untuk mengevaluasi berbagai desain kelas. Prinsip-prinsip sama sekali konsisten dengan mengajar dan belajar secara natural, sebagai yang dilaksanakan oleh Homo sapiens secara tradisional, memberikan aktivitas, percakapan, pengembangan bahasa, dan konteks bersama dengan lingkungannya. Prinsip-prinsip umum kemudian dikenalkan dalam bentuk Lima Standar untuk Pedagogi yang Efektif, yang didukung dengan indikator-indikator dan contoh-contoh.

Lima Standar menyediakan kriteria terbaik untuk pedagogi, dan cukup untuk mengundang keberhasilan perkembangan kognitif; prestasi sekolah dan kelas dengan karakteristik Keunggulan, Keadilan, Inklusi dan Harmoni. Lima Standar didasarkan pada teori-teori tertentu, yakni  perspektif teori sosiokultural (Tharp dan Gallimore,1988; Werstch, 1985), sains kognitif (Bruer,1993), teori organisasi (Cohen dan Lotan,1997), perspektif teori kritis (Horton dan Freire, 1990, dan McLaren,1999).

  1. Lima Standar untuk Pedagogi yang Efektif
    1. Standar I. Para Guru dan Siswa Menghasilkan Kebersamaan, dengan kriteria :  Memfasilitasi belajar melalui aktivitas yang menghasilkan kebersamaan  antara guru dan para siswa.

Teori sosiokultural menitikberatkan bahwa belajar mendapatkan tempat terbaik dalam aktivitas yang menghasilkan kebersamaan. Motivasi bersama yang diberikan oleh tujuan bersama cendrung membuat semua peserta menawarkan dan menerima bantuan, karena itu setiap orang berminat terhadap tujuan untuk dicapai. Disebabkan memberikan bantuan adalah dasar tindakan dari mengajar, aktivitas yang menghasilkan kebersamaan menghasilkan kondisi-kondisi yang memunculkan perkembangan. Penelitian membuktikan juga dengan jelas dukungan peran konstruktif aktivitas produktif tersebut, sementara bantuan adalah vital, dan setting alamiah baik dalam mengembangkan kompetensi mereka dalam kontek aktivitas kebersamaan. Aktivitas kebersamaan yang kecil, khususnya dengan guru, dari pengalaman-pengalaman biasa seperti itu tumbuh, dan membolehkan siswa mengembangkan pemahaman dengan guru dan orang-orang lain. Sedangkan partisipasi guru selama aktivitas itu, berperan sebagai pemandu, teman dialog, dan model pengalaman yang paling kuat bagi siswa dalam mempelajari kriteria dan metaskrip yang tepat untuk mereka dengan menggunakan kelompok-kelompok kerjasama mereka.

Aktivitas kerjasama antara guru dan para siswa menolong membuat konteks bersama dalam pengalaman di sekolah itu sendiri, penting kalau konteks kultural bersama tidak hadir, dan berakibat pada timbulnya seperangkat harmoni nilai-nilai. Guru memberikan kunci yang diperlukan untuk membuka pintu-pintu kesempatan, pintu-pintu pilihan-pilihan masa depan.

  1. Standar II. Mengembangkan Bahasa dan Literasi Lintas Kurikulum, dengan kriteria : Mengembangkan kompetensi bahasa dan literasi dalam pembelajaran lintas kurikulum

Penelitian pendidikan, kognitif dan literasi mengungkapkan secara mendalam pertalian antara bahasa, berpikir, nilai-nilai dan kultur. Pengembangan bahasa terbaik melalui penggunaan bermakna dan percakapan antara guru dan siswa, dari pada melalui latihan dan peraturan-peraturan yang tidak kontekstual. Setiap hari bahasa sosial, bahasa akademik yang benar secara formal, dan bahasa setiap mata pelajaran semua penting untuk keberhasilan dalam sekolah dan kehidupan. Jadi pengembangan bahasa pada semua tingkat – informal, problem solving, dan akademik- lingkaran kurikulum hari sekolah sepenuhnya. Memang membaca dan menulis diajarkan sebagai mata pelajaran khusus, tetapi mereka dapat juga diajar dalam mata pelajaran yang lain melalui aktivitas pengembangan ekspresi bahasa yang komprehensif.

Standar II adalah memberikan siswa kesempatan-kesempatan untuk berbicara dan menulis, menggunakan bahasa praktis dan menerima balikan dari percakapan. Aktivitas yang menghasilkan kebersamaan memberikan kesempatan-kesempatan ideal bagi pengembangan bahasa dalam aktivitas mata pelajaran. Pengembangan bahasa, baik lisan maupun tulisan dapat dikembangkan dengan strategi-strategi sederhana seperti mengulangi, contoh, menawarkan ucapan alternatif, dan menanyakan. Setiap hari bahasa dan bahasa akademik dibutuhkan berkelanjutan dan pengembangan terpadu. Sebab bahasa akademik membangun dan merubah setiap hari bahasa dan berpikir dan itu tergambar. Diskusi akademik meningkatkan siswa bergerak melampaui pembicaraan setiap hari dan menggunakan kamus mata pelajaran untuk mengungkapkan pemahaman mereka terhadap konsep-konsep. Aturan pertama pengembangan bahasa memberikan siswa dengan berbagai kesempatan untuk menggunakan beragam bahasa dengan bentuk-bentuk yang tepat.

  1. Standar III. Membuat Makna: Menghubungkan Sekolah dengan Kehidupan Siswa, dengan kriteria: Kontekstualisasi mengajar dan kurikulum dengan pengalaman-pengalaman dan keterampilan-keterampilan dari para siswa, rumah dan komunitas-komunitas

Mengajar yang efektif menghendaki bahwa mencari dan termasuk konteks dari pengalaman-pengalaman siswa dan pandangan dari komunitas lokal mereka dan konteks situasi belajar akademik yang baru. Para siswa bersedia berjuang dengan bahasa yang tidak familiar dan catatan abstrak dalam sains, matematika dan mata pelajaran lain ketika mereka dimotivasi dengan aktivitas yang menarik mereka dan nilai keluarga mereka. Siswa harus dibantu dengan memberikan pengalaman-pengalaman bagaimana peraturan-peraturan, abstrak-abstrak, dan deskripsi verbal yang digambarkan dari dunia setiap hari dan bagaimana mereka mengaplikasikannya. Interaksi dalam aktivitas-aktivitas unit kontekstualisasi menolong siswa memetakan pemahaman informal mereka bagaimana bekerja dunia mereka dalam rumusan-rumusan formal, persamaan-persamaan, sistem abstrak, dan teori-teori yang diberikan pembelajaran materi di kelas.

Tiga level kontekstualisasi yang dibahas dalam literatur kultur dan pendidikan. Pertama, atau secara pedagogis, level yang diperlukan untuk meminta skema keadaan siswa yang berhubungan dengan materi yang diajarkan, berkaitan dengan lingkungan, pengalaman, dan karakteristik cara-cara berbicara siswa sendiri. Kedua, atau kurikulum, level yang sama dibela untuk pembelajaran yang menggunakan materi-materi dan keterampilan-keterampilan kultural sebagai media dalam mana tujuan-tujuan dari literasi, numerasi dan sains dikontekstualisasi dalam sekolah itu sendiri. Ketiga, atau level kebijakan. Belajar di sekolah adalah proses sosial yang berpengaruh dan dipengaruhi sepenuhnya oleh masyarakat.

Standar III penting untuk mempromosikan partisipasi siswa dan perjanjian dan untuk menegakkan hubungan-hubungan yang vital antara yang diketahui dengan yang ingin menjadi diketahui. Kontekstualisasi adalah jalan ke arah mengembangkan kognitif dan akademik yang kompleks, dan jembatan antara apa yang telah diketahui dan apa yang baru, sebagai proses yang aktif dari memilah, menganalisis, dan menginterpretasi.

  1. Standar IV. Mengajar Berpikir Kompleks, dengan kriteria menantang para siswa ke arah kognitif yang kompleks.

Konsensus yang jelas di antara peneliti bahwa semua siswa, barangkali siswa yang beresiko, menghendaki pembelajaran yang menantang secara kognitif, menghendaki berpikir dan analisis, maksudnya melampaui level keterampilan dasar dalam menggali mencapai kemungkinan lebih dalam dari analisis dan problem solving. Bekerja dengan kurikulum yang menantang secara kognitif menghendaki penentuan level yang tepat untuk tugas-tugas, jadi para siswa melebarkan pertumbuhan dalam “zone perkembangan yang dekat”, dapat mencapai prestasi lebih tinggi dengan bantuan para guru dan kerjasama dengan teman sebaya. Desain aktivitas yang lebih menantang akan memberikan tanda kemajuan dalam kegembiraan dan kepuasaan sebagai kemenangan kelas. Tantangan dan stimulasi pertumbuhan kognitif berarti meningkatkan para siswa untuk memikirkan kembali dan bertanya diri mereka sendiri dan keyakinan-keyakinan dan rasional-rasional mereka.

  1. Standar V. Mengajar Melalui Percakapan, dengan kriteria: Mengajak para siswa melalui dialog, khususnya melalui Pembelajaran Percakapan/Pembicaraan.

Konsep Pembelajaran Percakapan, menghasilkan beberapa kondisi esensial untuk belajar yang maksimal, struktur pengelompokkan yang memperluas kreasi, hubungan-hubungan guru/siswa yang mendalam, dasar kognitif dan pengalaman yang berhubungan individu belajar di sekolah, pengetahuan tentang komunitas dan keluarga siswa, bentuk yang penting dalam membantu berupa dialog untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah, seperti membentuk, mengekspresikan, dan tukar-menukar ide-ide melalui pembicaraan dan tulisan. Melalui percakapan sesungguhnya dibangun tema-tema dan prinsip-prinsip, guru memandu partisipasi siswa melalui pertanyaan dan membagi bersama ide-ide dan pengetahuan. Demikian juga kultur dan pengetahuan siswa menjadi jelas terungkap, seperti asumsi-asumsi, persepsi-persepsi, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan pengalaman-pengalaman akan hadir, yang membolehkan guru untuk merespon, mengkontekstualisasi mengajar dengan dasar pengalaman siswa, mengaktualisasikan ke dalam pembelajaran individualisasi termasuk individualisasi kultur.

Standar-standar memberikan dasar (1) pendidikan yang efektif untuk semua yang ingin sukses; (2) pendidikan dalam bentuk lebih luas yang dapat membangun semua siswa dengan menambah kompetensi-kompetensi berbasis masyarakat mereka; dan (3) hubungan intersubjek di antara jumlah yang terbesar dari para siswa dan guru dapat dibangun, dan menciptakan iklim yang lebih mendukung dan pencapaian dapat diwujudkan untuk sebagian besar siswa.

  1. Kondisi-Kondisi yang Diperlukan untuk Organisasi yang Efektif dari Aktivitas Pembelajaran

Tiga kriteria kualitas kondisi yang diperlukan untuk organisasi aktivitas pembelajaran yang efektif adalah: simultan, berbeda-beda dan nilai yang konsisten.

  1. Simultan; Setting Aktifitas yang Berbeda-beda

Kondisi pertama yang diperlukan diletakkan atas kebutuhan secara logis dan dunia nyata. Aktivitas yang menghasilkan kebersamaan dengan guru dan teman sebaya, kesempatan-kesempatan untuk Pembelajaran Percakapan menghendaki kelas menggunakan keragaman, simultan dan setting aktivitas berbeda.

  1. Variasi Person dan Aktivitas

Variasi person dan aktivitas memberikan pendidikan, untuk memperluas pengalaman-pengalaman dan kecakapan-kecakapan dan hubungan-hubungan, dan membuka kesempatan-kesempatan persamaan-persamaan dan belajar yang baru; membangun berbagai kekuatan dari semuam menjamin Keadilan dan Inklusi dan mendorong Keunggulan; secara paradok membolehkan tumbuhnya Harmoni secara keseluruhan sebab inklusif, sistem yang lazim memberikan pengalaman membangun hubungan intersubjek dan membuka secara lebih besar bagi perkembangan untuk semua. Variasi meliputi guru, teman sebaya, gender, persamaan-persamaan, tingkat status, kultur, tingkat prestasi, bahasa, hubungan-hubungan kekuasaan, peran-peran, individual, kelompok dan kode-kode bahasa.

  1. Konsistensi Nilai

Nilai-nilai dalam kultur kelas akan diungkapkan secara konsisten dalam setiap setting aktivitas. Secara teoritis kita mengetahui bahwa komponen-komponen subjektivitas, seperti sistem makna, pemahaman, dan nilai-nilai dihasilkan melalui penggunaan bahasa (dan sistem semiotic) yang digunakan dalam belajar selama aktivitas bersama. Proses itu menghasilkan nilai, benda-benda, kata-kata dan tindakan-tindakan diletakkan pada makna, dirembukkan dan dikembangkan oleh partisipan. Guru menggunakan nilai-nilai kondusif untuk tujuan-tujuan pembelajaran.

  1. Nilai-Nilai yang Biasa  dan Ragam Kultural

Dalam resep nilai umum, ruang sangat besar untuk keragaman nilai-nilai, digambarkan dari komunitas lokal dan keluarga-keluarga, pilihan-pilihan guru secara individual, tugas-tugas yang diminta, aktivitas-aktivitas materi pelajaran, dan tahap-tahap perkembangan. Merembukkan nilai-nilai dan peraturan-peraturan dari setiap kelas juga mengarah pada Inklusi yaitui perhatian-perhatian khusus secara kultural, bahkan itu mengebawahkannya kepada persatuan yang lebih besar, nilai-nilai mendorong inklusi untuk semua siswa.

  1. C.   Aktivitas dalam Teori dan Kelas
  2. Konstruksi Sosial dari Pikiran

Menurut pandangan konstruktivist dari perkembangan mental, si pembelajar membuat pengetahuan dan pemahaman selama dan dari aktivitas. Namun dalam perspektif “sosiokultural”, penerimaan pandangan dari dunia dan upaya lebih baik untuk memahami pendidikan adalah dalam istilah proses-proses sosial, budaya dan sejarah. sosiokultural, menambahkan bahwa si pembelajar berinteraksi dengan materi-materi dan aktivitas pertama terjadi dalam hubungan-hubungan kontek sosial.

  1. a.      Setting Aktivitas: Unit Dasar dari Analisis

Dalam teori sosiokultural unit dasar dari analisis adalah setting aktivitas. Setting aktivitas merupakan struktur yang diorganisir melalui mana nilai-nilai dikomunikasikan selama aktivitas melalui ramuan halus dari pembelajaran, dorongan, nada suara, dan cerita yang dikisahkan, tidak hanya keterampilan yang dikembangkan, tapi juga sikap, nilai, prioritas dan tanggungjawab. Empat variabel yang memiliki konsekuensi yang besar dari materi setiap setting aktivitas dan untuk konsekuensi pekembangan mereka adalah pola-pola individu dan kelompok; peran-peran; hubungan-hubungan kekuasaan; sandi dan gaya bahasa.

  1. b.         Nilai-Nilai dan Aktivitas dalam Kelas

Pola-pola aktivitas di kelas mengembangkan nilai-nilai, tidak hanya untuk aktivitas itu sendiri, tetapi juga untuk para siswa dibawa ke dalam setting-setting dan aktivitas-aktivitas mereka.

  1. Aktivitas Bersama, Membantu Pelaksanaan dan Mengajar

Setting aktivitas di kelas dibutuhkan untuk memberikan bantuan, dan didesain untuk belajar. Setting aktivitas dikelas harus mencakup kesempatan-kesempatan bagi guru untuk bekerja secara individual atau kelompok cukup kecil, mengajar adalah dapat ditempatkan untuk membantu pelaksanaan, membantu memberikan apa-apa yang membolehkan pembelajar dalam mencapai tingkat yang lebih tinggi dari yang mungkin dicapai kalau ia sendirian saja.

  1. Organisasi dari Hubungan-Hubungan Sosial

Prinsip dari organisasi hubungan-hubungan sosial terdiri dari tiga prinsip, pertama, terbatas, untuk proporsi yang kecil yang secara teoritis tersedia untuk interaksi. Kedua, sangat stabil, pilihan besar dari orang dalam semua kerumitan pola-pola hubungan-hubungan sosial adalah secara aktual teratur, dapat diterka dan sangat konservatif. Ketiga, terutama diorganisir dari semula oleh kelas sosial, dengan komponen-komponen pendapatan, pendidikan, ras, kultur dan bahasa.

  1. Hubungan-Hubungan Sosial; Dinamika dari Pembentukan dan Perubahan

Proses terbentuk dan berubahnya hubungan-hubungan sosial adalah kuat, teratur, dapat diramal, akibatnya jelas, karena empat prinsip hubungan-hubungan yang tidak dapat secara random didistribusi. “Kelompok yang terpilih” konsep yang digunakan untuk menganalisis gambaran berbagai bentuk hubungan, yang membatasi kelompok, dari mana hubungan-hubungan secara aktual dibentuk.

  1. Keakraban

Keakraban adalah fakta sederhana yang mengakhiri kebersamaan, berlimpahan tenaga yang kuat sekali dalam membentuk kelompok yang terpilih. Dalam kenyataan formasi pertama dari hubungan-hubungan ditentukan dengan tingkat yang besar sekali oleh fakta yang amat sederhana dari keakraban. Hasil dari kelompok yang terpilih secara kuat ditegakkan oleh keakraban, pilihan penting telah dibuat.

1)   Aktivitas Menghasilkan Kerjasama

Pengaruh luar biasa dari keakraban adalah meningkatkan aktivitas bersama. Aktivitas menghasilkan kerjasama adalah amat dapat dipercaya dan mempunyai tenaga yang kuat mempengaruhi pengembangan persamaan-persamaan. Ketika orang bekerja bersama ke arah tujuan bersama atau menghasilkan sesuatu bersama, dua kondisi luar biasa muncul yang konsekuensi yang amat dalam dalam membangun hubungan-hubungan, pertama, motif-motif bersama yang dibentuk, paling sedikit dalam batas-batas aktivitas bersama dan settingnya. Kedua, menghasilkan hubungan-hubungan subyek-subyek (intersubyektivitas) dari pada hubungan subjek-obyek, mengacu pada subyektivitas bersama, menafsirkan, menilai, menggunakan kategori-kategori untuk memahami, merespon, dan mengharap respon balik yang sama, dari dunia.  Intersubyektivitas terbentuk selama aktivitas yang menghasilkan kerjasama, yang bersama memaknai kata-kata, konsep-konsep, motivasi-motivasi, keyakinan-keyakinan, harapan-harapan yang diperoleh.

2)   Persamaan

Kondisi intersubyektivitas membentuk persamaan,menumbuhkan perasaan pertalian keluarga, dan kecendrungan ke arah hubungan, dan pemeliharaan hubungan telah difasilitasi, dan akan menemukan kebersamaan. Persamaan bukan hanya akhir dari siklus besar pengembangan hubungan, tapi juga mengawali dan menghidupkan terus menerus. Persamaan mengarahkan kepada keakraban, memperbaharui atau melanjutkan. Persamaan menghasilkan babak baru untuk keakraban, dengan aktivitas, intersubyektivitas, memperkuat persamaan dan masih sangat konsentrasi pada keakraban. Persamaan harus dipahami sebagai konsekuensi dari garis tenaga berputar (Siklus Besar dari Pemilihan Sosial), keakraban, aktivitas, intersubyektivitas, persamaan, keakraban, aktivitas, intersubyektivitas.

  1. Merubah Pola-Pola Hubungan untuk Meningkatkan Mengajar dan Belajar
    1. a.         Persamaan sebagai Dasar untuk Mengorganisasi Pembelajaran

Untuk menggunakan dinamika persamaan untuk tujuan-tujuan pendidikan, pendidik butuh memahami dua fungsi yang kuat dari persamaan,  fungsi melindungi dan fungsi konservatif. Persamaan dalam mengelompokkan membolehkan untuk penyesuaian, melindungi, dan mendukung persahabatan dalam lingkungan belajar, kondisi yang para guru mesti jamin.

  1. b.    Merubah secara langsung Intersubyektivitas

Serangan terhadap intersubyektivitas adalah miskin taktik, namun intersubyektivitas dapat ditingkatkan dan diarahkan, maka suksesnya bergantung pada kemampuan guru menafsirkan dan nilai-nilai dalam aktivitas bersama sebagai tafsiran-tafsiran dari pengalaman-pengalaman bersama, dikembangkan dari nilai-nilai yang dimiliki bersama dalam setiap kelas. Nilai-nilai telah “ditangani” oleh kelas yang baik. Dalam perspektif teori sosiokultural, intersubyektivitas dikembangkan melalui aktivitas belajar bermakna.

  1. c.    Merubah Keakraban, Membangun Aktivitas Bersama

Intersubyektivitas merupakan konsekuensi aktivitas menghasilkan kerjasama, dan persamaan dialirkan dari intersubyektivitas, dan persamaan mengarahkan ke keakraban. Keakraban adalah kondisi utama, dan kondisi yang diperlukan untuk menghasilkan hubungan-hubungan yang baru, tetapi tidak itu cukup. Intervensi-intervensi terhadap keakraban diperlukan, tetapi tidak cukup dan tidak berhasil sampai atau kecuali aktivitas-aktivitas menghasilkan kerjasama diorganisir untuk menghasilkan intersubyektivitas yang melihat dunia dengan cara-cara yang sama lintas ras.

  1. D.      Pola-Pola Aktivitas dan Hubungan-Hubungan Pembelajaran         

Sekolah-sekolah dan kelas dimana pola-pola aktivitas pembelajaran memberikan kesempatan untuk keakraban, aktivitas yang menghasilkan kerjasama, dan dialog antara guru dan siswa, antara siswa dan guru diberitakan lebih baik kualitas hubungan-hubungan, dan kualitas hubungan-hubungan itu berkaitan prestasi dari keunggulan  akademik dan sosial. Ketika guru dan siswa berpartisipasi dalam setting-setting aktivitas yang memberikan kesempatan-kesempatan untuk bekerja dan berbicara secara kolaboratif dalam tugas-tugas pembelajaran yang amat bermakna dengan jumlah relatif kecil dari para siswa, guru dan siswa dapat mengetahui satu dengan yang lain dan guru dapat menilai dan membantu siswa mereka lebih responsif dan efektif. Pola dan aktifivitas seperti itu juga memberikan para siswa dengan kesempatan lebih untuk menunjukkan kompetensi mereka kepada guru dan mendapatkan satu yang baru.

Aktivitas kerjasama dan dialog yang bermakna memberikan tidak hanya media guru membantu para siswa (dan siswa membantu yang lain), membuat keputusan-keputusan, dan menciptakan produk-produk, tetapi juga media menghasilkan nilai-nilai. Oleh karena itu aktivitas kerjasama dan komunikasi bersama menjadi media untuk mengembangkan intersubyek tentang usaha keras tertentu dan lebih luas mengenai keberanian berusaha bersama yang lebih luas dari belajar di sekolah. Seperti meningkatkan intersubyek, juga kekuatan untuk mengembangkan persamaan.

  1. E.        Kultur dan Aktivitas Pembelajaran

Kultur sebagai kekuatan penting yang lain untuk dipetimbangkan dalam menciptakan pola-pola efektif untuk aktivitas pembelajaran. Terdapat empat dimensi yang berhubungan dengan bermacam-macam kultur, yaitu a) individualisme dan kolektivisme; b) peran harapan-harapan;  c) kekuasaan; dan d) gaya-gaya dan sandi-sandi bahasa. Setiap dimensi-dimensi mempengaruhi dafta harapan-harapan, nilai-nilai dan perilaku pada para siswa dan guru yang diberikan di kelas. Ketika para siswa memberikan harapan-harapan dan nilai-nilai yang sama seperti juga para guru dan teman sebaya, akan menjadi lebih Harmoni dalam berbagai interaksi. Perselisihan  dan saling interpretasi “kultural”  dapat berhasil bila partisipan datang dari komunitas yang lebih bervariasi. Beberapa mungkin muncul seharusnya secara sederhana dari berbagai variasi dalam komunitas yang sama. Sebagai peraturan umum, keragaman kelas yang lebih besar, keperluan yang lebih besar untuk membangun komunitas dari kelas dalam cara seperti itu nilai-nilai dan harapan-harapan bersama, melalui penggunaan bahasa kelas bersama, membangun intersubyek kelas.

Keadilan, Inklusi, Harmoni dan Keunggulan dapat dibuat dalam pola aktivitas pembelajaran di kelas, dan dibentuk untuk berbagai tujuan dapat dipandu melalui kesadaran terhadap empat dimensi kultural. Di semua kelas, para guru berkeinginan untuk menggunakan pengetahuan mereka terhadap kecendrungan-kecendrungan kultural para siswa untuk menciptakan setting-setting aktivitas yang akrab dan menyenangkan bagi para siswa seperti untuk mempromosikan keikutsertaan dan keterlibatan secara maksimal yang harmonis dengan latar belakang kultural para siswa. Namun demikian, Keunggulan pendidikan juga didorong oleh penciptaan kesempatan-kesempatan untuk para siswa berinteraksi dengan yang tidak sama dengan mereka dan melalui pengembangan kecakapan-kecakapan yang tidak terkenal. Guru terlibat memberikan bantuan dan panduan dalam belajar beberapa peran dan daftar baru. Dalam seluruh kelas para guru juga akan menciptakan setting-setting aktivitas yang menantang dan memperluas daftar-daftar dan kecakapan-kecakapan para siswa sekarang. Bantuan yang efektif diberikan menciptakan setting-setting aktivitas yang baru dan bervariasi, sementara pada waktu yang sama menggabungkan pengetahuan dari kecendrungan-kecendrungan para siswa dan persamaan-persamaan yang ada.

  1. F.       Mendesain Organisasi Aktivitas Pembelajaran

Memberikan panduan sistematik untuk berbagai guru untuk mengembangkan kelas yang didesain guna memberikan bantuan yang lebih efektif. Panduan yang diberikan terdiri dari beberapa tahapan: a) Tahapan 1. Satu sampai Empat Minggu; Membangun Komunitas Belajar Akademik menggunakan pembelajaran dan menata aktivitas; b) Tahapan 2. Dua sampai Tiga Minggu; Membentuk kelompok untuk kegiatan mandiri dan simultan; c) Tahapan 3. Satu sampai Dua Minggu; Setting aktivitas belajar; d) Tahapan 4. Dua sampai Tiga Minggu; Mengajar melalui setting-setting kegiatan; dan e) Tahapan 5. Rutinitas Akhir Tahun; Mengajar melalui pembelajaran percakapan dengan setting-setting aktivitas beragam dan simultan.

Fase 5 kelas memberikan kapasitas itu, sebab berhubungan dengan memperluas permukaan yang tersedia dalam kelas yang mendorong kemandirian siswa untuk belajar aktif. Elemen-elemen yang terdapat dalam fase 5 di kelas adalah a) setting-setting bervariasi dan simultas; b) diorganisir memberikan kontak yang bermakna dengan hal-hal lain yang disukai dan beragam; c) tugas-tugas pembelajaran yang terpadu dengan tujuan-tujuan; dan d) mengundang Lima Standar untuk Pedagogi yang Efektif.

Dalam kasus fase 5 di kelas, terjadi upaya meningkatkan komunikasi di permukaan yang akan dicatat dalam pekerjaan yang baik untuk para siswa, dan menjadi suasana hati mereka yang baik. Dengan kehati-hatian, langkah demi langkah membangun kepercayaan diri para siswa melalui berkali-kali kegiatan, merupakan sukses awal dari tugas-tugas akademik dan pemeliharaan melalui guru yang kompeten yang tidak siap dapat dilihat. Kepemilikan nilai-nilai  yang dikomunikasikan bersama tidak akan dibuktikan secara singkat, rupanya secara kebetulan Uraian Singkat atau Tanya Jawab berfungsi baik dala, fase 5 di kelas. Membangun secara bertahap nilai komunitas untuk bekerja keras demi belajarsecara akademis bahkan mungkin tidak mengatakan, tetapi itu akan meresap dan mengakar tak terlihat dalam aktivitas-aktivitas.

  1. G.       Kelas pada Fase 5: Bukti, Visi dan Masa Depan

Penelitian dan praksis yang diperoleh dari Lima Standar untuk Pedagogi yang Efektif telah menunjukkan bahwa beberapa standar membolehkan dengan aktivitas pembelajaran yang didesain lebih kompleks, dan telah disajikan dan diujicobakan sebagai bagian dari proses perkembangan bagi perubahan kelas dari tradisi biasa ke dalam organisasi yang berbeda yang berisi setting-setting aktivitas variasi, simultan, berkaitan dan tepat. Pembelajaran Percakapan, lebih dari kerja bersama antara guru dan para siswa, ia diakui sebagai perhiasan di tengah-tengah aktivitas pembelajaran. Pembelajaran Percakapan menghendaki tidak hanya mengembangkan intgersubyek, tetapi juga mengembangkan prestasi kognitif dan akademik. Pemenuhan terhadap kekuatan bagi perkembangan siswa terjadi kita intersubyek dibangun dari upaya-upaya berkelanjutan dan tak henti-henti untuk menjamin kerja bersama dengan percakapan dan membangun bersama bahasa, nilai-nilai dan pemahaman.

Dalam kegiatan fase 5 di kelas terbukti mampu mencapai Keunggulan, Keadilan, Inklusi dan Harmoni, bahkan didukung juga oleh bukti-bukti pelaksanaannya di berbagai sekolah bukti keberadaannya, sedang bukti efektivitasnya datang dari berbagai kelas dan berbagai jenis, berupa program sistematik ( program kecil keahlian tangan; program jangka panjang dengan data evaluasi sistematik; program jangka panjang dengan evaluasi dan eksprimen data dengan variasi yang dalam), dan program lainnya, seperti Pembelajaran yang Dipandu secara Kognitif, Pembelajaran Kompleks, Pembelajaran Aunthentik, Mengajar Timbal Balik, Pembelajaran Harmoni, Kerjasama Memadukan Membaca dan Komprehensif, dan Program Pendidikan Dasar Kamehameha.

Kekuatan dari Lima Standar untuk Pedagogik yang Efektif dan Fase 5 di kelas adalah mampu memenuhi kebutuhan para siswa yang beresiko gagal dalam pendidikan dengan strategi pembelajaran dan organisasi kelas yang tidak berbeda dari yang lebih efektif untuk sisiwa yang lain. Sekolah harus memberikan aktivitas pembelajaran yang sepadan, jika kesempatan yang sama bisa dicapai. Aktivitas-aktivitas pembelajaran yang sepadan diberikan oleh Lima Standar.

Untuk pengembangan Lima Standar dan Fase 5 kelas, maka sebagai visi baru yang merubah guru dan kelas hendaknya dikomunikasikan dan diabsahkan oleh para orang tua yang para siswanya berhasil secara rasional mencapai standar sekolah tertentu. Peneliti dan pengembang komunitas dari pendidikan bertanggungjawab untuk mengkomunikasikan visi dan penjelasan serta pembenaran di stakeholder yang mungkin. Transformasi kelas dari tradisi biasa ke Fase 5 kelas adalah radikal, komprehensif, membebaskan, penuh semangat, memuaskan dan sulit. Sehingga diperlukan bantuan, dukungan, model dan pelatihan. Program-program pendidikan guru dalam menyiapkan generasi guru berikutnya dikehendaki tranformasi radikal yang sama. Hal ini sebenarnya sejalan dengan tumbuhnya kesadaran baru terhadap pentingnya kualitas guru, berarti harus terjadi reformasi guru di kelas. Reformasi sekolah tidak akan berhasil tanpa adanya reformasi sekolah.

BAB III

PEMBAHASAN

Upaya reformasi kegiatan belajar mengajar di kelas di Indonesia adalah melalui perubahan paradigma, filsafat dan model pembelajaran. Paradigma pembelajaran berorientasi pada learning (to do, know, to be, to live together), learning team, learning classroom, leraning school, learning community, all knowing is doing, all doing is knowing.  Teori pembelajaran yang dikembangkan adalah constructivisme, Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan. Karakteristik pembelajaraan yang digunakan adalah pembelajaran kontekstual, dengan model-model pembelajaran direct instruction, cooperative learning, problem base instruction dan gabungan. Model-model pembelajaran ini sekarang menjadi trend dilaksanakan dalam mata-mata pelajaran di sekolah. Karakteristik pembelajaran berbasis Constextual Teaching Learning (CTL) adalah kerjasama, saling menunjang, menyenangkan, tidak membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber dan siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis, guru kreatif, dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, laporan kepada orang tua berupa laporan raport dan portofolio.

Dalam beberapa aspek terdapat kesamaan antara pembelajaran CTL dengan pendekatan “cooperative learning” dengan Pengajaran Transforamtif  berbasis “productive join activity”. Namun  dibandingkan dengan “cooperative learning”, di mana para siswa bekerja bersama pada proyek bersama yang menghendaki mereka membantu dan belajar dari yang lain, dan peran aktivitas yang menghasilkan kebersamaan sedikit membayangi, nampak peran guru mengambang di antara berbagai kelompok siswa, memberikan komentar dan menanyakan atas dasar kesempatan-kesempatan. Sementara pembelajaran berbasis “productive joint activity ”, mempunyai perbedaan tekanan, yakni para siswa dan para guru bersama porsi secara signifikan dalam aktivitas-aktivitas kelas. Hanya jika guru juga cukup memberikan pengalaman bersama secara terus menerus, wacana secara mendalam dengan penuh kompetensi sebagai orang dewasa yang memaksimalisasi perkembangan dan membuat hubungan intersubjek sebagai pribadi. Khusus yang penting bila guru dan para siswa tidak sama kulturnya.

Selain itu meskipun antara pembelajaran CTL dan pembelajaran berbasis “productive joint activity” dari Lima Standar Pedagogik yang Efektif sama-sama berbasis pandangan “constructivist”. Namun pembelajaran pembelajaran CTL basis “constructivist” adalah berdasarkan perspektif “perkembangan sains kognitif”. Menurut pandangan konstruktivist dari perkembangan mental, si pembelajar membuat pengetahuan dan pemahaman selama dan dari aktivitas.

Sedangkan pembelajaran “ productive joint activity” dari Lima Standar Pedagogik yang Efektif juga berbasis “constructivist” ditambah dengan teori-teori  “perspektif sosiokultural, organisasi dan teori kritis”  bahwa si pembelajar menerima pandangan dari dunia dan upaya lebih baik untuk memahami pendidikan adalah dalam istilah proses-proses sosial, budaya dan sejarah. sosiokultural, menambahkan bahwa si pembelajar berinteraksi dengan kritis dengan materi-materi dan aktivitas pertama terjadi dalam hubungan-hubungan kontek sosial, dan aktivitas sosial menghasilkan pengetahuan.

Ciri khas dari dari Pengajaran Transformatif  yang menerapkan Lima Standar Pedagogik yang Efektif dengan pembelajaran “productive joint activity” adalah lekatnya dengan suasana sosio-kultur dalam setting pembelajarannya. Inilah ciri khas dari Pedagogik Transformatif. Karena para pemikir dari Pedagogik Libertarian Kritis atau Pedagogik Transformatif melihat peranan kebudayaan di dalam perkembangan manusia secara kritis, termasuk dalam pendidikan. Pedagogik ini mengingatkan kembali bahwa proses pendidikan pertama-tama adalah untuk kepentingan peserta didik, bukan untuk kepentingan kekuasaan politik, alat politik (praktis), kebutuhan kaum kapitalis, sekedar transmisi kebudayaan, transformasi ilmu, dan ideologi konstruk orang dewasa, yang dipaksakan kepada peserta didik.

Khusus untuk krisis pendidikan bagi bangsa Indonesia: pendidikan telah melahirkan kekerasan seperti tawuran pelajar yang semakin meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas, kekerasan dan intoleransi antarumat beragama terus terjadi yang berujung dengan konflik, dan lain sebagainya. Pendidikan tidak bisa melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif. Pendidikan telah melahirkan anak didik yang pasif dan bagaikan robot karena tidak memiliki ruh untuk perubahan. Pendidikan juga telah melahirkan anak didik tanpa etika agama dan sosial: banyak anak didik yang terjebak dalam kehidupan narkoba dan seks bebas. Pendidikan telah melahirkan anak didik yang soliter (terasing) dari masyarakatnya. Bagi Prof. Dr. H.A.R Tilaar (2002), krisis pendidikan yang dialami bangsa Indonesia adalah kenyataan yang memprihatinkan dan harus diubah.

Adapun ciri-ciri pedagogik transformatif menurut HAR Tilaar (2002): Pertama, aspek pendekatannya (a) individuasi partisipatif dalam masyarakat yang berubah (b) penyadaran dan pengembangan potensi individu dalam kebersamaan bermasyarakat (c) humanisme sosio-kultural (d) penggerak kebudayaaan (e) Jalan ketiga (the Third Way).  Kedua, pedagogik sebagai disiplin ilmu adalah hermeneutik humanistik pedagogik. Ketiga, guru sebagai mitra pembelajar. Keempat, peserta didik sebagai subyek yang partisipatif antsipatif dalam perubahan sosial. Kelima, proses belajarnya dialogis partisipatif. Keenam, kelembagaan pendidikannya adalah dekonstruktor dan rekonstruktor sosial.

Berbeda dengan pedagogik tradisional yang berpijak mengenai bahasan-bahasan manusia dan anak manusia. Maka pedagogik transformasi bertitik tolak pada manusia Indonesia pada masa transisi. Pedagogik tradisional memandang manusia sebagai terisolasi, maka anak didik pun diperlakukan terpisah dengan masyarakat dalam proses belajar di sekolah. Sekolah diumpamakan sebagai tembok yang besar pemisah antara peserta didik dan masyarakat. Peserta didik dengan demikian tidak mengenal masyarakat dan lingkungannya. Berbeda pedagogik transformatif yang mengakui bahwa manusia itu tidak terisolasi atau adanya lingkungan proksimatif (adalah manusia sosial dan kebudayaan sekitarnya).

Makanya kegiatan-kegiatan pedagogis adalah harus berpijak dari lingkungan yang proksimatif, bukan peserta didik yang hampa dari pelibatan dengan atau bersama masyarakat di lingkungan sekitarnya. Pada intinya pedagogik transformatif memperhatikan dua hal, yakni individuasi dan partisipasi. Proses individuasi adalah pengembangan potensi yang terdapat dalam setiap individu agar potensinya bisa dimanfaatkan bagi keluhuran martabatnya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Partisipasi berarti manusia yang sudah mewujudkan kemampuannya untuk meraih martabat yang luhur dan baik harus ikut berpartisipasi sebagai penggerak kebudayaan atau perubahan bagi masyarakatnya.

Pedagogik libertarian kritis atau Pedagogik Transformatif menitikberatkan pada hak asasi peserta didik sebagai seorang individu untuk menjadi manusia yang merdeka yang menentukan jalannya sendiri dalam ruang lingkup sesama manusia, dalam alam sekitarnya yang berbudaya. Lingkungan mempunyai nilai-nilai positif dalam memberikan stimulan terhadap perkembangan individu. Lingkungan proksimal merupakan tanggungjawab moral komunitas manusia, sehingga dengan demikian akan terjadi perkembangan budaya manusia. Kelemahan dari Pedagogik Transformatif ini adalah dianggap masih beranjak pada teori (Tilaar: 2007:127). Tetapi Pengajaran Transformatif dengan Lima Standar Pedagogik yang Efektif telah mengatasi kelemahan tersebut, karena memadukan antara teori, hasil penelitian dan kegiatan praksis melalui riset dan pengembangan.

Dari dimensi pedagogik, Pengajaran Transformatif memberikan peluang bagi terbentuknya identitas seseorang, melalui kegiatan intersubjektifnya, karena menurut Habermas (Tilaar:2007:128-129) prinsip immanent di dalam sejarah yang menuntun tingkah laku. Selanjutnya menurut Tilaar (2007:128) di dalam kemungkinan untuk terbentuknya identitas seseorang tidak terletak kepada individu, tetapi kepada tatanan intersubjektif, di dalam struktur supra-individu. Terbentuknya identitas seseorang bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi merupakan suatu bentuk “communication action”.

Pada intinya pedagogik transformatif memperhatikan dua hal, yakni individuasi dan partisipasi. Proses individuasi adalah pengembangan potensi yang terdapat dalam setiap individu agar potensinya bisa dimanfaatkan bagi keluhuran martabatnya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Partisipasi berarti manusia yang sudah mewujudkan kemampuannya untuk meraih martabat yang luhur dan baik harus ikut berpartisipasi sebagai penggerak kebudayaan atau perubahan bagi masyarakatnya

Identitas adalah  sesuatu yang diperoleh dan dikembangkan melalui individuasi, partisipasi dan  komunikasi dan dialog antar-subjek di dalam masyarakat yang berbudaya yang kaya dengan nilai-nilai. Inilah yang dikembangkan oleh Pengajaran Transformatif yang ingin mencapai Keunggulan, Keadilan, Inklusi dan Harmoni.

BAB IV

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

  1. A.  Kesimpulan
    1. Pengajaran transformatif dilandasi oleh paradigma Pedagogik Transformatif diperkuat oleh teori dan hasil penelitian dari perspektif teori konstructivistic, teori sains kognitif, teori organisasi, teori kritis dan teori sosial-kultural, dan telah diuji coba melalui riset dan pengembangan, mampu menunjukkan efektivitas yang signifikan.
    2. Pengajaran tranformatif menawarkan Lima Standar Pedagogi yang Efektif dan Kondisi yang diperlukan, serta Pengorganisasian yang Efektif untuk Kegiatan Belajar dalam Setting Kelas.
    3. Pengajaran Transformatif melalui riset dan pengembangan terbukti mampu mencapai hasil baik dalam aspek akademik, keterampilan maupun nilai-nilai,seperti Keunggulan yang berpusat pada pencapaian prestasi setiap potensi peserta didik (intelektual, sosial dan emosional); Keadilan, berpusat pada persamaan hak untuk semua (jenis kelamin, agama, bahasa, status sosial, kemampuan); Inklusi menitikberatkan pada persamaan, kerjasama, keakraban, kebersamaan, produktivitas; Harmoni berpusat pada bahasa dan literasi, toleransi dan murah hati, dan membangun komunitas kebangsaan
    4. B.  Implikasi
      1. Pengajaran transformatif mampu mengisi ruang kosong dari pengajaran kontekstual, memberikan alternatif bagi pembelajaran konvensional, dan memberikan wacana baru “pencerahan” sebagai solusi bagi pendidikan nilai era  transisi ini, khususnya untuk pembentukan karakter, moral dan nilai-nilai bagi generasi muda.
      2. Kegiatan-kegiatan pedagogis baik pedagogik tradisional maupun pedagogik konvensional dalam menghadapi beberapa fenomena kualitas nilai-nilai pendidikan  adalah harus berpijak dari lingkungan yang proksimatif, bukan peserta didik yang hampa dari pelibatan dengan atau bersama masyarakat di lingkungan sekitarnya. Pada intinya pedagogik transformatif memperhatikan dua hal, yakni individuasi dan partisipasi. Proses individuasi adalah pengembangan potensi yang terdapat dalam setiap individu agar potensinya bisa dimanfaatkan bagi keluhuran martabatnya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Partisipasi berarti manusia yang sudah mewujudkan kemampuannya untuk meraih martabat yang luhur dan baik harus ikut berpartisipasi sebagai penggerak kebudayaan atau perubahan bagi masyarakatnya
      3. C.  Rekomendasi
        1. Institusi LPTK perlu mensosialisasikan Paradigma Pedagogik Transformatif, salah satunya Pengajaran Transformatif di kalangan pendidikan, sebagai wacan baru, pengisi ruang kosong dan solusi alternatif dari berbagai krisis pendidikan yang terjadi masa kini, khususnya pendidikan nilai-nilai.
        2. Mengembangkan Pengajaran Transformatif dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran, khususnya matakuliah dan mata pelajaran berbasis nilai, seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Ilmu Sosial. Ilmu Budaya dan Ilmu Alamia.
        3. Program Studi Pendidikan Umum (Nilai-Nilai) layak menjadi pioner bagi pengembangan Pengajaran Tranformatif dengan fokus pada pengembangan nilai Keadilan, Inklusi dan Harmoni.

DAFTAR RUJUKAN

 

H.A.R. Tilaar   (2001). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Penerbit Indonesia Tera

H.A.R. Tilaar (2002). Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif  untuk Indonesia. Jakarta : PT.Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)

H.A.R. Tilaar (2007).  Mengindonesia; Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia, Tinjauan dari Perspektif Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT.Rineka Cipta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s